
"Apa kau sudah gila, berteriak di saat aku sedang menyetir!" hentak Ferdy tidak mau disalahkan, pria itu segera meminggirkan mobilnya.
"Yah, aku memang sudah gila, gila karena hidup bersama kalian!" nada keras Vania membalas ucapan Ferdy.
"Bukankah aku sudah katakan, jangan pernah melawan pada Niko dan jangan sok-sok jagoan untuk menantangnya!" ucapan Vania penuh tekanan yang terlihat sedang menahan emosi.
"Dia menendang bokong mu seenaknya seperti itu, kau menerimanya?" kata Ferdy.
"Bukankah aku ditakdirkan hidup di dunia ini memang untuk disiksa???" tantang Vania dalam sorotan mata yang sangat tajam menatap Ferdy.
Ferdy tidak bisa menyangkal Vania.
"Selain Papa, Niko adalah satu-satunya pria yang bisa membuat aku bahagia, tersenyum dan melupakan semua pahitnya tentang kehidupan ini, sedangkan kau, Pamanku sendiri sebagai pengganti Papa, hanya bisa menyiksaku, mengambil hak ku, tidak hanya sampai disana, kau juga menikahkan paksa aku dengan pria psikopat seperti Romi? Hampir setiap hari dia menyiksaku baik fisik maupun batin, apa kau tidak menyadari itu, atau benar-benar tidak sadar!" bentak Vania yang sudah geram kepada Pamannya.
"Vania, Romi itu anak baik, kau hanya perlu waktu untuk bersabar?"
"Bersabar, dasar kau memang Paman gila, apa kau tidak mengerti jika dia itu bersekutu dengan iblis!"
Ferdy terdiam dan menunduk.
"Dan kau tau hal itu!" Vania tidak mampu menahan air matanya kecewanya.
"Andai Papa masih hidup, dia pasti sudah akan membunuhmu!"
"Aku....tapi...!" Ferdy mulai gugup.
"Kau kejam paman, aku mengerti kau mencintai keluarga mu dan ingin sekali membahagiakan mereka, tapi haruskah aku menjadi tumbalnya! Apa yang dikatakan Niko semuanya benar, kau benar-benar Paman yang tidak berguna!"
"Lagi-lagi aku masih menerima kalian, memaafkan semua perlakukan kasar Kalian, membuka kesempatan untuk bersama lagi, dan ini terlihat konyol dimana Niko, karena aku sadar, aku tidak akan bisa pisah dengan Kalian, sejahat apapun kamu, kau tetap Pamanku. Aku mengerti perasaan Niko, tentu dia marah dan sakit hati karena aku sudah mempermainkannya, aku yang memaksanya agar ia masuk ke dalam kehidupan ku, dia tidak salah apa-apa meskipun hubungan kami terlarang, aku tidak tau apa yang aku pertahankan ini benar atau tidak? Tapi kau seharusnya mengerti Paman, bahwa kalian sangat berarti untukku. Mengapa orang lain bisa mengerti aku tetapi kalian tidak?"
Ferdy terlihat diam seribu bahasa tak mempu membalas perkataan Vania.
"Aku salah apa Paman?"
"Aku salah apa? Bisakah kau menjelaskannya, selama ini aku tidak pernah membantah apapun yang kalian perintahkan?" isak tangis Vania yang berat.
"Vania, Paman minta maaf, saat itu usahaku benar-benar diambang kehancuran dalam hutang yang menumpuk, aku benar-benar bingung, aku tidak ingin melihat Tante mu menderita dan hanya Romi yang bisa menyelematkan kita saat itu, dia sangat ingin menikahi kamu bahkan mengancam ku jika aku menolaknya, jujur awalnya aku tidak tau jika Romi memakai kekuatan supranatural yang bersekutu dengan Iblis, yang Paman tau dia itu anaknya baik, Paman pernah mengenal keluarganya.
Sudah lah, aku tau aku salah, kedepannya kita sama-sama memperbaiki semuanya dengan benar, lagian Tante mu juga sudah berjanji tidak akan mengulangi tindakan kasar yang pernah ia lakukan kepadamu, sebaiknya kita pulang, jex sudah menunggumu?"
__ADS_1
Vania tampak diam dan murung.
Ferdy kembali melajukan mobilnya.
***
Di lain waktu, nampak Benny memasuki Gerbang rumah Niko yang masih dalam kondisi terbuka. Kemudian memarkirkan mobilnya dengan rapi. Dokter muda itu keluar dan memperhatikan suasana.
