MEREKA SEMUA TEMANKU

MEREKA SEMUA TEMANKU
Alasan


__ADS_3

Beberapa saat kemudian setelah aku dan Raka keluar dari kamar, mas Alif datang dengan membawa tiga bungkus sate ayam.


"Raka lama ya nunggunya?" Tanya mas Alif saat memasuki ruang tengah.


"Enggak kok om, Raka baru saja selesai ganti baju sama mbak Runi." Jawab Raka sambil tersenyum.


Mas Alif tersenyum "Terimakasih ya Run, tamu malah direpotkan."


"Halah mas Alif ini, kaya sama siapa saja."


Kami bertiga pun menyantap sate ayam yang mas Alif beli dengan canda tawa.


Raka tersenyum senang, ia akhirnya kembali merasakan kehangatan seperti ini lagi. Ia sangat bersyukur, sikap sang paman kepadanya sudah jauh lebih baik.


"Terimakasih ya Allah, akhirnya doa Raka terkabul. Semoga om Alif selalu seperti ini sama Raka, Raka sayang banget sama om Alif. Ayah, bunda kalian pasti juga senang kan melihat om Alif sekarang ini? Raka juga senang yah, bun. Ayah dan bunda istirahat yang tenang ya disana, insyaallah nanti kita bertemu lagi di surga, aamiin." Ucap Raka dalam hati.


"Ih kenapa senyum-senyum sendiri seperti itu?" Tanyaku pada Raka.


"Hehe nggak papa, Raka lagi seneng aja. Kalau sedang seperti ini, Raka merasa seperti punya ayah dan bunda lagi deh hehe." Celetuk Raka.


Sontak membuat aku dan mas Alif tersedak, kamipun saling memandang satu sama lain.


"Halah kamu ini bisa aja, udah cepetan dihabisin makanannya." Sahut mas Alif.


Akupun hanya bisa tersenyum.


Setelah selesai makan, kami bertiga duduk di sofa ruang tengah, Raka bermain sedangkan aku dan mas Alif mengobrol.


"Oh iya ngomong-ngomong ada apa kamu kesini Run?" Tanya mas Alif.


"Tidak ada apa-apa mas, cuma kangen aja sama Raka." Jawabku.


"Kangen sama Raka atau kangen sama om Alif, mbak?" Celetuk Raka sambil bermain mobil-mobilan.


Akupun langsung tersipu malu dengan celetukan Raka.


"Raka, udah Raka main aja. Lihat itu mbak Runi jadi malu sendiri." Sahut mas Alif.


"Ih apasi mas, enggak kok." Kataku


Mas Alif hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.


Setelah kurasa info yang aku butuhkan sudah cukup, akupun berpamitan untuk pulang pada mas Alif. Rencana mengajak Raka jalan-jalan batal, karena aku sudah mendapatkan informasi yang aku mau.


"Em mas, sepertinya sudah sore. Aku pamit dulu ya." Ucapku.


"Oh begitu, baiklah. Eh ngomong-ngomong kamu tadi kesini sendirian, aku antar pulang ya?"


"Nggak usah mas, tadi aku kesini sama Anin. Tapi Anin ada dirumah eyang, hehe."


"Oh begitu, ya sudah hati-hati ya. Terimakasih sudah membuat Raka senang hari ini." Ucap mas Alif sambil tersenyum.


"Sama-sama mas, nanti kalau ada waktu lagi aku pasti main kesini."


Mas Alif mengangguk dan tersenyum "Ditunggu ya."


Aku mengangguk "Assalamualaikum." Pamitku.


"Waalaikumsalam."

__ADS_1


•••


Sesampainya dirumah eyang, aku langsung dicecar pertanyaan oleh Anin. Memang benar kata Sander, dia itu sangat cerewet.


"Ih kok lama banget sih, terus mana Rakanya. Katanya tadi mau ngajak Raka jalan-jalan, aku lama loh ini nunggunya." Omel Anin.


"Bisa nggak sih kalau nanya itu satu-satu, aku kan jadi bingung jawabnya." Kesalku.


Eyang yang melihat kami berdua pun hanya geleng-geleng kepala.


"Jadi bagaimana Run?" Tanya eyang.


"Tadi rencananya kan Runi mau ajak Raka jalan-jalan, mau Runi tanya-tanya tentang mas Alif. Tapi tadi ada waktu untuk Runi tanya-tanya dirumah mas Alif. Jadinya ya Aruni nggak jadi ajak Raka jalan-jalan." Jelasku.


"Loh memangnya mas Alif tidak curiga?" Tanya Anin.


"Enggak lah, orang dia lagi keluar tadi beli makanan." Jawabku.


Eyang memanggut-manggut "Jadi bagaimana kata Raka?"


Aku menceritakan semua yang tadi Raka bicarakan denganku, mulai dari sikap awal-awal mas Alif terhadap Raka hingga perubahan sikap mas Alif akhir-akhir ini.


"Tapi kok aku masih kurang yakin ya, Run." Kata Anin.


"Kamu bilang begitu karena kamu belum melihatnya secara langsung nduk, tadi pagi saja eyang melihat sendiri bagaimana tulusnya Alif sama Raka. Dan semenjak itu eyang jadi semakin yakin, kalau dia sudah benar-benar berubah." Ucap eyang.


"Benar apa kata eyang, kamu sih tadi nggak mau ikut." Celetukku.


"Hehe iya-iya." Sahut Anin.


"Tapi eyang masih melihat ada rasa kecemasan diraut wajah Alif, nduk." Kata eyang.


