
"Iya Ta, budhe berharap yang terbaik untuk Raka. Kasihan lho dia itu masih kecil, seharusnya kan anak seusia dia itu sedang aktif-aktifnya bermain dan belajar." Ucap budhe Ratih.
"Budhe berdoa saja sama Gusti Allah, semoga dipermudah jalannya. Genta juga kasihan sama pak Karman karena arwahnya belum bisa beristirahat dengan tenang." Ujar mas Genta.
"Iya cah bagus, Gusti Allah tahu mana yang terbaik. Eh ya Allah keasikan ngobrol sampai lupa belum nawarin minum, mau minum apa Ta?" Tanya budhe pada mas Genta.
"Halah budhe ini kaya tamu aja dikasih minum segala, nanti kalau Genta haus ambil sendiri budhe nggak usah repot-repot." Jawab mas Genta.
"Ya sudah kalau begitu, budhe mau ke kamar ya. Aruni sama Anin sebentar lagi pasti keluar." Pamit budhe sambil tersenyum.
"Iya budhe."
Budhe pun berjalan ke dalam menuju kamarnya, sedangkan mas Genta sibuk dengan ponselnya sendiri. Beberapa saat kemudian aku dan Anin keluar dari kamar dan langsung menuju ruang tamu untuk menemui mas Genta.
"Nunggu lama ya mas?" Tanyaku sambil duduk disofa panjang berwarna gold tersebut.
Mas Genta mendongakkan kepalanya ke arahku "Tidak, hanya 20 menit saja." Ucapnya sambil melirik ke arloji yang ada ditangannya.
"Halah, ngeledek ceritanya." Cibir Anin.
Aku menggelengkan kepala "Maaf ya, hehe."
"Tidak masalah." Ucap mas Genta sambil tersenyum
"Hadeh malah pada bucin-bucinan, ini gimana rencana selanjutnya." Gerutu Anin yang jengah melihat kelakuanku dan mas Genta.
"Untuk malam ini salah satu teman gaibku akan mengintai rumah Alif, kita tunggu saja informasi dari dia." Ucapku pada Anin
"Selagi Uwo-uwo mengintai rumah Alif, alangkah baiknya kita juga memikirkan rencana selanjutnya Aruni." Usul mas Genta
"Nah aku setuju sama mas Genta." Seru Anin.
"Lalu apa rencana kita selanjutnya?" Tanyaku pada mas Genta dan Anin
Kami bertiga diam memikirkan bagaimana rencana selanjutnya.
"Gimana kalau lusa kita ke rumah eyang lagi, kita pura-pura saja sedang bermain dirumah eyang. Nanti kita meminta izin pada Alif akan membawa Raka jalan-jalan di taman desa, lalu kita tanya-tanya saja pada Raka bagaimana sikap pamannya selama ini terhadap dirinya." Ucap mas Genta memecah keheningan diantara kami bertiga.
"Tapi mas, Raka itu sepertinya sangat takut pada mas Alif. Tadi saja dia tidak terlalu banyak bicara." Ucap Anin.
"Itukan kalau ada Alif, besok kan kita jalan-jalan tanpa Alif. Siapa tau Raka mau bercerita pada kita, iyakan?" Jawabku.
"Hm iya juga sih, kita coba saja besok." Ucap Anin bersemangat.
"Baiklah, seperti biasa ya kamu yang meminta izin pada mas Alif." Pintaku pada Anin.
"Kenapa harus aku!" Protes Anin dengan kesal.
"Karena kamu sudah cukup kenal dengan Alif, jadi kemungkinan untuk diizinkan itu lumayan besar." Ucap mas Genta.
"Hm iya deh iya."jawab Anin dengan malas.
Aku hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Anin.
"Ya sudah ya aku mau pamit pulang dulu, sudah mau maghrib." Pamit mas Genta.
"Oh iya mas, maaf lho ya tadi malah tidak disuguhkan apa-apa." Ucapku pada mas Genta.
"Bukan begitu Run, tadi budhe sudah nawarin mau minum apa tapi aku yang tidak mau." Elak mas Genta.
"Oalah begitu hehe." Jawabku sambil terkekeh.
Aku mengantar mas Genta menuju halaman rumah dimana mas Genta memarkirkan mobilnya. Saat kami berdua ada didepan rumah, ternyata banyak warga desa yang mau pergi sholat berjamaah di masjid.nMereka semua menyapa kami bahkan menggoda kami berdua, katanya pasangan serasi hehe.
__ADS_1
"Aku pamit dulu ya, salam buat simbah, budhe, sama pakde." Ucap mas Genta sambil membuka pintu mobil.
"Iya mas nanti Aruni sampaikan, mas hati-hati ya pulangnya." Jawabku sambil tersenyum ke arah mas Genta.
Mas Genta mengangguk dan tersenyum.
"Assalamualaikum." Pamit mas Genta.
"Waalaikumsalam." Jawabku sambil menatap kepergian mobil mas Genta.
Beberapa saat setelah mobil mas Genta pergi, mobil ayah datang. Aku yang sudah tidak sabar bertemu ayah pun segera menyambutnya.
"Lho ayah sudah pulang?" Aku langsung menghampiri ayah saat ayah membuka pintu mobilnya.
"Iya sayang, sudah dari tadi malah. Ini ayah sama ibu baru pulang dari mini market yang ada diujung desa sana." Ayah langsung memelukku dengan kuat.
"Kamu kalah start sama ibu." Cibir ibu sambil menjulurkan lidahnya padaku.
