Mr Cool Falling In Love.

Mr Cool Falling In Love.
Bab 42


__ADS_3

"Penampakan???


Siang bolong, cerah begini ada penampakan?" batin Bagas penasaran, ia kembali meneropong area sekitar gedung kantor baru mereka.


Setelah melihat, Bagas hanya mendapati suasana komplek perumahan yang rapi beserta aktivitas orang-orang sekitar, ia sampai meneropong ke arah awan, namun tetap saja ia tidak menemukan apa-apa selain cerahnya hari itu.


"Atau jangan-jangan gedung ini...iii...Serem!" ucap merinding Bagas meninggalkan area balkon yang tinggal ia sendiri berdiri disana.


Niko sempat melakukan breafing kecil dengan para properti dan disainer tentang kantor barunya.


Tidak terasa waktu menunjukkan pukul 15.00. wib sore hari.


Terlihat Niko membasuh habis wajahnya.


"Seger!" ucapnya,


lanjut mencuci tangan.


"Artinya dia sudah melahirkan anak dari pria iblis itu!" gumam Niko masih menaruh kebencian terhadap Vania.


"Pak! Apa kita perlu memanggil orang pintar untuk mengusir makhluk halus yang mungkin ada disini!"


"Tidak perlu, tadi itu aku hanya bercanda!" ucap Niko.


"Ouh! Saya pikir beneran Pak! Soalnya saya cukup takut dengan hal-hal seperti itu!" kata Polos Bagas.


"Yang benar, lebih seram mana saya dengan mereka!"


"Hehehehe!" tawa keduanya.


"Kerja kamu lumayan Ok! Oh Iyah, saya masih ada urusan, kamu tangani mereka seharian disini dulu, untuk konsep selanjutnya kirim ke email!"


"Siap Pak!"


Niko melangkah pergi setelah berpamitan kecil dengan tim properti dan disainer.


"Selama kembali dari Amerika, Pak Bos semakin sehat dan jauh lebih waras! Syukurlah!" gumam Bagas kembali melanjutkan pekerjaannya.


***


Pria dingin itu terus berjalan menuju mobilnya, aura dingin dan tampan Niko membuat para wanita disana melirik dengan cepat. Kagum dengan penampilan Niko serta mobil yang ia pakai.


Niko kembali duduk dengan tenang di dalam mobil.


"Kenapa dunia ini begitu sempit, bisa-bisanya kantor baru berdekatan pula dengan rumah si penipu itu, benar-benar sial! Andai aku punya pasukan Jin, sudah pasti aku pindahkan saja!" gerutu Niko.


"Jangan cari tau dimana rumahnya, semua sudah berlalu, fokus mencari jodoh saja!" batin Niko.


***


"Kita mau kemana lagi Tuan?" tanya Erik.


"Ke rumah Mama!"


"Baik Tuan!"


"Maaf Tuan, tadi saya baca di media ada berita yang mengabarkan jika Tuan akan menikah dalam satu bulan lagi?"


"Ouh iyah!" Niko buru-buru melihat ponselnya mencari tau asal berita.


"Ini pasti kerjaan Luna!" gumam Niko mengirimkan pesan kepada salah satu pemilik sekretaris media agar menghapus berita.


"Selamat yah Pak, saya turut bahagia!" ucap Erik dengan senyumnya.


"Itu hanya gosip, kamu tidak perlu percaya!"

__ADS_1


"Walaupun hanya sekedar gosip, saya doakan Tuan agar segera menikah!"


"Terima kasih!" ucap Niko kembali menyandarkan tubuh lelahnya.


***


Sehabis pulang sekolah, Kiano berlari menghampiri Vania yang tengah menidurkan Jex, Vania tidak menggunakan jasa Baby sitter, Kiano diasuh secara bergantian, jika Vania tengah berada di Resto, Erly, Fredy atau Kiano yang mengasuh balita kecil itu, terkadang Jex di bawa ke restoran tempat mereka bekerja.


"Kakak!" sapa Kiano dalam nafas tidak beraturan.


"Ssssst, jangan berisik, Jex sudah hampir terlelap!" protes Vania.


Kiano kembali mengatur nafasnya.


"Ada apa, kamu tergesa-gesa seperti itu!!" ucap Vania.


"Kak, ada seseorang yang mencari kakak di luar, mobilnya mewah sekali kak!"


"Kamu ini, selalu memperhatikan seseorang dari mobil?"


"Hehehehe!"


"Wanita atau pria?"


"Hem, Wanita!"


"Baiklah!" Vania bangkit.


Kiano bergegas membuka sepatunya.


"Padahal Kiano ingin bermain bersama Jex!" ucap lesu anak remaja itu.


"Ganti pakaian kamu, makanan sudah kakak siapkan!"


"Baik kak!"


"Ting... Ting!" Bel rumah berbunyi saat beberapa langkah lagi Vania sampai menuju pintu.


"Iyah sebentar!" saut Vania mempercepat langkahnya.


"Trek!" begitu pintu terbuka Vania terkejut dengan kedatangan seseorang yang sudah lama tidak ia temui, namun dirinya begitu rindu.


