
Aku tertawa terbahak-bahak mendengar keributan ketiga teman gaibku ini.
"Hust Aruni jangan keras-keras, nanti simbah bangun dan ibumu akan kemari lagi." Kukun mengingatkan ku.
Sontak aku menutup mulutku dengan kedua tangan. "Hehe ups, kelepasan. Lagian kalian sih, bisa banget bikin mood aku naik. Berasa lagi nonton film horor komedi, tau."
"Aku kan memang lucu, menggemaskan. Tidak seperti mereka berdua ini, menyeramkan, wajanya jelek."
"Wah parah, sekali lagi kamu hantu shamming sama kita, tidur digudang satu minggu!" Kesal Cong-cong.
"Mana bisa begitu, memangnya siapa kau membuat aturan-aturan seperti itu, hah?" Ucap Sander tak terima.
"Aruni, lihatlah dia sangat menyebalkan." Cong-cong mengadu padaku.
"Haha, sudah-sudah jangan begitu Sander. Tidak baik, lebih baik sekarang kalian diam, aku mau tidur. Sudah hampir larut." Aku menutup mataku perlahan.
"Baiklah, selamat tidur dan mimpi yang indah, Aruni." Ucap kompak ketiga teman gaibku.
***
Hari ini tepat 40 hari Uwo-uwo bersemedi, yang artinya sebentar lagi ia akan mendapatkan keris pusaka itu. Malam nanti eyang Gitarja, mas Genta, dan mas Alif pun berkumpul dirumah simbah untuk menyambut kepulangan Uwo-uwo.
Aku terbangun dipagi hari, sengaja ku pasang alarm tepat pukul 04.00. Karena hari ini aku dan Anin akan pergi ke sekolah, dan tepat dihari ini juga Uwo-uwo alan pulang. Ternyata benar ya, seseorang akan merasa kehilangan ketika yang dirindukan itu tidak ada dihadapannya. Seperti halnya diriku yang sangat meridukan teman gaibku yang satu ini, meskipun terkadang sedikit menjengkelkan.
Saat aku sudah selesai sholat dan sedang merapikan mukena, Ketiga teman gaibku datang menghampiri.
"Malam nanti Uwo-uwo akan pulang, ya?" Tanya Sander.
Aku menganggukan kepala. "Heem, malam nanti tepat pukul 12 malam gerhana bulan akan muncul. Dan keris pusaka itu bisa Uwo-uwo ambil." Jawabku.
"Semoga semuanya dilancarkan oleh Allah, Agar Ki Braha tidak mengusik kehidupanmu lagi, Aruni." Cong-cong menatapku dengan tatapan penuh arti.
"Aamiin ya Allah, terimakasih ya teman-teman. Kalian selalu ada disisiku, aku tidak bisa membayangkan jika kalian tidak ada dihidupku. Aku senang memiliki kalian." Mataku mulai berkaca-kaca.
"Kami juga senang bisa mengenalmu Aruni, kau gadis yang baik, tidak seharusnya mendapat perlakuan kejam dari seorang raja jin itu. Dia memang pantas untuk dimusnahkan!"
Aku tersenyum, aku menoleh ke arah Kukun yang sedari tadi sedang senyum-senyum sendiri.
"Ada apa dengan dia? Kenapa tersenyum-senyum sendiri seperti itu?" Tanyaku pada Sander dan Cong-cong.
"Kau ini seperti tidak tau dia saja, kan ayangnya sebentar lagi mau pulang, ya pasti dia seneng. Sudah dari semalam dia seperti itu." Jawab Uwo-uwo.
"Kalau saja ada rumah sakit jiwa untuk para hantu, sudah ku masukkan dia kesana. Dia senyum-senyum seperti itu tidak ada imut-imutnya sama sekali, malah terkesan lebih menyeramkan." Celetuk Sander.
"Sudah jadi hantu kok masih aja suka julid, pantes dipanggil lebih awal sama tuhan!" Sahut Kukun.
