MEREKA SEMUA TEMANKU

MEREKA SEMUA TEMANKU
Terkapar Tak Berdaya


__ADS_3

Betapa terkejutnya Raka ketika melihat sang paman jatuh terkapar tak sadarkan diri dengan darah yang masih mengalir dari mulut dan hidungnya.


"Akhhhhh om Alifffffff...."


Ia langsung menghampiri sang paman, tetapi tak ada respon apapun darinya.


"Om om Alif bangun dong, jangan kaya gini huhuhu...."


"Katanya om janji tidak akan meninggalkan Raka sendirian, hiks kenapa om seperti ini." Ucapnya dengan tangis yang tersedu-sedu.


Ia menyeka air matanya "Om bertahan ya, Raka panggilkan eyang dulu agar bisa membawa om ke rumah sakit."


Ia pun berlari keluar kamar untuk menemui eyang Gitarja, Raka berlari dengan panik dan isakan tangis menuju rumah eyang Gitarja.


Sesampainya dirumah eyang, Raka langsung menggedor-gedor pintu sambil menangis, hal itu membuat eyang yang sedang bersantai dengan menyeruput kopi hitam pun panik.


"Eyang, eyang huhuhu."


"Eyang, tolongin om Alif eyang, hiks hiks eyanggg." Teriak Raka sambil menggedor pintu.


Saat pintu terbuka, eyang langsung memeluk Raka dan bertanya padanya apa yang membuatnya menangis seperti ini.


"Ada apa Raka? Om Alif kenapa?" Tanya eyang panik.


"Hiks hiks Raka nggak tau yang, waktu Raka buka pintu kamar om, om sudah jatuh dilantai terus ada darahnya juga. Huwaaaaa.." Tangisannya makin menjadi-jadi.


"Astagfirullahaladzim, ya sudah ayo kita kesana sekarang."


Eyang Gitarja dan Raka pun bergegas kembali kerumah mas Alif untuk melihat keadaannya.


"Aku sangat yakin ini adalah perbuatan dari Ki Braha, cerobohnya diriku semalam tidak memberi perlindungan pada Alif. Mudah-mudahan dia tidak terluka parah, jika ada yang fatal aku akan merasa sangat bersalah padanya dan juga dengan Raka." Ucap eyang Gitarja dalam hati.


"Dimana om Alif, Raka?" Tanya eyang.


"Hiks, dikamar eyang. Ayo yang cepat, tolongin om Alif huhuhu."


Eyang menuju kamar mas Alif, dan betapa terkejutnya beliau ketika melihat mas Alif terkapar lemah tak berdaya dilantai kamarnya dengan darah yang masih terus mengalir dari semalam.


"Ya Allah, darahnya keluar banyak sekali. Maafkan eyang Lif."


Eyang mengangkat tubuh mas Alif ke ranjang, beliau menyuruh Raka untuk menghubungi Aruni dan Genta.


"Raka, coba carikan handphone om Alif dan hubungi mbak Runi sama mas Genta ya. Suruh mereka untuk kesini." Perintah eyang.


"Baik eyang."


Disaat Raka sedang sibuk mencari handphone milik mas Alif, eyang sedikit menyembuhkan luka dalam pada diri mas Alif. Eyang hanya bisa mengobati luka dalamnya saja, karena untuk luka fisik akan diserahkan pada pihak medis.


"Pasti bola api Bratasena yang Braha berikan pada Alif, sampai-sampai darahnya tak berhenti mengalir seperti ini." Ujar Eyang Gitarja.

__ADS_1


Disamping tubuh mas Alif, eyang bersemedi dengan membaca mantra Jawa dan doa-doa yang biasa ia gunakan untuk menyembuhkan orang yang mengalami kasus seperti ini.


Setelah selesai, eyang mengusapkan kedua tangannya pada wajah dan dada mas Alif beberapa kali, diakhiri dengan membasuh wajah mas Alif dengan air mineral yang sudah dibacakan doa juga.


***


Dirumah, aku sedang merasa sangat bosan. Karena ini liburan semester, biasanya aku akan pergi berkunjung kerumah mas Alif. Tapi dengan pengakuan mas Alif kemarin membuatku merasa sangat kecewa pada dirinya.


Sebenarnya aku juga merasa tidak tega berbuat seperti ini padanya, tapi apa yang sudah dia lakukan padaku dulu itu sangat melukai perasaanku.


Kring


Kring


Kring


Ponselku berbunyi, terlihat nama mas Alif terpampang dilayar ponselku. Namun panggilan itu ku abaikan begitu saja, tetapi mas Alif masih terus saja menghubungiku. Merasa kesal, akupun dengan malas mengangkat telepon dari mas Alif.


"His, tinggal diangkat apa susahnya sih. Daritadi berisik tau." Sewot Sander.


"Iya Run, angkat saja. Siapa tau penting, berkali-kali loh dia menelponmu." Bujuk Kukun.


"Hm akan ku angkat." Kataku.


*Perkacakan di telepon dengan Raka


📞: Halo, kenapa?


📞: Astagfirullahaladzim, kenapa bisa begituu? terus sekarang gimana keadaan om Alif?!


📞: Iya-iya, mbak Runi kesana sekarang ya. Sudah Raka tenang saja jangan nangis seperti itu, om Alif pasti akan baik-baik saja.


