
"Lakukanlah sesuai rencanamu Aruni, dan akan aku pastikan kau tidak akan mendapatkan apa yang kau inginkan." Ucap Alif sambil tersenyum sinis.
"Apa maksudmu?" Aruni mengerutkan keningnya.
"Aku banyak urusan, jangan pulang terlalu sore kalau kau masih ingin bertemu dengan Raka." Alif langsung masuk kedalam rumah.
Aruni berdiri mematung menatap kepergian Alif "Benar-benar pria yang misterius." Ucapku dalam hati.
Aruni menarik tangan Raka dan mengajaknya pergi menuju ke mobil mas Genta.
"Kita mau jalan-jalan kemana mbak?" Tanya Raka.
"Em kemana ya? Raka maunya jalan-jalan kemana?" Aku berjongkok didepan Raka sambil memegang kedua tangannya.
Raka berfikir dengan tangan yang ia tempelkan dipipinya. "Kemana aja deh yang penting hari ini Raka seneng-seneng sama mbak Runi, mbak Anin, dan juga mas Genta." Jawab Raka penuh antusias.
Aku mengelus rambut Raka sambil tersenyum "Mbak Runi janji, pokoknya hari ini Raka bakalan seneng-seneng. Yuk ke mobilnya mas Genta."
Mobil mas Genta berjalan dengan kecepatan sedang menuju taman desa yang jaraknya cukup jauh dari desa eyang. Sepanjang perjalanan Raka selalu bersenandung ria dengan kaki yang diayun-ayunkan.
Aku menoleh dan tersenyum kecil melihatnya. "Raka seneng banget ya, bisa jalan-jalan hari ini?"
"Seneng banget mbak. Kan Raka selama tinggal sama om, nggak pernah pergi jalan-jalan lagi kaya dulu." Jawabnya penuh antusias.
Anin mengerutkan keningnya "Emangnya om Alif nggak pernah bawa Raka jalan-jalan gitu?" Ia mengelus rambut Raka.
Raka gelagapan mendengar pertanyaan dari Anin. "Aduhh kok bisa aku keceplosan seperti ini sih!" Gerutunya dalam hati.
"Em enggak gitu maksudnya mbak, anu.. em beberapa bulan terakhir om nggak pernah bawa Raka jalan-jalan. Soalnya kan Raka sibuk sama sekolah bola kalau weekend." Jawab Raka dengan wajah penuh kesungguhan.
Anin hanya memanggut-manggut mendengar jawaban Raka,sedangkan aku dan mas Genta langsung bertatapan satu sama lain.
Setelah menjawab pertanyaan dari Anin,sikap Raka berubah menjadi lebih diam dan kadang melamun. Padahal Raka sedang memikirkan bagaimana cara agar bisa mendapatkan sehelai rambut milik Aruni.
"Aduh,om ini ada-ada aja sih. Bagaimana caranya aku bisa mendapatkan rambut mbak Runi, masa iya aku harus dengan sengaja menjambak rambutnya." gerutu Raka dalam hati.
"Kamu kenapa Raka?" Tanyaku yang melihat Raka mendadak diam.
"Enggak papa mbak."
*
*
Sementara ditempat yang berbeda, Alif sedang membayangkan rencananya mengirim santet pada Aruni itu berjalan dengan lancar.
"Hahaha aku tidak sabar melihat kejadian itu, aku harap bocah itu bisa dipercaya untuk bisa mengambil rambut milik Aruni." Alif bermonolog sambil tertawa.
Tiba-tiba saja Ki Braha muncul didepan wajah Alif yang tengah rebahan disofa kamarnya, dengan wajah yang menyeramkan tentunya. Wujud genderuwo dengan taring digiginya dan juga air liur yang senantiasa mengalir dari mulutnya, tak lupa lalat hijau yang selalu mengelilingi tubuhnya itu. Ya, itulah rupa asli dari Ki Braha.
"Astaga Ki, kenapa kalau datang selalu saja mengagetkanku." Alif berbicara dengan sedikit keras sambil mengusap-usap dadanya.
"Wah hebat, sudah berani membentakku rupanya." Ujar Ki Braha dengan diiringi dengan tepuk tangan.
Wajah Alif langsung berubah pias. "Ampun Ki, saya tidak bermaksud berkata kasar pada aki." Alif menundukkan kepalanya.
"Bagaimana, apakah kau sudah bisa mendapatkan rambut milik gadis itu?"
