
Raka mengambil tissue dan memasukan potongan rambut Aruni didalam tissue tersebut. Ia masukan kedalam kantung celana jeans pendeknya dengan hati-hati agar tidak membuat orang-orang curiga terhadapnya.
"Mbak, maafin Raka ya. Ini semua permintaan om Alif mbak, sebenarnya Raka juga nggak mau. Tapi kalau Raka nggak nurut sama perintah om, nanti Raka dihukum." Keluh Raka didalam hatinya.
"Eh laper nggak? makan dulu yuk, udah siang juga." Ajak mas Genta.
"Iya deh boleh, Raka juga pasti kan udah laper ya?" Tanyaku pada Raka.
Raka mengangguk "Hehe iya, Raka laper." Jawabnya sambil tersenyum.
"Yaudah yuk kita cari tempat makan dulu." Ujar mas Genta.
Kamipun beranjak pergi dari taman desa untuk mencari rumah makan terdekat yang ada disana. Pilihan kami tertuju pada rumah makan yang ada di sebrang taman kota. Terlihat banyak pengunjung, sepertinya masakan disana memang lezat.
Mas Genta sedikit kesulitan saat memilih meja untuk kami berempat, karena banyaknya pengunjung yang sedang makan disana. Untungnya ada salah satu meja yang kosong, kamipun segera duduk dimeja tersebut.
"Raka mau makan apa?" Tanyaku sambil membuka buku menu.
"Em Raka mau makan nasi goreng seafood mbak." Jawabnya.
"Nasi goreng seafood, oke. Minumnya mau apa?"
"Strawberry milk shake yang ada bola-bola nya." Jawabnya sambil tangannya yang membentuk bola-bola kecil.
Aku terkekeh "Boba maksudnya?" Ucapku sambil mengusap rambut Raka.
"Hehe iya itu."
"Oke deh, mbak." Panggil mas Genta pada pelayan rumah makan tersebut.
"Mau pesan apa mas?" Tanya pelayan wanita itu.
"Em saya mau nasi goreng seafood 4 ya, es jeruk 3, sama strawberry milk shake 1 ditambah boba ya mba." Ujar mas Genta.
"Baik, ada tambahan lagi?" Tanya pelayan.
"Enggak ada, itu aja." Jawab mas Genta sambil tersenyum.
"Silahkan ditunggu ya mas, mba." Ucap pelayan wanita sambil tersenyum.
Setelah beberapa saat makanan yang kami pesan pun akhirnya sampai. Dengan lahap kami menyantap makanan rumah makan tersebut, rasanya memang lezat.
"Alhamdulillah, udah selesai semua?" Tanya mas Genta.
"Sudah mas." Jawab Anin.
"Kita mau langsung pulang?" Tanya Anin kepadaku.
Aku menganggukkan kepala "Alif tadi berpesan agar tidak terlalu sore pulangnya."
"Ya sudah kalau begitu kita langsung pulang saja, perjalanan dari sini ke desa eyang kan lumayan jauh." Ujar mas Genta.
Ditengah-tengah perjalanan pulang Raka tertidur dipangkuan Anin. Aku yang melihat hal itu pun tersenyum manis, akhirnya aku bisa mengukir tawa diwajah bocah itu. Walaupun tawa itu hanya sebentar.
"Aku senang bisa membuat Raka bahagia hari ini." Celetuk mas Genta.
__ADS_1
"Aku juga mas, walaupun hanya sebentar setidaknya bisa membuat Raka sedikit lupa dengan perlakuan Alif." Sahutku.
"Kita harus segera membebaskan Raka dari Alif, aku semakin tidak tega membiarkannya tinggal bersama Alif terus-menerus." Ujar mas Genta.
"Pasti mas, pasti kita akan segera membebaskan Raka dari Alif. Dan kamu juga harus ingat, semuanya itu perlu proses." Jawabku sambil tersenyum pada mas Genta.
"Aduh jangan gitu dong, aku kan jadi nggak konsentrasi nyetir kalau disenyumin sama kamu. Mana senyumnya manis banget lagi." Goda mas Genta.
"Ih apaansi mas, malu tuh sama Anin sama Raka." Ujarku dengan pipi yang merah merona.
"Nggak malu ah, orang mereka berdua aja asyik banget tidurnya." Elak mas Genta.
"Terserah kamu aja lah." Sahutku.
Akhirnya kami sudah sampai di gapura desa eyang, kami mengantar Raka dulu kerumah Alif. Setelah itu kami akan mengunjungi rumah eyang.
"Nin bangun, udah sampai." Ucapku pada Anin yang masih memejamkan matanya.
"Hah kok cepet banget sih, hoam." Jawabnya sambil menguap.
"Kamu kan tidur, jadinya nggak kerasa kalau udah sampai." Celetuk mas Genta.
"Hehe, Raka bangun kita udah sampai rumah nih." Anin menggoyangkan pundak Raka.
