
Keduanya tersenyum manis menikmati indahnya malam penuh cinta.
"Di luar sana sudah banyak yang tau tentang hubungan kita, Mas, aku tidak yakin bisa menghadapinya, aku malu sekali?" ucap pesimis Vania.
"Sayang, di luar sana juga ada banyak bahaya yang ingin melukai kita setiap saat dan itu tidak kita ketahui sama sekali, kapan bahaya itu akan datang, apakah dari orang yang sangat dekat dengan kita ataupun yang jauh sekalipun.
Aku hadir bersama mu untuk menjadi perisai dirimu dan cinta kita, aku tidak ingin gagal untuk yang kedua kalinya, meski aku pernah mengatakan cinta kepada Isabella, namun kamu sudah menjadi pengganti yang lebih baik.
Sayang, tau kah kamu, menjadi seorang pimpinan itu sangat lah berat, membangun Perusahaan tidak semudah membalikan telapak tangan, aku pernah terjatuh bahkan terhempas, menangis, kecewa, dikhianati, putus asa, ditipu, merasakan kerugian sampai milyaran juga pernah dan semua itu yang membuat diriku menjadi introvert, dingin kepada siapa saja, tapi apakah orang lain itu tau? Jika kita sedang merasakan hal itu! Mereka hanya menilai kita senang atau susah, menang atau kalah, jadi mulai saat ini berhentilah memikirkan penilaian orang lain.
Tutup kedua telingamu, hanya itu yang bisa kamu lakukan, karena kau tak akan pernah mampu menutup ribuan mulut bahkan jutaan orang di luar sana yang sedang membicarakan tentang dirimu.
kita tidak akan pernah merasakan keberhasilan tanpa jalan kesulitan.
Tidak akan pernah merasakan nikmatnya rasa manis jika semuanya terasa manis.
Membangun Perusahaan tidak ada bedanya dengan membangun sebuah hubungan percintaan, akan ada banyak badai yang akan kita hadapi, jika semua ini kita lalui tanpa berpegangan tangan yang erat, maka semua akan berakhir dengan mudah. Aku mengerti usia dan emosimu masih terlalu muda untuk memahami semua ini, tapi demi cinta, mungkin aku akan lebih bersabar.
Jika aku sedang marah, kau jangan takut kepadaku sayang, jangan merasa sakit hati ataupun sedih, sebenarnya, aku tidak marah kepadamu, hanya imbasnya saja, aku hanya ingin kau mengerti tentang diriku dan ingin kau selalu ada di sampingku menghibur hidupku yang berat ini! Aku percaya kau juga bukan wanita biasa, sampai detik ini masih bertahan, aku bisa merasakannya!" ucap Niko sambil memejamkan matanya, menjatuhkan dagunya di bahu Vania dalam pelukan yang hangat dari balik tubuh wanita itu.
"Ini masih malam pertama kita, biarkan semua masalah itu berjalan! kita nikmati saja?" Niko lanjut menciumi bahu Vania penuh nafsu dan cinta lalu ia merogoh kantung sakunya celananya dan tiba-tiba pria itu memberikan surprise kecil berupa kotak perhiasan berisi kalung berlian yang indah di hadapan Vania.
Reflek ibu satu anak itu terkesima melihat kalung mewah yang bersinar memancarkan kilauan putihnya.
"Ini bukti bahwa aku tidak main-main menjalani sebuah hubungan asmara kepadamu!" Niko melingkarkan kalung berlian mewah itu di leher Vania tepat di bawah sinar lampu sorot estetik yang indah serta minimalis serta tak luput pula dalam penerangan cahaya sinar bulan dan bintang yang menjadi saksi bisu cinta dua sejoli itu.
Vania membalikkan tubuhnya, melingkarkan dengan manja kedua tangannya di leher Niko, sambil tersenyum manis menatap sang kekasih.
