
Waktu menunjukkan 17. 25 wib.
Niko terpaksa membeli satu rangkain lagi bunga mawar dan boneka kecil dengan model yang berbeda agar tidak terdeteksi oleh Benny.
Sore itu juga Niko balik ke Rumah Sakit tempat dimana Vania dan Paman Ferdy dirawat.
Niko tetap mengutus Kevin sebagai mata-mata disana.
"Sore Bos!" sambut Kevin.
"Bagaimana? Apa ada yang datang?" tanya Niko.
"Ada Bos, keluarga dari pihak Tante Vania sempat kesini dan membawa putra Ferdy, namun dokter masih melarang untuk melihat kondisi mereka."
"Bagus, apa ada kabar terbaru dari Dokter?"
"Dua-duanya masih belum sadarkan diri Bos!"
"Oke makasih Vin! Kamu bisa pulang dulu, nanti malam balik lagi kesini!"
"Makasih Bos!"
"Sama-sama!"
Keduanya pun berpisah, Niko melangkah menuju lorong lokasi ruang UGD, ruangan yang tidak bisa dimasuki banyak orang.
Saat melihat kedatangan Niko, seorang suster mengejar langkah Niko.
"Sore Mas Niko, Maaf kami belum memindahkan kamar untuk Nona Vania Keisya, karena kami butuh bantuan Mas Niko untuk tanda tangan dan memilih kamar VIP yang sesuai dengan pilihan Mas Niko!"
"Oke baiklah!"
Sore itu juga Vania langsung dipindahkan ke dalam kamar inap terbaik di rumah sakit itu, atas pilihan Niko Oscar, terlihat Vania belum sadarkan diri, Dokter dan tiga perawat lainnya dengan sigap kembali merapikan kondisi Vania, membuka selang pernapasan serta alat bantu lain yang tidak perlu lagi ia pakai.
Sedangkan Niko duduk santai di area sofa pandangnya terus memperhatikan dan menunggu sistem kerja para tim medis disana.
Setelah selesai.
Niko menghampiri sang Dokter.
__ADS_1
"Bagaimana kondisinya?"
"Tekanan darah dan stamina pasien terus meningkat membaik, tidak lama lagi sdri Vania ini akan sadar Mas Niko!"
"Pastikan kepada saya, Dokter bisa menanganinya, jika rumah sakit ini tidak bisa bekerja sesuai keinginan saya, saya akan bawa pasien ini keluar Negeri!" ancam Niko dalam nada penuh tekanan.
"Begini Mas Niko, kondisi pasien baik-baik saja, kami sudah melakukan pemeriksaan intensif dengan menggunakan peralatan canggih, tidak ada yg bermasalah dengan organ-organ pasien, hanya saja staminanya sangat drop, kondisi koma ini untuk pemulihan. Kami sudah memberikan suplai vitamin melalui jalur infus untuk mempercepat staminanya normal kembali, ini hanya masalah waktu! Mas Niko jangan khawatir, kami akan terus memantau perkembangan sdri Vania!" jawab Dokter kepada Niko yang tidak sabar dengan sistem kerja tim medis di rumah sakit itu.
"Baiklah, saya percaya!"
"Hem...Mas Niko, justru kondisi Bapak Ferdy yang cukup mengkhawatirkan, ia kehilangan banyak darah, dan kondisi staminanya terus menurun!" ucap sang Dokter.
"Lakukan saja yang terbaik atau Dokter bisa bicarakan langsung dengan saudaranya yang lain, saya tidak punya hubungan dengan dia, saya hanya menolong teman wanita saya ini!" ucap Niko.
"Baiklah!" Dokter dan para suster keluar meninggalkan ruangan Vania yang baru.
"Mengapa aku harus memikirkan manusia hantu seperti Ferdy, lebih cepat ia meninggalkan dunia ini mungkin lebih baik, dunia akan terasa lebih terang dan sejuk tanpa manusia-manusia seperti dia."
"Heem.....Huuuuuuff!!"
