
Dokter terus fokus memeriksa kondisi Vania yang masih terbaring lemah.
"kamu sudah jauh lebih baikan, hanya butuh satu atau dua hari lagi disini untuk beristirahat!" pesan sang Dokter.
"Terima kasih Dok?" sambut Vania dengan wajah sedikit tersenyum.
"Sama-sama!"
Setelah Dokter pergi, hidangan makanan untuk Vania langsung disiapkan oleh perawat.
"Nona mau duduk?" tanya si suster.
"Iyah!" Angguk cepat Vania.
Stelan bed itupun dibuat menjadi mode duduk dan membuat Vania lebih nyaman, setelah selesai semua tim medis disana meninggalkan ruangan.
"Vania, Bagaimana sekarang perasaanmu?" tanya Ratih menyentuh lengan perempuan itu dengan lembut.
"Sudah baikan kak?"
"Syukurlah?"
"Siapa yang membawaku ke rumah sakit, apa Kakak sudah lama disini?"
"Kakak baru saja datang, aku dapat kabar dari temanku tapi dia tidak ingin kasih tau siapa yang memberitahunya, namun aku terus mencari informasi hingga menjumpai Sarinah adik Tante kamu Erly!"
Vania tampak murung.
"Siapa yang menolongku?"
Ratih sempat terdiam.
"Bagaimana kondisi Paman dan Tante?"
Ratih tidak bicara karena ia merasa belum waktu yang tepat.
"Aku harus mencari Jex?" Vania ingin turun namun Ratih mencegahnya.
"Vania, fokus pada kesehatan kamu dulu!"
"Niko?"
"Pasti dia yang menolongku kan?" tanya Vania dalam perasaan campur aduk.
Ratih mengangguk membenarkan tebakan Vania.
Vania terlihat kembali lesu.
"Aku tidak mengerti jalan pikiran pria itu, dia sangat sombong dan berkuasa?"
"Bagaimana jika sekarang kamu makan dulu?" Ratih mencoba mengalihkan pikiran Vania agar lebih tenang.
"Tapi aku kangen pada Jex, bisakah kakak membawanya kesini untukku?" pinta permohonan Vania.
"Iyah Vania, kamu harus sabar, kesehatanmu itu jauh lebih utama saat ini! Ayo makan dulu!"
Wanita muda itu makan dengan lesu dan terlihat tidak selera.
__ADS_1
Ratih menunggu sambil membalas beberapa chat pesan di ponselnya.
Vania melihat sebuah boneka dan bunga mawar yang terletak manis disana, ia berusaha meraihnya.
Gift spesial tanpa nama hanya ada sebuah tulisan kecil penyemangat jiwa;
"Berbahagialah selalu!" Kemudian Vania meletakkannya begitu saja.
"Dari siapa?" tanya Ratih.
"Aku tidak tau!"
Sehabis makan, Ratih membantu merapikan meja makan mini, kemudian Vania berusaha kuat mencabut selang infus yang masih melekat di tangannya.
"Vania kamu mau apa?" ucap Ratih terkejut melihat aksi konyolnya.
"Aku tidak bisa berlama-lama disini, aku ingin mencari tau keadaan mereka!" kata Vania berhasil membuka selang infus lalu turun berjalan cepat menuju pintu keluar, masih dalam seragam pasiennya.
"Vania, tunggu!" Ratih berusaha mengejar langkah cepat ibu satu anak itu.
Ia terus berjalan mencari suster. Sontak suster disana pun merasa terkejut.
"Saya sudah tidak ingin diinfus lagi saya, sudah baikan?" kata Vania.
"Baiklah!" angguk suster menyetujui.
"Apa disini ada pasien yang bernama Ferdy Syah dan Erly Belin? tanya Vania.
"Sebentar saya cari dulu yah Nona!" jawab si suster yang tidak tau jika Vania memiliki hubungan saudara dengan Ferdy, yang mereka tau Vania adalah kekasih Niko.
"Antar saya ke ruangan Bapak Ferdy, dia paman saya?" pinta Vania memaksa.
"Baiklah!"
Demi keinginan keras Vania, suster itu mengantarkan ia melihat kondisi Ferdy yang semakin memburuk.
Vania terduduk lesu memperhatikan Pamannya. Pria yang sebenarnya sangat menyayangi Vania sejak kecil namun sikapnya berubah setelah menikah dengan Erly.
"Vania, Paman bawa coklat buat kamu ada Bonek juga kesukaan kamu!"
"Makasih Paman!" Vania langsung berlari kegirangan memeluk pria yang ia sayangi setelah ayahnya.
