MEREKA SEMUA TEMANKU

MEREKA SEMUA TEMANKU
Sander Hantu Shamming!


__ADS_3

Aku senang melihat Raka yang sekarang, ia sudah kembali terlihat seperti anak seusianya yang gembira. Aku harap Pak Karman dialam sana juga dapat merasa bahagia melihat anaknya, Raka sudah mendapat perlakuan yang baik dari mas Alif.


Mengatakan tentang Pak Karman, ia belum menemuiku dan mas Genta lagi semenjak awal pertemuan kami. Dimana saat itu dia meminta bantuanku untuk membebaskan Raka dari mas Alif. Dan itu adalah awal dari semua ini, aku sama sekali tidak merasa menyesal menolong pak Karman. Semoga anda sudah bisa beristirahat dengan tenang ya, pak.


"Hei apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya mas Genta yang sudah ada disampingku.


"Eh mas Genta, tidak ada kok mas. Hanya tentang pak Karman." Jawabku.


"Ada apa dengan kangmasku, Aruni?" Celetuk mas Alif diantara kami berdua.


"Tidak ada mas Alif, hanya saja aku merasa bingung. Kenapa dia belum menemuiku lagi, terakhir dia menemuiku saat meminta pertolongan tentang Raka." Sahutku.


"Ah begitu rupanya, iya, sudah lama juga kangmas tidak mengunjungiku didalan mimpi." Ucap mas Alif.


"Mungkin suatu hari nanti, Pak Karman akan menemui kita." Ucap mas Genta.


"Aku harap juga begitu."


Saat aku, mas Genta, dan juga mas Alif sedang asyik berbincang, tiba-tiba saja ku dengar rengekan Raka dari luar yang sedang bersama dengan Anin.


"Loh itu si Raka kenapa ya?" Ucapku.


"Entahlah, mungkin sedang bermain dengan Anin." Kata mas Genta.


"Biar aku cek sebentar kedepan." Ucap mas Alif sambil bangkit dari tempat duduknya.


Belum selesai mas Alif beranjak keluar untuk memeriksa keadaaan Raka, ia sudah datang dengan ekspresi kesal khas anak-anak. Bibir dimanyunkan, kedua tangan dilipat didepan dada, dan suara hentakan kaki. Disusul dengan Anin dibelakangnya yang mencoba membujuk Raka.


"Loh Raka kenapa? Nin ini kenapa dia, kok malah ngambek kaya gini sih?" Tanyaku.


"Tanya saja sendiri sama anaknya coba." Jawab Anin.


Aku berjongkok didepan Raka sambil membelai rambutnya. "Raka kenapa, kok ngambek kaya gini sih?"


"Mbak Anin jahat!" Jawabnya dengan nada kesal.


"Memangnya mbak Anin jahat apa ke Raka?" Tanya mas Alif.


"Raka pengen main lato-lato om, masa sama mbak Anin nggak boleh sih! Katanya berisik suaranya, tak tak tak tak." Adu Raka.


"Kamu ini kenapa sih, Nin? Hanya karena lato-lato saja si Raka sampe ngambek kaya gini!" Omelku pada Anin.


"Ih bukan gitu, Run. Berisik tau, tak tak tak tak terus."


"Halah dia tidak sadar saja, kalau dia sedang cerewet, berisiknya ngalahin lato-lato." Celetuk Sander yang sontak membuat mas Genta dan mas Alif tertawa.


"Sudah-sudah tidak apa-apa, sudahlah Run, kau tidak perlu memarahi Anin seperti itu. Raka juga, sudah yaa jangan ngambek lagi, nanti kita beli lato-latonya, ya." Bujuk mas Alif pada Raka.


"Nggak mau! Raka maunya beli sekarang, om." Rengek Raka.

__ADS_1


"Sudah Lif, biar beli sama aku aja. Yuk Raka, kita beli lato-lato yang banyak." Ucap mas Genta sambil menggandeng tangan Raka.


"Terimakasih ya Ta, titip Raka dulu, nanti uangnya aku ganti."


"Halah santai."


"Yeee terimakasih mas Genta, wleeee." Raka menjulurkan lidahnya pada Anin.


"Eak.. eak.. eak.." Terdengar suara tangisan bayi disebelah rumah mas Alif.


"Loh mas, itu ada suara bayi yang menangis, bayinya siapa?" Tanyaku.


"Ohh itu pasti anaknya mbak Vera, si Luna. Tapi kok tumben benget ya, nangis kejer nggak berhenti-berhenti seperti itu." Jawab mas Alif.


"Dari suaranya, terdengar seperti sedang ketakutan, Run." Celetuk Kukun.


"Aku menganggukkan kepala. "Kau benar, mas, kita cek saja yuk! Aku penasaran, dia nangis gara-gara apa." Ajakku pada mas Alif dan Anin.