__ADS_1
Aku menahan tawa saat mendengar sahutan Kukun. "Kau ini sepertinya senang sekali, begitu rindu ya pada makhluk berbulu itu." Ucapku sambil terkekeh.
"Bagaimana tidak rindu, satu bulan lebih kami tidak bertemu." Jawab Kukun malu-malu.
"Cong, melihat dan mendengarnya seperti itu, aku jadi ingin muntah." Bisik Sander pada Cong-cong.
***
Malam ini semuanya berkumpul dirumah, hanya eyang Gitarja dan mas Alif yang belum datang. Katanya akan datang kerumah selepas isya, karena ada suatu hal yang sedang diurus.
Mas Genta datang dengan membawa dua bungkus martabak telur, dia memang sangat tau apa yang disukai oleh simbah, budhe, dan ibu. Simbah dan mas Genta berbincang diruang tamu, sedangkan aku, ibu, budhe, dan juga Anin sedang berada didapur untuk membuat makanan.
Tak lama kemudian, suara sepeda motor sport berhenti didepan rumah simbah, mas Alif dan eyang Gitarja sudah sampai rupanya, dan ternyata Raka juga ikut.
"Simbah!" Raka berlari menuju pangkuan simbah.
"Hei Raka ikut rupanya." Simbah membelai rambut Raka dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Raka.
"Iya simbah, tadi sewaktu saya bilang mau kemari dia sudah tidak sabar mau ikut. Lagipula tidak mungkin saya ninggalin dia sendirian di rumah." Timpal mas Alif.
"Iya sudah nggak papa, nanti biar sekalian tidur disini saja ya, Raka mau kan tidur dirumah simbah?"
"Oh ya jelas mau dong, eh mbak Runi kemana mbah?" Raka celingukan mencari keberadaan Aruni.
"Didapur, lagi bikin makanan. Sana disusul dibelakang."
Waktu sudah menunjukan pukul 23.30, Aku, eyang Gitarja, mas Genta, dan mas Alif sedang duduk bersiap menunggu kedatangan Uwo-uwo. Sedangkan Anin, simbah, ibu, budhe, dan Raka sudah pergi tidur.
"30 menit lagi, keris pusaka itu akan Uwo-uwo ambil." Ucap Eyang Gitarja sambil menyeruput kopi hitamnya.
"Eyang, apakah keris pusaka itu akan dapat langsung diambil? Maksud saya, apakah tidak ada lagi tantangan?" Tanya mas Genta.
"Mungkin satu tantangan itu ketika dia harus membelah batu yang menjadi temlat ditancapkannya keris pusaka oleh Ki Bahrat. Eyang lupa memberitahu kalian, bahwa sebenarnya dalam mengambil keria itu ada durasi waktu." Jawab Eyang.
"Durasi waktu? Maksud eyang bagaimana?" Tanyaku.
"Uwo-uwo harus bisa membelah batu itu dengan sempurna untuk bisa mengambil keris pusaka dalam waktu 10 menit."
"Kenapa 10 menit, eyang?" Timpal mas Alif.
"Karena gerhana bulan itu hanya terjadi selama 10 menit."
"Lalu apa yang terjadi jika Uwo-uwo gagal membelah batu itu dalam waktu 10 menit?"
"Harus mengulangnya lagi 100 tahun yang akan datang. Karena gerhana bulan hanya terjadi 100 tahun sekali."
__ADS_1
Deg!
"Apa Uwo-uwo bisa ya? Sedangkan dia baru saja memanjat pohon mangga simbah dibelakang rumah saja sudah terlihat lelah, maklum dia kan hantu jompo. Usianya ratusan tahun." Celetuk Sander.
Plak!
Kukun memukul bahu Sander. "Sembarangan saja kau bilang, dia itu makhluk terkuat yang pernah aku temui, tau. Jangan sepelekan dia didepanku, ya!" Sahut Kukun tak terima.
