
"Sialan dasar gadis pembawa sial!!"
Ki Braha melemparkan sebuah bola kecil yang tepat mengenai bagian perutku, anehnya aku langsung terpental dan terkapar ditanah. Rasanya sakit sekali, sampai aku meneteskan air mata.
"Ahkkkk sakit.." Rintihku sambil memegangi perut.
"Teman-teman gaibku, dimana kalian.. tolong aku, tolong aku..." Ucapku dalam hati.
Sander yang sedang duduk diatas pohon mangga simbah bersama dengan Cong-cong dan Kukun tiba-tiba mendapat firasat yang tidak baik dari Aruni.
Seperti kaca yang pecah terkena lemparan batu, itu tandanya Aruni sedang dalam bahaya. Sontak membuat ketiganya terkejut.
"Aruni?!" Ucap ketiganya secara bersama-sama.
"Astaga, kita pasti kecolongan. Bodoh memang, ayo cepat kita cari dimana Aruni." Perintah Cong-cong.
Ketiga teman gaibku langsung melesat mencari keberadaaku, mereka begitu khawatir. Mereka takut kalau terjadi hal yang fatal kepadaku.
"Ah sialan harusnya tadi kita memaksa Aruni agar kita bisa ikut dengannya." Geturu Cong-cong.
"Sudahlah Cong, menggerutu seperti itu sekarang tidak ada gunanya. Kita harus cepat menemukan keberadaan Aruni, itu yang terpenting sekarang." Ujar Kukun.
****
Ki Braha tersenyum puas melihatku terkapar ditanah, dia merasa unggul 1-0 dariku. Aku mencoba untuk bangkit, tetapi rasanya sangat nyeri sekali dibagian perut dan punggung. Aku hanya bisa pasrah, seharusnya tadi aku mengizinkan teman gaibku untuk menemani pergi ke warung Yu Darni.
Kalau sudah begini sekarang aku hanya bisa menyesal, tetapi menyesal pun sekarang sudah tidak ada gunanya. Nasi sudah menjadi bubur, Ki Braha telah berusaha menyerangku. Aku harap teman-teman gaibku bisa segera menemukanku disini.
"Astaga Sander, Cong-cong, Kukun cepatlah datang kemari. Tolong aku hiks hiks, maafkan aku yang bersikap keras kepala seperti ini, maaf." Ucapku dalam hati sambil menangis.
"Hahaha bagaimana Aruni? tadi sepertinya ucapanmu begitu meremehkan kehebatan seorang Ki Braha, tetapi sekarang malah dirimu yang merintih kesakitan seperti itu, hahaha." Kata Ki Braha dengan congkak.
"Jangan hanya karena aku merintih kesakitan seperti ini sudah menandakan aku kalah ya, Aki jelek. Sama sekali tidak, aku belum kalah, dan sejatinya kejahatan tidak akan pernah menang ketika melawan kebaikan."
"Oh begitu ya rupanya, mungkin setelah ini istilah itu akan berubah. Kejahatan akan menang untuk pertama kalinya saat melawan kebaikan, hahaha."
"Jangan mimpi kau genderuwo jelek." Ucap Sander dari belakang sambil meninju lengan berbulu Ki Braha.
Ki Braha langsung menatap tajam ke arah ketiga teman gaibku.
"Beraninya kau menyentuh bagian tubuhku hantu kecil." Sewot Ki Braha.
__ADS_1
"Jangan panggil aku hantu kecil, jelek. Aku Sander namaku adalah Sander." Teriak Sander sambil memasang kuda-kuda.
"Aku seperti sedang melihat adegan film kartun, deh." Bisik Kukun pada Cong-cong.
"Banyak bacot kalian, rasakan ini. Hyakkkk."
Ki Braha berkelahi dengan Cong-cong dan Kukun diatas udara, sedangkan Sander diperintahkan untuk menjagaku. Ya kalian pasti tau, mana mungkin hantu kecil seperti dia akan berkelahi dengan seorang raja jin, haha.
Kukun mengeluarkan kuku-kuku panjangnya dan mulai menyakar tubuh berbulu Ki Braha. Namun, cakaran Kukun tidak berpenaruh apapun pada tubuh Ki Braha. Sedangkan Cong-cong menendang dan meninju dengan menggunakan tubuhnya.
Ki Braha yang meradang dengan kelakuan kedua teman gaibku pun mengeluarkan bola api Bratasena yang dulu pernah ia berikan pada mas Alif, yang membuat mas Alif terkapar tak berdaya.
"Oh tidak, dia mengeluarkan bola api Bratasena!" Ucap Cong-cong dengan panik.
"Cong, berhati-hatilah." Ucap Kukun.
Cong-cong mengangguk "Dirimu juga harus waspada, Kun."
Kalau sampai dia terkena serangan bola api Bratasena tersebut, bisa-bisa tubuhnya gosong seperti kambing guling.
Lemparan pertama dari Ki Braha meleset karena Kukun dan Cong-cong bisa menghindarinya, dan hal itu semakin membuat Ki Braha marah. Tetapi tiba-tiba saja saat Ki Braha sedang mengeluarkan bola api Bratasenanya kembali, sebuah cahaya putih datang dan menyerang Ki Braha.
