
Sander menatap Kuntilanak yang sedang merajuk tersebut. "Maaf jika ucapanku membuatmu sakit hati, aku tidak bermaksud seperti itu."
"Sudahlah tak apa, kau benar. Aku ini memang menakutkan, wajahku saja nyaris hancur. Padahal niatku kan baik, ingin menemani bayi itu selagi ibunya pergi ke kamar mandi." Lirih Kuntilanak itu.
"Huu kau si berbicara seperti itu, lihat kan sekarang dia sedih seperti itu." Omel Cong-cong.
"Kan aku sudah minta maaf, Cong."
Aku yang mendengar jawaban Kuntilanak itupun tersentuh, kasihan dia. Aku mendekati Kuntilanak tersebut.
"Hei it's oke, jangan berbicara seperti itu. Aku tau niatmu baik, ingin membantu menjaga Luna. Tetapi, Luna itu masih kecil, jadi pantas saja dia takut melihatmu yang seperti ini." Kataku.
"Iya aku tau, aku memang jelek, aku menakutkan. Tidak didunia manusia tidak didunia gaib, selalu saja aku menjadi sasaran korban bully. Aku pergi dulu, aku tak ingin membuat bayi itu menangis lagi." Lirih Kuntilanak itu.
"Hei jangan berbicara seperti itu, tidak semua orang itu takut akan dirimu, contohnya aku. Aku tidak takut sama sekali denganmu." Ucapku sambil tersenyum.
"Tetapi rata-rata semua orang takut ketika melihat wujudku yang seram seperti ini." Ucap Kuntilanak sambil menunduk.
"Sudahlah jangan bersedih lagi seperti itu, aku bisa merasakan apa yang kau rasakan." Kata Kukun.
"Sudah-sudah, anak bayi seperti Luna kan belum mengerti akan hal ini, jadi wajar saja kalau dia histeris ketika melihatmu. Bahkan jika Luna melihat Kukun, Cong-cong, dan Sander sekalipun." Aku mencoba menenangkan kuntilanak itu.
"Hei, kenapa kau jadi membawa-bawa namaku, Aruni. Mana mungkin Luna itu takut padaku, aku ini han hamoy, hantu gemoy." Ucap Sander tak terima.
"Hamoy, hamoy yang ada huek aku kalau lihat kamu narsis begini." Celetuk Cong-cong.
"What the fu*k bro." Sahut Sander.
"Ish kalian ini, jangan berisik. Kuntilanak, bukan maksud hati aku ingin mengusir dirimu, tetapi jika kau masih tetap berada disini, Luna tidak akan berhenti menangis. Kau paham kan maksudku itu apa?" Ucapku.
Kuntilanak tertunduk. "Iya Aruni, aku paham. Maaf kalau kehadiranku membuat Luna tidak nyaman, sekali lagi aku minta maaf. Aku akan pergi, senang bisa bertemu denganmu, orang yang tak takut ketika melihatku." Kunti itu menatapku dalam-dalam.
Aku tersenyum. "Tidak apa-apa, maaf ya, bukan maksudku mengusir dirimu. Kapan-kapan kau boleh berkunjung kerumah ku, disana kau bisa berbincang dengan teman-teman gaibku."
"Terimakasih atas tawaranmu, aku akan berkunjung nanti. Sampai jumpa." Kunti itu terbang melesat keluar jendela.
Tiba-tiba mbak Vera, mas Alif, dan Anin menyusulku ke kamar. Dan sekarang Luna sudah tidak menangis lagi, ia sedang terlelap tidur, mungkin terlalu lelah setelah menangis tadi, hehe.
__ADS_1
"Gimana Run, ada apa di kamarku ini?" Tanya mbak Vera.
"Cuma iseng aja kok mbak, sekarang sudah aman. Insyaallah Luna nanti nggak nangis-nangis lagi."
"Alhamdulillah, terimakasih ya Run. Untung kamu lagi disini, jadi bisa meminimalisir keadaan seperti ini. Aku terimakasih banget loh, Run."
"Iya mbak Vera, sama-sama."
"Oh iya mbak, kalau maghrib Luna jangan ditinggal sendiri. Dan juga jangan ditidurkan dikasur, lebih baik digendong saja sampai sandingkala-nya selesai." Perintah mas Alif.
"Oh begitu ya Lif, memangnya kenapa?"
"Tidak apa mbak, salah satu cara juga agar anak bayi seperti Luna itu tidak gampang diganggu sama makhluk yang jail. Maghrib itu kan seperti waktu nya mereka keluar, jadi ya jaga-jaga saja." Jelas mas Alif.
"Oh iya-iya Lif, terimakasih ya kalian ini baik-baik banget."
"Halah hanya seperti ini mbak, tidak apa-apa. Ya sudah kalau begitu kami pamit dulu ya mbak, takut Raka sama mas Genta nyariin, hehe." Pamitku.
"Iya Run, hati-hati ya."
