
"Saudaramu itu memang sangat cerewet, tidak bisa berhenti bertanya. Aku semakin jengah dengannya." Celetuk Sander.
Aku terkekeh "Kau tidak boleh seperti itu Sander, walaupun begitu dia itu tetap saudara sepupu kesayanganku." Sahutku dalam hati.
"Sudahlah, ayo pergi ke sekolah sekarang saja. Lama-lama aku bisa mati gila kalau mendengar sepupumu kembali berkicau." Ujar Sander.
"Kau kan memang sudah mati bodoh." Ujar Uwo-uwo.
"Ah iya, aku lupa hehe." Jawab Sander.
"Nin, berangkat sekarang yuk." Ajakku pada Anin.
"Yuk, tapi kamu yang bawa motor ya." Pinta Anin.
"Hem." Jawabku sambil menganggukkan kepala.
"Bu, Aruni sama Anin berangkat dulu ya. Sampaikan juga pada simbah dan budhe. Assalamualaikum." Pamitku pada ibuku.
"Iya nduk Waalaikumsalam, kalian hati-hati ya dijalan." Jawab ibu.
Aku melajukan motor matic itu dengan kecepatan sedang, sengaja aku lakukan sambil menikmati pemandangan pagi desa. Menghirup udara pagi yang asri seperti ini membuat fikiran menjadi lebih tenang, terlebih setelah insiden penyerangan semalam.
Dari kejauhan aku melihat seseorang yang tak asing, dia sedang melajukan sepeda motornya juga dengan kecepatan sedang. Tepat di pertigaan desa, kamipun berpapasan. Dan aku sedikit tercengang dengan sikap yang ia tunjukan padaku dan juga Anin.
"Nin, liat deh didepan. Kok kayak nggak asing ya." Ucapku pada Anin.
Anin yang sedang sibuk bermain dengan ponselnya, sontak melihat ke arah depan yang aku tunjuk.
"Loh, kenapa bisa dia ada disini?" Tanya Anin terheran-heran.
"Ya mana aku tahu." Jawabku.
"Apakah dia punya niat sesuatu?" Tanyaku pada ketiga teman gaibku lewat suara hati.
"Entahlah, sejauh ini aku melihat tidak ada yang mencurigakan darinya." Ujar Uwo-uwo.
"Aku rasa dia memang sedang jalan-jalan saja, aku tidak merasakan aura yang aneh." Timpal Cong-cong.
"Lebih baik nanti waktu kalian papasan, kau tanyakan saja padanya." Usul Sander.
"Mana mungkin dia mau menjawab dengan jujur." Jawabku.
"Benar juga sih, ya tanyakan saja. Hanya sekedar basa-basi semata." Ujar Uwo-uwo.
"Baiklah Wo." Jawabku.
__ADS_1
"Nanti kalau dia mendekat dan berhenti, kami akan bersembunyi agar dia tidak mengetahui keberadaan kami sebagai temanmu." Ujar Cong-cong.
"Ah iya benar, ya sudah sana kalian pergi dulu. Dia sudah semakin dekat." Perintahku pada ketiga teman gaibku.
Uwo-uwo, Sander, dan Cong-cong pun segera pergi meninggalkanku dan Anin saat seseorang itu semakin dekat dengan sepeda motor yang kami tumpangi.
"Hei, selamat pagi. Aku tidak menyangka bertemu kalian disini." Sapa Alif.
Aku mengerutkan keningku saat melihat sikap Alif yang tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat dari sikapnya yang kemarin. Aku dan Anin pun saling berpandangan.
"Pagi mas, iya nih kita mau berangkat sekolah. Biasa lewat sini." Jawabku sambil tersenyum.
"Mas Alif tumben pagi-pagi sudah disini, ada apa mas?" Tanya Anin.
"Huh dasar gadis cerewet, ingin tahu sekali urusan orang lain." Gerutu Alif didalam hatinya.
"Biasa, mengecek sawah peninggalan mas Karman. Sebulan sekali aku kesini, kebetulan tadi sekalian mengantar Raka pergi ke sekolah." Jawab Alif sambil tersenyum seramah mungkin.
"Oh begitu, jadi sekarang sawah pak Karman mas Alif yang urus." Celetuk Anin.
"Ya kalau bukan aku siapa lagi, hanya aku saudara almarhum mas Karman yang ada disini. Tidak mungkin kan kalau Raka yang mengurusnya, dia bahkan masih terlalu dini untuk pekerjaan ini." Sahut Alif.
