MEREKA SEMUA TEMANKU

MEREKA SEMUA TEMANKU
Siuman


__ADS_3

"Lihatlah mereka, ngejagain orang sakit kok sambil bucin-bucin seperti itu." Cibir Sander.


"Anak kecik tidak boleh berkata seperti itu, tau apa dirimu tentang percintaan?" Goda Cong-cong.


"Yang pasti aku tidak pernah merasakan sakitnya ditolak oleh wanita yang dicinta dan memutuskan untuk mengakhiri hidupku dengan gantung diri." Sindir Sander pada Cong-cong.


Cong-cong memicingakan matanya tajam dan sindiran sander membuat Kukun mengeluarkan tawa khas bangsanya.


"Hihihihi....." Tawa Kukun.


"Sudah-sudah diam, tawamu itu sangat fals. Tidak enak didengar, kau juga Cong, jangan dipicingakn seperti itu matamu. Bukannya seram malah tambah jelek." Celetuk Sander.


"Hihihi Sander kau ini masih kecil, tetapi jujur kata-katamu itu sudah seperti orang dewasa. Em bagaimana cara aku menggambarkannya ya?" Sahut Kukun.


"Bukan seperti orang dewasa, kalau seperti itu namanya julid, tau." Sewot Cong-cong.


"Santai bang santai, eh ngomong-ngomong aku tidak melihat Uwo-uwo. Dimana dia?" Tanya Sander.


"Oh itu dia sedang bersiap untuk perjalanan malam nanti, ke gunung keramat di alas X. Tadi dia berpamitan kepadaku ingin menemui kakeknya terlebih dahulu." Jawab Kukun.


"Oh begitu, jadi selama Uwo-uwo pergi berjuang untuk mendapatkan keris pusaka itu. Keselamatan Aruni dan keluarganya menjadi tugas utama kita."


"Kau benar, kita tidak boleh lengah sedikitpun. Karena Ki Braha itu sangat licik, dan satu hal lagi, dia itu suka sekali menyerang secara tiba-tiba." Ucap Cong-cong dengan serius.


"Ck, sudah seperti cinta saja, datangnya secara tiba-tiba." Celetuk Sander.


"Ish kau ini, aku serius. Jangan kau anggap bercanda seperti itu." Sewot Cong-cong.


"Iya-iya aku juga tau kok. Jadi hantu itu jangan baperan kenapa si Cong, sewot terus daritadi."


***


"Mbak Runi.."


Saat aku sedang duduk berdua dengan mas Genta, tiba-tiba saja ku dengar suara Raka yang memanggilku dari kejauhan.


Dia datang bersama dengan Anin, memang sengaja Anin mengajak Raka untuk keluar jalan-jalan. Agar dia tidak terlalu bersedih melihat kondisi sang paman yang sampai sekarang belum juga sadar.


Aku sangat mengerti perasaannya, ia pasti sangat khawatir pada mas Alif. Di dunia ini hanya mas Alif yang ia punya, meskipun ada aku dan yang lain, tetap saja mas Alif nomor satu dihidupnya saat ini. Ia tidak mau kehilangan orang yang dicintai untuk yang kesekian kalinya.


"Eh Raka, darimana saja ini?"


Raka duduk dipangkuanku dengan manja.


"Hehe jalan-jalan sama mbak Anin, makan bakso. Terus pulangnya beli balon sabun." Jawabnya sambil memamerkan sebotol balon sabun kesukaannya.


"Hm balon sabun terus, coba bikin sendiri saja." Celetuk mas Genta.

__ADS_1


"Memangnya mas Genta bisa membuat balon sabun sendiri?" Tantang Raka.


"Halah gampang itu. Nanti deh kapan-kapan mas ajarin Raka buat ya."


"Siap bos."


"Em mbak Runi, om Alif gimana keadaannya? udah sadar apa belum?" Tanya Raka.


"Tadi kata dokter, om Alif sudah baik-baik aja kok. Lukanya juga sudah diobati, sebentar lagi juga om Alif sadar. Raka tunggu aja." Jawabku sambil membelai lembut rambut Raka.


"Syukur Alhamdulillah kalau begitu, Raka khawatir banget sama om Alif. Raka nggak mau kehilangan om Alif, Raka sayang banget sama om Alif."


"Makanya Raka banyak-banyak berdoa sama Allah, supaya om Alif cepat sadar dan sehat seperti dulu lagi." Ucap Anin.


"Aamiin, Raka pasti selalu doain om kok kalau sholat."


"Anak pinter." Ujar mas Genta.


Raka tersenyum manis sambil asyik memainkan balon sabunnya.


"Yaudah yuk Raka mandi dulu, ini udah sore. Tuh udah bau acem, hehe." Kataku.


Raka mencium ketiaknya. "Hehe iya dari pagi belum mandi." Ucapnya sambil menggaruk-garuk rambut yang tak gatal.


Setelah selesai membantu Raka untuk mandi, aku duduk diruang keluarga dekat kamar mas Alif. Sesekali aku menengok ke arah kamarnya, memastikan keadaanya apakah sudah sadar atau belum.


"Sabar, sebentar lagi juga dia sadar." Ucap eyang Gitarja mengangetkanku.


