Mr Cool Falling In Love.

Mr Cool Falling In Love.
Bab 43


__ADS_3

"Halo...!" ucap Niko mulai mengeluarkan suara tegasnya.


Vania tidak menjawab, ia terlihat ketakutan, bulu kuduk wanita itu merinding seketika, kedua bola matanya liar membesar, dalam raut wajah meringis.


"Haduuuuh, bagaimana ini?😣 Aku Harus bicara apa?" gerutunya dalam hati.


"Halou...!" Nada suara Niko semakin keras terdengar di telinga Vania membuat ponselnya hampir terjatuh.


Dengan cepat pula Niko memutus sambungan seluler itu.


"Trup!"


"Siapa yang berani jahil begini, atau pekerjaan para sekretaris mulai tidak beres!" gerutu Niko kembali melanjutkan langkah kakinya menemui ibunya.


"Yah, Mati!" ucap Vania pasrah menatap ponselnya.


"Aaaaaaaaaa! Aku benciiiiii!" jerit kepanikan wanita itu sambil guling-guling di atas lantai!" Ia bingung bagaimana caranya harus bernegosiasi dengan Mr Cool yang galak.


*


Dengan gemes pula, Niko mengirimkan pesan kemarahan di grup sekretaris (what's up)


"Bagi siapa saja yang memberikan nomor pribadiku kepada manusia siluman, tuyul dan sebagainya, silahkan out dari grup ini!"


πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ‘ŠπŸ‘Š Niko memberikan tanda emot kemarahan.


"Nomor Siluman, tuyul???" ucap serentak para sekretaris yang sedang online.


Luna yang tengah sampai di kampus, terlihat sedang memarkirkan mobilnya. Kemudian membaca pesan dari Niko Oscar.


"Hahaha!" ia sontak tertawa geli.


"Apa yang dia maksud itu adalah, nomor Vania???"


"Kira-kira keduanya, bakal akan bertemu tidak yah, dengan adanya masalah ini!


(senyum tipis Luna)


Sejauh ini, wanita yang terbaik itu adalah Vania, tapi sebenarnya dia tidak salah jika memang memilih kembali kepada suaminya yang usia sudah tidak lama lagi, Vania juga melakukannya demi sang anak.


Tapi Paman cukup keras, sulit banget terbantahkan," ucapan Luna berbicara sendiri sambil memandangi ponselnya.


*


Di waktu yang bersamaan rumah kediaman Priyana dan Mala.


Mala mengintai dari atas teras kamar ibunya, memastikan dengan teliti bahwa mobil putih itu adalah milik Niko, sang kakak.


Seketika itu pula Mala berlari menghampiri ibunya yang tengah duduk di kasur.


"Mama...Mama... Mas Niko sudah datang!"


"Benarkah?" ucap Priyana.


"Hem, Hayo cepat mah! Perbaiki posisi tidurnya!"


"Baiklah!"


Mala membantu Ibunya berbaring cantik di atas kasur, menutup separuh tubuh Priyana dengan selimut, menyempurnakan suasana yang memperihatinkan, dua wanita itu kompak bekerja sama.


"Ambil sedikit bedak biar sedikit lebih pucat?" pinta Priyana.


"Baik Mah!" Mala bergegas memberikan sentuhan bedak agar Priyana terlihat benar-benar sekarat, kondisi sang ibu meski mengkhawatirkan namun ia sudah jauh lebih baik.


"Tlek!" pintu kamar terbuka.


Langkah Pria memasuki kamar yang luas itu.

__ADS_1


"Mas NIko!" sambut Mala dengan senyuman manis.


"Bagaimana kondisi Mama?"


"Alhamdulillah, sudah lebih baik Mas!" jawab santai Mala.


"Mas, Mala keluar dulu!"


"Okey?"


Perlahan langkah Niko mendekati sang Mama yang tergeletak lemah di atas kasur.


"Mama, wajahnya pucat sekali!" gumam Niko ketakutan.


Pria itu mengelus manja dahi sang bunda.


"Niko, anakku!" ucap Priayana membuka pelan matanya.


"Mamah!" Niko memegangi tangan lembut ibunya.


"Mungkin, Mama akan segera menyusul Papa Nak!"


"Astaga, apa yang Mama bicarakan!" jawab Niko.


"Sebelum meninggal, Mama ingin sekali melihat kamu memakai pakaian pengantin, Nak!"


"Mah!"


"Bisakah kau penuhi keinginan Mama yang terakhir ini?"


"Apa yang Mama bicarakan!"


"Padahal Vania tidak salah, jika ia melepas kamu hanya ingin memberikan kehidupan terakhir untuk suaminya, sebagai bekal cerita manis untuk masa depan sang anak, itu ciri-ciri perempuan mulia dan Mama rasa sudah jarang kita temui wanita polos yang sangat sabar seperti itu, melihat tingkah laku suaminya yang kejam!" ucap Priyana yang langsung saja berbicara tentang Vania.


"Mah, tolong jangan bicara tentang dia lagi, dia itu sudah menipu Niko Mah, sakit, dia tega mempermainkan perasaan Niko!"


