Mr Cool Falling In Love.

Mr Cool Falling In Love.
Bab 81


__ADS_3

Sesampai di parkiran, Frans dengan bangganya menunjukkan mobil mewah berwarna hitam series terbaru limited edition.


"Wah!" ucapan reflek Ferdy sebagai salah satu pria pecinta otomotif, tentu ia begitu takjub dengan kendaraan seperti itu.


"I...ini mobil kamu Frans?" tanya gugup Ferdy dengan dua bola mata liarnya menatap body mobil.


Frans langsung membuka kacamatanya dan tersenyum bangga.


"Ini hasil kerja keras saya dong, om!" jawab santai Frans.


"Se... secepat ini, kamu bisa menjadi kaya?" tanya Ferdy yang tidak bisa konsisten dengan hatinya, selalu saja tergoda dengan kilau harta yang bersinar.


"Meski dulunya om sering menyepelekan aku! Tapi aku bisa bergerak lebih cepat bahkan sangat cepat!" jawab bangga Frans sambil merapikan jasnya.


"Hahahaha!" tawa Ferdy malu-malu, menepuk kuat pundak Frans yang hampir saja tersungkur.


"Hahaha...hahaha...hahaha anggap semua itu motivasi mu, kawan! Agar kau tidak mudah menyerah !" jawaban Ferdy dengan tawa lepasnya.


"Aku tidak percaya jika semua ini hasil kerja keras Frans, perasaan baru 6 bulan lalu, perusahan One & One benar-benar resmi di tutup, dan kalau tidak salah, sebagain sahamnya sudah diambil alih oleh Perusahaan lain.


Huuuuuuft...Apa yang sedang Ayah katakan, mengapa ia tidak bisa berhenti dengan niat jahatnya yang seolah-olah selalu saja ingin menjual kakak dengan pria-pria kaya?" Isi hati Kiano.


*


"Ayo naik om! kita bisa bicarakan lebih tenang di rumah yang cukup nyaman nantinya!" kata Frans sangat sopan lalu membukakan pintu mobilnya untuk mereka. Ferdy dan anak lelakinya itu duduk di belakang, sementara Frans duduk di depan bersama sang supir.


Frans tersenyum tipis diikuti kilauan cahaya merah yang melintasi dua bola matanya.


**


"Ayah, tolong jangan mudah percaya dengan Frans, jika kekayaan ini adalah benar-benar hasil kerja kerasnya!" bisik Kiano di telinga Ferdy.


"Sudahlah, kita ikuti saja dia dulu!" jawab tenang Ferdy.


**

__ADS_1


Kiano tidak bisa membantah, dirinya juga tidak bisa memberikan solusi untuk Ayahnya, sementara ia tau sang Ayah harus segera. istirahat.


Seorang supir mulai menjalankan mobil mewah Frans menuju rumah yang sudah disiapkan oleh lelaki itu.


***


Di Apartemen Niko yang cukup luas, ada Fasilitas kolam renang tetapi tidak begitu besar hanya cukup untuk satu keluarga saja dan bersifat privasi.


Hembusan angin menggerakkan sepoi-sepoi kain gorden putih panjang, udara pagi itu terasa sedikit lebih sejuk walau matahari mulai meninggi. Niko sengaja membuka jendela agar udara AC berganti dengan udara pagi dan membuat sirkulasi udara di kamarnya lebih sehat.


*


"Kiano!" Pagi itu Vania terhentak dari tidurnya. kemudian mengusap titik keringat yang muncul di dahinya.


"Belakangan ini aku selalu kepikiran pada Kiano, apa anak itu baik-baik saja...Huuuft!" gumam Vania mendapati dirinya tanpa busana dan mulai memperhatikan keberadaan Niko yang ternyata sudah tidak ada di sampingnya.


"Apakah malam ini aku sedang bermimpi panjang!" Vania berusaha bangkit menuju kamar mandi lalu melihat jam bergerak di angka 07.45 pagi hari.


Vania pun mulai mengguyur seluruh tubuhnya, membersihkan sela-sela yang terkena najis setelah berhubungan badan dengan sang suami, ketika selesai dan masih dalam balutan handuk, wanita itu memperhatikan sekeliling kamar, mencari keberadaan NIko.


"Dimana dia?" tanya Vania mulai mengenakan pakaian lengkap.


