
Amarah Niko yang tidak dapat dibendung lagi. kembali berteriak;
"Keluar kau bajingan, jangan beraninya dengan wanita saja, tantang aku jika kau merasa jantan!"
Frans sebagai utusan terdepan Romi dengan sigap menghalangi aksi Niko.
"Bruk👊!" Niko meninju keras dan menolak tubuh Frans. Ia tampak kesetanan dan kehilangan kendali.
Tidak lama kemudian Romi pun keluar dengan kondisi tubuhnya yang semakin lemah.
"Bruk 👊" pukulan keras Niko menyambut keluarnya Romi, suami Vania itupun terjatuh dengan mudah.
Frans dan Bodyguard yang lain ingin menyerbu Niko.
"Jika kau merasa jantan, lawan aku!" tantang Niko dalam wajah memerah penuh amarah.
Romi pun memerintahkan agar anggotanya tidak ikut campur, dengan kekasih istrinya itu.
"Kau memang benar-benar licik!" hardik Niko.
"Aku hanya ingin mengambil apa yang menjadi milikku, apa aku salah? Karena Vania sedang mengandung!" Romi masih tidak ingin kalah.
"Brak...Bruk...Bruk!" Niko dengan ganas menghajar Romi melampiaskan emosi kemarahannya karena Vania tidak menepati janji dan sudah membuatnya kecewa besar.
Romi tampak babak belur. Tapi di dalam lubuk hatinya, Romi menerima semua perlakuan kasar Niko, sebagai balasan atas apa yang pernah ia lakukan kepada Vania.
*
Terlihat Vania masih berjalan lesu keluar dari gedung persidangan, ia mulai bingung bagaimana harus berhadapan dengan Niko.
"Vania, aku siap membantumu, tapi kau harus kuat, bantu dirimu, jangan terus-terusan terpuruk, fokus saja kepada kehamilan kamu!" pinta Ratih kepada Vania.
Saat keduanya sedang bicara, terdengar suara kegaduhan di telinga Vania.
"Mas Niko!" teriak wanita itu, begitu histeris dengan perkelahian keduanya. Ia pun berlari melerai mereka, menjadi penengah.
"Mas Niko, apa yang sedang kau lakukan, hentikan Mas, aku mohon hentikan!" ucap tangis Vania.
Tinjuan Niko berhenti tepat di wajah Vania yang menjadi pengalang tubuh Romi.
"Jadi kau lebih memilih iblis ini? Lalu menyalahkan aku?"
"Aku menerima semua kekurangan mu Vania, aku salah apa? Sampai kau berubah pikiran untuk lebih memilih baj*ngan ini?" menunjuk ke arah Romi.
"Kau yang memintaku untuk membawamu pergi darinya kan? Juga memintaku untuk melindungi mu?"
"Dimana janji mu yang tetap akan memilih ku walau apapun kondisinya?"
"Apa kalian memang pasangan iblis yang sengaja datang untuk menghancurkan hidup seseorang!"
Vania tak mampu menjawab banyaknya pertanyaan Niko, hanya airmata yang terus bercucuran di kedua pipinya, terus menatap wajah Niko yang kecewa dalam hati yang hancur.
"Jawab Vania, kenapa kau diam saja, aku ingin mendengarnya dari mulut kamu langsung!"
__ADS_1
Vania masih terdiam.
"Jawab!" bentak Niko geram mengguyur tubuh Vania yang terkejut badan.
"A...aku minta maaf!" Vania hanya bisa menunduk.
"Hiks...hiks...aku minta maaf Mas, aku sudah melukai hatimu...aku minta maaf!" Kaki Vania terasa lemas hingga ia terduduk di kaki Niko memohon maaf yang sebesar-besarnya.
Niko ikut terjongkok;
"Maaf? Semudah itu?"
"Setelah kau menyakiti hatiku dan hari ini benar-benar membuat ku kecewa, bahkan sangat malu. Lalu hanya kata maaf yang akan kau sampaikan?"
"Heh, Maksudmu, semua pengorbanan ku hanya kau beli dengan kata Maaf???" nada tinggi Niko.
"Kau ini memang perempuan kejam Vania, sayangnya aku terlambat mengetahuinya, hatiku cukup sakit!" Niko menepis airmata nya yang hampir terjatuh.
"Kalian berdua memang berjodoh, sangat cocok, sama-sama berhati iblis, tidak punya perasaan!" teriak Niko dengan rasa marah yang besar, bangkit lalu pergi.
"Mas Niko!"
langkah Niko terhenti mendengar suara berat Vania.