Hal itu membuat Ki Braha terpental, rupanya cahaya putih yang tadi menyerang Ki Braha adalah Eyang Gitarja. Eyang datang karena mendapat panggilan batin dari Sander, beruntung Eyang Gitarja dapat datang diwaktu yang tepat.
Eyang menoleh ke arahku sambil tersenyum. Ki Braha yang mengetahui kedatangan eyang Gitarja sedikit panik. Karena tentunya saat ini ia tidak dapat melancarkan aksinya kembali untuk menyerang Aruni. Dan ia memutuskan untuk pergi kembali ke alam gaib.
"Sial, kenapa kakek tua itu harus datang disaat yang tidak tepat seperti ini. Jelas aku jadi tidak bisa melancarkan aksiku kembali untuk menyerang gadis bau kencur itu, ah sial gagal lagi gagal lagi. Aku kembali saja ke alamku, daripada harus terluka cukup parah gara-gara berhadapan dengan kakek tua itu. Huh, baiklah kali ini dirimu aman dari seranganku. Tetapi akan ku pastikan, suatu saat nanti dirimu mati ditanganku, Aruni." Ucap Ki Braha dalam hati.
"Sial, tunggu aku kembali. Aku akan kembali lagi dan akan aku pastikan aku tidak akan gagal lagi." Sewot Ki Braha sambil melesat pergi.
"Hahaha cemen, tau dia takut dengan eyang Gitarja." Cibir Sander.
"Syukurlah eyang datang diwaktu yang tepat, tapi bagaimana eyang bisa tau keadaan kita?" Ucap Cong-cong kebingungan.
"Kau harus berterimakasih kepadaku, tau." Celetuk Sander.
"Kenapa harus begitu?" Sahut Cong-cong.
"Karena dia yang memberitauku tentang kalian melewati kontak batin." Ucap Eyang Gitarja.
"Iya, jadi kau harus berterimakasih padaku. Kalau aku telat memberitahu eyang, pasti dirimu sudah gosong seperti kambing guling karena terkena serangan bola api Bratasena itu." Kata Sander dengan gaya tengilnya itu.
__ADS_1
Plak!
Cong-cong memukul Sander dengan kepalanya.
"Sembarangan kalau bicara, jangan samakan aku dengan kambing guling ya. Aku ini pocong limitid edition, tau."
"Ck, narsis abis." Cibir Sander.
Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Sander dan Cong-cong.
"Sudah-sudah jangan bertengkar seperti itu, yang terpenting sekarang Ki Braha sudah pergi dari sini. Bagaimana keadaanmu nduk, apa kamu tadi terluka?" Tanya eyang Gitarja.
Aku mengangguk. "Tadi sempat terkena sedikit eyang, bagian perut dan pinggang Aruni rasanya sakit sekali." Jawabku.
"Lagian kalian ini bagaimana sih, kan aku sudah memberitahu kalian untuk menjaga Aruni. Bisa-bisanya kecolongan seperti ini." Eyang memarahi ketiga teman gaibku.
"Eyang jangan memarahi mereka, ini semua salah Aruni. Tadi mereka sudah bilang ingin menemani Aruni pergi ke warung Yu Darni, tetapi Aruni yang keras kepala melarang mereka ikut. Karena menurut Aruni, hanya ke warung Yu Darni saja." Ucapku tertunduk.
Eyang menggelengkan kepala.
"Nduk, bahaya itu tidak mengukur dekat atau jauh. Kau tau kan, Ki Braha itu sekarang sangat berambisi untuk bisa menyakitimu? seharusnya kau paham akan hal itu. Kalau sudah seperti ini, mau bagaimana? beruntung tadi mereka datang tepat waktu untuk menolongmu, kalau tidak?" Tegur eyang Gitarja padaku.
"Maaf eyang, maafkan Aruni. Aruni memang keras kepala. Lain kali Aruni tidak akan berbuat seperti ini lagi. Maaf eyang."
"Minta maaf juga pada teman gaibmu, ingat nduk lain kali kamu itu jangan ngeyel. Ini semua demi keselamatan kamu."
"Baik eyang Aruni mengerti, terimakasih sudah menolong Aruni. Dan teman-teman, aku minta maaf ya sudah membuat kalian khawatir dan cemas seperti ini."
"Sudahlah Aruni tak apa, yang terpenting lain kali jangan seperti ini lagi." Ucap Cong-cong.
"Kami sangat menyayangimu, dan kami tidak ingin Ki Braha menyentuh dan menyakitimu seperti ini. Maaf kalau kami terkesan cerewet, tapi ini semua kami lakukan karena kami tulus menyanyangimu, Aruni." Timpal Kukun.
"Hiks, iya benar. Kami itu sangat menyayangimu melebihi apapun, memangnya yang bisa menyayangimu hanya Genta dan Alif saja." Celetuk Sander sambil pura-pura menangis.
"Kau ini kenapa malah bawa-bawa Genta dan Alif." Sahutku dengan kesal.
"Sudah-sudah, ayo kita pulang sekarang. Pasti orang dirumah sangat khawatir karena kamu belum pulang-pulang." Ajak eyang Gitarja.
🍂
🍂
__ADS_1
🍂