"Mobilnya ada, mengapa gerbangnya tidak di tutup, tidak biasanya seperti ini!" gumam Niko terheran-heran.
Niko paling menjaga privasi keamanan rumahnya.
Tidak ingin membuang waktu Benny mengambil semua peralatan medis dari mobilnya dan berjalan lebih cepat memasuki rumah Niko.
"Tidak dikunci?" Benny kembali terheran-heran ketika mendapati pintu rumahnya juga tidak tertutup sempurna dan semakin mempercepat langkahnya dengan perasaan khawatir.
"Nik, dimana kamu?" tanpa melihat Niko yang sudah terlungkup di bawah sofa, Benny terus memacu langkahnya menaiki tangga mencari Niko di dalam kamar Namun tidak menemukan sahabatnya itu.
"Ben!" Nada suara meringis Niko terdengar oleh Benny sehingga kembali turun mencari asal suara Niko.
"Nik!" Benny terkejut melihat kondisi lemah Niko dalam bibir dan wajah yang pucat, Niko dalam posisi terlungkup dan berusaha bangkit, Dokter muda itu bergegas membantu Niko untuk naik ke atas sofa.
10 menit kemudian.
Perlahan kondisi Niko membaik, dan ia terlihat mulai bisa mengatur nafasnya dengan mudah, Niko tampak diam dalam pandangan yang Lesu.
"Nik asam lambung mu cukup tinggi, dan ini enggak bakalan kambuh jika kamu berhenti memikirkan perempuan lagi, juga memperhatikan asupan gizi setiap pagi."
"Apa kau Masih memikirkan Vania dan mengapa gerbang dan pintu rumahmu bisa-bisanya tidak terkunci!"
Sorotan mata Benny melihat kaca meja yang retak.
"Apa yang terjadi???" Benny terus bertanya.
"Dia sudah mati, dia tidak akan hidup lagi di kehidupan ku?" jawab Niko menatap langit-langit.
"Vania lagi???"
Niko tidak membantah tebakan Benny berarti itu pertanda benar.
__ADS_1
"Huuuft, tapi kau masih menyuruhnya datang untuk menemui mu?
"Aku tidak menyuruhnya datang ke rumah ini, dia yang datang sendiri!" nada Suara Niko yang keras.
Niko lalu menceritakan kejadian yang terjadi malam itu.
"Begitu bertemu dengan Vania kau sampai lupa mengunci pagar dan pintu???"
"Wah, benar-benar mengalihkan duniaku!" canda Benny geleng-geleng kepala melihat ke bucinan Niko.
Niko masih dengan wajah masamnya.
"Okey? Tapi karena semua itu kau yang memulai lagi?
Nik, sudahlah, jika kau sudah tidak mencintainya lagi sangat membencinya, move on! Hidup tidak hanya memikirkan tentang yang itu-itu saja!
Kau sudah menghancurkan perusahaan Romi, bukankah itu sudah cukup?"
"Tidak! Selagi ia masih bersama Pamannya aku akan terus menghancurkannya, artinya dia tidak memihakku, ia masih bertahan dengan apa yang ia pilih!" ucap tegas Niko.
"Ternyata dia masih berharap Vania ada di pihaknya?" gumam Benny.
"Permainan belum selesai, Kau tau aku sudah berjuang dan berkorban untuknya, tapi dia melenggang pergi begitu saja, dan konyolnya ia masih mau hidup bersama Paman yang tidak pernah memberikan ia kebahagiaan, sakit Ben, sakit banget!" kata Niko memegang dadanya.
"Ia Nik, tapi...!"
"Aku sadar, aku ini adalah selingkuhannya tapi bukan begini caranya, bukan begini!" ucap NIko masih penuh amarah.
"Huuuft!" tarikan nafas Benny yang cukup lelah melihat hubungan percintaan temannya itu.
"Sampai kapan Nik?"
"Aku akan menebas sampai ke akar-akarnya, permainan sudah di mulai, harus di akhiri dengan sempurna?"
"Okey, untuk itu, aku tidak ingin ikut campur lagi sob! Tapi sebagai Dokter, fokuslah kepada kesehatan kamu. Ada banyak karyawan yang harus kau pimpin, ada keluarga yang selalu menginginkan kesehatan mu!"
Niko terlihat murung.
"Sebaiknya kau harus operasi perbaikan lambung! Aku akan menelpon dokter spesialis ahli dalam dari Jerman!"
__ADS_1
"Baiklah!" angguk Niko pasrah dengan kesehatannya.