
"Eyang akan berusaha untuk menyembuhkan luka dalamnya nduk, ini juga salah eyang. Semalam waktu Alif datang kerumah untuk memberitahu tentang Braha yang akan datang, eyang tidak memberinya perlindungan." Ucap eyang.
Mas Genta mengusap pundak eyang "Ini bukan salah eyang, semua ini sudah takdir dari yang diatas. Kita harus tetap berusaha dan berdoa untuk kesembuhan Alif. Eyang jangan merasa bersalah seperti itu."
Eyang tersenyum "Iyaa cah bagus."
"Kenapa tidak dibawa kerumah sakit saja, mas?" Tanyaku pada mas Genta.
"Sebenarnya luka fisiknya tidak terlalu parah, yang parah itu luka dalamnya. Jadi percuma saja jika dibawa kerumah sakit, pasti nanti malah dimasukkan ke ICU. Makanya aku datangkan saja dokter kemari, dirawat dirumah saja. Ini juga perintah dari eyang."
Aku memanggut setuju dengan ucapan mas Genta.
Dokter yang tadi menangani mas Alif pun berpamitan untuk kembali pulang karena telah selesai mengobati luka fisik mas Alif.
"Baik kalau bagitu eyang, nak Genta saya pamit dulu. Lukanya sudah saya obati dan untuk memarnya juga. Mohon nanti untuk memar, rajin untuk dikompres ya. Dan ini resep obat yang harus ditebus untuk nak Alif." Ucap dokter sambil memberikan selembar kertas resep obat pada mas Genta.
"Oh iya dok, terimakasih. Nanti saya tebus obatnya."
"Untuk pemulihan luka ini tidak terlalu lama kan dokter?" Tanya eyang.
"Mungkin memerlukan waktu satu minggu eyang, oh iya nanti kalau infusnya mau habis, cepat-cepat memberi tahu saya ya. Nanti saya ganti."
"Dan untuk darah yang mas Alif keluarkan tadi kan cukup banyak, pasti dia perlu donor untuk itu kan?" Ucapku.
"Betul mbak Aruni, tadi saya sudah memberi donor darah sebanyak dua kantung. Jadi insyaallah untuk masalah itu sudah aman, mungkin sore atau malam nanti mas Alif akan bangun." Jelas dokter.
"Iya dok, terimakasih untuk bantuannya." Kata eyang sambil menyalami tangan dokter.
Eyang mengajak diriku dan mas Genta untuk berbincang diruang tengah rumah mas Alif.
"Dimana Raka?" Tanya eyang.
"Ada bersama dengan Anin eyang, diajak jalan-jalan dulu sebentar. Agar tidak terlalu sedih melihat kondisi Alif." Jawab mas Genta.
Eyang menganggukkan kepala.
"Nduk, kamu sekarang harus mulai hati-hati dan waspada. Bahaya itu mengincarmu lagi." Ucap eyang dengan mimik wajah serius.
"Bahaya, maksudnya bagaimana eyang?"
"Ki Braha, eyang yakin dia pasti akan sangat bernapsu untuk menghabisi dirimu, nduk. Terlebih semalam Alif sudah memutuskan ikatan iblis dengannya, hal itu pasti semakin membuat dirinya murka. Dan peringatan ini juga aku tujukan padamu, Genta."
"Saya eyang, tapi kenapa?" Tanya mas Genta kebingungan.
__ADS_1
"Karena selain Aruni, Braha mengincar orang-orang terdekatnya. Baik itu Raka, dirimu, aku, dan keluarga Aruni."
"Saya akan menjamin keselamatan dirumah Aruni, eyang." Celetuk Uwo-uwo.
Eyang menganggukan kepala. "Aku juga akan memagari rumah ini dan rumahmu juga nduk."
"Iya eyang terimakasih, tetapi eyang jangan sampai lupa untuk menjaga diri eyang sendiri. Jangan sampai gara-gara terlalu mementingkan keselamatan orang lain, eyang lalai dengan keselamatan eyang dan eyang putri." Ucapku.
Eyang tersenyum. "Iya nduk, insyaallah kita semua akan baik-baik saja. Kita harus bersiap kapanpun itu, karena Braha pasti akan datang dengan tiba-tiba."
"Wo, dulu kan bangsamu dan bangsa Ki Braha pernah berperang dan itu dimenangkan oleh bangsamu. Hal apa yang membuat Ki Braha kalah? kalau kita mengetahuinya, akan mudah untuk mengalahkannya juga." Ujar Sander.
"Em kalau tidak salah, saat itu Ki Braha dan kakekku saling beradu kekuatan. Dan disaat Ki Braha sedang lengah, kakekku menancapkan sebuah keris pusaka ke ubun-ubun Ki Braha. Dan hak itu yang membuatnya kalah." Jelas Uwo-uwo.
