MEREKA SEMUA TEMANKU

MEREKA SEMUA TEMANKU
Genta tau


__ADS_3

Setelah berkendara kurang lebih 15 menit, mas Alif menghentikan motor sportnya disebuah warung bakso yang berada di perbatasan desa.


Kulihat warung bakso ini memang cukup ramai, apalagi letaknya di perbatasan desa yang biasa dilewati oleh para pengendara yang ingin ke kota.


Setelah mendapatkan tempat duduk yang kosong, mas Alif pun memesan dua mangkuk bakso spesial dan es jeruk untuk kami berdua.


"Maaf ya aku ngajakin kamu cuma ke warung bakso." Kata mas Alif.


"Eh nggak papa mas, aku suka banget malah sama bakso."


Mas Alif tersenyum "Oh iya, ayahmu akhir-akhir ini terlihat sangat sibuk ya. Beberapa kali aku bertemu dijalan, katanya sedang ada proyek diluar kota."


Aku mengangguk "Iya mas, salah satu alasan kami pindah kesini ya gara-gara itu. Jarak dari desa ini ke kota ayah bekerja cukup dekat daripada rumah kami dikota."


"Oh begitu, lalu bagaimana hubunganmu dengan Genta?"


Aku terdiam sejenak, lagi-lagi mas Alif menanyakan tentang hubunganku dan mas Genta. Sebenarnya aku sangat malas jika harus membahas tentangnya saat ini.


Aku membuang nafas pelan "Entahlah mas, aku juga bingung."


"Bingung bagimana?" Tanya mas Alif penasaran.


"Aku merasa seperti digantung sama mas Genta, walaupun kami sudah saling mengetahui perasaan kami satu sama lain. Sampai saat ini mas Genta tidak pernah mengungkapkan perasaanya padaku."


Mas Alif tersenyum miring "Lalu kenapa tidak kau duluan saja yang mengungkapkan perasaanmu pada Genta?"


"Ish mas Alif ini, masa wanita terlebih dulu yang mengungkapkan perasaannya. Seperti tidak ada harga dirinya saja."


Mas Alif terkekeh "Ya memang benar apa katamu, tapi apa ada pilihan lain daripada terus menerus digantung tanpa kepastian?"


Aku tertegun mendengar penuturan mas Alif.


"Ah udahlah mas, jangan bahas tentang mas Genta. Bikin mood rusak saja." Kataku sambil menopang daguku dimeja.


Mas Alif mengelus pelan rambutku "Iya-iya maaf."


Tanpa mereka sadari ada dua pasang mata yang sedang memperhatikan mereka sedari tadi, dengan perasaan kesal, marah, cemburu campur aduk menjadi satu.


Ya, Genta yang memperhatikan tingkah Aruni yang sedang bersama dengan Alif. Mereka berdua terlihat semakin akrab saja, padahal dulu sikap Alif pada Aruni sangatlah dingin.


Genta sendiri sedang memesan beberapa bungkus bakso untuk makan siang pekerja sawah yang ada disawah milik ayahnya, tidak sengaja ia melihat sepeda motor milik Alif terparkir diwarung bakso tersebut.

__ADS_1


"Kenapa semakin hari mereka terlihat semakin dekat sih! bikin kesal saja." Gerutu Genta.


"Lagipula aku sendiri yang salah, kenapa daridulu aku selalu menggantung perasaan Aruni. Walaupun sebenarnya ada alasan dibalik ini semua, aku ingin dia lulus sekolah terlebih dahulu. Niatku baik kan, aku tidak mau mengganggu pendidikannya. Tapi malah dia terlihat begitu nyaman didekat Alif."


Genta terus saja melamun sedari tadi, hingga seorang pelayan datang membawa bakso pesanannya pun ia tidak tau.


"Mas?" Sapa seorang pelayan sambil menepuk pundak Genta.


"Eh iya sudah jadi ya mas?"


"Iya mas, saya panggil-panggil daritadi tidak mendengar. Lagi galau ya?" Celetuk mas pelayan.


"Halah mas ini, sok tau banget sih." Sahut mas Genta dengan tersenyum.


Mas Genta pergi meninggalkan warung bakso itu dengan perasaan kecewa terhadap Aruni. Entahlah, rasanya dadanya begitu sakit ketika melihat Aruni dekat dan terlihat nyaman dengan lelaki lain.


