
Pikiran Alif kembali berkecamuk, diantara ia ingin mematuhi perintah dari Ki Braha dan tidak tega dengan Aruni.
Bagaimana reaksi Aruni nanti jika ia mengetahui siapa dalang dibalik serangan-serangan yang ia terima selama ini. Alif takut Aruni akan benci dan menjauhinya.
"Ahh kenapa sekarang aku jadi merasa takut kehilangan Aruni, sadar Alif sadar!!" Kesal Alif sambil menjambak rambutnya sendiri.
Raka yang melihat sang paman seperti itu menjadi takut, ia yang tadinya ingin mengajak makan malam pun mundur dari pintu kamar Alif.
Tanpa Raka sadari saat dirinya mundur ia menabrak meja yang ada disamping kamar Alif, mendengar hal itu Alif pun menghampiri Raka.
Raka yang melihat kehadiran sang paman menjadi semakin takut, ia khawatir pamannya akan memarahinya seperti dulu.
"Maafin Raka om, Raka nggak sengaja. Tidak ada yang pecah kok, hanya mejanya saja yang bergeser." Ujar Raka sambil memelas.
"Kau ini bicara apa Raka, om nggak marah kok. Lain kali kalau jalan itu jangan ngalamun, tidak ada yang terluka kan?" Tanya Alif sedikit khawatir pada sang keponakan.
"I-iya om, Raka nggak apa-apa kok. Sekali lagi Raka minta maaf ya om."
"Iya, sudah sana kembali ke kamarmu." Perintah Alif.
"Tadi Raka mau nyamperin om ke kamar, mau ngajak makan malam. Tapi Raka lihat om sepertinya sedang banyak pikiran, jadi Raka kembali ke kamar tapi malah menyenggol meja." Jawab Raka.
"Oh begitu, ya sudah siap-siap sana. Kita makan diluar saja ya." Ajak Alif.
"Iya om."
Raka pun kembali ke kamar dengan wajah yang sumringah. Ia senang karena sang paman pelan-pelan mulai bersikap baik seperti dulu lagi kepadanya. Ia berharap pamannya akan bersikap seperti itu terus.
Selalu menjaga dan menyayanginya, mendidiknya dengan penuh sabar hingga ia berhasil meraih cita-citanya. Ya, cita-cita Raka ia ingin menjadi seorang tentara.
••••
Sejak mas Genta pamit dari rumah, Aruni terus mengurung diri dikamar. Anin yang melihat tingkah saudaranya itu pun bingung, tak biasanya Aruni murung seperti itu.
Sebenarnya Anin sedikit mendengar tadi perbincangan antara Aruni dan mas Genta, tapi Anin tidak berani ikut campur karena itu sudah masuk hal pribadi seseorang. Walaupun Aruni itu saudaranya sendiri, ia tak mau mengusik hal pribadi saudaranya tersebut.
Begitu juga dengan teman-teman gaib Aruni, mereka belum berani mendekati Aruni sekarang. Bukan apa-apa, mereka takut emosi Aruni tambah memuncak. Mereka memilih diam terlebih dahulu sampai Aruni sendiri yang memanggil mereka.
Anin mencoba mendekati Aruni sambil menepuk pundaknya pelan.
__ADS_1
"Run, makan malam dulu yuk. Sayang loh itu makanan yang tadi mas Genta bawa kalau nggak dimakan. Mubadzir, sudah aku angetin lagi, yuk." Bujuk Anin.
Aku menggeleng pelan "Aku tidak napsu makan, kau saja sana sendiri. Dihabiskan saja, takut mubadzir." Kataku pelan.
"Jangan gitu dong Run, kamu kalau ada masalah itu ya harus diselesaikan jangan malah menyiksa tubuhmu seperti ini. Aku yakin mas Genta itu hanya salah paham dan sedang cemburu saja."
"Apa hak dia cemburu padaku dan mas Alif? bahkan kamipun tidak memiliki ikatan hubungan yang spesial kan. Wajar lah jika aku pergi dengan mas Alif." Kesalku.
"Ya kamunya juga jangan kaya gitu, mungkin ada alasan tersendiri dari mas Genta kenapa sampai sekarang dia belum mengungkapkan perasaannya kepadamu. Kamu selama ini hanya berspekulasi sendiri kan, kamu tidak berpikir sampai kesitu kan?" Ujar Anin serius.
"Ah sudah lah, jangan membahas mas Genta dulu sekarang. Sudah sana kamu makan sendiri saja." Kataku sambil berbalik badan memunggungi Anin.