Kenangan masa lalu, dimana Ferdy masih bujangan, ia sering datang kerumah kakak lelakinya hanya untuk bermain-main dengan Vania dan kakaknya. Sungguh keluarga yang sangat harmonis, polos dan jauh dari kata licik.
Ferdy juga sering membantu Vania saat sedang mengalami masalah di sekolahnya. dimana orang tuanya sangat sibuk saat itu, sehingga wanita malang itu sudah menganggap Ferdy sebagai Ayahnya dan jauh di dalam lubuk hatinya ia sangat menyayanginya. Namun Ferdy lebih patuh dan tunduk kepada istrinya meskipun sering melihat Vania diperlakukan tidak adil oleh Erly. Kehidupan Vania yang tidak pernah bahagia sejak keluarganya pergi.
"Hiks...hiks...hiks...!" Tak mampu menahan Isak tangisnya saat melihat Ferdy terbaring dengan banyak bantuan peralatan medis. Ia tidak bisa melihat pamannya menderita.
"Paman, Vania janji akan mengambil kembali Restoran kita dari Niko yang penting Paman bangun dan bisa sehat lagi, kita bisa bersama lagi...Hiks...Hiks...!"
Suster langsung menyarankan agar segera keluar dari ruangan dingin itu.
"Vania sabar yah!" bisik Ratih.
Vania menangis sesenggukan di bahu Ratih hingga memeluk wanita itu.
*
__ADS_1
Pagi itu, terlihat Niko duduk santai dengan teh hangat dan menu sereal sarapan gizinya, sambil memeriksa ponsel dan dompet Vania. Semua barang-barang berharga milik Vania ada di tangan Niko.
"Ponselnya sudah jelek, layarnya kenapa pecah-pecah begini, apa rata-rata ponsel para emak-emak layarnya pecah, mungkin ini hasil gigitan Jex kali yah?" ucap gokil Niko terus usil membuka ponsel Vania tanpa kata sandi.
"Apa dia sudah memiliki pacar?" mulai kepo terus memeriksa chat Vania hingga daftar kontak.
Semua isi pesan dan galery Vania singkat tentang promosi dan data transaksi kepada pelanggan Restoran Doyan Mangan.
"Bersih!" ucap Niko beralih ke pesan massager (inbox) lama scroll ke bawah Niko menemukan chat yang langsung mengerutkan wajahnya. Si tersangka yang awalnya bertanya soal harga menu hingga mulai masuk pada chat menggoda.
"Ketemuan yok cantik, jalan bareng! Tinggal pilih dimana!"
belum ada balasan dari Vania.
membaca pesan itu Niko serasa ingin marah dan langsung membalas pesan.
"Aku kasih pilihan lagi coy, mau bertemu di rumah sakit atau di kuburan? ini suaminya."
"Jangan biasakan chat dengan istri orang kalau hidup lu mau selamat!"
Balas Niko langsung memblokir akun itu.
Niko yang tak tanggung-tanggung langsung mengakui dirinya adalah suami dari Vania.
Setelah itu, Pimpinan Oscar99 itu merasa puas dan lega sudah memeriksa ponsel Vania dan memblokir akun-akun yang meresahkan dirinya, sepertinya Niko lupa, jika di dalam ponselnya juga banyak chat-chat mesra wanita yang belum ia hapus, ada yang di balas ada juga tidak.
"Tlililit... Tlililit!" tiba-tiba ponsel Niko berdering, panggilan datang dari Dokter.
"Iyah Halo!"
"Mas Niko, Nona Vania sudah sadarkan diri dan ia sudah sehat, bahkan ia ingin meminta pulang hari ini!"
"Ouh, syukurlah, pulang?"
"Iyah dan kami mengizinkannya karena kondisinya sudah normal dan jauh lebih baikan!"
"Terima kasih Dokter, Terima kasih atas kerja keras kalian!" ucap Niko dengan nada bahagia.
"Sama-sama Mas!"
"Trup?"
**
Vania meminta Ratih membelikan pakaian untuk Vania, dengan cepat pula janda muda itu mengganti pakaiannya.
"Apa kau yakin akan pulang hari ini, Vania?" tanya Ratih yang mencemaskan dirinya.
"Iyah!"
"Soal Jex, kakak bisa mengurusnya, kamu jangan khawatir!"
"Kak, Ayo antarkan aku ke rumah Niko, ponsel dan dompetku ada bersamanya, urusanku juga belum selesai dengan pria sombong itu?" ucap Vania menarik tangan Ratih agar segera keluar dari ruangan inap itu.
"Hari ini aku akan mencekik mu Niko!" ucap geram Vania bersiap-siap ingin meninju pria itu.
*
__ADS_1