MEREKA SEMUA TEMANKU

MEREKA SEMUA TEMANKU
Siap Menyerang Raja Jin!


__ADS_3

"Cepatlah cucuku, waktumu hanya tersisa 5 menit lagi."


"Tapi kek, kenapa sepertinya batu ini tidak bergerak lagi ya?" Ucap Uwo-uwo panik sambil terus membacakan mantra.


"Fokus cucuku, fikirkan nyawa dan keselamatan sahabat manusiamu itu!"


Uwo-uwo memejamkan matanya, mulutnya terus berkomat-kamit membacakan mantra serta tangan yang bergerak diatas batu yang sudah setengah terbelah itu. Perlahan batu itu kembali bergerak, kini seluruh bagian keris hampir terlihat, hanya ujung dari kerisnya saja yang belum terlihat.


"1 menit lagi, cepatlah! Sebentar lagi gerhana bulan ini akan sirna!"


Uwo-uwo mulai panik, ia takut jika ia gagal mendapatkan keris pusaka itu. Ia pasti akan merasa bersalah pada Aruni.


"Fokus, teruslah memikirkan hal yang positif!" Teriak Ki Bahrat.


Ketika waktu kurang dari 20 detik lagi, seluruh bagian batu itu sudah terbelah sempurna. Mata Uwo-uwo berbinar-binar melihat benda yang ia perjuangkan selama 40 hari kini ada didepan matanya, ia segera mengambil keris itu dan mengangkatnya keatas.


"Kakek, aku berhasil kek. Aku berhasil mendapatkan keris pusaka ini!!!" Teriak Uwo-uwo dengan mata yang berkaca-kaca.


"Bagus cucuku, kau telah berhasil mengambil keris pusaka itu. Dan dengan ini pula aku nyatakan bahwa kau lah yang akan merawat keris pusaka itu." Ki Bahrat tersenyum penuh kebanggaan.


"M-maksud kakek apa? Aku akan merawat keris pusaka ini?" Uwo-uwo mengusap keris pusaka itu.


Ki Bahrat mengangguk. "Ya, aku serahkan keris itu padamu sekarang. Kau harus bisa menjaganya dengan hati-hati."


"Baik kakek, terimakasih untuk kepercayaan yang telah kakek berikan kepadaku. Aku akan menjaga keris pusaka ini dengan penuh hati-hati." Uwo-uwo bersimpuh didepan Ki Bahrat.


Ki Bahrat menepuk-nepuk pundak Uwo-uwo. "Sudah, bangkitlah. Pulang ke rumah sahabat manusiamu itu. Disana mereka semua sudah menunggu, dan akan ku pastikan dalam waktu dekat Braha akan datang menyerang sahabat manusiamu."


Uwo-uwo bangkit dari simpuhannya ditanah. "Baik kakek, saya mohon izin untuk pamit. Kakek jaga diri baik-baik ya, nanti saya akan mengunjungi kakek dialam gaib bersama sukma Aruni dan juga teman-teman gaib saya yang lain. Assalamualaikum."


"Iya cucuku, berhati-hatilah. Waalaikumsalam."


Uwo-uwo pun bergegas terbang keluar gua yang selama 40 hari ia tinggali itu, dengan secepat mungkin ia ingin segera sampai dirumah simbah. Ia sudah tidak sabar ingin menunjukan keris pusaka itu pada semuanya.


***


"His, dimana si makhluk berbulu itu. Lama sekali, jangan-jangan dia tidak berhasil mendapatkan keris pusaka itu lagi. Dasar payah, payah sekali kalau sampai dia gagal mendapatkan keris itu." Sander mondar-mandir kesana kemari didepan pintu rumah.


"Kau ini bisa diam tidak, aku yakin kalau Uwo-uwo itu pasti berhasil mendapatkan keris pusaka itu. Jadi sangat kecil kemungkinan kalau dia itu gagal!" Kukun terlihat begitu kesal.

__ADS_1


"Sudahlah Kun, tak perlu ditanggapi seperti itu. Kau kan tau sendiri, Sander itu seperti apa. Bukan dia kalau tidak julid pada manusia dan hantu." Sindirku.


"Aku bukan julid, tapi lihatlah ini sudah mau pukul 00.30, dan si besar berbulu itu masih belum datang. Wajarlah kalau aku berspekulasi seperti itu!" Ucap Sander tak terima.


"Tenang, sebentar lagi dia akan sampai." Ucap Eyang Gitarja.


"Aku disini bodoh, dan aku mendengar semua julitanmu terhadapku! Bahkan ketika aku pergi pun kau masih menggosipiku ya." Celetuk Uwo-uwo yang sontak membuat kami menoleh ke arahnya.


"Wo, kau kah itu? Kau berhasil mendapatkan keris pusaka itu?" Aku mendekat ke arah Uwo-uwo.