"Aku terima semua ucapan kasar yang kau lontarkan kepadaku Mas, aku ini memang wanita kejam, tidak punya perasaan dan Mas pantas marah, kecewa terhadap ku, namun apa yang bisa aku lakukan sebagai wanita yang tidak punya pilihan hidup, jika aku jelaskan sekarang, Mas Niko tidak akan pernah percaya!"
"Diaaaam!!!" Bentak keras Niko lagi.
"Aku tidak butuh lagi penjelasan mu, aku muak dengan mu, Heh! (Tawa sinis Niko) karena sebenarnya kau juga tidak begitu berarti bagiku, pergilah, kejar kebahagiaan mu, dan semoga kau benar-benar bahagia dan cukup aku saja yang menjadi korbannya Vania, Jagan kau sakiti lagi pria lain, karena Pel*cur itu lebih baik daripada dirimu!" ucap geram Niko yang sudah sangat marah. Ia pun berjalan cepat memasuki mobilnya.
"Suatu hari nanti, kau akan mengerti Mas, kenapa aku harus memilih Romi, saat ini"
"Vania!" panggil lembut Ratih menyentuh bahunya.
"Mbaa...hiks...hiks... katakan pada Mas Niko, jika aku terpaksa melakukan ini!"
Vania kembali memeluk Ratih. Tidak terduga wanita itu pun pingsan.
"Vania...Vania...!" Ratih menepuk-tepuk kecil pipi perempuan itu.
"Ayo cepat bawa dia!" perintah Romi.
"Baik Bos!"
**
Di dalam mobil, Niko masih tampak mengamuk, terlihat berkali-kali ia memukuli stir mobilnya sambil teriak;
"Sial..."
"Dasar perempuan sial..."
"Brengs*k...!"
__ADS_1
"Aku benci kau Vaniaa....!"
**
Rupanya kabar kegagalan perceraian Vania dengan Romi telah sampai kepada keluarga Niko Oscar termasuk Luna.
Luna berkali-kali mencoba menelpon Vania!
namun tidak ada terjawab.
"Bun? Ada apa dengan anak itu? Apa dia kembali diperdaya oleh Romi?"
"Bunda juga tidak tau? Bunda sangat khawatir dengan Paman kamu!"
"Luna enggak bisa tinggal diam, Luna harus bicara dengan Vania!"
Dengan sigap Luna mengganti pakaiannya dalam perasaan kecewa, tidak terima dan ingin langsung bertemu dengan Vania.
"Tunggu Luna, jangan gegabah dulu!"
"Tapi ini tidak bisa dibiarin Bun!"
"Iyah tapi kita harus tenang dulu!"
"Tidak bisa Bun, Luna harus mencari Vania?"
Luna tidak perduli, ia berlari menghampiri mobilnya dan bergerak cepat.
**
"Haduh, bagaiman ini!" Mala tampak gelisah, panik, ia kembali mengambil ponselnya dan menelpon Benny.
"Tuuuuut!" Panggilan yang cukup lama tidak terjawab oleh Benny.
"Ayo dong diangkat!" ucap gelisah Mala mondar-mandir di depan sofa.
"Iyah Halo Mba!"
"Ben, apa kamu sudah dengar kabar genting hari ini?"
"Kabar apa yah Mba, ini Benny baru saja selesai pelatihan kedokteran!"
"Aduh, sidang perceraian Vania dan Romi!"
"Memangnya kenapa dengan sidang mereka?"
"Vania membatalkannya, malah rujuk kepada Romi, Mba sih tidak masalah dengan keputusan itu, tapi yang Mba khawatir kan, bagaimana dengan kondisi Niko? Kamu tau sendiri kan, Niko itu orangnya seperti apa? Tolong yah Ben, hanya kamu satu-satunya sahabat yang masih bisa ngobrol sehat dengan Niko? Luna juga sudah pergi ingin bicara dengan Vania!"
"Ba...baik Mba, Benny akan segera mencari Niko!"
"Terima kasih banyak yah Ben, Terima kasih!"
"Trup!"
__ADS_1
Mala terduduk lemas di atas sofa, dalam raut wajah kusutnya. Mala sudah mulai merancang pernikahan Niko dan Vania, pernikahan yang sangat diinginkan oleh ibunya.
"Padahal, Mama sudah sangat senang melihat Mas Niko akan menikah lagi, Ini salah satu impiannya, bahkan Mama selalu bilang, tidak rela meninggal sebelum melihat Mas Niko menikah, Ya Allah... cobaan apalagi yang engkau berikan kepada kami dan kenapa harus Vania yang ia cintai?? Apa tidak ada wanita lain? Pusing kalau begini!" raut wajah Mala semakin kusut.