"Berarti titik lemah dari Ki Braha berada di area ubun-ubunnya?" Tebak Kukun.
"Iya, tapi tentu saja dengan keris pusaka itu juga." Celetuk Eyang.
"Maksud eyang?" Tanyaku.
"Walaupun kita sudah tau titik lemah lawan, tetapi tidak menggunakan alat yang tepat ya sama saja, percuma."
"Jadi kita harua bisa mendapatkan keris pusaka itu, begitu kan maksud eyang?" Sahut mas Gebta.
"Nah kau tau tidak dimana keris pusaka itu berada, Wo?" Tanya Cong-cong.
"Tentu saja dikeramatkan oleh kakekku, dan untuk mendapatkannya pun tidak mudah. Butuh waktu 40 hari untuk bersemedi terlebih dahulu." Jawab Uwo-uwo.
"Ahh itu terlalu lama, apa tidak ada potongan waktu untuk bersemedi, Wo. Kau itu kan cucunya, pasti akan lebih mudah." Sewot Sander.
"Tidak semudah itu bodoh, kau fikir ini supermarket. Namanya barang pusaka, ya harus penuh perjuangan untuk mendapatkannya."
"Lalu siapa yang akan bersemedi?" Tanya Kukun.
"Aku perintahkan dirimu Wo, kau pasti akan lebih mudah untuk mendapatkannya karena kau ada garis keturunan dengan Ki Bahrat. Selagi dirimu pergi bersemedi, aku bersama dengan teman gaibmu yang lain akan mencegah dan mengahalau ulah Ki Braha." Perintah eyang.
"Baiklah eyang, saya akan pergi malam nanti."
"Dimana dirimu akan bersemedi untuk mendapatkan keris pusaka itu, Wo?" Tanyaku.
"Gunung keramat didekat alas X, Aruni. Dulu kakekku pernah mengatakan kalau dia menyimpan keris pusaka itu didalam gua di gunung keramat itu."
"Baiklah Wo, aku harap kau berhasil dan kembali lagi berkumpul dengan kami." Ucap Cong-cong.
__ADS_1
"Huhuhu jaga dirimu ya, Wowo endut." Celetuk Sander sambil memeluk Sander.
"Ish menjauhlah dari diriku, kau ini masih saja bergurau disaat-saat serius seperti ini." Sahut Uwo-uwo.
"Ck, aku kan hanya mengkhawatirkanmu. Dasar tua." Kesal Sander.
Aku menggelengkan kepala melihat tingkah konyol Sander, sedikit menghibur suasana hatiku saat ini.
***
Sampai sore hari, aku masih berada dirumah mas Alif. Bersama dengan mas Genta dan Anin yang akan merawat mas Alif hingga pulih.
Aku sedang duduk-duduk diteras rumah mas Alif, sambil menunggu dirinya siuman dari pingsannya. Tiba-tiba saja mas Genta mendekatiku.
"Aku tau bagaimana perasaanmu saat ini, dan aku yakin kamu pasti bisa melewati semua ini Aruni." Celetuk mas Genta.
"Eh, mas Genta. Entahlah mas, aku harap aku bisa melewati semua badai-badai kehidupan ini." Sahutku sambil memandangi langit.
"Allah tidak akan memberi ujian pada hambanya melebihi batas kekuatan hambanya itu sendiri. Kau tau itu kan."
Aku tersenyum "Iya mas kau benar, aku harus bisa. Dan aku yakin aku pasti bisa, karena dukungan orang-orang tercinta disekelilingku ini."
Mas Genta mengelus rambutku dengan lembut "Aku pasti akan selalu ada disampingmu Aruni, kapanpun kamu butuh, insyaallah aku akan selalu siap sedia."
"24/7 nih ceritanya." Godaku.
"Heem." Jawabnya sambil tersenyum.
"Lihatlah mereka, ngejagain orang sakit kok sambil bucin-bucin seperti itu." Cibir Sander.
"Anak kecik tidak boleh berkata seperti itu, tau apa dirimu tentang percintaan?" Goda Cong-cong.
"Yang pasti aku tidak pernah merasakan sakitnya ditolak oleh wanita yang dicinta dan memutuskan untuk mengakhiri hidupku dengan gantung diri." Sindir Sander pada Cong-cong.
Cong-cong memicingakan matanya tajam dan sindiran sander membuat Kukun mengeluarkan tawa khas bangsanya.
"Hihihihi....." Tawa Kukun.
"Sudah-sudah diam, tawamu itu sangat fals. Tidak enak didengar, kau juga Cong, jangan dipicingakn seperti itu matamu. Bukannya seram malah tambah jelek." Celetuk Sander.
🍂
🍂
__ADS_1
🍂