"Aduh, takut banget loh." Sander memperlihatkan wajah takutnya.
"Sander kau ini jangan berbicara seperti itu, aku yakin Uwo-uwo bisa melakukannya." Ucap mas Genta.
***
"Bersiaplah cucuku, 5 menit lagi gerhana bulan itu akan datang. Perlu kau ketahui, gerhana bulan itu hanya akan bertahan selama 10 menit. Dan tugasmu berikutnya, harua bisa mencabut keris pusaka itu sebelum gerhana bulan itu sirna. Kalau kau tak berhasil, kau harus mengambilnya 100 tahun kemudian ketika gerhana bulan itu muncul kembali." Suara Ki Bahrat menggema di seisi gua.
"Ah kakek ini, kenapa tidak memberitahuku sebelumnya jika ada batasan waktu. Kalau begini, aku belum mempersiapkan semuanya. Aku fikir tidak ada batasan waktu dalam mencabut keris pusaka itu. Apalagi itu jika aku gagal aku harus mengulanginya 100 tahun kemudian? Ck, kakek ini bisa saja mempermainkanku!" Gerutu Uwo-uwo didalam hatinya yang dapat didengar oleh Ki Bahrat.
"Hahaha, yang ini memang sengaja ku lakukan, cucuku. Aku ingin tau sejauh mana kau bisa mengelola waktu dan setajam apa ketangkasanmu. Tapi kau tenang saja, aku yakin kau akan bisa mengambilnya."
"Sudah waktunya, bukalah matamu dan bangkit dari pertapaanmu. Berjalanlah menuju sebuah batu yang ada disebelah kirimu itu, disana tempat keris pusaka itu aku tancapkan. Ingat, waktumu hanya 10 menit, bergegaslah!" Perintah Ki Bahrat.
Uwo-uwo lantas membuka matanya dan berjalan menuju batu yang ada disebelah kirinya, Ia mulai membacakan mantra yang sudah diajarkan oleh kakeknya. Perlahan batu itu membelah dan diiringi dengan sebuah kilatan cahaya dari sela-sela batu.
Waktu sudah menunjukan pukul 00.05, Uwo-uwo masih berjuang untuk mendapatkan keris pusaka itu. Hanya sedikit lagi, setengah lagi agar batu itu bisa terbelah secara sempurna.
"Cepatlah cucuku, waktumu hanya tersisa 5 menit lagi."
"Tapi kek, kenapa sepertinya batu ini tidak bergerak lagi ya?" Ucap Uwo-uwo panik sambil terus membacakan mantra.
"Fokus cucuku, fikirkan nyawa dan keselamatan sahabat manusiamu itu!"
Uwo-uwo memejamkan matanya, mulutnya terus berkomat-kamit membacakan mantra serta tangan yang bergerak diatas batu yang sudah setengah terbelah itu. Perlahan batu itu kembali bergerak, kini seluruh bagian keria hampir terlihat, hanya ujung dari kerisnya saja yang belum terlihat.
"1 menit lagi, cepatlah! Sebentar lagi gerhana bulan ini akan sirna!"
Uwo-uwo mulai panik, ia takut jika ia gagal mendapatkan keris pusaka itu. Ia pasti akan merasa bersalah pada Aruni.
"Fokus, teruslah memikirkan hal yang positif!" Teriak Ki Bahrat.
Ketika waktu kurang dari 20 detik lagi, seluruh bagian batu itu sudah terbelah sempurna. Mata Uwo-uwo berbinar-binar benda yang ia perjuangkan selama 40 hari kini ada didepan matanya, ia segera mengambil keria itu dan mengangkatnya keatas.
"Kakek, aku berhasil kek. Aku berhasil mendapatkan keris pusaka ini!!!" Teriak Uwo-uwo dengan mata yang berkaca-kaca.
🍂
__ADS_1
🍂
🍂