
Vania masih dalam riasan kecilnya tanpa senyuman wajah yang berbahagia.
"Ini seperti de Javu, lagi-lagi aku harus menikahi pria atas nama uang, rasa cinta itu seperti memudar saat Niko terlihat arogan dan secara tidak langsung memaksaku harus menikah!"
"Nona Vania, sudah selesai, Ayo tersenyum, anda cantik sekali!"
"Iyah, terima kasih!" ucap Vania.
"Yang ada dalam pikiranku hanyalah Jex dan masa depannya, bagaimana Restoran itu bisa berkembang yang bisa aku wariskan untuk Jex kelak," gumam Vania.
Bersama gandengan tim make up dan pakaian, Vania melangkah dengan kebaya sederhana tetapi cukup mewah juga elegan.
Niko yang sudah menunggu kehadiran Vania langsung menatap manis ke wajah kekasih simpanannya yang sebentar lagi akan menjadi istrinya. Menikah untuk yang kedua kalinya tetap saja membuat pria itu merasa gugup dan tegang. Pernikahan siri adalah jalan yang pintas untuk Niko bisa bercinta dengan Vania, karena menikah secara hukum dan go publik membutuhkan persiapan yang banyak serta memakan waktu lama.
Keduanya saling memandang saat selendang putih itu disematkan di kepala mereka yang artinya akan dipersatukan dalam mahligai rumah tangga.
Niko tersenyum lepas menatap sang calon istri.
Untuk mempersingkat waktu, tim jasa nikah siri segera akan melakukan akad pernikahan itu.
"Tampaknya Mas Niko sudah tidak sabar lagi? Ayo segera kita mulai!"
Sontak Niko tersenyum lebar, malu-malu meong.
"Mas Niko Oscar apakah sudah bersiap menikahi Vania Keisya!"
"Siap!" jawab cepat Niko.
Ketika wali hakim mengucapkan akad menikahkan, tangan si wali hakim semakin kuat menjabat erat tangan Niko pertanda Niko harus mengucapkan akad pernikahan;
"Saya terima nikah dan kawinnya Vania Keisya Binti (Ayah Vania) dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan satu buah cincin berlian, tunai"
Niko yang mengucapkan dengan lancar tanpa terbata-bata.
"Bagaimana?" tanya wali kepada saksi disana.
"Sah...sah...sah!" ucap mereka menyebut serentak sampai berkali-kali mengucapkannya.
"Alhamdulillah!" Seiring doa terbaik dipanjatkan untuk kedua pengantin.
Vania mencium tangan Niko sebagai suaminya yang baru, lalu Niko membalasnya dengan kecupan kecil di dahi Vania, kemudian memakaikan cincin berlian itu di jemari manis Vania.
Pernikahan tertutup dan tersembunyi itu pun berlangsung dengan lancar, keduanya kembali berganti pakaian dan berniat pulang ke rumah Niko.
"Kamu lapar enggak?" ucap Niko di dalam mobil.
Vania mengangguk kecil.
"Kita makan dulu yah!"
"Iyah!" jawab Vania yang menurut saja.
Penampilan pengantin baru itu terlihat kaku dan Niko masih tampak jaim untuk memulai kemesraan dengan istrinya.
"Sekarang sudah plong banget!" gumam Niko.
Makan malam romantis keduanya diiringi dengan lampu malam yang indah.
Keduanya terlihat jaim dan bingung harus bertingkah apa, Niko menggeser kursinya agar posisinya lebih dekat dengan istrinya.
__ADS_1
"lihat apa disana?" tunjuk Niko pada sebuah lampu, dengan polosnya Vania melihat ke arah yang di tunjuk oleh Niko.
Pria itu mulai genit mencium pipi halus Vania.
merasa terkejut reflek Vania memukul paha Niko.
"Aw!" jerit manja Niko.
Keduanya tersenyum lucu, Niko merangkul manja istrinya itu.
"Malu ah, di lihatin orang!" kata Vania berusaha melepas rangkulan Niko.
"Ngapain Malu!" bantah Niko mengelus-elus halus rambut sang istri.
"Jadi kapan kita ehm melakukannya?" tanya Niko yang sudah tidak sabar.
"Aku lagi PMS?"
"Apa itu?"
"Datang bulan!"
"Aaargh!" ucap Niko lemas.
Reflek Vania tersenyum lepas.
"Besok baru selesai!" kata Vania.
"Baiklah, aku akan sabar menunggunya!" ucap Niko.
Setelah makan malam romantis keduanya masih lanjut jalan-jalan di sekitar pusat perbelanjaan terbesar dan tanpa disadari dari kejauhan ada seseorang yang mengintai foto kebersamaan mereka.
