
"Huft, syukurlah. Tapi kek, apa kakek yakin hanya bersemedi selama 40 hari saja?" Tanya Uwo-uwo ragu.
"Pertanyaanmu itu akan terjawab nanti ketika dirimu tengah bersemedia digua itu, aku yakin kau pasti bisa melaluinya, cucuku." Jawab Ki Bahrat sambil menepuk pundak berbulu cucunya tersebut.
"Ahh kakek ini, daridulu selalu saja seperti ini."
"Hahaha sudah-sudah jangan seperti itu, sekarang lebih baik kau siapkan dirimu untuk perjalanan besok ke gunung keramat itu dan untuk bersemedi selama 40 hari."
"Huft baiklah kek, terimakasih sudah mengizinkan aku untuk mengambil keris pusaka itu."
Ki Bahrat mengangguk dan tersenyum "Semoga semuanya berjalan dengan lancar, ya Wo. Kakek selalu berdoa yang terbaik untukmu."
"Terimakasih kek, kalau begitu aku pamit untuk kembali ke alam manusia." Pamit Uwo-uwo.
"Iya, kembalilah. Kapan-kapan kau ajak sukma sahabat manusiamu kemari, kakek ingin mengenalnya."
Uwo-uwo mengangguk "Setelah semua ini selesai, aku akan mengajak sukma Aruni kemari untuk bertemu kakek. Ya sudah kek, aku pamit, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
***
Sekarang sudah dua pekan Uwo-uwo berada didalam gua, tersisa 26 hari lagi untuk bisa mendapatkan keris pusaka. Dan rintangan lain mulai muncul disini, saat Uwo-uwo sedang fokus bersemedi, tiba-tiba saja terdengar suara aungan seperti seekor harimau didekat telinga Uwo-uwo.
Awalnya Uwo-uwo tidak menghiraukan suara aungan tersebut, tetapi lama-lama gangguan tidak hanya datang dari suara aungan seekor harimau, gangguan itu datang juga dari ribuan ekor kelelawar yang tiba-tiba saja datang dan beterbangan kesana-kemari, membuat suasana didalam gua menjadi riuh.
Hal itu sengaja Ki Bahrat lakukan untuk menguji sejauh mana fokus cucunya dalam bersemedi, sejauh ini Uwo-uwo masih tetap fokus. Ki Bahrat tersenyum melihat keteguhan sang cucu, lalu ia menambah sedikit gangguan didalam gua tersebut. Kali ini datang dari seorang manusia, berwajah sangat cantik, dengan tubuh yang begitu molek.
Dia sedang mencoba mengganggu fokus Uwo-uwo dengan cara menggodanya. Mengeluarkan suara-suara erotis tepat ditelinga Uwo-uwo dan juga dengan sedikit belaian-belaian yang menguncah iman. Awalnya Uwo-uwo hampir sedikit tergoda, tetapi ia teringat kembali dengan tujuan awal ia kemari, yaitu untuk mendapatkan keris pusaka.
Ia tau bahwa ini semua tak lain hanya sebuah jebakan untuk menguji fokus dirinya dalam bertapa, siapa lagi kalau bukan perbuatan dari kakeknya, Ki Bahrat. Yang awalnya dia hampir tergoda, ia mencoba untuk kembali fokus meskipun suara dan sentuhan itu masih saja ada.
"Ayolah Wo, tahan, tahan kau pasti kuat. Aku ini genderuwo yang berkelas, tidak semudah itu menggoda imanku ini. Ck, suara erotismu dan belaian tanganmu pada tubuhku ini tidak akan berdampak sama sekali, aku tau ini semua bagian dari ujian yang kakek berikan. Kakek itu memang benar-benar jail, bisa-bisanya dia berbuat seperti ini." Gerutu Uwo-uwo didalam hatinya.
"Ganggu aku sesuka hatimu kek, dan akan aku pastikan aku sama sekali tidak tergoda dengan apapun itu. Aku akan terus mengatur fokusku untuk mendapatkan keris pusaka itu, ini semua demi Aruni dan orang-orang terdekatnya."
***
"Hm sudah dua minggu Uwo-uwo pergi untuk mendapatkan keris pusaka itu, kira-kira bagaimana keadaan dia sekarang ya, mas?" Ucapku pada mas Genta.
"Yang pasti sekarang dia sedang berjuang untuk mendapatkan keris pusaka itu, dan aku yakin dia sedang dalam keadaan yang baik-baik saja, kau tak perlu khawatir."
"Hehe iya, aku tidak menyangka dengan semua hal yang terjadi dihidupku semenjak aku pindah ke desa."
"Speacless? " Tanya mas Genta.
"Ya, tetapi aku senang dengan semua ini. Aku belajar banyak hal, mulai dari kesabaran, keikhlasan. Dan pelajaran yang paling besar aku ambil ketika kita membantu Lastri menyelesaikan kasusnya." Jawabku.
"Lastri? yang dibunuh kekasihnya karena hamil diluar ikatan pernikahan itu?"
__ADS_1
"Heem, darinya kita mendapatkan pelajaran yang amat berharga, bukan?"
"Ya kau benar, berbuat sesuatu itu harus memikirkan konsesuensinya kedepan. Bukan hanya kesenangan sesaat yang membuat segala sesuatunya hancur dimasa depan." Ucap mas Genta sambil berdiri membelakangiku.
Aku tersenyum "Maka dari itu, eh iya mas. Kerumah mas Alif yuk, aku ingin bermain dengan Raka." Ajakku.
