MEREKA SEMUA TEMANKU

MEREKA SEMUA TEMANKU
Bertemu Keluarga


__ADS_3

"Hehe baik Eyang, tapi bagaimana dengan Ki Braha?"


"Panjang ceritanya, tadi kami sempat dibawah tekanan dari Braha, Uwo-uwo terkapar lemah begitu juga denganku yang mendapat sabetan tali gaib milik Braha. Beruntung Uwo-uwo tepat waktu menancapkan keris pusaka itu di ubun-ubun Braha, kalau tidak mungkin aku tidak akan kembali lagi kesini." Ucap Ki Braha.


"Kangmas ini bicara apasih, jangan berbicara seperti itu, kangmas." Tegur Eyang putri yang keluar dari dapur membawa nampan berisi teh hangat.


"Eyang putri sangat takut kehilangan Eyang." Goda Alif.


"Halah kamu ini." Eyang putri mencubit pinggang Alif.


Eyang menggelengkan kepalanya. "Bu, coba kamu beri tahu Sena kalau Aruni sudah berhasil kembali ke alam manusia. Suruh mereka datang kemari."


"Iya kangmas." Eyang putri bangkit dari tempat duduknya.


"Eyang tadi mengatakan kalau sempat terkena sabetan tali gaib, pasti dilengan atas sebelah kanan itu ya? tadi sempat mengeluarkan darah, tapi sudah diobati sama Eyang putri." Ucap Genta.


Eyang Gitarja melihat lengan atasnya. "Iya, syukurlah hanya luka kecil. Tadi kalau Uwo-uwo tidak tepat waktu menancapkan keris pusaka itu, aku hampir saja terkena bola api Bratasena."


"Allah masih sayang Eyang, Allah akan selalu melindungi hamba-Nya yang baik." Celetuk Alif.


"Aamiin, oh iya Lif, tolong ambilkan minyak kayu putih di lemari atas itu. Kasihan Aruni belum sadar-sadar juga."


"Baik Eyang."


Alif mengambil minyak kayu putih yang ada di lemari, kemudian ia menyerahkannya pada Eyang. Eyang pun memijat pelipis Aruni dengan minyak kayu putih dan juga memberika aroma minyak kayu putih dihidung Aruni agar cepat sadar. Eyang putri kembali ke kamar Aruni dibaringkan, beliau mengatakan kalau sebentar lagi keluarga Aruni akan datang kemari.


"Bagaimana bu, apakah sudah menghubungi Sena?" Tanya Eyang saat Eyang putri duduk ditepi ranjang Aruni.


"Sudah kangmas, sebentar lagi mereka akan datang."


Eyang Gitarja memanggut-manggut. "Bu, coba kau teruskan ini. Biar Aruni cepat sadar." Eyang memberikan minyak kayu putih pada Eyang putri.


Tak lama setelah Eyang putri mengolesakan minyak kayu putih dihidung Aruni, Aruni tersadar. Eyang putri segera memberinya teh hangat yang tadi beliau buatkan.


"Uhuk uhuk." Aruni perlahan membuka matanya.


"Nduk, minum teh hangatnya dulu. Biar sedikit hangat badan mu itu." Eyang putri membantu Aruni untuk duduk.


"Iya Eyang putri." Aruni meneguk sedikit demi sedikit teh hangat yang diberikan oleh Eyang putri.

__ADS_1


"Bagaimana nduk, sudah sedikit lebih baik kan?" Tanya Eyang Gitarja.


"Sudah lebih baik Eyang, ternyata berkenala di alam gaib itu lebih melelahkan ya. Rasanya tadi Aruni sudah berlari sekencang mungkin, tetapi terasa lama sekali." Jawab Aruni.


Eyang Gitarja tersenyum. "Alam gaib memang seperti itu nduk, memiliki perbedaan waktu yang amat berbeda dengan alam manusia."


Tiba-tiba saja pintu rumah Eyang Gitarja ada yang mengetuk, ternyata keluarga Aruni dan juga Raka yang datang. Ibu Aruni yang tak sabar ingin melihat keadaan sang putri pun segera berlari ke arah kamar dimana Aruni berbaring. Ibu Aruni langsung memeluk sang putri diiringi dengan tetesan air mata.


"Ya Allah nduk, kamu tidak apa-apa kan? tidak ada yang terluka sedikitpun kan?" Ibu Aruni mengecek semua tubuh anaknya.


"Ih ibu, Aruni baik-baik saja. Sudah berhenti seperti ini, Aruni jadi geli, tau." Aruni menyingkirkan tangan ibunya dari kakinya.