Vania terjongkok dan melihat kakinya sedikit memerah. ia terpaksa membuka sepatunya dan berjalan tanpa alas kaki.
"kotor donk!" protes Niko.
"Ini lebih baik daripada kakiku sakit!" jawab Vania.
Dengan inisiatif aksi Hero Niko sebagai sang suami, menyuruh Vania, agar naik ke pundaknya.
Awalnya malu-malu namun akhirnya perempuan itu bersedia digendong oleh Niko.
Kemesraan keduanya membuat orang iri disepanjang perjalanan menuju mobil.
***
Benny terlihat bersiap-siap akan segera pulang kerumahnya.
"Aku curiga, ia masih punya hubungan dengan Vania, Pria itu benar-benar sedang mabuk janda sekarang, Argh Niko masih tetap tidak bisa move on!" dumel Benny.
***
Di balik kebahagiaan Niko dan Vania ada orang-orang yang cukup repot disana.
Bagas terpaksa lembur sampai malam untuk menghandle pekerjaan kantor yang lumayan banyak.
"Siapa ini!" Bagas mulai mendeteksi ada nama perusahaan kecil yang mencoba menyabotase data Oscar99.
Perusahaan One & One meski sudah runtuh, diam-diam Niko mengambil alih dengan membeli nama perusahaan Romi dan menghidupkannya kembali, tergabung menjadi grup Oscar99, banyak yang ingin menguasai sisa perusahaan itu, selain Erly termasuk Frans orang kepercayaan Romi saat bersamanya, Niko berniat akan menghadiahkannya nanti setelah Jex besar tanpa sepengetahuan Vania.
__ADS_1
"Siapa ini?" Bagas terus mengejar akun yang mencoba masuk dalam data rahasia Oscar99, pria itu sampai meminta bantuan kepada polisi cyber yang ditugaskan untuk menjaga kerahasian data dari Perusahaan Oscar99.
***
"Mama...!" rengek Jex si bocah imut.
"Sabar yah sayang, besok kita akan bertemu Mama!" ucap Luna mengelus-elus manja Jex yang terlihat setengah mengantuk.
Bocah tampan yang tidak mengerti tentang kondisi ibunya hanya bisa merengek memanggil nama Vania.
"Mengapa paman, sampai sekarang tidak mengabari kondisi Vania kepadaku, apa aku harus menelponnya malam ini!" gumam Luna yang ikut gelisah.
Niko yang tidak ingin terganggu dengan acara spesialnya bersama Vania terpaksa mengasingkan sejenak Jex.
Malam itu, Luna mencoba memberanikan diri menelpon Niko.
"Tuuuut!" panggilan yang tertolak. Niko sengaja mematikan ponselnya, tidak ingin menerima panggilan dari siapapun.
Luna juga menelpon Vania namun mendapatkan respon ditolak.
"Reject! duh kesal!" kata Luna membuang ponselnya begitu saja.
Sudah beberapa hari Luna tidak bisa nyenyak tidur karena hampir setiap malam Jex mengigau memanggil nama ibunya.
"Duh, apa sih tingkah si pria dingin itu!"
"Dimana dia?" Luna yang terlihat mondar-mandir dengan kegelisahannya.
"Sebenarnya dia sedang apa? Atau benar firasat Mama, Paman sedang berkencan dengan Vania, lalu bagaimana dengan anaknya? ini! Dasar Paman egois!" Luna yang mulai mengeluh dengan tugasnya.
"Atau justru ia sedang berkencan dengan si Benny!" ucap Luna semakin kesal mulai berpikir yang aneh.
Tidak kunjung menemukan kekasih, Niko dan Benny yang cukup akrab, diisukan homo atau penyuka sesama jenis, membuat jantung Oma Priyana semakin bengkak.
"Ah aku telpon Benny saja!" ucap Luna bergegas mengambil kembali ponselnya.
Benny yang dalam perjalanan pulang melihat ponselnya berdering dari Luna.
"Ada apa?" jawab jutek Benny menerima panggilan Luna.
"Apa Pamanku ada disana?" tanya Luna.
"Mana aku tau?" jawab ketus Benny
"Bukan kah kalian sering bersama?" tantang Luna.
"Harusnya kamu menghubungi polisi jika tidak menemukan seseorang 2 x 24 jam!"
"Tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan!" Luna langsung memutuskan percakapan itu membuat Benny terkejut.
"Mati?"
"Memangnya Niko ada dimana mengapa Keponakannya sedang mencarinya??"
"Ada yang tidak beres!" Benny berniat mendatangi rumah Niko.
Kemesraan Niko dan Vania terlihat ketika Niko tetap menggendong Vania masuk ke dalam rumahnya.
Niko langsung melakukan ciuman panas terhadap janda muda itu yang sudah sah menjadi istrinya dimata Tuhan.
__ADS_1