"Waalaikumsalam." Jawab mbak Vera.
***
Ini adalah hari ke 37 Uwo-uwo bersemedi di gua gunung keramat untuk mendapatkan keris pusaka itu, hanya tersisa tiga hari lagi agar Uwo-uwo bisa mendapatkan keris itu.
Malam ini aku sedang membaca buku pelajaran dikamar, karena sebentar lagi ujian kelulusan akan segera dimulai. Teman-teman gaibku sedang berada didepan rumah, seperti biasa, mereka berjaga-jaga agar Ki Braha tidak kembali menyerangku. Semenjak kejadian waktu itu, sampai sekarang Ki Braha tidak melakukan apapun kepadaku.
Aku berjalan menuju kearah jendela, aku membuka jendela kamarku. Menatap langit malam yang berhias kemerlap bintang dan cahaya bulan memang sangat indah. Saat aku sedang asyik menatap langit, tiba-tiba saja ada sesosok laki-laki dihadapanku. Tetapi kali ini kondisinya sudah jauh lebih baik daripada awal kami bertemu, ya dia adalah pak Karman.
"Pak Karman?" Sapaku.
Pak Karman tersenyum "Apa kabar, Aruni?"
"Alhamdulillah pak, saya senang bapak kembali mengunjungi saya."
"Aku ingin mengucapkan terimakasih kepadamu, Aruni. Berkat dirimu sekarang anakku dan adikku sudah kembali harmonis. Sekarang aku tenang meninggalkan anakku pada Alif."
__ADS_1
"Sama-sama pak, ini semua sudah menjadi tugas saya. Saya hanya bisa membantu seperti ini pada pak Karman."
"Tidak, bahkan ini sudah lebih dari apa yang aku inginkan. Adikku, Alif bahkan sekarang menjadi lebih baik setelah mengenal dirimu. Dan aku ucapkan banyak terimakasih padamu, aku titipakan mereka berdua padamu ya, Run. Tegur Alif kalau dia membuat kesalahan, dan juga Raka, ya."
"Iya pak Karman, Raka sudah saya anggap sebagai adik saya sendiri."
"Sampaikan salam dan terimakasih ku pada eyang Gitaraja, Genta, simbah Gentari, ibu mu, mbak Ratih, dan Anin ya Run. Tak lupa juga pada teman-teman gaibmu, tanpa kalian mungkin sekarang aku masih belum bisa beristirahat dengan tenang."
"Iya pak Karman, nanti saya ucapkan."
"Aku juga meminta maaf padamu, gara-gara kau membantu diriku, kau jadi sasaran Ki Braha. Aku tau dia itu raja jin yang amat licik dan jahat."
"Sudahlah pak, pak Karman tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Ini semua bukan karena saya membantu pak Karman, tapi ini semua sudah menjadi garis takdir dari yang diatas, pak. Dan saya ikhlas menjalani ini semua."
"Tetapi tetap saja, aku sangat merasa bersalah padamu, Aruni."
"Tidak apa-apa pak Karman, kalaupun saya tidak membantu kasus pak Karman, pasti Allah juga akan mempertemukan saya dengan Ki Braha dengan cara yang berbeda, karena semua ini sudah garis takdir saya, yang harus saya jalani."
Pak Karman tersenyum. "Beruntungnya Sena mempunyai putri sepertimu, Aruni. Kau memang gadis yang amat baik. Sekarang aku pamit untuk pergi, aku titipkan Raka dan Alif padamu ya. Sampaikan salam sayangku untuk mereka berdua."
"Iya pak Karman, beristirahatlah dengan tenang. Saya akan sampaikan salam pak Karman untuk mas Alif dan Raka."
Pak Karman tersenyum, saat pak Karman akan pergi, wujudnya berubah sama seperti dulu dirinya masih hidup. Dengan memakai baju berwarna putih dan senyum yang terus mengembang, pak Karman berjalan menuju cahaya yang ada didepannya.
Saat sudah berada diujung cahaya, pak Karman membalikkan badannya menghadap ke arahku, dia tersenyum sambil melamaikan tangan sebagai tanda perpisahan antara kami. Perlahan tubuhnya menghilang diiringi dengan hilangnya cahaya tersebut.
Aku sangat terharu hingga air mataku jatuh, aku senang dapat membantu pak Karman. Dengan ini pak Karman dapat beristirahat dengan tenang.
"Beristirahatlah dengan tenang ya pak Karman dan juga istri, saya pastikan Raka akan tetap hidup dengan layak bersama dengan mas Alif. Saya akan menyayangi Raka dengan sepenuh hati, karena saya sudah menganggapnya seperti adik saya sendiri. Selamat jalan pak Karman." Ucapku dalam hati sambil mengusap air mataku.
"Kau menangis, Run?" Terdengar suara Sander, sontak membuatku menoleh ke arahnya.
🍂
🍂
🍂
__ADS_1