"Belum Ki, tapi akan saya pastikan hari ini saya akan mendapatkan rambutnya. Saya memerintahkan Raka agar bisa mengambil rambutnya secara diam-diam."
"Apakah keponakan mu tahu untuk apa rambut Aruni itu?" Tanya Ki Braha.
"Tentu saja tidak, mana mungkin saya memberitahu dia kalau saya akan mengirimkan santet pada Aruni. Bisa-bisa dia tidak mau melakukannya."
"Ck, tidak sebodoh biasanya." Celetuk Ki Braha.
*
*
__ADS_1
Beberapa saat kemudian kami sudah sampai ditaman desa,terlihat cukup ramai hari ini. Karena hari ini memang tanggal merah, jadi taman desa ini dipenuhi dengan orang-orang yang sengaja bersantai bersama keluarga mereka.
"Wah rame banget, banyak pedagangnya juga." Ujar Raka saat turun dari mobil.
"Iya dong, Raka mau main apa?" Tanyaku pada Raka sambil menggandeng tangannya.
"Em Raka mau main balon sabun mbak, boleh?" Pinta Raka.
Aku mengusap rambut Raka. "Boleh dong." Jawabku sambil tersenyum.
"Yuk beli balon sabunnya sama mas Genta." Mas Genta mengulurkan tangannya pada Raka.
Raka meraih uluran tangan dari mas Genta dan mengangguk.
"Mas, aku sama Anin tunggu dikursi dekat danau ya." Ujarku pada mas Genta.
"Baiklah,kami akan segera menyusul kalian." Jawab mas Genta.
Aku dan Anin berjalan menuju kursi putih panjang yang ada didekat danau tersebut.
"Kamu tadi ngerasa nggak sih,kalau ada yang ditutup-tutupi oleh Raka?" Ujar Anin.
"Sedikit,sepertinya Alif sudah mewanti-wanti Raka agar tidak berbicara sembarangan kepada orang luar seperti kita." Jawabku.
"Kau benar Run,kalau begini bagaimana kita bisa mendapatkan informasi dari Raka?"
"Ya kita harus hati-hati kalau berbicara pada Raka,jangan sampai seperti tadi." Sahutku pada Anin.
Anin memanggut-manggutkan kepalanya.
Kulihat ketiga teman gaibku sedang melesat menuju arahku dan Anin.
"Bagaimana?" Tanyaku pada uwo-uwo didalam hati.
"Sementara ini aman,tidak ada yang mencurigakan." Jawab uwo-uwo.
"Run,perasaanku mendadak tidak enak semenjak simbah menceritakan mimpinya pagi tadi. Aku merasakan sesuatu akan menimpamu." Timpal Sander.
"Aku tidak mau membuat teman-teman gaib dan semua orang didekatku menjadi khawatir seperti ini,Ya Allah lindungi Aruni dari segala macam bahaya. Aruni hanya ingin membantu Raka." Ucapku dalam hati.
"Aku bisa mendengar apa yang kau katakan Aruni." Celetuk uwo-uwo.
Aku menatap uwo-uwo "Wo,aku juga merasakan hal demikian."
"Nanti kita tanyakan saja pada eyang tentang mimpi simbah semalam. Sudah jangan terlalu dipikirkan, tugasmu hari ini adalah membuat Raka bahagia." Ucap uwo-uwo padaku.
Aku menganggukkan kepala "Baiklah, terimakasih Wo."
Mas Genta dan Raka berjalan menghampiri kami didekat danau,kulihat ditangan kanan mas Genta ada beberapa kantung plastik berisi makanan. Sedangkan Raka terlihat menggenggam sebuah botol berisi balon sabun tersebut.
"Mbak Runi." Panggil Raka padaku.
"Hei, sudah dapat balon sabunnya?" Tanyaku sambil memangku Raka.
Raka menunjukan botol plastik berisi balon sabun "Sudah." Jawabnya penuh antusias sambil meniup balon sabun.
"Raka mau minum nggak?" Tawar Anin pada Raka yang tengah asyik bermain balon sabun.
"Nanti aja mbak, Raka lagi asyik nih." Sahutnya.
Mas Genta memberikan kode padaku untuk bertanya sesuatu pada Raka, dan aku hanya menggelengkan kepala.
"Em Raka sekarang kelas berapa sih?" Celetuk mas Genta.
"Kelas dua mas." Jawab Raka.
"Berarti sekolahnya ikutan pindah dong, kan sekarang Raka tinggalnya sama om Alif." Ujar mas Genta.