"Bersemedinya besok agar waktunya selesai nanti pas pada saat bulan purnama. Malam ini dia akan berangkat ke gunung keramat itu." Jelas eyang.


"Apa dia akan berhasil eyang?" Tanyaku sedikit gelisah.


Eyang tersenyum "Apakah kau meragukan sahabat gaib mu itu nduk ?"


"Eh bukan maksud Aruni meragukan Uwo-uwo yang, hanya saja.."


"Iya eyang paham maksud kamu. Insyaallah semuanya akan dipermudah sama yang diatas. Perlu kau tau nduk, meskipun sahabat gaibmu itu cucu dari Ki Bahrat, dia harus penuh perjuangan untuk mendapatkan keris pusaka itu. Hal itu karena keris pusaka itu memang benar-benar harus berada ditangan orang yang tepat, dan siapa yang sanggup dalam menghadapi ujian selama memperjuangkan keris itu, dialah pemiliknya." Ucap eyang Gitarja.


Aku tersenyum. "Aruni belajar banyak sekali dari eyang, dan Aruni sangat bersyukur memiliki orang-orang terdekat seperti kalian. Bahkan sahabat-sahabat gaib Aruni."


Eyang tersenyum manis sambil mengusap rambutku dengan lembut.


Tiba-tiba saja terdengar rintihan suara orang dari dalam kamar mas Alif. Aku yang mengetahui itu suara mas Alif pun segera menghampirinya.


"Eyang, sepertinya itu suara mas Alif. Apakah dia sudah sadar?"


"Sepertinya begitu nduk, kita cek saja kedalam."

__ADS_1


"Lif." Panggil eyang


"E- eyang.." Jawab mas Alif lirih sambil berusaha bangkit dari tidurnya.


"Sudah-sudah jangan dipaksa dulu, tiduran saja." Ucap eyang dan dibalas dengan anggukan oleh mas Alif.


"Bagaimana keadaanmu, apakah sudah jauh lebih baik?" Tanya eyang.


"Alhamdulilah, hanya lemas dan masih sedikit nyeri dibeberapa bagian tubuh."


Eyang menganggukan kepala, mas Alif menoleh ke arahku.


"Run, kamu disini." Sapanya sambil tersenyum.


"Cepet sembuh mas, kasihan Raka, dia sangat mengkhawatirkan dirimu." Ucapku.


Mas Alif mengangguk dan tersenyum "Iya, terimakasih."


"Dari tadi yang bolak-balik liatin kamar kamu itu si Aruni mas, sepertinya dia jauh lebih khawatir dengan kondisimu dibanding dengan Raka." Celetuk Anin yang datang dari dapur bersama Raka.


"Eh apasi, ngomongnya sembarangan banget." Kataku sewot.


Mas Alif hanya tertawa kecil.


"Om Alif udah sembuh ya, om janji ya jangan seperti ini lagi. Kan katanya mau menemani Raka sampai Raka besar dan jadi tentara." Ucap Raka dengan mata yang berkaca-kaca.


"Hei kenapa menangis seperti itu, om sudah baik-baik aja kok. Dan siapa juga yang akan meninggalkan Raka? Om akan selalu ada disamping kamu sampai kamu besar nanti." Kata mas Alif sambil mengusap air mata Raka.


"Sudah-sudah masa anak laki-laki nangis, malu itu lho sama mbak Runi, mbak Anin." Goda eyang Gitarja.


"Enggak, Raka nggak nangis kok. Tadi cuma kelilipan debu saja sedikit." Ucap Raka penuh pembelaan.


"Halah gayamu." Cibir Anin.


***


Sedangkan di dimensi lain, sesosok genderuwo besar sedang mengamati suasana yang terjadi dirumah Alif dengan tatapan penuh dengan amarah dan dendam. Ya, siapa lagi kalau bukan Ki Braha.


Dia sudah menyiapkan sebuah rencana besar untuk menghabisi nyawa Aruni. Kali ini ia tak mau gagal lagi, baginya tidak ada kata gagal. Gagal adalah kata-kata milik pecundang, menurut Ki Braha.


Tetapi ia juga harus bermain aman, karena ia tau benteng-benteng pertahanan Aruni yang sangat kuat. Bukan hanya karena dia gadis keturunan dari Keraton Jawa, tetapi juga karena perlindungan dari bangsa musuhnya terdahulu, bangsa Ki Bahrat. Ia tak mau mengalami kekalahan dengan bangsa Bahrat untuk yang kedua kalinya.


Ki Braha sangat berambisi untuk bisa menghabisi Aruni beserta orang-orang terdekatnya. Ditambah dengan penghianatan yang dilakukan oleh mantan anak buahnya, Alif. Semakin membuatnya meradang. Ia merasa ditipu.


"Hahaha, sekarang bolehlah kalian berpuas-puas untuk tertawa dan bergembira. Tetapi nanti jika waktu itu telah tiba, akan aku pastikan hanya ada tangisan diantara kalian, hahaha. Tunggu Aruni, tungguu pembalasanku hahaha!!!!"


🍂

__ADS_1


🍂


🍂


__ADS_2