"Makasih yah Mas, aku bahagia sekali jika diriku ini bisa menemani kehidupanmu yang banyak melalui lika-liku perjuangan, kau sangat baik meskipun terlihat dingin dan bengis, aku juga bahagia bisa menggantikan posisi Mba Isabella di hatimu, ini sebuah kemenangan yang tidak bisa aku lukiskan. Aku paham jika hubungan kita tidak mudah untuk dibawa ke dunia luar karena orang lain tidak pernah tau tentang Masalah kita. Kamu juga punya reputasi yang penting, jikapun pada akhirnya kau harus menggeser posisiku demi reputasi itu, aku tidak keberatan, bagiku malam ini sudah lebih dari cukup, sudah bisa menghapus kisah pilu yang kurasakan, selain kamu, sekarang aku juga tidak sendiri lagi, ada Jex kecilku yang akan setia menemani dan mencintaiku, yang tidak akan pernah membuat hatiku patah, sebab itu dia juga cinta pertama bagiku, kau tidak cemburu kan!" cubit genit Vania di perut Niko membuat pria itu reflek merasa geli.
__ADS_1
Niko tersenyum manis.
"Hiks...Aku memang selalu akan menjadi yang kedua!" canda genit Niko.
"Tapi tidak masalah asal kau bisa tetap tersenyum bahagia!" Kata Niko mengangkat tubuh Vania dalam jiwa kasmaran.
"Aku maunya di gendong belakang!" rengek Vania tersenyum manis mengecup kilat bibir tipis Niko.
Sontak wajah pria itu memerah.
"Ok baiklah Tuan Putri, anggap hari ini, aku sedang berolahraga kecil!" ucap Niko menggendong belakang Vania dengan tawa cekikan bahagia dari putri kecil Dirga Maulana dan Juan Andara itu, Vania terlihat sangat bahagia meski Niko hanya memberikan hal yang sederhana untuknya.
Tawa Vania membuat Niko semakin bersemangat menggendong belakang kekasihnya itu di sepanjang teras balkon dengan aksi bolak-baliknya.
Hal itu seperti de Javu bagi Vania yang semasa kecilnya sering di gendong belakang oleh ayahnya, suara-suara tawa kecil Vania seakan-akan terdengar jelas di telinga wanita itu, sebuah momen kecil yang baru saja terasa semalam berlalu, masa-masa indah tidak akan terlupakan oleh seorang bocah perempuan yang sedang bermain dengan ayahnya, dimana Dirga Maulana sang Ayah sebagai cinta pertama Vania di masa kecilnya.
"Haaah!" Hembusan nafas kelelahan dari Niko meletakkan tubuh Vania di sofa teras balkon. Keduanya tetap memilih di teras karena tidak ingin mengganggu tidurnya Jex.
keringat seketika itu membanjiri tubuh Niko mulai dari ujung kaki dan rambutnya.
"Hihihi, gimana Mas, apa aku berat!" ucap centil Vania.
"Hah"!
"Huh!"
"Berat dan gendut!" celoteh canda Niko.
"Hihihi!"
__ADS_1
Tak mampu menahan rasa gerah, Niko langsung membuka kemeja putihnya dengan bertelanjang dada.
"Wow😍" ucap Vania terkesima dengan body kokoh Niko.
Niko me-lap keringatnya dengan kemejanya.
"Sini biar aku keringkan!" kata Vania menawarkan jasa lap badan yang membuat Niko tersenyum dan langsung memberikan kemeja putihnya.
"Wah😍" raut wajah Vania mengangumi besar dan kekarnya dada Niko dari dekat meski dua hari ini ia sudah menikmatinya.
"Kenapa? kamu suka?" Niko mencubit kecil hidung Vania.
Vania mengangguk malu-malu;
"Favorit wanita saat melihat prianya sedang bertelanjang dada seperti ini!" jawab Vania berlutut di hadapan Niko.
Niko langsung menangkap tangan Vania yang masih mengeringkan keringatnya.
"Harga dada memang mahal dan spesial!" ucap genit lelaki itu tanpa berkata panjang berdiri menarik tubuh Vania lalu mengangkatnya menuju kasur.
"Hei, aku hanya mengagumi saja...!" ucap senyum Vania.
"Sudah terlanjur gunung kembar kamu membangunkan si "Jhon" ku " jawab genit Niko dalam tatapan cool nya membuat Vania tersenyum-senyum dalam pipi merona.
***
Terlihat Jex tertidur dalam mata terbuka dan tertutup, dua bola matanya berubah berwarna merah darah.
__ADS_1