MEREKA SEMUA TEMANKU

MEREKA SEMUA TEMANKU
Menyiapkan Strategi Terbaik


__ADS_3

"Dia bertanya, sebenarnya bagaimana perasaanku terhadapnya. Apakah masih sama seperti dulu atau sudah berubah semenjak aku terlihat dekat dengan mas Alif." Jawabku.


"Sudah kuduga, pasti Genta akan menanyakan hal itu. Kataku juga kan kau harus bisa memilih diantara mereka, jangan seperti ini." Ucap Cong-cong.


"Aku mengerti, tapi aku sendiri pun masih bingung dengan perasaanku. Aku meminta waktu pada mas Genta untuk meyakinkan hati dan perasaanku."


"Jangan lama-lama, aku tau persis bagaimana rasanya menunggu kepastian dari seorang yang kita suka." Celetuk Kukun.


"Pasti tidak enak kan Kun, digantung tidak jelas tanpa kepastian seperti itu." Sindir Sander sambil melirik kearahku.


"Apa lirik-lirik seperti itu? Awas matamu copot!"


"Ck, sensi amat bu." Goda Sander.


"Tapi Sander itu benar, Aruni. Kau harus cepat mengambil keputusan, tidak baik memperlakukan Genta dan Alif seperti ini." Ujar Cong-cong.


"Iya Cong, makanya itu aku perlu waktu untuk meyakinkan perasaanku."


"Hm, aku tau siapapun yang kau pilih nantinya, itu pasti yang terbaik untukmu." Kata Cong-cong.


"Terimakasih ya, nasehatnya teman-teman." Ucapku.


"Ck, dasar women. Labil sekali perasaannya." Celetuk Sander sambil pergi melesat masuk kerumah simbah.


"SANDERRR!!!!!!" Teriakku dengan kesal


"Kamu ini kenapa Run? Kok teriak-teriak sendiri seperti itu?" Tanya Yu Darni yang sudah berada disampingku.


Aku menoleh ke arah Yu Darni. "Eh Yu Darni, em itu tidak apa-apa Yu, hanya sedang melatih suara. Biar bisa lepas gitu, hehe." Jawabku sedikit gugup.


"Oalah begitu saya kira kenapa, ya sudah saya duluan ya." Ucap Yu Darni sambil pergi meninggalkanku.


"Iya Yu, hati-hati."


"Hahaha, Yu Darni pasti mengira kalau dirimu sudah gila, Aruni." Celetuk Sander yang tiba-tiba sudah berada diantara kami.


"Kamu itu bisa nggak sih, sekali aja nggak bikin aku kesel." Ucapku sambil berjalan pergi menuju kerumah.

__ADS_1


"Hayoloh, Aruni marah. Paling-paling nanti disuruh tinggal dulu sementara di gudang, hahaha." Goda


Cong-cong.


"Siap-siap aja deh jadi penghuni gudang sementara, disana kamu sama tikus, hahaha." Timpal Kukun.


"Huh, itu tidak akan mungkin terjadi, tau. Aruni itu kan sangat sayang padaku!" Sewot Sander sambil menyilangkan kedua tangannya.


***


Ki Braha sedang termenung dibalkon kamarnya, ia tengah memikirkan strategi yang tepat agar bisa menghabisi Aruni, gadis yang akan menghancurkan dirinya beserta kekuasaan yang kini ia miliki.


Dia juga harus memilih waktu yang tepat untuk menyerang Aruni, bisa-bisa dirinya gagal lagi seperti yang sudah-sudah. Tentu saja, Ki Braha sedang berpikir keras, bagaimana caranya agar Eyang Gitarja tidak dapat menganggu dan menghancurkan strategi yang sudah ia rancang dengan tepat.


"Aku harus mencari cara yang tepat, agar diriku bisa dengan mudahnya menghabisi gadis bau kencur itu. Tetapi, selagi masih ada kakek tua dan teman-teman gaib yang ada didekatnya itu, aku masih belum bisa dengan leluasa menyerang dirinya. Dan bisa kupastikan, pasti rencanaku akan gagal lagi, ck menyebalkan. Bagaimana ya caranya?" Gerutu Ki Braha didalam hatinya.


Nyi Rekso, yang melihat sang suami tengah termenung seperti itu yakin, pasti Ki Braha sedang memikirkan sesuatu hal yang besar. Dan Nyi Rekso yakin, pasti ini semua tentang gadis keturunan Keraton Jawa itu.


Sudah dapat ia tebak, pasti suaminya itu gagal melancarkan aksinya untuk dapat menghabisi Aruni. Dan sebenarnya itulah yang Nyi Rekso inginkan, dirinya sudah lelah dengan semua kehidupan ini. Keangkuhan, keserakahan yang suaminya perbuat, sudah cukup membuat Nyi Rekso jengah.


