Mr Cool Falling In Love.

Mr Cool Falling In Love.
Bab 22


__ADS_3

"Tok...Tok...Tok...!"


Seseorang mengetuk pintu kamar kosan Vania!


"Siapa?" batin perempuan itu mulai ragu melangkah, namun ia harus membuka pintu karena suara ketukan itu terdengar berkali-kali dan semakin keras.


ketika pintu terbuka sedikit.


Berdiri sosok wanita berusia sekitar 40 an dengan gaya sombongnya menatap tajam ke arah Vania. Ia adalah Erly Belin, istri dari Fredy Syah.


"Tante?" Wanita itu mendorong kuat pintu kamar Vania hingga terbuka lebar, kemudian menutup pintu itu dengan kaki kanannya.


"Jadi kamu lebih memilih hidup melarat disini, daripada menjadi istri terpandang dan terhormat!"


"Vania tidak bahagia Tante🥺, Romi itu...!"


"Memangnya perusahaan Papa kamu bisa apa tanpa bantuan Romi!" memotong perkataan Vania dengan cepat. Mata seram Erly melotot marah.


"Aku tidak butuh semua itu, kalian sudah merebutnya, menikmati lalu menghancurkannya! Sekarang mengapa harus aku yang bertanggung jawab?" hentak vania.


"Diam kamu anak bodoh!"


"kalian sangat jahat?" jerit histeris perempuan itu.


Tidak lama kemudian, dua pria Bodyguard masuk atas perintah Erly.


"Lepasiiiin!" teriak Vania.


Sebuah suntikan begitu cepat tertancap ke tubuh Vania dan menyebar ke seluruh pembuluh darahnya hingga menyebabkan Vania pingsan tergeletak.


"Bawa dia ke mobil!"


"Baik Nyonya!"


*


Di hadapan Widia, ibu si pemilik kosan. Erly mulai memainkan akting lembutnya, agar kedok pengambilan Vania secara paksa tidak dicurigai oleh Widia. Erly menunjukan kartu keluarganya yang lama, masih tercantum nama Vania disana, untuk menguatkan sebuah alasan, bawah Erly adalah orang yang paling bertanggung jawab atas kondisi Vania.


"Hiks..Hiks...Hiks...lihat lah Bu, keponakan saya itu sangat keras kepala, sekarang tiba-tiba ia pingsan karena lambungnya bermasalah. Memang kedua orang tuanya sudah lama meninggal dan ia ingin sekali hidup mandiri, tapi jiwa keibuan saya tentu tidak akan tenang, saya harus membawanya ke rumah sakit sekarang!"


"Baiklah Ibu, kasihan juga Vania jika hidup sendiri, sepertinya ia memang sering terlambat makan!" sambut Widia yang tidak mengerti apa-apa.


"Iyah Bu!"


Erly memberikan sejumlah uang di dalam amplop sebagai tagihan uang sewa Vania selama dua Minggu.


"Tapi ini kebanyakan loh Bu!" ujar Widia namun begitu sumringah.


"Ni perempuan, munafik banget sih, di kasih lebih malah protes" gumam Erly.


"Hehehehe (tawa manis Erly) Ambil saja Bu, saya ikhlas, anggap saja itu tips karena sudah menjaga keponakan saya selama disini!"


"Terima kasih banyak Bu!" kata Widia kegirangan, terharu melihat Erly bak malaikat penolong.


"Sama-sama, saya permisi dulu!"


"Mari saya antar!" tingkah sigap Widia mengiringi kepergian Erly membawa Vania.


Erly akhirnya begitu mudah membawa Vania tanpa jejak yang mencurigakan.


***

__ADS_1


Luna berusaha menelpon Vania, namun tidak ada jawaban, kemudian ia mencoba menelpon Ibu Widia, dengan polosnya, perempuan paru baya itu menjelaskan dengan riang, kabar tentang Vania yang sudah dijemput oleh keluarganya. Mendengar hal itu Luna terduduk lemas dan termenung di area taman kampus dalam raut sedih.


"Maafin aku yah Van, aku enggak sanggup lagi membantu kamu, karena Paman Niko marah besar soal ini!"


"Padahal jika Paman mau membantu Vania, aku yakin semua bisa diselesaikan!"


"Perjuanganku membawa kamu ke rumah Paman Niko semua sudah sia-sia?"


"Iiiii....sebel...sebel!"


"Kenapa orang-orang disekelilingnya begitu kejam!"


"Manusia sudah gelap mata dengan harta, tega mengorbankan segalanya!" Luna bicara sendiri meluapkan rasa kesal di dalam dirinya.


***


Di jalan raya, mobil Erly terus melaju cepat membawa Vania.


"Tujuan kita mau kemana Nyonya!" tanya si supir.


"Langsung menuju rumah Romi!"


"Baik!"


Sang sopir melajukan mobilnya dengan cepat.


Vania diberikan suntikan tertidur lama. Terlihat ia begitu pulas tidak berdaya.


***


"Tlilit!"


"Pi, Vania sudah ada ditangan Mami Lo!"


