MEREKA SEMUA TEMANKU

MEREKA SEMUA TEMANKU
Ancaman Ki Braha


__ADS_3

"Mas Genta melihatku?" Tanyaku.


Mas Genta mengangguk "Sepertinya akhir-akhir ini kau terlihat dekat ya dengan Alif."


Aku tersenyum kecut mendengar pernyataan mas Genta.


"Tidak sedekat itu, hanya kebetulan saja mas melihatku sedang bersama dia. Lagipula baru satu kali aku pergi bersama dengan mas Alif."


"Begitu rupanya, aku harap dengan adanya kedekatanmu dengan Alif seperti ini tidak membuatmu lupa akan Raka, Aruni."


"Kau tenang saja mas, aku tidak akan pernah melupakan tujuan awal kita. Justru bagus kan kalau mas Alif saat ini sudah benar-benar berubah?"


"Iya, tapi kita kan belum tau bagaimana keadaan yang sebenarnya. Sudah lama juga kita tidak mengunjungi Raka."


"Jadi mas Genta meragukan perubahan sikap mas Alif? mas ini kenapa sih, orang berubah menjadi lebih baik itu harusnya didukung bukan malah selalu dicurigai." Kesalku.


"Aku tidak meragukan Alif, aku juga tidak mencurigainya. Hanya saja aku berkaca dengan yang lalu. Kau ini yang sebetulnya kenapa, sepertinya kau sangat membela Alif."


Mas Genta sedkit tersulut emosi, karena Aruni sedari tadi terus-menerus membela Alif. Kesal iya, cemburu pasti. Siapa yang tidak cemburu, melihat orang yang dicintai terlihat mati-matian membela laki-laki lain.


"Ah sudahlah mas, aku sedang tidak ingin berdebat. Maaf, sebaiknya mas pulang dulu sekarang. Bukan maksudku mengusir mas, terimakasih untuk makanannya. Lain kali tak perlu repot-repot seperti ini."


Mas Genta tersenyum kecut "Baik, jika itu yang kau mau. Aku pamit, Assalamualaikum."


Mas Genta segera menaiki motornya dan melajukan motor sportnya itu dengan kecepatan yang sedikit tinggi karena kesal.


Aku yang memalingkan wajahku dari mas Genta saat ia berpamitan, menoleh saat sepeda motornya pergi meninggalkan rumah simbah.


"Waalaikumsalam, maafkan Aruni mas." Kataku sambil mengusap air mataku yang jatuh.


Dijalan pulang menuju rumahnya, pikiran Genta berkecamuk. Bagaimana bisa sikap Aruni padanya berubah begitu drastis.


Hal ini sangat menyakitkan hati Genta, terlebih siang tadi ia melihat bagaimana perilaku manis Alif pada Aruni yang mengelus rambutnya.


"Ada apa denganmu Aruni, apa yang terjadi dengan dirimu. Kenapa sikapmu kepadaku menjadi seperti ini, kalau perubahan sikapmu ini perihal diriku yang beberapa hari ini terlihat sangat sibuk hingga mengabarimu saja aku tidak sempat, aku minta maaf Run. Tapi aku mohon, kembalilah seperti dulu. Seperti Aruni yang pertama kali aku kenal sayang."


Tak terasa air matapun menetes dipipi Genta, entahlah baru kali ini ia menangis gara-gara wanita. Rasanya begitu perih.


Tiba-tiba saja saat Genta sedang menyeka air matanya, ada dua sosok kunti yang meledeknya.


"Lihatlah pemuda itu tampan-tampan kok cengeng, hihihihi." Kata sesosok kunti berambut kribo.

__ADS_1


"Benar, apa ia tak malu dengan motor sportnya. Bisa-bisanya ia menangis, karena wanita pula. Hahaha." Sahut kunti berambut gimbal.


Genta yang mendengar ledekan kedua kunti itupun kesal.


"His, sudah menjadi hantu pun masih suka sekali julid kepada manusia. Diamlah kalian, mau aku bacakan doa biar rambut kalian itu terbakar hah?" Ujar Genta.


"Hehe, kami kan hanya bercanda. Maaf-maaf silahkan melanjutkan kembali perjalananmu." Sahut kunti berambut kribo.


•••


Sedangkan di rumah Alif, ia sedang merutuki dirinya sendiri. Niat hati hanya ingin bermain cantik dengan bersikap baik pada Aruni malah membuatnya terhanyut dalam kebersamaan yang akhir-akhir ini mereka berdua lalui.