"Kecemasan? kecemasan apa yang?" Tanyaku penasaran.


"Apa perlu kami mencari tahu tentang itu yang?" Celetuk Uwo-uwo.


"Sebaiknya jangan dulu, kita tunggu saja. Yang terpenting sekarang Raka sudah lebih baik ditangan Alif." Sahut eyang.


"Tetapi sepertinya dia juga mulai menaruh hati padamu, Run." Kata Sander.


"Dia, dia siapa?" Tanyaku.


"Ya Alif lah, siapa lagi." Jawab Cong-cong.


"Hm habis ini bakalan ada persaingan antara Genta dan Alif." Goda eyang.


"Ih eyanggg." Kataku dengan pipi yang merona.


•••


Sementara disisi lain kalian pasti bertanya-tanya kan apa yang membuat sikap Alif berubah pada Raka dan orang-orang disekitarnya, termasuk Aruni.


Kalau Aruni, sebenarnya awalnya Alif hanya ingin berpura-pura. Tapi entah mengapa lama kelamaan, ia nyaman dengan kebersamaan yang diciptakan antara keduanya. Secara tidak langsung ia memang sudah jatuh hati pada Aruni.


Cinta yang ia rasakan pun membuat rasa dendamnya perlahan pudar dengan Aruni, hal itulah yang membuat Alif cemas dan bimbang.


Dia tak mungkin mau melanjutkan misi Aki Braha untuk mencelakai Aruni, tapi disisi lain ia juga tidak mungkin bisa menolak permintaan dari Ki Braha. Sekarang ia bingung harua bagaimana.


Sedangkan perubahan sikapnya pada Raka, diawali dengan kedatangan kangmasnya didalam mimpi. Sejak mimpi Alif saat itu, ia menjadi merasa sangat bersalah pada sang keponakan.

__ADS_1


POV ALIF:


Malam ini kenapa aku sangat susah untuk memejamkan mata, padahal ini sudah hampir larut malam. Ia heran, perasaaan sebelum tidur ia tidak meminum kopi. Tapi kenapa jadi insomnia seperti ini.


"His, ada apa denganku. Kenapa aku tidak bisa tidur sih. Padahal badanku sangat lelah." Gerutunya.


Ia pun mencoba berbagai cara dari internet agar bisa tidur dengan nyenyak. Hingga pada akhirnya, dirinya pun terlelap. Tetapi belum lama ia tertidur, ia bermimpi bertemu dengan kangmasnya. Tapi ia merasa mimpi ini benar-benar seperti kenyataan.


PERBINCANGAN DI MIMPI ALIF


Alif berada disebuah taman yang sangat indah, pohon-pohon menjulang tinggi, danau yang luas dengan air yang begitu jernih. Serta kicauan burung yang terbang kesana kemari.


"Aku dimana? kenapa aku bisa ada ditempat ini?" Ucap Alif sambil berputar kebingungan.


"Lif.." Suara seseorang yang ia kenali.


Alif pun menoleh ke arah suara tersebut.


"Kangmas?" Jawab Alif kaget.


Mas Karman tersenyum "Bagaimana kabarmu, adikku?"


"A-aku baik-baik saja mas.." Jawab Alif terbata-bata.


"Syukur Alhamdulillah, aku lihat kau semakin berisi sekarang. Sepertinya hidupmu sangat bahagia setelah kepergianku. Lalu bagaimana dengan anakku?"


Deg


Alif gelagapan menjawab pertanyaan dari kangmasnya.


"A-anu itu kangmas, Raka.." Belum sempat melanjutkan ucapannya, mas Karman memotong.


"Kenapa kau tega terhadap seorang anak yatim piatu, terlebih dia adalah anak dari kangmas mu sendiri. Apa kau lupa bagaimana dulu aku merawatmu dan membesarkanmu seorang diri ketika bapak dan ibu meninggalkan kita untuk selamanya?"


Alif tertunduk "Maaf kangmas.."


"Aku tidak mengerti, apa salah anakku terhadap dirimu."


Alif menangis "Raka tidak salah apa-apa kangmas, aku yang salah. Aku..!!" Jawabnya sambil menangis.


Mas Karman berdiri mendekati sang adik yang menunduk dihadapannya, ia mengelus rambut sang adik dengan lembut.


"Aku tidak meminta apapun darimu, tetapi aku hanya ingin kau menjaga Raka dengan baik hingga ia besar. Seperti halnya diriku yang menjagamu dulu."


Tangisan Alif semakin menjadi-jadi, ia merasa menjadi manusia yang sangat bodoh kala itu.


"Sekarang menangis saja tidak berguna adikku, cepatlah bertaubat sebelum terlambat. Satu hal yang perlu kau ingat, aku tidak pernah membencimu. Sayangi dan jaga Raka dengan sepenuh hatimu ya Lif, Hanya kamu yang dia punya saat ini."


Alif mengusap air matanya dan mendongak ke arah kangmasnya "Iya kangmas, aku berjanji akan menjaga dan menyayangi Raka dengan sepenuh hati. Maaf telah membuatmu kecewa, aku akan tebus semua kesalahanku." Ucap Alif.


"Aku harap kau dapat membuktikan ucapanmu itu, Lif."


Mereka berdua pun berpelukan cukup lama.


"Aku titip Raka, aku pergi dulu ya. Selamat tinggal."


Perlahan mas Karman berjalan menuju cahaya yang ada didepannya, lama-kelamaan sosoknya pun menghilanh diiringi dengan hilangnya cahaya tadi.


🍂

__ADS_1


🍂


🍂


__ADS_2