
Pasti, eyang pasti akan membantumu Lif. Tapi satu pesan eyang padamu, selalu istiqomah dan jangan pernah lagi untuk mencoba dan mencari tau tentang hal semacam ini. Karena akibatnya akan sangat fatal. Kau tau akan itu kan?" Ucap eyang.
"Iya eyang, sekarang saya sangat menyesal. Saya merasa seperti orang yang paling bodoh didunia ini setelah menyadari semuanya. Alif sangat berterimakasih pada eyang, karena eyang mau membantu saya. Saya malu dengan sikap saya dulu pada kalian semua. Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya."
Eyang tersenyum "Sudah, menyesal pun sekarang tidak ada gunanya. Eyang sudah memaafkan mu dari dulu, tapi untuk masalah Aruni. Biarkan dulu saja ya, mungkin dia masih syok. Rasa kecewa Aruni terhadapmu itu wajar." Ucap eyang.
"Baik eyang." Jawab mas Alif.
Mas Alif menghela nafas panjang sambil menoleh ke arahku dengan tatapan penuh penyesalan. Matanya pun mulai berkaca-kaca, seolah ingin mengatakan sesuatu tetapi ia tau bahwa berbicara panjang lebar untuk saat ini pun percuma. Karena pasti tidak akan didengar olehku, akhirnya mas Alif pamit untuk pulang ke rumahnya.
"Ya sudah eyang kalau begitu Alif pamit dulu, kasihan Raka dirumah sendiri. Mari Ta, Assalamualaikum." Pamitnya.
"Waalaikumsalam." Jawab kompak eyang dan mas Genta.
Eyang menoleh ke arahku sembari memberi kode untuk menjawab salam mas Alif.
"Nduk."
"Waalaikumsalam." Jawabku lirih.
Mas Alif beranjak pergi keluar rumah, saat didepan pintu persis ia sempat menoleh ke arahku sambil meneteskan air matanya.
"Maafkan aku, ini semua salahku Aruni."
Aku dan mas Genta pamit pulang dari rumah eyang, sebelum pulang aku pergi ke kamar mandi terlebih dahulu untuk membasuh wajahku yang sembab.
"Aku ke kamarmandi dulu sebentar." Pamitku.
Sepeninggalku ke kamarmandi, teman-teman gaibku mendekat ke arah mas Genta dan eyang Gitarja.
"Ta, aku rasa Aruni sangat syok mendengar semua pengakuan Alif. Untuk mengurangi rasa sedihnya, alangkah baiknya kau mengajak dia jalan-jalan terlebih dahulu." Ucap Cong-cong.
"Benar Ta, kau hibur dia dulu ya. Aku sangat tidak tega melihat Aruni seperti ini." Timpal Kukun.
Sander yang berlagat seperti orang yang sedang menangis pun mengatakan "Memang ya, kejujuran itu sangat menyakitkan. Hiks aku tidak sanggup dengan ini semua."
__ADS_1
Eyang menggelengkan kepala "Kamu ini loh, suasana sedang seperti ini masih saja bercanda."
"Hehe ampun eyang, agar sedikit mencair saja." Ucap Sander.
"Aku setuju denganmu Cong, sebelum ku antar pulang Aruni aku akan mengajaknya duduk-duduk dulu ditaman." Celetuk mas Genta.
"Baiklah, tolong hibur dia ya Ta." Sahut Cong-cong.
Mas Genta mengangguk "Eh dimana Uwo-uwo, kenapa dia tidak terlihat?" Tanya mas Genta.
"Dia merasa bersalah atas ini." Jawab Kukun.
"Bersalah, bersalah bagaimana?" Kata eyang.
"Begini eyang, Uwo-uwo kan keturunan Bahrat. Dan Braha masih memiliki dendam dengan bangsa Bahrat kan, waktu Braha mengetahui Uwo-uwo berteman dengan Aruni dia membenci Aruni. Atas dasar inilah Uwo-uwo merasa bersalah." Jelas Cong-cong.
"Lalu dimana dia sekarang?" Tanya Eyang.
"Entahlah yang, tadi dia hanya mengatakan ingin sendiri dan menenangkan pikirannya terlebih dahulu." Jawab Kukun.
Kami semua mengangguk setuju dengan ucapan eyang Gitarja.
•••
Sesampainya dirumah Alif tertunduk lesu didalam kamarnya, suasana hatinya sedang kacau saat ini. Disatu sisi hatinya lega karena sudah mengatakan yang sejujurnya pada Aruni dan eyang, tetapi disisi lain hatinya tak rela jika nantinya Aruni akan menjauh dari hidupnya.