Aku, mas Alif, Anin, dan teman-teman gaibku beranjak pergi ke rumah mbak Vera, untuk mengetahui penyebab anaknya yang terus saja menangis sedari tadi.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, eh kalian." Jawab mbak Vera dengan wajah panik sambil menggendong Luna yang saja terus menangis.


"Luna kenapa mbak? Kok daritadi nangis terus?" Tanya mas Alif.


"Ditinggal sendirian mbak? Dimana?" Tanyaku.


"Iya Run, dikamar tadi." Jawab mbak Vera.


"Aruni boleh lihat ke kamar nggak mbak?"


Mbak Vera yang mengetahui Aruni adalah seorang gadis indigo pun mempersilahkan Aruni masuk ke kamarnya.


"Iya Run, boleh. Tolong dilihat ada apanya dikamar, sampai-sampai si Luna nangis kaya gini." Ucap mbak Vera sambil menenangkan Luna.


Aku menganggukkan kepala. "Iya mbak, Yuk." Aku mengkode kepada teman-teman gaibku untuk ikut masuk ke kamar.


Aku masuk kedalam kamar mbak Vera, energinya masih netral, tidak ada energi negatid disekitar kamar ini. Dan tiba-tiba saja..


"Hihihi..."


"Ah ternyata dirimu, ya." Tuduhku.


"Apa, kenapa memangnya dengan diriku?" Ucap kuntilanak berwajah mengelupas dengan mata yang nyaris keluar.


"Kamu yang menakut-nakuti anak kecil tadi?" Tanyaku penuh selidik.


"Tidak, aku tidak menakut-nakutinya kok." Belanya.

__ADS_1


"Lalu bagaimana bisa dia menangis seperti itu?" Tanya Cong-cong.


"Entahlah, aku pun bingung. Padahal tadi aku hanya ingin menjaga dan menghiburnya sebentar ketika ibunya pergi ke kamarmandi."


"Menghiburnya, maksudmu bagaimana?" Tanyaku.


"Pok ame-ame didepan dia. Eh malah dia nangis." Ucal Kuntilanak itu tanpa merasa bersalah.


"Astagrifullahhaladzim, pantas saja Luna nangis kejer." Ucapku sambil menepuk jidat.


"Kenapa, ada yang salah?" Ucap Kuntilanak.


"Ya tentu saja salah, coba kau bercermin. Dirimu itu sangat menakutkan, tau. Sok-sokan mau pok ame-ame ke anak bayi, ya pantas saja bayi itu menangis. Dia takut melihat wajah serammu itu, tau." Celetuk Sander.


"Hei, jaga ucapanmu. Bagaimanapun juga dulu waktu masih menjadi manusia, aku itu cantik, tau." Sahut Kuntilanak tersebut tak terima.


"Tapi itu kan dulu waktu dirimu masih menjadi manusia, sekarang kau itu hantu, tau." Ucap Sander tak mau kalah.


"Sander, jaga ucapanmu. Kau tidak boleh berbicara seperti itu!" Omelku pada Sander.


Sander menunduk. "Maaf, Aruni."


"Jangan minta maaf padaku, minta maaflah pada dia." Tunjukku pada Kuntilanak.


Sander menatap Kuntilanak yang sedang merajuk tersebut. "Maaf jika ucapanku membuatmu sakit hati, aku tidak bermaksud seperti itu."


"Sudahlah tak apa, kau benar. Aku ini memang menakutkan, wajahku saja nyaris hancur. Padahal niatku kan baik, ingin menemani bayi itu selagi ibunya pergi ke kamar mandi." Lirih Kuntilanak itu.


"Huu kau si berbicara seperti itu, lihat kan sekarang dia sedih seperti itu." Omel Cong-cong.


"Kan aku sudah minta maaf, Cong."


Aku yang mendengar jawaban Kuntilanak itupun tersentuh, kasihan dia. Aku mendekati Kuntilanak tersebut.


"Hei it's oke, jangan berbicara seperti itu. Aku tau niatmu baik, ingin membantu menjaga Luna. Tetapi, Luna itu masih kecil, jadi pantas saja dia takut melihatmu yang seperti ini." Kataku.


"Iya aku tau, aku memang jelek, aku menakutkan. Tidak didunia manusia tidak didunia gaib, selalu saja aku menjadi sasaran korban bully. Aku pergi dulu, aku tak ingin membuat bayi itu menangis lagi." Lirih Kuntilanak itu.


"Hei jangan berbicara seperti itu, tidak semua orang itu takut akan dirimu, contohnya aku. Aku tidak takut sama sekali denganmu." Ucapku sambil tersenyum.


"Tetapi rata-rata semua orang takut ketika melihat wujudku yang seram seperti ini." Ucap Kuntilanak sambil menunduk.


"Sudahlah jangan bersedih lagi seperti itu, aku bisa merasakan apa yang kau rasakan." Kata Kukun.


🍂


🍂


🍂

__ADS_1


__ADS_2