"Ada apa Aruni, kenapa kau terlihat sangat panik seperti itu?" Tanya Uwo-uwo.


"Mas Alif, dia.. hiks."


"Alif, ada apa dengannya?" Timpal Cong-cong.


"Entahlah, aku tak tau pasti. Tadi Raka bilang, dia sudah menemukan mas Alif tergeletak tak berdaya dilantai kamarnya dengan darah yang mengalir dari mulut dan hidung." Jelasku.


"Apa?!" Ucap keempat teman gaibku dan juga Anin.


"Tapi bagaimana bisa, Arunu?" Tanya Anin.


"Aku juga tidak tau, aku akan kesana sekarang. Kau mau ikut?" Ajakku pada Anin.


Anin menganggukan kepalanya "Tentu, aku ikut denganmu."


"Aku sangat yakin, kalau semua ini adalah perbuatan Ki Braha." Celetuk Uwo-uwo.

__ADS_1


"Ah iya benar, dia pasti tidak bisa menerima kalau Alif ingin menyudahi segala ikatan iblis dengan dirinya." Sahut Sander.


"Sungguh malang sekali nasib Alif, aku harap dia akan baik-baik saja." Timpal Cong-cong.


"Tadi Raka bilang kalau disana sudah ada eyang Gitarja, aku harap eyang dapat menyembuhkan mas Alif." Ucapku.


"Eyang pasti sudah memberinya perawatan, meskipun hanya perawatan luka dalam. Aku tau persis bagaimana Ki Braha itu, dia kalau sudah marah sangat tidak bisa dikendalikan." Kata Uwo-uwo.


Aku dan Anin bergegas menuju rumah mas Alif dengan menaiki sepeda motor, tak lupa aku juga menghubungi mas Genta untuk datang kesana juga.


Di perjalanan, hatiku begitu cemas. Meskipun sekarang aku sedang kecewa dengan mas Alif, tentu aku tidak tega melihat dia seperti sekarang ini.


"Mas bertahanlah, aku yakin kau akan baik-baik saja. Aku akan memaafkan perlakuanmu padaku dulu mas, tapi kau harus pulih seperti mas Alif yanh dulu. Aku harap tidak akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan." Ucapku dalam hati.


Sesampainya dirumah mas Alif, aku langsung menuju kamar mas Alif untuk melihat keadaanya. Terlihat disana ada mas Genta dan juga eyang Gitarja. Ada juga dokter yang mas Genta bawa untuk memeriksa keadaan mas Alif, kulihat ditangannya sudah ada infus yang terpasang.


"Mban Runi, huhuhu om Alif mbak.." Teriak Raka sambil memeluk tubuhku.


Aku memeluk tubuh Raka dengan erat, sungguh tidak tega melihat mas Alif terbaring lemah diranjang seperti itu. Tanpa ku sadari, air mataku menetes.


"Hust sudah ya, Raka tenang. Mbak Runi yakin om Alif pasti akan baik-baik saja, om Alif kan kuat. Lagipula disini juga sudah ada dokter, jadi Raka jangan sedih lagi ya." Kataku sambil mengelus rambut Raka.


"Sini Raka sama mbak Anin dulu, biarkan mbak Runi mau melihat om dulu ya." Bujuk Anin.


Aku berdiri disamping ranjang mas Alif, rasanya sangat tidak tega melihatnya seperti ini. Aku merasa menyesal dengan perlakuanku pada mas Alif sore kemarin.


"Sebenarnya apa yang terjadi, eyang?" Tanyaku pada eyang Gitarja.


"Braha, semalam dia datang menemui Alif. Menanyakan tawaran yang tempo hari ia berikan pada Alif, tetapi Alif menolaknya. Dan hal itu membuat Braha sangat murka terhadapnya, dia menyerang Alif. Dia bahkan menyerang Alif dengan menggunakan bola api Bratasena." Jawab eyang Gitarja.


"Bola api Bratasena, apa itu?"


"Termasuk jajaran bola api yang kuat energinya, dan itu bisa membuat luka dalam yang parah bagi penerimanya." Ucap mas Genta.


Aku menutup mulutku seakan tak percaya. "Astagfirullahaladzim, lalu bagaimana dengan mas Alif, eyang."


"Eyang akan berusaha untuk menyembuhkan luka dalamnya nduk, ini juga salah eyang. Semalam waktu Alif datang kerumah untuk memberitahu tentang Braha yang akan datang, eyang tidak memberinya perlindungan." Ucap eyang.


Mas Genta mengusap pundak eyang "Ini bukan salah eyang, semua ini sudah takdir dari yang diatas. Kita harus tetap berusaha dan berdoa untuk kesembuhan Alif. Eyang jangan merasa bersalah seperti itu."


Eyang tersenyum "Iyaa cah bagus."


"Kenapa tidak dibawa kerumah sakit saja, mas?" Tanyaku pada mas Genta.


"Sebenarnya luka fisiknya tidak terlalu parah, yang parah itu luka dalamnya. Jadi percuma saja jika dibawa kerumah sakit, pasti nanti malah dimasukkan ke ICU. Makanya aku datangkan saja dokter kemari, dirawat dirumah saja. Ini juga perintah dari eyang."


Aku memanggut setuju dengan ucapan mas Genta.


🍂

__ADS_1


🍂


🍂


__ADS_2