Padahal baru sebentar ia kembali merasakan kehangatan keluarga, merasakan tulusnya kasih sayang dari orang sekitar, dan hatinya kembali terbuka setelah sekian lama. Dia kembali merasakan indahnya jatuh cinta, tetapi mengapa sekarang harus seperti ini.
Rasanya Alif ingin sekali marah, ingin sekali ia menghabisi si iblis Braha tersebut. Kalau saja dulu ia tak gelap mata, kalau saja ia dulu tak termakan hasutan Braha untuk memuja dan menjadi pengikut ajaran iblisnya itu. Pasti sekarang semua ini tidak akan terjadi.
"Akhhhhhhhh, kenapa kenapa harus seperti ini!!" Teriak histeris Alif dikamar.
"Bodoh aku memang bodoh, mudah sekali terhasut dengan rayuan-rayuan iblis jelek itu. Aku membencimu Braha aku benciii!!!!!" Ucapnya sambil menampar pipinya sendiri.
"Aruni... maafkan aku ya Run, waktu itu aku sedang dalam pikiran yang kalut. Tanpa pikir panjang, aku melakukan hal ini padamu. Aku sangat menyesal Run, aku sangat menyesal. Aku minta maaf Aruni, aku minta maaf."
__ADS_1
Alif bermonolog sambil terisak menangis, sungguh ia sangat menyesal dengan semua ini. Dirinya sendiri yang membuat Aruni membenci dan kecewa terhadap dirinya.
Sampai malam hari Alif berdiam diri dikamar, Raka yang melihat sang paman dari siang tadi belum keluar dari kamar pun merasa khawatir karena Alif juga belum makan dan minum apapun sekembalinya dari rumah eyang Gitarja.
Raka berinisiatif membawakan Alif makan malam, karena dulu ia terbiasa memasak sendiri Raka pun sudah lihai tentang masalah dapur. Ia membuatkan makan malam untuk sang paman berupa nasi goreng dengan telur ceplok diatasnya, tak lupa dengan segelas air putih.
Raka berjalan menuju kamar Alif dengan membawa nampan, ketukan pertama tak mendapat respon apapun dari Alif. Akhirnya ketukan kedua pintu kamarpun terbuka, ia melihat penampilan sang paman yang kacau.
Matanya yang sembab, rambut acak-acakan dengan baju yang lusuh, dan ada sedikit luka dibawah mulut Alif. Raka yang khawatir dengan kondisi sang paman pun bertanya.
"Om kenapa, om sakit ya? kita ke rumah sakit sekarang ya om." Ucap Raka.
Alif menggeleng "Om nggak kenapa-napa Raka, ada apa?"
"Om dari tadi siang belum makan kan, ini Raka buatkan nasi goreng kesukaan om Alif. Dimakan dulu ya om, nanti om sakit. Kalau nanti om sakit siapa yang jagain Raka?" Ucap Raka dengan mata yang berkaca-kaca.
Alif yang melihat sang keponakan seperti inipun tak ingin membuat Raka menjadi berpikir yang tidak-tidak, ia tak mau membuat Raka khawatir.
Alif tersenyum "Terimakasih ya, ayo makan dimeja sana saja."
"Dihabisin ya om."
Mas Alif mengangguk "Raka sudah makan belum, maaf ya om sedang ada sedikit urusan jadi daritadi tidak keluar kamar."
"Sudah om Raka tadi sudah makan kok. Om kalau lagi banyak kerja jangan sampai lupa makan ya, nanti om sakit. Kan om yang sering bilang gitu ke Raka, kok malah om sendiri nggak kaya gitu sih." Ucap Raka sambil cemburut.
Alif mengusap rambut Raka "Iya-iya terimakasih ya Raka, nasi goreng buatan kamu emang paling enak."
Selesai makan, Alif menyuruh Raka untuk tidur karena sudah malam. Sedangkan dirinya kembali ke kamar. Ia termenung di ranjang sambil memikirkan Aruni.
"Jika kedekatan kita kemarin harus berakhir sekarang, aku ikhlas aku terima Aruni. Aku ucapkan banyak terimakasih padamu, walaupun hanya sebentar kau sudah membuatku sangat bahagia. Bersamamu, aku merasakan tulusnya kasih sayang. Semua ini memanh salahku, sangat wajar jika kau marah dan kecewa kepadaku. Maafkan aku Aruni.."
🍂
🍂
__ADS_1
🍂