"Mas Niko?" panggil Vania celingak-celinguk di ruang tamu hingga mencari ke area dapur, lalu Vania berlari menuju kamar Jex.


"Jex juga tidak ada...dimana mereka?"


Vania terlihat cukup panik, kemudian menelpon ke nomor ponsel Niko, ponsel Niko masih dalam kondisi tidak aktif, hingga ia mendengar suara-suara riang anak kecil dari balik jendela yaitu sebuah ruangan yang mengacu pada area balkon ujung (teras Apartemen tepatnya area ruangan yang di batasi oleh jendela kaca)


Saat Vania mengintip dari balik tirai, ternyata Niko sedang berenang bersama Jex, ia juga tidak menduga ada kolam renang kecil disana.


Jex yang terlihat riang dan senang, layaknya balita biasa yang sangat suka dengan air.


Tanpa Vania sadari bibirnya tersenyum merekah saat fokus menyaksikan sebuah kebahagiaan yang tidak bisa ditukar dengan apapun.


"Sungguh Ayah sambung yang perduli,

__ADS_1


Entah mengapa setelah bangun dari tidur, aku begitu yakin jika Mas Niko adalah jodohku, kekasih yang harus aku pertahankan!" gumam Vania dalam mata berkaca-kaca.


*


Terlihat Jex tertawa dengan riang dalam aksi Niko sebagai Papa sambungnya.


Keduanya bermain dengan ceria di dalam kolam renang, dimana seorang Ayah sedang menghibur kesepian anak.


Niko juga mengajarkan dasar-dasar berenang untuk anak balita sesuai Jex.


"Dia sangat mirip dengan Romi, anak yang tampan juga cerdas, tapi aku tidak tau apakah momen kebersamaan kami hanya ditakdirkan cukup sesaat saja, jauh dalam lubuk hatiku, aku senang sekali dengan anak ini, bahagia jika aku harus mengasuhnya sampai dewasa!" hati kecil Niko berkata.


Melihat hal itu, Vania langsung berlari ke area dapur memperhatikan isi kulkas, lalu berinisiatif membuat sarapan sederhana yang di sukai keluarga kecilnya itu yaitu omelet, jus dan nasi goreng plus terlur dadar kesukaan Niko.


Tidak butuh lama bagi Vania menyiapkan sarapan cepat itu dengan bantuan peralatan memasak yang canggih.


"Haloooo" teriak gembira Vania dengan senyuman manisnya muncul sambil membawa sarapan untuk Niko dan Jex.


"Mammah!" Reflek Jex langsung berteriak kegirangan. Niko langsung membawa bocah kecil itu menuju tepi karena tidak sabar ingin mendapati ibunya yang membawa makanan.


Mereka sarapan bersama, Jex menikmati maknanya sambil menonton di sebuah tablet kecil.


Vania yang asik dengan Jex, Niko merasa ingin diperhatikan juga, sehingga menyentuh lembut paha Vania.


Reflek wanita itu tersenyum manis.


"Mas, terima kasih yah, kamu sudah hadir untuk Jex, aku baaaaahagia sekali!" kata Vania dengan mata berkaca-kaca.


"Iyah sayang!" jawab halus Niko dengan senyum dinginnya.


"Tidak banyak yang tau, seberat apa penderitaan seorang janda yang tidak memiliki suami, perasaan seorang ibu cukuplah sakit ketika anaknya harus berteriak memanggil nama sebutan Ayah, apalagi jika Jex nantinya besar, akan melihat banyak orang lain sedang bersama Ayahnya, sementara ia tidak.


Aku tau jika Paman dan Bibi ku hanyalah memanfaatkan aku saja, tapi aku berusaha bertahan karena Jex butuh mereka, aku tidak ingin Jex merasakan seperti apa sakitnya hidup sendiri tidak memiliki saudara apalagi orang tua," ucap Vania menunduk sambil meneteskan air matanya.


"Terkadang sendiri itu lebih baik daripada bersama-sama menimbulkan masalah!" jawab singkat Niko.

__ADS_1


"Iyah juga sih!" Vania menunduk sedih.


"Hanya sekedar ucapan terima kasih doang?" goda Niko sambil menaikkan alis nakalnya kemudian mengambil piring sarapannya, lalu menyodorkan kepada Vania, memberi isyarat agar wanita itu menyuapi dirinya.


__ADS_2