"Ah em i i iya mas, pindah." Jawab Raka sedikit terbata-bata.
__ADS_1
Mas Genta menoleh kearah ku.
"Om Alif baik banget ya sama Raka, sampai-sampai Raka dimasukin ke sekolah bola juga." Timpalku.
"Om Alif baik mbak, kata ayah dan bunda Raka harus selalu nurut sama om karena sekarang hanya om Alif yang Raka punya." Sahut Raka.
"Meskipun om Alif suka sekali berkata kasar dan memukul Raka." Ucap Raka dalam hati.
"Iya dong Raka harus nurut, kalau anak Sholeh kan selalu nurut sama orang yang lebih dewasa." Ujarku sambil mengelus rambut Raka.
Saat Aruni mengelus rambut Raka, Raka teringat akan pesan sang paman untuk mengambil sehelai rambut milik Aruni. Entah untuk apa rambut itu, Raka pun tidak mengetahuinya. Yang terpenting ia harus bisa mendapatkan rambut Aruni agar tidak mendapat hukuman dari sang paman.
"Ah iya, aku harus bisa mengambil rambut mbak Runi. Tapi bagaimana caranya ya?" Gerutu Raka dalam hatinya.
"Raka mau permen karet nggak?" Tawar Anin yang sedang memakan permen karet rasa strawberry itu.
"Wah mau, Raka suka permen karet mbak."
Anin memberikan satu permen karet itu kepada Raka. Saat sedang asyik mengunyah permen karet, tiba-tiba terbesit satu rencana agar ia bisa mendapatkan rambut Aruni.
"Aku punya ide, aku tempelkan permen karet ini di rambut mbak Runi otomatis rambutnya akan menyangkut dipermen karet. Maaf mbak Runi, Raka nggak bermaksud tapi ini karena permintaan om Alif."
Diam-diam Alif mengeluarkan permen karet itu dari mulutnya dan menempelkan dirambutnya Aruni.
"Astaga Raka, kok bisa nempel dirambut mbak sih." Ujar Aruni saat melihat ada permen karet dirambutnya.
"Maaf mbak, tadi Raka pengen buang permen karetnya tapi malah kena rambut mbak Runi."
"Aduh ini gimana buangnya, nempel banget ini." Aruni panik.
"Em aku pinjamkan gunting ke pedagang ya, tunggu sebentar." Ujar mas Genta.
"Maafin Raka mbak, hiks hiks." Raka menangisi perbuatannya pada Aruni.
"Hei, udah nggak papa kok. Raka jangan nangis." Aruni mengusap pipi Raka yang berlinang air mata.
Mas Genta datang dengan membawa gunting, ia menggunting sedikit rambut Aruni yang menempel di permen karet Raka. Untungnya permen karet itu menempel diujung rambutnya, jadi tidak perlu digunting terlalu banyak. Tanpa ada yang tahu, Raka mengumpulkan guntingan rambut Aruni ditangannya.
"Alhamdulillah, untung diujung Run jadinya tidak terlalu banyak rambut kamu yang terpotong." Ujar mas Genta.
"Iya mas, terimakasih ya." Ucapku pada mas Genta sambil tersenyum.
"Sama-sama, nanti pergi ke salon aja buat rapihin rambut kamu." Jawab mas Genta dan ku jawab dengan anggukan kepala.
"Udah dong Raka jangan nangis terus,mbak Runi nggak papa kok." Aruni berusaha menenangkan Raka yang sedari tadi terus saja menangis.
"Hiks hiks Raka salah, Raka minta maaf mbak."
"Iya mbak Runi maafin Raka kok, udah ya jangan nangis terus. Nin minta tissue dong." Jawabku.
Anin memberikan satu bungkus tissue kepadaku "Nih."
Aku mengelap pipi dan hidung Raka. "Udah jangan nangis,nanti gantengnya hilang."
Raka tersenyum "Terimakasih mbak, maafin Raka ya." Ucapnya sambil memelukku.
Aku membalas pelukan Raka "Iya cah bagus."
Raka mengambil tissue dan memasukan potongan rambut Aruni didalam tissue tersebut. Ia masukan kedalam kantung celana jeans pendeknya dengan hati-hati agar tidak membuat orang-orang curiga terhadapnya.
🍂
🍂
🍂
Maaf banget baru bisa up 🙏🏻
Jangan lupa like,komen,dan bunganya ya 🍓🍅
__ADS_1
SALAM SERAM MANJA DARI AUTHOR >3