Mr Cool Falling In Love.

Mr Cool Falling In Love.
Bab 38


__ADS_3

Terlihat mobil Luna, melaju dengan sangat kencang.


"Pasti pikiran Paman sedang kacau sekali!" gumam Luna.


"Ada apa dengan kamu Vania? Aku benar-benar kecewa? Harusnya kamu tidak perlu memulainya, jika masih ingin kembali dengan Romi?"


Mobil mini metik milik Luna mulai menepi, pertanda ia telah sampai di tujuan. Lalu bergegas melepas sabuk safety belt dan segera keluar.


Setelah sampai di depan rumah Romi yang sangat megah, kedua bola mata Luna mulai liar memperhatikan setiap sudut halaman, suasana rumah yang begitu sepi.


"Kemana pria gila itu membawa Vania!"


"Hellou!" jerit Luna, berusaha menggedor gerbang yang berukir tinggi, namun terlalu kokoh, berusaha menghidupkan Bel namun tidak bisa.


"Kenapa tidak ada orang yah?"


"Pos satpam juga sepertinya tertutup!" Luna berusaha mengintip diantara lubang-lubang ukiran pagar besi itu.


"Woi...Budayakan membaca sebelum bertindak!" kata Benny tiba-tiba sudah berdiri di belakang Luna menunjuk ke arah Pamflet besar di atas.


"Astaghfirullah, aku kira setan darimana, tiba-tiba nongol?" ucap terkejut Luna.


"Setan?"


Benny hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan Luna.


"Kamu bisa baca kan?" tunjuk Benny ke arah Pamflet di pojok kanan.


"Rumah ini telah disita oleh Bank!" eja Luna dalam hati.


"Disita?"


"Hem!"


"Mas Benny ngapain kesini?"


Benny menyeret tangan Luna menuju mobil.


"Mending kamu sekarang pulang deh!"


"Enggak..aku mau cari Vania?"


"Buat apa?"


"Iyah mau protes dong?"


"Protes?" ulang Benny.


"Udah, bocah kecil mending pulang aja!" Benny memaksa Luna agar segera pulang.


"Ih lepasin!" wanita itu berontak.


"Lun, kalau bukan karena ulah kamu membawa Vania masuk ke rumah Niko, semua ini tidak akan terjadi!"


"Jadi sekarang, Mas Benny nyalahin Luna!"


"Iyah! Enggak mungkin aku nyalahin kucing ku, yang ada di rumah kan!"


Dahi Luna semakin berkerut.


"Benar kata Niko, jangan pernah ikut campur dengan urusan orang lain, semua akan tambah semakin rumit?"

__ADS_1


"Dan kalau bukan karena dorongan Mas Benny, Paman enggak mungkin nekat menyukai Vania!"


"Loh, kenapa kamu jadi balik nyalahin aku!" hentak Benny.


"Jadi aku harus nyalahin marmut aku? (pasang wajah songong) Pokoknya Mas Benny itu harus bertanggung jawab...tanggung jawab..." pukul kecil Luna di area dada Benny, sampai langkah pria itu mundur.


"Wooi...Tangung jawab donk!"


"Berantam jangan di jalan!"


ucap orang-orang yang melintas kebetulan melihat kegaduhan pria dan wanita yang ingin minta pertanggung jawaban kehamilan.


Luna dan Benny terbengong sejenak mendengar ucapan orang-orang.


"Apaan sih!" kata Benny sambil kocak pinggang.


"Lun, aku sengaja cari kamu kesini, supaya kamu enggak buat masalah yang lebih rumit lagi!" kata Benny.


"Kenapa kalian menyalahkan aku, kamu dan Paman memang Pria-Pria dingin yang menyebalkan, bisa-bisanya jatuh cinta dengan wanita bocah yang sering kalian ucapkan itu."


"Itu Paman kamu, jangan bawa-bawa aku donk!Mending sekarang kamu pulang, sebelum bibir kamu semakin tebal!"


"Hei.. kamu itu juga jelek, dahi mu licin, jenong dan lebar!" caci Luna tak mau kalah.


"Hahahaha!" Benny tiba-tiba tertawa geli.


"Sumpah, raut wajah kamu jelek banget, pantas Niko bilang kamu enggak punya pacar, abis jelek banget, ih seram lagi!" kata Benny dengan ceplos tanpa beban.


"Ih, benar-benar ngeselin nih Dokter!" kata Luna dengan raut wajah berapi-api langsung mendorong tubuh Benny dan menginjak kakinya.


"Aduh... duh..duh!" raungan Benny kesakitan.


gadis itu pun kesal, lalu pergi meninggalkan Benny disana.