"Iya Aruni, ini aku. Alhamdulillah atas izin Allah, aku berhasil mendapatkan keris pusaka ini." Uwo-uwo memberikan keris pusaka yang terbungkus kain putih itu padaku.


Air mataku menetes, aku terharu melihat perjuangan teman gaibku untuk bisa mendapatkan senjata yang bisa untuk menghancurkan Ki Braha.


"Terimakasih, terimakasih Wo. Terimakasih kau sudah mau berjuang untukku, untuk bisa mendapatkan keris pusaka ini."


"Apapun akan kulakukan untuk keselamatanmu dan keluargamu, Aruni. Aku sangat menyanyangimu."


"Kami semua juga menyayangi Aruni, tau!" Celetuk Sander yang mendapat lirikan tajam dari Uwo-uwo.


Aku berjalan ke sofa tempat eyang Gitarja duduk, aku duduk disebelahnya dan memberikan keris pusaka itu padanya.


"Eyang, keris pusaka ini sudah ada disini. Itu artinya sebentar lagi Ki Braha tidak akan mengganggu Aruni lagi kan?" Tanyaku dengan air mata yang menetes.


"Iya eyang, Aruni siap." Aku menghapus air mataku.


"Jadi tadi bagaimana Wo, apakah kau menemukan kesulitan saat mengambil keris pusaka ini?" Tanya mas Alif pada Uwo-uwo.


"Nah itu yang masih membuatku kesal, Lif."


"Kesal, kesal bagaimana?" Timpal mas Genta.


"Jadi begini ceritanya, 5 menit sebelum bulan purnama itu datang, suara kakek menggema didalam gua. Dia mengatakan bahwa waktuku mengambil keris itu hanya 10 menit, dan kalau dalam 10 menit aku gagal mengambil keris itu, aku harus menunggunya 100 tahun kemudian. Aku sangat kesal pada kakek, bisa-bisanya dia memberitahu hal sepenting ini diwaktu yang mepet. Beruntungnya aku bisa mengambil keris ini dengan tepat waktu, meskipun didetik-detik akhir batu itu tidak mau bergerak." Jawab Uwo-uwo.


"Lalu bagaimana perasaanmu ketika dimenit akhir itu batunya tidak bergerak?" Tanya mas Alif.


"Panik, khawatir, takut, semuanya bercampur menjadi satu. Aku takut aku gagal mengambil keris itu untuk Aruni, beruntung kakek langsung membuatku kembali fokus."


"Hahaha aku tidak bisa membayangkan bagaimana lucunya ekspresi wajahmu yang penuh bulu itu ketika panik." Celetuk Sander.

__ADS_1


"Diam kau Sander, aku fikir setelah 40 hari kita tak bertemu. Sikap cerewet dan julidmu itu akan hilang, nyatanya sama saja, bahkan lebih parah!" Sahut Uwo-uwo.


"Iri, bilang genderuwo!" Sander menjulurkan lidahnya pada Uwo-uwo.


"Hust sudahlah jangan bertengkar, belum sehari bertemu kembali sudah ribut." Ucapku.


"Ya sudah, sekarang kalian semua istirahat. Sudah dini hari." Ucap Eyang Gitarja.


Aku mengangguk. "Eyang tidur disini kan? Jangan nekat pulang dini hari seperti ini, eyang."


"Tidak nduk, tadi ibu dan budhemu sudah menyiapkan kamar tamu untuk eyang. Lagipula eyang putri sudah diberi tau tadi kalau eyang menginap disini."


"Oh begitu, baiklah."


"Lalu dua pemuda ini mau tidur dimana?" Tanya Kukun.


"Disofa ini saja, masa iya mau tidur bersama dengan Aruni." Celetuk Sander.


"Sanderrr, kau ini!" Aku melirik tajam ke arah Sander.


"Hehe, pis bro."


"Iya Run, aku dan Alif tidur disofa ini saja." Ucap mas Genta.


"Ya sudah kalau begitu, nanti ku ambilkan bantal dan juga selimut."


"Terimakasih." Ucap mas Genta dan mas Alif bersamaan.


"Ingat loh ya, jangam bermesraan. Kalian itu sama-sama jeruk, masa jeruk minum jeruk!" Celetuk Sander.


"Hei sembarangan kau berbicara!" Sahut mas Genta tak terima.


"Iya, kami ini masih normal. Kami masih dan akan tetap mencintai wanita, bukan jeruk!" Timpal mas Alif.


"Iya, mencintai wanita yang sama, yaitu Aruni, hahaha." Ucap keempat teman gaibku sambil melesat ke arah kamarku.


Seketika wajah mas Alif dan mas Genta menjadi memerah karena malu dengan ucapan teman-teman gaibku. Sedangkan aku hanya menunduk dan menahan tawa.


🍂

__ADS_1


🍂


🍂


__ADS_2