"Ish bagaimana bisa aku seperti ini, aku kan hanya ingin bermain cantik tapi kenapa malah seperti ini. Aku merasa jika didekat Aruni, jantungku berdegup kencang tak karuan. Ahhh aku benci perasaan ini."


Tiba-tiba saja Ki Braha datang ke kamar Alif.


"Hei bodoh."


Alif menoleh ke arah sumber suara "Aki? kapan aki datang?"


"Tidak penting kapan aku datang, jadi bagaimana dengan gadis itu? apa mantraku bekerja dengan baik?"


"Sepertinya begitu Ki, sikapnya padaku perlahan mulai mencair."


Mendengar hal itu, nyali Alif menjadi ciut. Ia tak tega jika harus melanjutkan strategi Ki Braha untuk menjebak Aruni.


"Ada apa ini? kenapa rasanya aku seperti tidak rela jika Aruni kenapa-kenapa." Gumamnya dalam hati.


Ki Braha menoleh ke arah Alif dengan tatapan tajam.


"Perlu kau ingat Lif, jangan sampai dirimu terhanyut dalam strategi ini. Ini hanyalah sebuah misi untuk menghancurkan musuh, jadi aku tidak mau mendengar atau melihat nantinya jika dirimu jatuh hati pada gadis itu."


Alif tertegun, sepertinya Ki Braha bisa membaca pikiran dan mendengar ucapannya dalam hati.


"Ah Aki ini bercanda, mana mungkin aku jatuh hati padanya." Ujar Alif sedikit gerogi.


"Aku tidak main-main dengan ini Alif, awas saja jika hal itu benar-benar terjadi. Aku akan menghabisimu." Ancam Ki Braha.


"Iya Ki." Jawab Alif menunduk.


"Dan ya, ada sesuatu hal yang ingin aku tanyakan pada dirimu."

__ADS_1


"Apa itu Ki?" Tanya Alif penasaran.


"Kenapa kau akhir-akhir ini terlihat bersikap baik terhadap keponakanmu, bahkan kau mengantar dan menjemputnya sekolah?" Cibir Ki Braha.


"Biarlah Ki, aku merasa akhir-akhir ini kasihan pada Raka. Aku teringat dulu ketika kangmas ku banting tulang untuk menghidupi dan membiayai sekolahku ketika kedua orangtua kami telah tiada."


"Cih dasar plin-plan, Apa kau tak takut jika nanti ia sudah besar semua harta warisan milik kangmas mu akan dia ambil?"


"Sudahlah Ki, jangan membahas tentang itu sekarang." Ujar Alif sambil memalingkan wajahnya.


"Ck baiklah aku pergi saja, tapi ingat cepat buat serangan lagi untuk gadis itu. Kalau kau lambat atau serangan itu gagal kembali. Lihat saja, aku sendiri yang akan turun tangan untuk menghabisi gadis tengil itu." Kata Ki Braha.


"Kenapa begitu Ki?" Tanya Alif dengan sedikit khawatir.


"Ck mukamu terlihat khawatir, sangat menjijikkan. Ya tentu saja aku akan melakukan hal itu, karena keberadaan gadis itu juga akan mengancam keberadaanku asal kau tau." Jawab Ki Braha.


"Maksud Aki mengancam keberadaan Aki itu bagaimana?"


"Entahlah, tapi aku merasakan energi gadis itu sangat kuat. Selain karena dia mempunyai garis keturunan dari Keraton Jawa langsung, energi dari dalam dirinya juga sangat kuat." Jelasnya.


"Jadi secara tidak langsung Ki Braha takut dengan keberadaan Aruni?" Tanya Alif dengan muka meledek.


"Berhenti menatapku seperti itu! aku sama sekali tidak takut padanya, tapi aku hanya berjaga-jaga diri saja. Lebih baik mencegah daripada harus mengobati."


"Cih alasan saja." Gumam Alif pelan namun terdengar oleh Ki Braha.


"Aku mendengarmu bodoh!" Celetuk Ki Braha dengan tatapan tajam.


Alif tersenyum "Hanya bergurau Ki."


"Ck tidak berguna, sudahlah aku mau pergi saja."


Tak lama dari itu Ki Braha kembali ke alamnya.


Pikiran Alif kembali berkecamuk, diantara ia ingin mematuhi perintah dari Ki Braha dan tidak tega dengan Aruni.


Bagaimana reaksi Aruni nanti jika ia mengetahui siapa dalang dibalik serangan-serangan yang ia terima selama ini. Alif takut Aruni akan benci dan menjauhinya.


🍂


🍂

__ADS_1


🍂


__ADS_2