Sebenarnya ada niat dari Genta untuk menghampiri Auni dan Alif, tapi ia mengurungkan kembali niatnya.


"Ya sudahlah biarkan saja, nanti saja aku tanyakan pada Aruni ketika dia sudah ada dirumah. Lagipula sudah tiga hari aku tidak menghubunginya." Kata mas Genta.


•••


"Langsung pulang saja ya Run, sebentar lagi Raka selesai SSB nya. Takut dia menunggu terlalu lama." Kata mas Alif saat tengah berada diparkiran.


"Oh iya mas nggak papa kok. Kasian juga Raka sudah pasti lelah bermain bola, masa harus menunggu mas Alif juga."


Mas Alif tersenyum "Yaudah yuk."


Saat ditengah-tengah jalan kembali kerumah, kulihat teman-teman gaibku ingin menghampiriku. Tapi aku memberikan kode pada mereka agar tidak mendekat dan langsung pulang saja. Aku takut mas Alif curiga dengan Uwo-uwo yang dulu pernah mengintai rumahnya.


Tanpa Aruni sadari, Alif pun tau tentang teman gaib Aruni yang ingin mendekat namun dicegah olehnya. Dia hanya tersenyum miring melihat tingkah Aruni.


Melalui kontak batin, Aruni berkata pada Sander agar langsung pulang saja ke rumah.


" Jangan mendekat, kau dan yang lain langsung pulang saja ke rumah. Apa kau lupa kalau mas Alif itu juga bisa melihat kalian hah? bisa gawat nanti kalau dia mencium bau Uwo-uwo yang dulu pernah mengintai rumahnya, bisa-bisa dia tau tentang semuanya." Perintahku pada Sander.


"Hm baiklah Aruni, kami tidak akan mendekat. Tadi kami hanya khawatir saja terhadapmu. Kami takut Alif berbuat yang tidak-tidak kepadamu."


" Sudahlah tak apa. Sejauh ini mas Alif bersikap baik kepadaku. Sudah sana pergi sebelum mas Alif menyadari kehadiran kalian."


" Baik tuan putri."

__ADS_1


Kulihat keempat teman gaibku menjauh dari keberadaanku dan mas Alif.


Sesampainya dirumah, mas Alif langsung pamit pergi. Dengan alasan tak mau membuat Raka menunggu terlalu lama. Entahlah, akupun sampai sekarang masih belum sepenuhnya percaya setelah aku melihat perlakuan dirinya terhadap Raka.


Aku harap mas Alif memang sudah benar-benar berubah, karena Raka itu masih kecil masih banyak membutuhkan kasih sayang darinya. Karena saat ini yang Raka miliki hanya mas Alif seorang.


"Aku langsung ya Run. Salam buat simbah, ibumu, dan budhe Ratih." Kata mas Genta.


"Iya mas, makasi ya sudah diajak jalan-jalan makan bakso. Hati-hati."


"Iya run sama-sama, eh iya aku lupa mau membungkuskan bakso untuk Anin hehe." Kata mas Alif sambil menyantelkan helm yang kupakai ditangannya.


"Halah udah nggak usah repot-repot, lain kali saja." Jawabku.


Mas Genta tersenyum "Duluan ya, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Aku menatap kepergian mas Alif dengan lambaian tangan dan tersenyum, aku tak menyadari kehadiran Anin yang sudah berada disampingku.


"Cie kok malah makin deket aja nih sama mas Alif." Goda Anin.


"Ish apasi Nin, nggak usah aneh-aneh deh."


"Halah, awas aja kalau kamu sampai tertarik dan jatuh hati sama dia." Ancam Anin


"Kenapa, kamu cemburu?" Godaku.


"Ih ya enggak lah. Aku itu cuma kasian sama mas Genta kalau kamu sama dia." Elaknya.


"Halah boong, bilang aja kalau suka sama mas Alif."


"Heh nggak ya, amit-amit aku suka sama modelan orang seperti dia." Kata Anin sedikit kesal.


"Haha, ingat Nin kalau benci sama orang jangan berlebihan. Takut nantinya malah berubah, dari benci jadi cinta." Kataku sambil berlari kedalam rumah.


🍂


🍂


🍂

__ADS_1


__ADS_2