"Pelan-pelan banguninnya." Ujarku pada Anin.
Anin memicingkan matanya "Raka, bangun."
"Hoam, udah sampai ya mbak?" Tanya Raka yang sedang mengucek matanya.
Raka menganggukkan kepalanya "Iya mbak."
Aku turun dari mobil dengan membawa paper bag yang berisi kue titipan budhe tadi pagi, hampir saja aku lupa memberikannya pada Raka. Aku menggandeng tangan Raka menuju rumah Alif.
"Assalamualaikum." Sapaku sambil mengetuk pintu Alif.
"Kok nggak dibuka-buka ya pintunya, apa om kamu nggak dirumah Ka?" Tanyaku pada Raka sambil mengintip dibalik jendela.
Raka mengangkat bahunya "Nggak tahu mbak, tapi biasanya jam segini om ada dirumah kok. Mungkin sedang dikamar mandi." Jawab Raka.
Tiba-tiba saja handle pintu rumah Alif terbuka, menampilkan seorang pria berwajah cukup tampan itu.
"Waalaikumsalam, maaf sedikit lama." Ujar Alif sambil melihat ke arah Raka.
Aku tersenyum "Nggak papa mas, aku tepati janji kan. Membawa pulang Raka tidak terlalu sore."
"Hem, terimakasih." Ucapnya dengan sikap dinginnya.
"Aku yang seharusnya bilang terimakasih, karena sudah diizinkan mengajak Raka jalan-jalan hari ini." Ucapku sambil tersenyum.
"Sama-sama, Raka masuk dulu langsung mandi." Perintah Alif pada ponakannya itu.
"Iya om, mbak Runi makasih ya udah ngajak Raka jalan-jalan hari ini. Raka sayang mbak Runi." Ucap Raka sambil memelukku.
"Sama-sama sayang, mbak Runi juga seneng bisa main sama Raka. Mbak Runi sayang banget sama kamu." Jawabku sambil mengelus rambut Raka.
__ADS_1
"Raka masuk dulu ya, dadah." Pamitnya.
Raka melambaikan tangan padaku, setelah mendapat tatapan kurang bersahabat dari sang paman karena terlalu lama berpamitan denganku.
"Oh iya mas, ini ada titipan kue dari budhe Ratih." Aku memberikan bingkisan paper bag itu pada Alif.
"Terimakasih, aku banyak urusan kalau sudah selesai silahkan pergi." Ujarnya mengagetkanku.
"Cih, secara tidak langsung ia sudah mengusirku. Kalau bukan karena Raka dan pak Karman juga aku enggan menampakkan diriku didepanmu dan dirumahmu ini." Gerutuku didalam hati.
Aku tersenyum "Baiklah, saya permisi dulu. Titip salam buat Raka, Assalamualaikum." Pamitku.
"Waalaikumsalam." Jawab Alif singkat.
Sepanjang jalan menuju mobil mas Genta aku tidak henti-hentinya mengumpat kesal kepada Alif. Aku tidak terima dengan sikap dinginnya itu kepadaku, kemarin sewaktu dengan Anin sikapnya tidak sedingin itu.
"Dasar Alif, bisa-bisanya dia ngusir aku kaya tadi. Kemarin waktu sama Anin dia nggak sedingin itu kalau ngomong. Pengen aku jambak rambut dia." Gerutuku.
*
*
Saat Raka akan pergi ke kamar mandi, ia ditahan oleh tangan sang paman.
"Eits, mau kemana?" Ucap Alif dengan nada dingin.
"Mandi om." Jawab Raka pelan.
"Enak aja langsung mandi, bagaimana tadi apakah kamu berhasil mengambil rambut Aruni?" Tanya Alif.
Raka mengangguk ia merogoh kantong celana jeans pendeknya yang berisi tissue rambut Aruni.
"Ini om." Ia menyerahkan tissue itu pada Alif.
Alif tertawa terbahak-bahak "Hahaha bagus-bagus, kau memang bisa dipercaya Raka." Ia mengusap pipi Raka.
Raka hanya bisa tertunduk karena takut dengan om nya.
"Baiklah karena kamu sudah bisa menyenangkan hatiku hari ini, aku akan membelikanmu makanan enak untuk makan malam. Sekarang pergi mandi sana." Perintah Alif.
Mata Raka langsung berbinar-binar. "Wah terimakasih om, Raka mandi dulu ya." Ia buru-buru masuk kedalam kamar mandi sebelum om nya itu berubah pikiran.
"Hem." Alif menjawab ucapan Raka hanya dengan berdehem.
"Akhirnya aku bisa mendapatkannya. Aruni, bersiaplah untuk malam ini sayang hahaha." Ujar Alif dengan tawa evil nya.
🍂
🍂
🍂
Jangan lupa like, komen, dan bunganya 🍅🍓
SALAM SERAM MANJA DARI AUTHOR <3
__ADS_1