"Bisa nggak sih dengerin aku dulu, kalau kamu seperti ini terus bagaimana bisa kita menyelesaikan amanah yang diberikan oleh Pak Karman, Aruni. Kasihan Raka, apa kamu nggak kasihan sama dia hah?"
"Aku kasihan Nin, aku kasihan sama Raka. Aku juga ingin cepat-cepat menyelesaikan amanah dari Pak Karman."
"Ya sudah jangan bersikap seperti ini lagi. Aku tau kamu itu kesal sama mas Genta gara-gara beberapa hari ini dia tidak menghubungimu kan? tapi dia punya alasan, Aruni. Tidak seharusnya kau marah sampai seperti ini pada mas Genta, kalaulah mas Genta tidak punya alasan yang jelas kau boleh sepuasnya marah pada mas Genta."
"Maaf." Ucapku sambil menangis.
"Jangan meminta maaf padaku, minta maaf pada mas Genta besok. Jangan biarkan masalah ini berlarut-larut." Ujar Anin sambil mengusap air mataku.
Aku menganggukan kepala dan tersenyum "Tidak apa-apa, terimakasih sudah membuatku sadar. Yuk makan."
•••
Aku teringat dengan teman-teman gaibku, dari siang tadi aku bersikap dingin kepada mereka.
"Mungkin aku sudah terlalu keterlaluan pada teman-teman gaibku, aku harus minta maaf pada mereka. Apalagi Sander, ia pasti sangat kesal padaku, hehe." Ucapku dalam hati.
Aku berjalan ke arah gudang untuk menemui teman-teman gaibku yang tadi siang secara tidak langsung aku sudah mengusirnya dari kamarku.
Aku membuka pintu gudang dengan hati-hati, saat aku membuka pintu kulihat teman-teman gaibku sedang sibuk sendiri-sendiri.
Sander dan Cong-cong sedang bermain kejar-kejaran, ya walaupun Cong-cong tidak berlari melainkan melompat, hehe.
Uwo-uwo dan Kukun sedang asyik berbincang berdua, entahlah apa yang mereka berdua bicarakan. Yang pasti Uwo-uwo itu makhluk gaib paling genit yang pernah aku temui.
"Hai." Sapaku pada mereka.
__ADS_1
Mereka pun menghentikan aktivitas masing-masing.
"Aruni?!" Ucap mereka kompak.
"Aku masuk ya." Kataku sambil menghampiri mereka.
"Ada apa, apa kami membuatmu kesal lagi? Kami minta maaf." Celetuk Sander.
"His kau ini, aku kesini mau minta maaf pada kalian. Sikapku siang tadi pada kalian sudah berlebihan, itu diluar kendaliku. Sekali lagi aku minta maaf ya teman-teman." Ucapku sambil tertunduk.
"Hei tak perlu meminta maaf, kamipun memahami perasaanmu Aruni. Kami tau kau bersikap seperti tadi dan mengusir kami dari kamarmu itu karena kau sedang tersulut emosi saja kan." Kata Uwo-uwo.
"Benar katamu Wo, jadi Aruni apa emosi mu sudah mereda?" Celetuk Sander.
"Hehe iya maafkan aku ya, tidak seharusnya aku tadi seperti itu pada kalian." Sahutku.
"Tidak apa-apa Aruni, perlu kau ingat mau sekesal apapun dirimu pada kami. Kami tidak akan pernah pergi meninggalkanmu, iya kan teman-teman?" Ujar Cong-cong.
"Ya, benar sekaliii." Jawab ketiga teman gaibku.
"Ahhhh terimakasih teman-teman, kalian memang teman gaib terbaikku. Aku sangat menyayangi kalian." Kataku dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kami juga sangat sayang padamu Aruni, Terimakasih sudah mau menjadikan kami teman gaibmu. Kami adalah barisan hantu-hantu yang beruntung bisa menjadi teman dari gadis keturunan Keraton Jawa, hihihi." Ucap Kukun.
"His tak perlu tertawa seperti itu, ketawamu itu fals." Celetuk Sander.
"Ini mulutku, apa hakmu mengaturku." Sahut Kukun kesal.
"His kalian ini jangan bertengkar, Kukun pun tak perlu berlebihan seperti itu. Aku hanyalah gadis biasa yang kebetulan terpilih memiliki kelebihan yang luar biasa ini dari Gusti Allah."
"Kami menyayangimu lebih dari apapun." Ucap keempat teman gaibku sambil berjejer membentuk love.
Hehe sangat menggemaskan mereka ini, walaupun muka mereka ada yang hancur hahaha.
🍂
🍂
🍂
__ADS_1