Apa yang Vania lakukan kepada almarhum Suaminya, maka dia akan melakukan hal yang sama kepadamu nanti, orang yang selingkuh akan tetap selingkuh dan orang yang setia akan tetap setia!"


"Sabar yah Mah, Mama tenang yah! Niko janji akan menikah, tapi tidak dengan Vania."


"Baiklah!" ucap Priyana tidak ingin memaksa.


Niko menjatuhkan kepalanya ke posisi paha sang Bunda.


"Niko lelah Mah, tidak mudah mencari pasangan hidup!"


Priayana mengelus lembut rambut putranya.


"Menikahlah, dengan wanita manapun, Mama akan merestuinya Nak!" Priyana terus mengelus rambut anaknya dengan penuh kasih sayang, membuat Niko sedikit tenang.


*


Niko memperhatikan gambar rontgen jantung ibunya bersama Mala di ruang tamu.


"Benny sudah mengirimkan video penjelasan berdasarkan dokter spesialis Jantung di Singapura, ia tidak bisa datang karena lagi banyak pasien," ucap Mala mengambil ponselnya.


Mala memutar Video penjelasan yang dikirimkan oleh Benny. Inti dari perkataan Benny adalah;


"Jantung yang diderita oleh Oma Priyana terlihat tidak berbahaya, namun bisa mematikan secara tiba-tiba, kapanpun dimana pun atau lebih kepada jantung bocor, tidak tau sampai dimana kemampuan obat-obatan akan bertahan membantunya."


"Mas, Mama itu tidak minta apa-apa dari kamu, ia hanya Ingin melihat Mas segera menikah, mengetahui siapa menantunya," ucap pelan Mala.


"Menikah dengan perempuan penipu itu, maksud kalian!"


"Kepada siapa saja tidak harus Vania!" ucap tegas Mala.


Niko terdiam.

__ADS_1


"Kamu akan menyesal Mas, jika seandainya Mama sudah tiada tapi keinginannya bel juga Mas penuhi!"


"Baiklah, okey...okey terserah kalian!" ucap Niko mulia kesal.


"Bukankah Benny sudah menunjukkan calonnya!"


"Tidak ada yang cocok!" jawab ketus Niko.


**


Pukul 19.00 Wib, Pintu gerbang rumah Niko, terbuka secara otomatis. Mobil putih mulai memasuki rumah mewah Niko yang baru. Saran dari dokter kejiwaan yang ada di Amerika, Pria itu harus menjual rumahnya ketika hidup bersama Isabella dan semua pakaian almarhum disumbangkan kepada orang membutuhkan.


Saat Gerbang masih terbuka, terlihat seseorang masuk dengan diam-diam, layaknya tikus berlari kencang.


"Tuan saya pulang dulu!"


"Terima kasih yah Rik"


"Sama-sama Tuan!"


Begitu Erik keluar, gerbang tertutup kembali secara otomatis.


Kepala Niko semakin sakit, karena desakan menikah dari keluarga semakin hebat.


"Aduh" teriak pria itu memegangi dahinya, berjalan menuju pintu rumahnya.


Tiba-tiba Niko mendengar sesuatu yang sedang melangkah lalu bersembunyi.


"Seperti ada orang?" batin Niko masih tetap berjalan dengan santai.


Seseorang terus berjalan mengikuti Niko lalu kembali bersembunyi.


Niko yang sudah punya perasaan, masih berjalan dengan santai, tepat di depan rumahnya dalam gerakan lincah, lelaki itu langsung bersembunyi.


"Jika maling, harusnya para petugas komplek mengetahuinya!" gumam Niko bersembunyi.


Langkah seseorang mulai menapaki jalan secara diam-diam, dalam ragu ia terus berjalan hingga sampai tepat di depan rumah Niko.


Tidak lama kemudian Niko keluar dari persembunyiannya.


"Selain penipu, kamu juga seorang maling!" ucap Niko bersandar santai di tiang.


Diam-diam Vania nekat mendatangi rumah Niko ingin bernegoisasi masalah hutang yang menjeratnya dan membuat ia harus kembali berurusan dengan pria dewasa itu.


Vania berbalik dan terkejut menatap Niko yang sudah mengetahui jejaknya.


"Mas Niko, Vania minta maaf!" ucapnya berlutut di hadapan Niko.


"Jangan sentuh aku!" hardik Niko marah.


πŸ₯ΊπŸ₯Ί Maaf πŸ₯ΊπŸ₯Ί


"Pergi!"


"Aku tidak punya uang untuk membayar dua Milyar!" ucap Vania dalam wajah meweknya.


"Perasaan hanya satu M kenapa jadi dua?" gumam Niko sempat berpikir.


"Aku harus banyar pakai apa!" Vania mulai menangis.


"Bukan kah mantan suami mu kaya raya! Uang segitu masih kecil baginya!"


"Sudah habis bayar hutang!"


"Ouh Iyah!"


"Kalau begitu aku akan sita resto mu!" kata Niko ingin melangkah.

__ADS_1


"Jangan!" jerit histeris Vania reflek menangkap sebelah kaki Niko membuat Lelaki itu jungkir balik.


__ADS_2