MEREKA SEMUA TEMANKU

MEREKA SEMUA TEMANKU
Kemarahan Ki Braha


__ADS_3

Semakin hari kedekatan antara Alif dan Aruni semakin terjalin, hal itu juga membuat Genta menjadi tidak nyaman. Karena akhir-akhir ini perhatian Aruni hanya terpusat kepada Raka dan Alif.


Karena seringkali Alif menjadikan Raka alat agar bisa bertemu dan menghabiskan waktu bersama dengan Aruni.


Seperti halnya sore ini, Alif menjemput Aruni dirumahnya bersama dengan Raka. Raka merengek ingin pergi jalan-jalan bertiga bersama dengan Alif dan Aruni.


"Ayo mbak Runi kita bertiga jalan-jalan ke taman desa sana, kan Raka pengen main." Ucapnya sambil memanyunkan bibir.


Aku yang gemas dengan tingkah Raka pen mencubit pipinya.


"Memangnya apa bedanya kalau main dirumah mbak Runi dan di taman desa?" Tanyaku pada Raka.


"Ih mbak kok gitu sih. Ya jelas beda lah mbak. Kalau ke taman desa kan lebih luas, ada balon sabun dan bisa berlari kesana kemari." Jawabnya.


"Raka, kalau mbak Runi nggak mau ya jangan dipaksa. Sama om Alif saja ya ke taman desanya?" Bujuk mas Alif.


"Nggak mau, Raka itu bosen berdua terus sama om." Katanya sambil menyilangkan tangan didada dengan bibir manyun.


Akupun tertawa melihat tingkahnya, niat hati ingin menjahili Raka malah membuatnya kesal.


"Hahaha gemes banget sih, masa gitu aja ngambek. Yaudah ayo kita let's go ke taman desa." Ucapku.


"Beneran mbak?" Tanya Raka dengan mata berbinar penuh antusias.


"Iya sayang."


Kami bertiga pun pergi menuju taman desa menggunakan sepeda motor sport mas Alif. Memang sedikit susah kalau untuk bonceng bertiga, semua ini demi Raka.


Kami seperti ini sudah seperti keluarga yang berbahagia saja, haha.


Sepeninggalku dari rumah, ternyata mas Genta datang kerumah untuk menemuiku. Katanya ponselku tidak dapat dihubungi, dan itu membuat mas Genta cemas dan khawatir.


Aku sendiri pun lupa tidak membawa ponsel, karena sedang dicharger di dalam kamar.


"Eh mas Genta, sama siapa mas?" Sapa Anin.


"Sendiri Nin, tumben rumah sepi. Aruni mana?" Tanya mas Genta.


Anin sedikit bingung bagaimana cara menjelaskan pada mas Genta, bahwa aku sedang pergi bersama dengan Raka dan mas Alif.


"I-iya mas, anu itu emm Aruni sedang pergi." Jawab Anin gugup.


"Pergi kemana, ponselnya juga tidak aktif. Makanya aku datang kesini, khawatir kalau ada apa-apa dengan dirinya." Ucap mas Genta.


"Aduh gimana nih, nggak tega aku bilang ke mas Genta kalau Aruni sedang pergi jalan-jalan sama mas Alif dan Raka. Duh Gusti, bilang nggak ya." Gerutu Anin didalam hati.


Mas Genta yang melihat Anin melamun dan terdiam pun heran. Ia melambaikan tangan didepan wajah Anin.


"Nin, heii ditanya kok malah melamun sih. Aruni pergi kemana?" Tanya mas Genta.


"Janji nggak marah loh ya." Ucap Anin.


"Iya janji."

__ADS_1


"Aruni pergi jalan-jalan ke taman desa bersama dengan mas Alif." Jawab Anin.


Raut muka mas Genta pun berubah.


"Berdua?"


"Enggak kok, sama Raka juga. Tunggu aja mas paling sebentar lagi juga pulang." Ucap Anin.


Mas Genta hanya mengangguk dan duduk dikursi teras rumah.


Anin pun menyusul ikut duduk dikursi sebelah mas Genta.


"Hayoloh tadi janjinya nggak marah." Ucap Anin.


"Siapa yang marah, sok tau." Kata mas Genta.


"Halah bohong banget, orang dari mukanya keliatan banget kok kalau mas Genta itu marah dan cemburu." Goda Anin.


"Jadi orang jangan sok tau."


"Fakta, makanya mas kalau suka sama seseorang itu ya diungkapkan dong perasaannya. Mas lebih milih kehilangan cinta ya daripada harus ngungkapin perasaan mas ke Aruni."


"Nggak gitu, semua itu butuh waktu."


"Dan waktu itu juga ada batasnya, jangan lama-lama. Nanti giliran diambil sama mas Alif, nangis." Goda Anin.