"Hehe iya-iya, ibu itu khawatir sama keadaan kamu nduk, terlebih tadi saat ibu tau kamu itu diculik oleh Ki Braha, pikiran ibu sudah berkenala kemana-mana." Ibu memegang kedua pipi Aruni.


"Ibu tenang saja, sekarang Ki Braha sudah tidak bisa lagi mengganggu Aruni. Dia sudah musnah." Ucap Aruni.


"Musnah? Bagaimana bisa?" Timpal ayah.


"Dengan sebuah keris pusaka, sekarang Braha tak akan bisa lagi menganggu putri mu, Sen." Jawab Eyang Gitarja.


Ayah mendekat ke arah Eyang Gitarja. "Terimakasih banyak ya Eyang, Eyang selalu membantu Aruni dan keluarga kami. Hutang budi kami pada Eyang sangatlah besar."


"Jadi gimana nduk, kamu sudah sehat kan?" Tanya Simbah.


"Sudah simbah, tadi hanya kelelahan saat jalan pulang dan saat Aruni disekap oleh Ki Braha di kerajaanya." Jawab Aruni.


***


Di malam minggu ini, mas Genta mengajakku untuk pergi ke pasar malam yang ada ditangan desa, baru saja dibuka kemarin, jadi pasti ramai sekali orang yang ingin pergi kesana. Hiburan seperti ini dikampung memang sudah menjadi agenda tahunan, sore tadi, mas Genta menelfonku untuk mengajakku pergi ke pasar malam.


"Rapi banget, mau kemana sih?" Anin melihatku yang tengah merias wajah dari kursi dekat ranjang kamar.


"Mau malam mingguan lah, memangnya kamu, jomblo." Celetukku.


"Ih sombong banget, orang masih gantungin perasaan dua laki-laki saja sok banget mau malam mingguan." Sahut Anin sambil membalikkan kedua bola matanya.


Aku terdiam saat mendengar pernyataan Anin, sampai sekarang aku memang masih menggantungkan perasaan, aku masih belum memilih antara mas Genta atau mas Alif. Sudah cukup lama semenjak mas Genta menanyakan hal ini kepadaku, cepat atau lambat aku memang harus menentukan pilihan diantara keduanya.


"Kenapa diam, kena mental ya? Makanya jadi orang itu harus punya pendirian, harus punya pilihan. Jangan mau dua-duanya!" Oceh Anin.

__ADS_1


Aku melempar bantal kecil ke arah wajah Anin. "Ih apaansi kamu, memangnya siapa yang mau keduanya. Jangan ngawur deh, aku hanya ingin memantapkan perasaanku saja kok, kalau nanti sudah waktunya juga aku akan menentukan pilihanku." Ucapku.


"Tapi, waktumu dalam memantapkan perasaan itu terlalu lama, tau. Untung saja laki-lakinya itu mas Genta dan mas Alif, yang setia menunggu. Kalau yang lain pasti udah ditinggal." Celetuknya.


Aku memicingkan mataku, tiba-tiba saja ibu masuk ke dalam kamar dan mengatakan bahwa mas Genta sudah datang dan berada di teras rumah.


"Heh ini kenapa malah ribut-ribut sih, nduk, itu Genta sudah datang. Katanya mau pergi ke pasar malam, sudah sana berangkat, jangan bikin Genta menunggu." Ucap ibu.


"Oh iya bu, sebentar lagi Aruni keluar. Nanggung, hanya tinggal pakai lipcream, daritadi Anin ganggu terus sih." Aku melirik ke arah Anin yang sedang menatapku dengan tajam.


"Enak aja malah aku yang disalahin, dasar labil." Anin beranjak dari kursi dan pergi keluar kamar.


"Anin kenapa sih?" Tanya ibu.


"Sensi bu, nggak ada yang ngajakin ke pasar malam, hahaha."


"Hust kamu itu, sama saudara sendiri jangan gitu loh."


"Hanya bercanda bu, ya sudah Aruni pergi dulu ya bu. Sekalian salim deh, hehe." Aruni mencium punggung tangan ibu.


"Ya sudah, hati-hati ya. Ingat loh, pulangnya jangan terllau larut malam."


"Iya ibuku sayang."


Aruni berjalan keluar kamar dan menemui mas Genta yang sedang menunggu diteras sambil memainkan ponselnya.


"Mas.." Sapaku pada mas Genta.


"Eh iya, sudah siap?" Mas Genta mendongak ke arahku dengan senyum manisnya.


Aku mengangguk. "Sudah, yuk berangkat. Aku tadi udah pamit juga ke ibu."


"Iya, ayo."


🍂


🍂


🍂

__ADS_1


🍂


__ADS_2