"Luna!"


"Apa kabar?" Senyum tipis Luna, gadis muda berbusana muslim itu.


"Baik Lun, kamu cantik sekali!" senyum Vania.


"Terima kasih, boleh aku masuk!"


"Ouh, Silahkan!"


"Ternyata Kantor Oscar yang baru tidak jauh dari rumah Vania, apa ini yang dinamakan kalau jodoh tidak kemana!" gumam Luna.


"Kamu tau rumahku?" tanya Vania.


"Tidak sulit mencarinya, apa ini rumah baru kamu?"


"Masih kredit! Terima kasih yah Lun, kamu sudah berkenan mendatangi rumah ku!"


"Yah, turut berbahagia lah, kamu sudah melahirkan dan kembali berkumpul dengan keluarga kamu itu!" ucap ketus Luna.


Vania hanya menunduk malu.


"Mau minum apa, sebentar aku ambilkan yah!" ucap Vania.

__ADS_1


"Tidak perlu Van!" langkah satu anak itu terhenti.


"Duduk lah!"


"Baik!"


"Kedatangan ku kesini, membawa dua kabar berita baik dan buruk untukmu!"


"Ouh Iyah!"


"Sekarang aku dipercaya oleh Paman Niko, untuk bergabung menjadi salah satu tim sekretarisnya di perusahaan Oscar 99, tentu hal pribadi dari Paman, menjadi bagian dari pekerjaan ku!"


Vania hanya diam mendengarkan.


"Kabar baiknya, Perayaan pembukaan kantor Oscar 99 yang baru akan di gelar satu Minggu lagi, kami menggunakan jasa dari catering resto 'Doyan Mangan' milik Vania Keisya dengan 500 tamu undangan!"


"Ta...tapi aku tidak tau!" bantah Vania.


"Tante dan om kamu sudah langsung menyetujuinya!"


Vania sangat terkejut dan tampak kecewa mengapa tidak ada pemberitahuan kepadanya.


"Masalah itu kalian bisa bicarakan lagi!" ucap Luna.


"Kabar buruknya?" tanya Vania.


"Kabar buruknya, Niko Oscar menuntut uang tunai sebanyak 2 Milyar kepada sdri Vania Keisya atas kerugian besar selama proses perceraian menuju sidang ketiga!"


"Apah?" Vania semakin terbengong.


"Biaya Apartemen, 10 pengacara, setengah menggunakan pengacara luar negeri, gaji mereka tetap di bayar full dalam hitungan dolar dan juga biaya hidup mereka selama tinggal di Indonesia, serta pembatalan sepihak tanpa adanya konfirmasi! Total semuanya berjumlah 2 Milyar sebagai tebusan perdamaian, jika tidak, maka urusan ini akan naik ke pengadilan!"


Airmata Vania langsung berlinang.


"Lun, mengapa kalian sekejam ini, aku sudah tidak punya uang lagi sebanyak itu, bukankah kau yang dulu membawa aku ke rumah Pamanmu?" tuntut mewek Vania.


"Ini nomor pribadi Niko yang baru! Dia juga baru membeli rumah, ini alamatnya, kau bisa bernego langsung dengannya, aku hanya pekerja disini!" ucap Luna memberikan semua berkas penting itu kepada Vania.


"Permisi!" Dalam hati tidak tega, Luna bangkit dengan cepat meninggalkan Vania.


Wanita malang itu hanya duduk terbengong. dalam tangan bergetar, ia mengambil berkas yang terletak di atas meja.


"Ya Allah, cobaan apa lagi ini, aku lelah sekali!" gumam Vania menunduk sedih.


"Kakak kenapa!" sapa Kiano memegang lembut bahu Vania.


"Ah, tidak apa-apa?" jawab Vania menghapus cepat airmatanya lalu pergi menuju kamar dan langsung menutup pintu.


"Kenapa kakak, matanya merah sekali!" ucap Kiano.


Di dalam kamar, Vania menangis tertahan. Ia mengusap lembut dan mencium dahi Jex yang tengah tertidur pulas, menatap imutnya wajah sang putra.


"Mama enggak kuat Nak, betapa beratnya cobaan hidup ini. Aku sudah tidak ingin lagi berurusan dengan pria itu, aku lelah!" ungkapan sedih Vania.


lama merenungi nasib sambil menatap keluar jendela, Vania mengabaikan telpon dari Fredy yang terus berdering.


Tidak lama kemudian.


Vania mengambil ponselnya dan mencoba menelpon Niko.


"Tuuuuut!"


Tampak Pria itu baru saja turun dari mobilnya memasuki kediaman sang Bunda.


"Nomor siapa ini!" gumam Niko sempat menatap layar ponselnya, namun setiap nomor yang masuk ke ponsel pribadi Niko pasti sudah melalui jalur tim sekretarisnya.

__ADS_1


"Halo, siapa ini!" jawab Niko.


Mendengar suara Niko, jantung Vania terasa berhenti seketika.


__ADS_2