Ia menghampiri suaminya yang berada dibalkon kamar mereka, sambil memegang pundak berbulu Ki Braha, Nyi Rekso menanyakan hal apa yang terjadi pada suaminya, hingga membuatnya terlihat begitu stress memikirkan sesuatu.


Ki Braha menoleh ke arah istrinya, sambil menarik nafas panjangnya, Ki Braha menceritakan semuanya pada sang istri.


"Semua ini tentang gadis bau kencur itu, seranganku padanya kembali gagal lagi. Sekarang aku sedang memikirkan strategi yang sangat tepat agar bisa menghabisi nyawanya itu, tetapi selagi masih ada kakek tua dan teman-teman gaibnya, aku masih belum bisa leluasa melancarkan aksiku pada gadis itu." Jelas Ki Braha pada Nyi Rekso.


"Jadi, itu yang sedang kau pikirkan sekarang. Menurutku kangmas, sudahlah tak perlu kau berbuat seperti ini. Ini memang sudah menjadi takdir dirimu, jika gadis keturunan Keraton Jawa itu menghancurkan dirimu dan juga kekuasaanmu."


Ki Braha melirik tajam istrinya.


"Apa yang baru saja kau katakan, Rekso. Kau menginginkan kehancuranku, begitu maksudmu?!" Bentak Ki Braha pada Nyi Rekso.


"Bukan begitu maksudku kangmas, tetapi apapun strategimu untuk bisa menghabisi nyawa gadis keturunan Keraton Jawa itu, aku yakin semuanya akan menjadi sia-sia." Ucap Nyi Rekso penuh pembelaan.


"Aku ini suamimu, Rekso. Kau tidak perlu mengajarkan apapun padaku, karena aku tau apa yang harus aku lakukan dan tidak aku lakukan. Jadi kau tidak perlu mengatakan hal itu padaku." Ucap Ki Braha dengan nada dingin.


"Tetapi kangmas, aku hanya-."

__ADS_1


Ki Braha memotong ucapan Nyi Rekso. "Hust, sudahlah. Jangan berbicara lagi, aku sekarang sedang ingin sendiri, pergi lah kau dari sisiku." Usir Ki Braha pada Nyi Rekso.


Nyi Rekso membuang napasnya kasar. "Baiklah, aku permisi dulu kangmas."


"Tepat dugaanku, kangmas pasti meradang ketika aku bilang seperti itu. Dari dulu sifat kangmas memang keras, sama sekali tidak mau dinasehati oleh orang lain, termasuk diriku, yang tak lain adalah istrinya sendiri. Sudahlah, biarkan saja dia menjalankan apa yang dia inginkan. Toh ramalan itu memang akan benar-benar terjadi." Ucap Nyi Rekso dalam hati sambil pergi dari dalam kamar.


***


"Mbak Runi, Raka mau makan nugget nya yang banyak ya." Ucap Raka yang duduk dikursi meja makan sambil menungguku selesai menggoreng nugget.


"Iya-iya nanti semua nuggetnya buat Raka deh." Kataku.


"Hm, masa mau dimakan sendiri sih, berarti mbak Anin, mas Genta, sama om Alif nggak dikasih." Goda Anin.


"Em hanya sedikit." Jawab Raka.


Aku senang melihat Raka yang sekarang, ia sudah kembali terlihat seperti anak seusianya yang gembira. Aku harap Pak Karman dialam sana juga dapat merasa bahagia melihat anaknya, Raka sudah mendapat perlakuan yang baik dari mas Alif.


Mengatakan tentang Pak Karman, ia belum menemuiku dan mas Genta lagi semenjak awal pertemuan kami. Dimana saat itu dia meminta bantuanku untuk membebaskan Raka dari mas Alif. Dan itu adalah awal dari semua ini, aku sama sekali tidak merasa menyesal menolong pak Karman. Semoga anda sudah bisa beristirahat dengan tenang ya, pak.


"Hei apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya mas Genta yang sudah ada disampingku.


"Eh mas Genta, tidak ada kok mas. Hanya tentang pak Karman." Jawabku.


"Ada apa dengan kangmasku, Aruni?" Celetuk mas Alif diantara kami berdua.


"Tidak ada mas Alif, hanya saja aku merasa bingung. Kenapa dia belum menemuiku lagi, terakhir dia menemuiku saat meminta pertolongan tentang Raka." Sahutku.


"Ah begitu rupanya, iya, sudah lama juga kangmas tidak mengunjungiku didalan mimpi." Ucap mas Alif.


"Mungkin suatu hari nanti, Pak Karman akan menemui kita." Ucap mas Genta.


"Aku harap juga begitu."


🍂


🍂

__ADS_1


🍂


__ADS_2