
"Nduk, ingat ya nanti waktu dijalan pulang, jangan sekali-kali dirimu menoleh ke belakang, samping kanan dan kirimu. Dan jangan dengarkan suara-suara yang selalu memanggil dirimu, sekalipun itu suara dari ibu, ayah, simbah, dan orang-orang terdekatmu. Karena sejatinya itu hanyalah tipu daya jin, teruslah menghadap kedepan fokus pada tujuanmu, yaitu kembali pulang ke alam manusia." Ucap Eyang pada Aruni.
"Baik Eyang, Insyaallah Aruni akan fokus dan akan menghiraukan suara-suara itu. Tapi Eyang juga harus mengingatkan Aruni ya jika Aruni lengah."
Eyang mengangguk. "Kuncinya ada pada dirimu sendiri."
Sampailah mereka bertiga diperbatasan dunia jin dan dunia manusia, sebeĺum melangkah Aruni membaca doa.
"Siap?" Tanya Uwo-uwo.
Aruni mengangguk dengan mantap. "Ya, aku siap."
Aruni melangkahkan kakinya dengan cepat sesuai dengan perintah Eyang, ia berada didepan, disusul dengan Eyang dan terakhir adalah Uwo-uwo. Dan benar saja, sepanjang perjalanan itu, banyak sekali suara-suara orang terdekat Aruni yang memanggil-manggil namanya.
"Aruni, nduk... tega sekali kamu meninggalkan ibu dan ayah disini, nduk.." (suara ayah dan ibu.)
"Nduk, sini nduk temani Simbah disini. Jangan tinggalkan simbah sendirian, simbah susah untuk berdiri.." (suara simbah.)
"Run, tunggu aku Run, jangan pergi. Tunggu, aku mau ikut kamu." (suara Anin.)
"Fokus nduk terus fokuskan dirimu, jangan pernah menengok sedikitpun. Percepat langkahmu, sebentar lagi kita akan sampai." Ucap Eyang mengingatkan Aruni.
"Baik Eyang."
"Kau sudah memberitahu Sander tentang raga Aruni, Wo?" Tanya Eyang tanpa melihat Uwo-uwo yang ada dibelakangnya.
"Sudah Eyang, sudah saya sampaikan."
***
Sementara dialam manusia, ternyata raga Aruni berada tak jauh dari rumah Eyang Gitarja. Uwo-uwo melalui kontak batinnya memberitahu Sander untuk membawa raga Aruni ke dalam rumah Eyang untuk menghindari penyalahgunaan raga oleh jin-jin jahat.
"Nder, kau tolong bawakan raga Aruni ke rumah Eyang." Ucap Uwo-uwo.
"Memangnya raga Aruni ada dimana?" Tanya Sander.
"Ada dikebun dekat rumah Eyang Gitarja, cepatlah kau amankan raga Aruni sebelum raganya dimasuki oleh jin-jin jahat itu." Jawab Uwo-uwo.
"Baiklah aku akan kesana bersama dengan Kukun."
"Dengan Kukun saja ya, biarkan Cong-cong tetap dirumah." Ucap Uwo-uwo.
"Iya-iya aku juga tau kok, jangan kau pikir aku ini bodoh, Wo."
__ADS_1
Setelah mendapat pesan untuk mengambil raga Aruni, sontak Sander berpamitan ke luar bersama Kukun pada Genta dan Alif.
"Kun, ayo ikut denganku untuk mengambil raga Aruni. Raganya berada dikebun dekat rumah Eyang, takutnya nanti akan disalahgunakan oleh jin-jin jahat." Ajak Sander pada Kukun.
"Oh begitu, baiklah."
"Ta, Lif kami pamit sebentar. Cong, kau tetap berada disini ya. Kondisi diluar rumah masih belum kondusif selama sukma Eyang masih berkeliaran di alam gaib." Ucap Sander.
"Baiklah aku akan tetap berjaga disini, kau dan Kukun juga berhati-hati." Ucap Cong-cong.
Sander mengangguk menanggapi ucapan Cong-cong, lalu ia bersama dengan Kukun melesat pergi ke luar rumah menuju ke kebun yang Uwo-uwo maksud. Terlihat diluar rumah Eyang terdapat banyak sekali macam jin-jin yang sedang menunggu pintu untuk dibuka.
"Ck, lihatlah mereka, seperti sedang mengantri sembako gratis saja." Celetuk Sander sambil menunjuk kerumunan jin.
"Bodoh mereka, mau mereka berbuat seperti apapun, keinginan mereka tidak akan pernah terwujud, hihihi." Sahut Kukun.
"Berhentilah tertawa seperti itu, suaramu sangat jelek."
Kukun hanya menatap Sander dengan sinis, kemudian ia melesat meninggalkan Sander yang tertinggal dibelakang.