"Cih sok-sokan bilang terlalu dini, padahal mah setiap hari juga Raka disuruh mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga kan." Gerutuku dalam hati.
Alif tersenyum "Ah kamu ini terlalu berlebihan Run, aku hanya menjalankan apa yang harus aku jalankan sebagai wali dari Raka." Jawabnya.
Aku tersenyum "Ya sudah mas, kami permisi dulu mau ke sekolah. Takutnya nanti malah telat sampai disana."
"Oh iya-iya, aduh maaf ya perjalanan kalian jadi terganggu. Ngomong-ngomong kalian sekolah dimana?" Tanya Alif.
"SMA Mawar Berduri mas." Jawab Anin.
"Oh Mawar Berduri, aku juga salah satu alumni dari sana. Ya sudah silahkan melanjutkan perjalanan kalian ke sekolah." Ujar Alif.
Aku mengangguk "Kami duluan ya, Assalamualaikum." Pamitku sambil tersenyum.
"Waalaikumsalam." Jawab Alif sambil tersenyum juga.
Setelah kepergian Aruni dan Anin, Alif mengumpat kesal pada dirinya sendiri.
"Huh sial, sebenarnya aku sangat muak bersikap seperti tadi dihadapan dua gadis menyebalkan itu. Tapi demi melancarkan rencana ku, mau tak mau aku harus melakukan ini." Umpatnya.
"Ah sudahlah, lebih baik aku pergi ke sawah mas Karman saja. Dua hari lepas kan baru saja panen, pasti hasilnya banyak." Ujarnya dengan mata yang berbinar-binar membayangkan uang hasil panen yang amat banyak itu.
***
__ADS_1
Sesampainya disekolah, aku dan Anin segera menuju ke kelas karena sebentar lagi jam pelajaran pertama akan dimulai. Sudah lewat sepuluh menit dari bel masuk, tetapi belum ada tanda-tanda guru mapel yang masuk ke kelas kami.
"Kok gurunya belum datang sih." Ujarku.
"Entahlah, mungkin sedang rapat dulu." Jawab Anin.
"Rapat gimana, kelas sebelah saja sudah ada gurunya dari tadi. Kalau rapat kan semua guru pasti ikut." Gerutuku.
"Ya sudah kamu sabar saja." Jawab Anin dengan kesal.
Tiba-tiba guru piket hari ini masuk ke kelas kami dan memberitahukan bahwa hari ini guru bahasa Indonesia sedang ada urusan mendadak, jadi kami harus belajar sendiri.
"Selamat pagi anak-anaku, disini ibu mau memberitahu kalian bahwa Bu Sarah hari ini tidak dapat mengajar kalian karena ada kepentingan mendadak. Beliau menitipkan pesan kedapa saya, agar kalian dapat membaca materi yang ada didalam buku paket di taman halaman depan. Tetapi jangan ada yang membuat gaduh, sekian pesan dari Bu Sarah, terimakasih." Ucap Bu Eka, guru piket pada hari itu.
"Selamat pagi bu, baik bu terimakasih atas infonya." Jawab kami kompak.
"Yes jam kosong, akhirnya ada jam kosongnya juga." Ujar Anin saat keluar kelas bersama ku menuju taman halaman sekolah.
"Huu dasar, seneng banget dapat jam kosong kaya gini." Cibirku.
"Oh tentu, kan belajarnya jadi bebas hehe." Sahutnya.
Aku menggelengkan kepala "Eh nin, kamu tadi ngerasa aneh nggak sih sama sikap Alif." Tanyaku pada Anin saat kita sudah duduk dikursi taman.
"Iya aku juga merasa seperti itu, entah kesambet setan mana tuh si Alif sampai-sampai berubah seratus delapan puluh derajat." Celetuk Anin.
Aku terkekeh "Kira-kira kenapa ya dia seperti itu, bisa-bisanya dia mendadak bersikap ramah seperti tadi."
"Entahlah, sudah jangan terlalu dipikirkan. Mungkin dia sudah insyaf, positif thinking saja. Nggak baik suudzon sama orang." Ujar Anin.
"Widih tumben otak kamu bisa bijak kaya gitu." Cibirku sambil bertepuk tangan kecil.
Anin memicingkan matanya "Gini-gini juga aku bisa puitis kali." Jawabnya dengan bibir manyun.
Aku tertawa terbahak-bahak "Iya deh iya, si paling puitis hahaha."
🍂
🍂
🍂
Jangan lupa LIKE, KOMEN, DAN FAVORITKAN novel ini ya readers 🍅🍓
SALAM SERAM MANJA DARI AUTHOR >3
__ADS_1