"Hahahaha! (Benny tertawa puas) kalau enggak dibuat seperti itu, kamu pasti enggak mau pulang, dasar bocah! Iih...seram banget matanya!" ucap Benny yang sering bertengkar dengan Luna, sehingga Niko ingin menikahkan mereka karena geram melihat tingkah keduanya.


*


Di dalam mobil Luna.


"Aaaaah😣...Kenapa Paman bisa punya teman dekat seperti dokter jelek itu, aku yakin pasti dia yang mendorong hubungan Paman dengan Vania, lalu seenaknya menyalahkan aku...Aduuh kenapa banyak sekali pria yang terserang kelainan jiwa di hadapan ku saat ini...!" keluh Vania di dalam mobil.


"Rumah Romi disita? Bukannya harta pria itu banyak banget yah!"


"Aduh Van? Apa yang sedang terjadi dengan kamu?"


Luna masih mencoba menelpon Vania, namun tidak ada jawaban.


**


Kediaman Romi di lain tempat.


Vania mulai membuka matanya, ia menyadari jika tubuhnya sedang terbaring lemah di atas kasur.


"Dimana aku, kepalaku sakit sekali!" perempuan itu mencoba untuk bangkit.


Terlihat Romi sudah duduk di atas kursi roda dalam wajah yang lesu, tetap dalam kondisi tangan terikat menunggu Vania sadar dalam pingsannya.


Sontak Vania terkejut.


"Mau apa kamu? Meskipun aku membatalkan perceraian ini, aku tidak bisa melayani kamu lagi!"

__ADS_1


Romi tersenyum kecil.


"Terima kasih, kau masih mempertahankan pernikahan kita, aku tau semua ini demi janin yang ada di rahim kamu!


Terima kasih, Terima kasih Vania, jujur aku sangat bahagia dan merasa ingin mengulang waktu, andai kita bertemu dari awal, mungkin nasib ku tidak hancur seperti ini.


Dan selama ini aku berkata jika Tuhan itu tidak pernah adil, tapi disini aku mengakui justru Tuhan maha Adil. Meski aku tidak menyembah Tuhan lagi, tapi DIA masih memberikan aku kebahagiaan yaitu menitipkan istri yang baik hati dan calon buah hati, walau aku tidak bisa membahagiakan kalian tapi percayalah, wujud asliku adalah suami dan ayah yang ingin memiliki keluarga utuh serta membahagiakannya seperti kehidupan normal lainnya.


Vania, ragaku sudah mati, aku tidak mungkin lagi bisa meniduri kamu, aku tau kau sangat mencintai Niko. Percayalah jika dia benar-benar mencintai kamu, dia akan kembali mencari dirimu,, kau adalah wanita, tidak perlu mengejarnya, pria itu sangat lemah terhadap wanita, hanya saja gengsinya yang kuat!"


Atas perintah Romi, Frans masuk dan memberikan kotak perhiasan kepada Vania.


"Apa ini?" tanya Vania.


"Buka lah!"


Saat Vania membukanya, perempuan itu terkejut melihat kalung liontin milik ibunya yang sempat ia jual.


"Itu milik ibu mu kan?"


"Kau membelinya lagi!"


"Iyah! Pakailah!" senyum bahagia Romi.


Vania kembali memakainya dengan bahagia.


Tiba-tiba Wajah Romi memerah menahan rasa sakit, dan tubuhnya menggeliat di atas kursi roda


"Apa yang terjadi?" Vania gugup.


"Jangan sentuh aku!" pinta Romi semakin meraung kesakitan. Tubuhnya kembali tersiksa.


"Uaaaaa!"


Dengan cepat Frans membawa Romi menuju ruang tertutup dan menguncinya.


"Frans, Apa yang sebenarnya terjadi?" ucap Vania.


"Seperti biasa, jadwal Tuan Romi menyerahkan sesembahannya tinggal menghitung hari, tapi saat ini, ia belum menyerahkannya, jadi kemungkinan Tuan akan terus merasakan siksaan itu sampai ia mati sebagai ganti sesembahan yang sudah dijanjikan."


"Dia benar-benar menggantikan aku?" ucap Vania tertegun.


"Benar Nona!"


"Tuan tidak boleh jatuh cinta dengan wanita manapun, semakin hatinya bahagia karena cinta, tubuhnya akan semakin tersiksa dan mempercepat kematiannya!"


"Aaaaaarrrrrrrrrrrrrrg!"


"Auaaarrg!" raungan kesakitan Romi terdengar sayup-sayup dari luar.


"Demi menyelamatkan Nona, Tuan menjadikan dirinya sebagai sesembahan terakhir dan merasakan siksaan keras dari kemarahan Iblis!"


"Apa kita tidak bisa mencari ustad untuk menolong Romi!"


"Tidak bisa Nona?"


"Tuan sudah terjerat tidak bisa kembali lagi?"


"Benarkah?"


*

__ADS_1


__ADS_2