"Hei dasar wanita, suka sekali meninggalkan secara tiba-tiba. Kunnn tunggu aku." Gerutu Sander.
"Bisa-bisanya dia meninggalkan hantu kecil yang lucu ini." Tambahnya.
Saat Sander mengejar, Kukun terlebih dulu sudah sampai ditempat dimana raga Aruni berada. Dia menyelimuti raga Aruni menggunakan ajian Manyaran. Sebuah ajian yang dapat melindungi manusia dari gangguan jin-jin jahat.
"Ck, suka-suka hatiku lah, berhenti mengatakan kalau suara tawaku itu jelek." Sewot Kukun.
"Iya-iya aku minta maaf, sudah ayo kita bawa raga Aruni ke rumah Eyang sekarang. Sepertinya sebentar lagi mereka akan keluar dari alam gaib."
Kukun mengangguk. "Baiklah, ayo."
Mereka berdua membawa raga Aruni yang masih diselimuti dengan ajian Manyaran. Saat sedang dipertengahan jalan, Sander mendengar suara Uwo-uwo melalui kontak batinnya.
"Nder, cepatlah. Sebentar lagi kami bisa keluar dari alam gaib ini. Bergegaslah!" Perintah Uwo-uwo.
"Baiklah Wo, sebelum kau mengedipkan mata aku akan sudah sampai dirumah Eyang."
Sander dan Kukun melesat lebih cepat, dan benar saja dengan apa yang ia katakan pada Uwo-uwo, sebelum Uwo-uwo mengedipkan mata, dia sudah sampai dirumah Eyang Gitarja.
"Genta, Alif tolonglah kemari, bantu kami mengangkat tubuh Aruni kedalam." Ucap Sander dari belakang rumah.
"Iya-iya baiklah." Jawab keduanya.
__ADS_1
Kemudian Aruni diangkat oleh Genta dan Alif menuju kedalam rumah. Tubuh Aruni dibaringkan diranjang kamar tidur tamu.
"Eyang putri, boleh minta tolong untuk membuatkan teh hangat untuk nanti Aruni minum?" Pinta Genta.
"Oh iya cah bagus, sekalian ku buatkan untuk kalian dan Eyang juga." Ucap Eyang putri sambil meninggalkan kamar menuju ke dapur.
"Aku bantu Eyang putri dulu ya, takut ada apa-apa." Alif menepuk pundak Genta.
"Iya, aku akan disini menunggu kedatangan Eyang dan yang lainnya."
Tak lama kemudian, Sukma Eyang dan juga Aruni kembali ke raga mereka masing-masing. Hal itu membuat semua jin-jin yang berada di sekeliling rumah Eyang pun pergi.
"Eyang, Aruni.." Ucap Genta.
"Jangan diajak bicara dulu Aruni, keadaan dia masih lemas. Wajar, sukmanya baru pertama kali berkelana ke alam lain." Eyang mengingatkan Genta.
"Hehe baik Eyang, tapi bagaimana dengan Ki Braha?"
"Panjang ceritanya, tadi kami sempat dibawah tekanan dari Braha, Uwo-uwo terkapar lemah begitu juga denganku yang mendapat sabetan tali gaib milik Braha. Beruntung Uwo-uwo tepat waktu menancapkan keris pusaka itu di ubun-ubun Braha, kalau tidak mungkin aku tidak akan kembali lagi kesini." Ucap Ki Braha.
"Kangmas ini bicara apasih, jangan berbicara seperti itu, kangmas." Tegur Eyang putri yang keluar dari dapur membawa nampan berisi teh hangat.
"Eyang putri sangat takut kehilangan Eyang." Goda Alif.
"Halah kamu ini." Eyang putri mencubit pinggang Alif.
Eyang menggelengkan kepalanya. "Bu, coba kamu beri tahu Sena kalau Aruni sudah berhasil kembali ke alam manusia. Suruh mereka datang kemari."
"Iya kangmas." Eyang putri bangkit dari tempat duduknya.
"Eyang tadi mengatakan kalau sempat terkena sabetan tali gaib, pasti dilengan atas sebelah kanan itu ya? tadi sempat mengeluarkan darah, tapi sudah diobati sama Eyang putri." Ucap Genta.
Eyang Gitarja melihat lengan atasnya. "Iya, syukurlah hanya luka kecil. Tadi kalau Uwo-uwo tidak tepat waktu menancapkan keris pusaka itu, aku hampir saja terkena bola api Bratasena."
"Allah masih sayang Eyang, Allah akan selalu melindungi hamba-Nya yang baik." Celetuk Alif.
"Aamiin, oh iya Lif, tolong ambilkan minyak kayu putih di lemari atas itu. Kasihan Aruni belum sadar-sadar juga."
"Baik Eyang."
🍂
🍂
__ADS_1
🍂
🍂