Mas Genta membalikkan badannya menghadap ke arahku.
"Ingin bermain dengan Raka atau ingin bertemu dengan Alif?" Ucap mas Genta.
"Mas, bukan begitu..."
Mas Genta tersenyum "Run, kau tau kan aku ini mempunyai perasaan yang lebih terhadapmu." Katanya sambik duduk disebelahku.
"Mas Genta kenapa tiba-tiba berbicara seperti itu sih?"
"Dan aku juga tau bagaimana perasaanmu kepadaku, tetapi beberapa bulan terakhir kau juga terlihat begitu dekat dengan Alif. Jadi aku merasa bingung, aku ingin bertanya sesuatu kepadamu, tapi kau harus jawab, ya." Ucap mas Genta.
"I-iya tanya saja mas, tidak ada yang melarang kau bertanya padaku, hehe." Kataku gugup.
"Apa perasaanmu padaku masih sama seperti dulu atau sudah hilang semenjak kau dan Alif dekat?" Tanya mas Genta sambil menatap mataku.
Aku tidak menyangka mas Genta akan menanyakan hal ini kepadaku, meskipun aku sudah tau pasti suatu saat dirinya akan menanyakan hal ini. Tetapi tidak secepat ini, aku pun merasa bingung dengan perasaanku sendiri. Entahlah, aku juga tidak tau mengapa aku seperti ini.
"Eh anu itu emmm, entahlah aku sendiri pun masih bingung dengan perasaan ini. Jujur, aku merasa nyaman berada didekat dirimu begitu juga ketika aku berada didekat mas Alif."
Mas Genta tersenyum. "Begitu rupanya, mau jadi seperti itu ya, apa itu namanya, ah iya playgirl, hahaha."
Mas Genta merangkulku. "Haha santai aku hanya bergurau saja, tetapi Run bukan maksudku untuk menuntut dirimu. Tapi memang kau harus bisa memilih diantara kami, kau ingin denganku atau dengan Alif."
Aku menarik nafasku panjang. "Aku tau akan hal itu mas, tetapi semuanya membutuhkan waktu. Beri aku waktu untuk meyakinkan hati dan perasaanku ya mas."
"Iya-iya, ya sudah aku akan memberimu waktu. Sudah ayo pergi, katanya mau kerumah Alif untuk bertemu Raka."
"Mau?" Tanyaku.
"Ya mau lah, aku juga kangen."
"Hah, kangen sama mas Alif?" Godaku.
"Ya masa Raka lah, masa iya jeruk sama jeruk." Ucap mas Raka.
"Hahaha, ya sudah ayo." Aku bangkit dari balai yang ada ditengah sawah simbah.
"Tunggu dirumah dulu, sambil siap-siap. Aku mau ambil mobil, tadi parkirnya sedikit jauh. Ajak juga Anin, siapa tau dia mau ikut." Ucap mas Genta.
"Oh begitu ya sudah, sekalian mau ganti baju, hehe."
Aku beranjak dari balai dan jalan menuju rumah, tiba-tiba saja teman-teman gaibku menghampiriku.
__ADS_1
"Mau kerumah Alif, ya?" Tanya Kukun.
"Heem, kalian mau ikut?"
"Pasti, kita tidak mau kecolongan lagi sama Ki Braha." Ujar Cong-cong.
Aku tersenyum. "Baiklah."
"Tadi aku mendengar Genta menanyakan perasaanmu padanya, ya?" Celetuk Sander.
Aku menatap Sander dengan tatapan penuh selidik.
"Kau mengupingku ya?" Tuduhku.
"Hehe, bukan menguping, hanya saja aku tidak sengaja mendengarnya." Elaknya.
"Halah sama saja, itu namanya menguping, tau." Kesalku.
"Memangnya apa yang Genta katakan, Run?" Tanya Kukun.
"Dia bertanya, sebenarnya bagaimana perasaanku terhadapnya. Apakah masih sama seperti dulu atau sudah berubah semenjak aku terlihat dekat dengan mas Alif." Jawabku.
"Sudah kuduga, pasti Genta akan menanyakan hal itu. Kataku juga kan kau harus bisa memilih diantara mereka, jangan seperti ini." Ucap Cong-cong.
"Aku mengerti, tapi aku sendiri pun masih bingung dengan perasaanku. Aku meminta waktu pada mas Genta untuk meyakinkan hati dan perasaanku."
"Jangan lama-lama, aku tau persis bagaimana rasanya menunggu kepastian dari seorang yang kita suka." Celetuk Kukun.
"Pasti tidak enak kan Kun, digantung tidak jelas tanpa kepastian seperti itu." Sindir Sander sambil melirik kearahku.
"Apa lirik-lirik seperti itu? Awas matamu copot!"
"Ck, sensi amat bu." Goda Sander.
"Tapi Sander itu benar, Aruni. Kau harus cepat mengambil keputusan, tidak baik memperlakukan Genta dan Alif seperti ini." Ujar Cong-cong.
"Iya Cong, makanya itu aku perlu waktu untuk meyakinkan perasaanku."
"Hm, aku tau siapapun yang kau pilih nantinya, itu pasti yang terbaik untukmu." Kata Cong-cong.
"Terimakasih ya, nasehatnya teman-teman." Ucapku.
"Ck, dasar women. Labil sekali perasaannya." Celetuk Sander sambil pergi melesat masuk kerumah simbah.
"SANDERRR!!!!!!" Teriakku dengan kesal.
🍂
🍂
__ADS_1
🍂