"Ouh Iyah...Hem... Mami memang hebat!" puji sang suami.


"Siap dulu douung!"


"Kalau begitu, Papi akan langsung menelpon Romi!"


"Okey, siiip!"


**


Di dalam kantor, Niko masih tampak gelisah. melihat Video KDRT Vania, Niko tidak sampai hati, Luna yang sempat bercerita bahwa Paman dan Tantenya sangatlah jahat terhadap Vania, bukannya membantu namun justru menjadikan keponakannya itu sebagai aji mumpung mereka untuk bersenang-senang dalam harta kekayaan yang separuhnya adalah milik Ayah Vania.


"Huuuft!"


"Apa aku langsung menuju Romi saja, datang secara tiba-tiba, tidak perlu buat janji!" ucapan Niko bergegas cepat menyelesaikan pekerjaannya. Ia sudah mulai menyakinkan hatinya untuk menolong Vania Keisya.


***


Mobil Erly terus bergerak memasuki rumah Romi yang luas dan penuh dengan sistem keamanan yang canggih.


Semua sudah diatur dan disiapkan.


"Nona Vania, kembali lagi?" batin Inayah salah satu pelayan terdekat dan sangat baik dengan perempuan itu.


"Kenapa ia bisa kembali lagi kesini, padahal aku sudah bersusah payah untuk membantunya kabur!"


"Hei! Malah bengong! Ayo siapkan pakaiannya!" Hentak keras Erly kepada Inayah.

__ADS_1


"Baa...Baik Nyonya?" ucap cepat Inayah bergegas menyiapkan air Mandian Vania dan pakaian untuk majikannya itu.


"Bangun kamu!" Erly mengguyur Vania dengan satu gayung air, membuat wanita itu terbangun kelabakan.


Vania yang sudah mulai menyadari keberadaanya di rumah Romi hanya bersikap pasrah dan diam saja saat dimandikan dan di dandani cantik, ia tidak mampu lagi untuk berontak layaknya seseorang yang terkena hipnotis, sangat penurut. Vania merasa sudah tidak punya daya dan kekuatan jika sudah berada di rumah Romi kembali.


Setelah mandi dan di dandani cantik. Erly memilihkan pakaian daster menggoda untuk Vania.


"Nah, begini kan okey menyambut suami pulang, sudah cantik, harum, sexy pula, Tante yakin Romi bakal bahagia banget melihat kamu sudah siap menunggunya di ranjang!"


Inayah hanya memperhatikan wajah murung tertekan Vania.


"Kasian Nona Vania, ia benar-benar tersiksa. dasar mak lampir, tega banget mengorbankan keponakannya yang tidak pernah mencintai si Romi yang sangat kasar itu!"


"Inayah...!" panggil Erly lagi dengan lantang.


"Sa...saya Nyonya!"


"Siapkan segelas jamu sehat wanita untuk Vania yang sudah saya bawa, tadi!"


"Baik!" ucap menurut Inayah.


Erly masih terlihat menyisir halus rambut Vania. Wanita itu begitu tampak penurut dalam raut wajah murungnya.


Tidak lama kemudian, Inayah datang membawa jamu hangat dan menghidangkannya tepat di hadapan Vania.


"Silahkan Nona, sudah saya hangatkan!" ucap sopan Inayah. Terlihat Vania hanya diam mematung tanpa respon sedikitpun.


"Vania, ayo diminum mumpung masih hangat, itu jamu spesial lo! Bagus banget buat kewanitaan kamu, bisa buat legit, mengigit, Tante juga minum itu buat om kamu!" bisik centil Erly di telinga Vania.


"Ayo di minum!" Erly mengangkat kan gelas jamu itu di hadapan Vania.


Dalam wajah keterpaksaan, Vania mengambil gelas jamu itu, membuat senyum Erly semakin lebar.


Perempuan yang masih menjadi istri Romi itu pun, memasukkan abis semua jamu dan memendamnya di mulut.


Tidak terduga, Vania justru menyemburkannya


"Bruuuuuuufh💨"


ke wajah hingga mengenai pakaian Erly, otomatis penampilan Erly menjadi kuning-kuning cetar dalam aroma rempah-rempah.


"Aaaaaarrrrrrrrrrrrrrrrt!" jerit histeris si Tante galak.


Diam-diam, di sudut pintu, Inayah tertawa cekikan tertahan.


"Bagus Non, bagus! si Mak lampir tidak tau diri itu pantas untuk di semprot!"


Tidak terima perlakuan Vania, Erly menampar keras pipi Vania.


"Prakkkk!"


"Dasar anak sial kamu!"


Erly tampak kesetanan memanggil Bodyguardnya untuk segera mengikat Vania.


"Jangan Nyonya!" protes Inayah.


Dengan geram Erly menarik rambut Inayah membuat pelayan itu meraung kesakitan.


"Jangan ikut campur kamu, jika masih ingin bekerja disini!" hentak Erly mendorong tubuh Inayah tersungkur keluar dari kamar Romi.

__ADS_1


__ADS_2