"Bilang aja kalau ayah sama ibu ngedate, nggak usah bawa-bawa nama mini market deh ayah." Ayah menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Hahaha ya sudah ayo masuk, sudah mau maghrib." Ajak ibu.
Ayah membuka pintu mobil belakang untuk mengambil beberapa paperbag dan kantung plastik yang berisi belanjaan ibu tadi di mini market.
"Mau Aruni bantu nggak ayah?"
"Nggak usah ayah masih kuat, udah sana kamu masuk aja." Ayah menenteng semua belanjaan ibu sekaligus.
*
*
*
"Assalamualaikum." Mas Genta mengetuk pintu rumah eyang Gitarja.
"Waalaikumsalam." Eyang putri membukakan pintu untuk mas Genta
"Ealah kamu Ta, sini masuk eyang baru selesai makan."
"Waduh Genta ganggu ya eyang." Ia mencium punggung tangan eyang dan eyang putri.
"Halah enggak ganggu orang sudah selesai kok,nkamu sudah makan belum? kalau belum makan disini saja." Ucap eyang
"Makasih eyang, tapi tadi Genta sudah makan dirumah sebelum kesini hehe."
"Apa ada sesuatu yang penting Ta?"
"Tentang tadi siang eyang, Anin sedikit ada informasi mengenai Raka."
"Gimana ceritanya?" Eyang menyeruput kopi hitam panas kesukaannya.
Mas Genta menceritakan semua kejadian tadi siang kepada eyang Gitarja, dan tak lupa dengan pengintaian uwo-uwo yang melihat secara langsung perlakuan Alif kepada Raka.
Eyang Gitarja memanggut-manggutkan kepalanya, ia seolah tak percaya dengan apa yang Alif lakukan kepada Raka yang notabennya masih bocah itu.
"Lalu rencana kamu selanjutnya apa?" Tanya eyang.
"Malam ini salah satu teman gaib Aruni akan kembali mengintai rumah Alif eyang. dan lusa kami akan kembali lagi kesini untuk mengajak Raka jalan-jalan, nanti pelan-pelan kami akan tanyakan pada Raka bagaimana perlakuan pamannya selama ini."
"Tapi kamu harus hati-hati Ta, Alif tidak semudah menyerahkan Raka begitu saja walupun hanya untuk sekedar jalan-jalan."
"Genta sudah fikirkan itu yang, nanti biar Anin saja yang meminta izin pada Alif."
__ADS_1
"Kenapa harus Anin?" Eyang mengerutkan keningnya.
"Karena Anin sudah cukup kenal dengan Alif eyang. Anin itu anaknya pintar sekali berbicara jadi nanti kalau Alif menolak mengizinkan Raka, Anin bisa meyakinkannya lagi pada Alif melalui perkataannya."
Eyang terkekeh "Kamu benar, ternyata dia cerewet ada gunanya juga ya hahaha."
"Jadi eyang setuju dengan rencana kami?"
"Ya tidak terlalu buruk, yang paling penting jangan terlalu memancingnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menjurus ke sana."
"Iya eyang, nanti Genta akan peringatan lagi Anin agar tidak sampai memancing emosi Alif."
Eyang Gitarja memanggut-manggutkan kepalanya tanda setuju dengan ucapan mas Genta.
*
*
*
Uwo-uwo sudah berada didekat rumah Alif, ia harus sangat berhati-hati untuk mengintai rumah itu agar tidak tertangkap basah oleh sang empunya rumah.
Saat uwo-uwo sedang berada diatas genteng rumah Alif, saat itu juga Alif sedang menikmati makan malamnya tetapi disana tidak terlihat Raka. Uwo-uwo mencari keberadaan Raka, beberapa saat kemudian Raka muncul dari arah dapur sambil membawakan teko plastik berisi air untuk Alif.
"Dasar bedebah, bisa-bisanya kau memerintah bocah sekecil itu untuk melayani makan malammu breng*sek!" Umpat Uwo-uwo yang sudah tersulut emosi,tapi ia segera sadar agar tidak memancing Alif.
"Kamu mau makan?" Ranya Alif pada Raka dengan nada dingin yang berdiri mematung didekatnya.
"I i iya om, Raka laper om pengen makan." Ia menundukkan wajahnya.
"Nih makan." Alif menyodorkan piring bekas ia makan, hanya tersisa sedikit nasi goreng dan telur dadar.
"Mau makan nggak!" Bentaknya karena Raka masih saja mematung.
"I i iya om, makasih."
"Habis makan jangan lupa cuci semua piring kotor dan bersihkan meja makannya. Inget, jangan langsung tidur!" Ia menatap tajam Raka.
"Iya om."
Alif pergi ke kamarnya meninggalkan Raka sendirian diruang makan. Selesai makan Raka langsung mengerjakan semua yang diperintahkan oleh sang paman, ia tidak mau membuat pamannya marah.
"Sikapmu itu sudah sama seperti iblis Alif, aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi lebih lama pada Raka." Umpat Uwo-uwo diatas genteng.
Setelah cukup mendapat informasi, Uwo-uwo segera pergi pulang kerumah Aruni.
🍂
🍂
🍂
🍂
Alhamdulillah bisa up lagi,stay tune ya readerskuuuuu 💗💗💗
Follow Ig author yaa @putriirzkaa kalau mau difollback DM aja xixi
Jangan lupa like, komen, dan bunganya jugaa 🍅🍓
Vote juga jangan lupa
Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan ya 🙏🏻❤️
__ADS_1
SALAM SERAM MANJA DARI AUTHOR >3