(Niko bergaya tarik nafas, layaknya sedang menghirup udara pagi yang segar)
Lelaki itu mengambil gift boneka dan bunga yang ia taruh di atas meja sofa, lalu memindahkannya ke meja dekat Bed Vania, sambil tersenyum dan berkata;
"Cukup Manis!"
Niko terus memandangi wajah lesu Vania yang masih dalam kondisi mata tertutup.
"Aku menyadari aku bukanlah siapa-siapa untukmu, hanya seorang selingkuhan yang tidak akan pernah mendapat posisi, namun entah mengapa hatiku cukup sakit ketika melihat kau menangis dan tersakiti. Aku tau kau tidak perlu mempertahankan hubungan gelap kita dan tidak seharusnya aku marah jika kau memilih kembali kepada suami mu, tapi aku sangat cemburu, sungguh cemburu dan merasa sakit karena tidak ingin kalah dan tidak dapat menggapai mu. Sekarang aku baru menyadari bahwa semua yang kau lakukan itu semua demi kebaikan kita bersama dalam kondisimu yang sedang hamil saat itu untuk menjaga nama baikku dan nama baik keluargamu.
Kenapa kita dipertemukan dalam kondisi rumit seperti ini, kenapa kau harus menikah dulu dengan Romi baru bertemu dengan ku, padahal aku sudah pernah bertemu denganmu jauh sebelum mengenal Romi,
ini kah yang dikatakan takdir? Tidak bisa diatur maupun dikendalikan."
Terlihat Vania seperti menggerakkan organ tangannya, memberikan sinyal akan sadar.
Reflek Niko kebingungan, ia langsung kocar-kacir mencari tempat persembunyian yang aman, merasa malu, tidak percaya diri jika Vania melihat kehadirannya ada disana.
Niko mencoba berlari masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
"kayaknya enggak banget kalau disini, nanti jika dia mau buang air, dia akan melihat aku disini?" ucap Niko kembali keluar pergi ke sebelah lemari.
"Disini terlalu kelihatan!" Pria itu merasa kembali tidak nyaman hingga ia masuk dan bersembunyi di bawah kolong tempat tidur penjaga.
Niko yang terus mengintai Vania, 5 menit tiarap di bawah kolong tempat tidur, namun Vania tak kunjung sadar.
"Ah ternyata aku kena prank!" gumam Niko berusaha keluar dari kolong yang sempit itu dan tidak terduga kepala Niko terjedut oleh tempat tidur yang terbuat dari kayu jati.
"Haais!" gerutunya mengusap-usap kepala.
Akhirnya Niko berhasil keluar,
"Sebaiknya aku segera pergi!" gumam Niko terus berlari menuju pintu keluar.
Sesampai di dalam mobil, ia bersandar lesu.
"Aku yakin nanti malam dia akan sadar!" Niko kembali melajukan mobilnya kembali menuju kantornya.
**
Pagi 09.00 Wib.
Masih dalam hamparan padang rerumputan yang hijau seluas mata memandang, sejuknya udara disana dalam alunan angin sepoi-sepoi, membuat rambut halus wanita itu melambai-lambai, ia serasa tak ingin kembali ke dunia yang kelam, dunia yang tak mampu memberikan ia kebahagiaan. Vania terlihat bermain sendiri dan menikmati tempat indah itu.
"Vania sayang, pulanglah!" sapa lembut seorang wanita dari belakang yang juga berparas cantik mirip dengan dirinya.
Seketika wanita muda itu berbalik badan saat mendengar suara yang sangat ia kenal.
"Mamah!" Ternyata suara itu justru mengembalikan Vania ke dunia nyata dan terbangun dari masa kritisnya. Membuka kelopak mata yang sudah hampir dua hari tertutup.
"Vania, kau sudah sadar, apa kau baik-baik saja!" Ratih bangkit menghampiri Vania yang kebetulan baru bisa menjenguknya.
"Kak Ratih?" suara berat dan lesu.
"Sebentar aku panggilkan Dokter!" dengan langkah sigap Ratih menekan bel memanggil suster dan Dokter.
Tim medis yang ditugaskan untuk mengawal perkembangan kesehatan Vania segera datang memasuki ruangan itu.
Sementara itu kondisi Ferdy semakin memburuk.
__ADS_1