"Sembarangan aja kalau ngomong." Ucap mas Genta dengan muka masam.


Tak lama kemudian aku, Raka, dan mas Alif pun kembali ke rumah. Kulihat seperti ada sepeda motor milik mas Genta dihalaman rumah.


Jantungku berdetak kencang, aku takut mas Genta marah jika ia tau aku pergi dengan mas Alif. Ya walaupun kami tidak pergi berdua, tapi tetap saja aku takut.


"Mas Genta?" Sapaku saat masuk ke teras rumah bersama Raka.


"Ck, satu kosong untukku Ta." Gumam mas Alif saat memarkirkan sepeda motornya.


"Sudah selesai jalan-jalannya?" Tanya mas Genta dingin.


"Eh iya mas, mas sudah lama ya?"


Aku duduk disamping mas Genta, diikuti dengan Raka dan mas Alif.


Mas Genta melirik arloji yang ada ditangannya "30 menit."


"Awas loh, dia itu sedang cemburu sama kamu dan mas Alif. Aku nggak mau ikut-ikutan ah, mau masuk kedalam saja." Bisik Anin padaku sambil berlari kecil ke dalam rumah.


Aku yang mendengar bisikan Anin pun semakin menjadi tak enak hati pada mas Genta.


"Maaf ya mas jadi buat mas Genta menunggu. Mas juga kenapa mau kesini itu nggak ngabarin dulu sih." Kataku.


"Bagaimana mau menghubungimu, pesanku saja tidak kau balas." Sindir mas Genta.


Aku menepuk jidat "Hehe aku lupa kalau ponselnya sedang dicharger dikamar, maaf ya mas."

__ADS_1


Mas Genta mengangkat bahu sambil menghela nafas.


"Tidak masalah."


"Em Aruni, kalau begitu aku dan Raka pamit pulang ya, sudah mau maghrib juga. Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk Raka." Ucap mas Alif.


"Eh iya mas sama-sama, hati-hati ya pulangnya."


Mas Alif mengangguk sambil tersenyum.


"Iya, yuk Ta duluan. Assalamualaikum." Ucapnya sambil menepuk bahu mas Genta.


"Waalaikumsalam." Jawabku dan mas Genta kompak.


•••


Malam harinya saat Alif sedang bersantai sambil mengingat kembali momen tadi sore dirinya bersama dengan Aruni dan Raka ditaman, tiba-tiba saja Ki Braha datang dengan raut wajah yang sedikit seram.


Meskipun memang basic-nya wajah dia memang sudsh seram, tetapi terlihat jelas ada sedikit rasa marah diwajahnya tersebut.


"Sepertinya makin lama dirimu semakin dekat dengan gadis itu." Cibir Ki Braha.


Alif kaget mendengar suara Ki Braha.


"Aki, membuat kaget saja."


"Ck jangan mengalihkan pembicaraan. Aku serius bertanya padamu Lif, kenapa sampai sekarang kau belum mengirim serangan lagi terhadap gadis itu hah?!" Ucap Ki Braha membentak.


"A-ampun Ki, saya.." Alif tertunduk.


"Aku heran denganmu, awalnya kan dirimu yang menginginkan gadia itu lenyap. Kenapa sekarang kau malah terlihat semakin dekat dengannya."


"Bukan seperti itu Ki, ini hanya strategi." Ucap Alif meyakinkan Ki Braha.


"Ah aku sudah muak dengan strategimu yang tidak selesai-selesai itu. Sepertinya memang harus aku sendiri yang turun tangan untuk menghabisi gadis itu." Ancam Ki Braha.


Alif gelagapan mendengar ucapan Ki Braha.


"Apa maksud Aki? tidak Ki, saya tidak setuju." Ucap Alif sedikit membentak.


"Sepertinya memang benar dugaanku, kalau dirimu iti memang sudah jatuh hati pada gadis itu. Kau sudah ingkar janji denganku, bodoh." Marah Ki Braha.


Alif yang emosi dan sudah tidak dapat terkontrol pun meluapkan isi hatinya.


"Ya memang benar, aku memang jatuh hati pada Aruni. Aki mau apa? aku ini manusia Ki, aku ingin memiliki pasangan untuk hidup. Apa hak mu melarangku hah?! Dan perlu kau ingat Ki, aku sudah muak dengan segala perintahmu. Jujur, aku menyesal pernah mengenal dan mengikuti ajaran iblis mu itu. Aku muak, aku muak denganmu Braha!!!!" Teriak Alif.


Teriakan Alif membuat amarah Ki Braha semakin memuncak hingga pada akhirnya..


🍂


🍂


🍂

__ADS_1


Penasaran kan apa yang akan dilakukan Ki Braha terhadap Alif? Stay tune yaa jangan lupa dilike 👍🏻


__ADS_2