
Sidang perceraian Vania Keisya dan Romi Salman tengah berlangsung tertutup di sebuah pengadilan agama. Satu persatu pengacara Niko untuk Vania masih berjuang mengutarakan hak Vania, prihal agar bercerai dari Romi, mereka juga menunjukkan bukti-bukti KDRT, perselingkuhan dan lain sebagainya.
Vania juga mendapat banyak pertanyaan dari Hakim yang akan memutuskan hasil sidang perceraian yang sudah ada di tahap terakhir itu.
Meskipun Romi tidak duduk disana karena alasan kesehatan, namun atas perintah Romi, pengacaranya menyetujui gugatan yang dilayangkan kepada pihak tergugat.
Berdasarkan hasil dari kesimpulan kasus perceraian itu, akhirnya Hakim membacakan keputusan yang diambil, bahwa gugatan perceraian Vania Keisya untuk Romi di terima dan nyatakan sah bercerai sebagai pasangan suami istri. Saat Hakim hendak menjatuhkan ketukan palu.
"Tunggu Pak Hakim!" ucap Vania berdiri tegak.
Niko yang sudah terlihat bahagia di dalam mobil, sontak terhentak bangkit dari sandarannya melihat aksi Vania dan mulai begitu fokus menatap layar.
"Apa yang akan ia lakukan!" gumam Niko mulai cemas.
*
"Boleh kah saya bicara?" tanya Vania menatap Hakim.
"Silahkan!" jawab sang Hakim dari atas kursinya.
Vania sejenak terdiam mengambil nafas panjang, melawan rasa takut juga khawatir yang tinggi tetapi akhirnya ia bisa berbicara.
"Memang perceraian ini adalah hal yang sangat saya inginkan, apa yang disampaikan oleh pengacara saya, semua benar adanya, tidak ada yang direkayasa sedikitpun. Ada banyak masalah yang tengah saya hadapi dengan Romi Salman selama kami menjadi pasangan suami-istri, tapi disini sebagai perempuan yang benar-benar lemah, tidak punya pilihan dan sangat bingung tetapi harus berkorban dalam segala hal.
Pak Hakim yang terhormat dan semua pengacara saya, juga kepada Luna Inara sahabat saya yang sudah berjuang keras mendukung saya, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada kalian, disini saya telah berubah pikiran untuk membatalkan perceraian ini dan mencabut semua gugatan bercerai dari Romi Salman dengan alasan...dengan alasan...
(Terdiam, Vania meneteskan air mata menahan sejuta perasaan, terutama tentang hubungannya bersama Niko Oscar, sejenak ia terbayang, saat bertemu dengan pria itu dan mulai jatuh cinta dengannya, serta kebahagiaan mereka yang sudah berencana ingin menikah dan membangun mahligai rumah tangga baru yang lebih bahagia, tetapi semuanya seperti bangunan megah yang terbuat dari pasir, runtuh seketika saat ombak tenang menyapu pantai)
Dengan alasan...Saya sedang mengandung anak dari Romi Salman yang belakangan ini baru saja saya ketahui?" ucap Vania langsung terduduk lesu menunduk menahan rasa malu yang besar, ia yakin semua pihak yang selama ini ada mendukungnya pastilah sangat kecewa,
Ratih mantan pengacara Vania ternyata hadir sebagai tamu disana.
"Terima kasih Vania, Aku sangat kagum kepadamu, Jauh dari lubuk hatiku yang dalam, aku sungguh kasihan dengan kamu, tapi memang pilihan ini lah yang terbaik, pilihan yang tidak akan pernah kau sesali kelak!" Ratih tersenyum haru dalam mata berkaca-kaca.
Semua yang mendengar pernyataan Vania sontak terkejut hebat termasuk Niko di dalam mobil.
__ADS_1
Sementara Romi hanya bersandar sambil memejamkan matanya menunggu jalan persidangan usai, ia tidak mengikuti jalan persidangan itu berlangsung di dalam mobil seperti Niko. Karena Romi sudah tau hasilnya.
*
"Apa?...Apa yang dia katakan, mengapa bisa jadi seperti ini!" ucap Niko tidak percaya menahan rasa emosi, kecewa, patah hati dan ingin marah di dalam mobil.
Saat mendengar pernyataan dari Vania, suasana persidangan itu kini riuh dengan suara-suara sumbang karena para pengacara saling bertanya-tanya, termasuk Hakim yang terpaksa kembali berdiskusi dengan rekan lainnya.
"Niko, Maafkan aku, aku tau kau akan sangat marah dengan keputusan ku ini, kau pasti akan membenciku, ini tentu tidak adil bagimu, aku juga sudah sangat merepotkan kamu, maafkan aku Niko, tapi hidup Romi lebih tidak beruntung dari kamu?" Gumam Vania yang masih menunduk.
Mendengar pernyataan Vania, Frans yang mengawal jalan persidangan sontak berlari keluar kegirangan menuju mobil Romi.
"Bos! Tidak terduga, akhirnya Nona Vania mencabut gugatan perceraian ini Bos dan membatalkan persidangan karena kondisinya yang sedang hamil!"
"Benar kah?" jawab lesu Romi dalam bibir yang pucat.
"Benar Bos!"
Romi hanya tersenyum tipis, dalam hati yang sangat bahagia.
*
*
Hasil diskusi para Hakim;
"Berdasarkan keputusan Hakim, kami sebagai majelis hukum pernikahan menerima dan mengabulkan permintaan sdri Vania sebagai pihak penggugat untuk rujuk kembali dengan sdr Romi Salman sebagai pihak tergugat agar kembali menjadi pasangan suami istri yang sah di mata hukum dan agama. Dengan segala hormat, Hakim membatalkan sidang perceraian ini. Sidang ditutup.
"Dum...Dum...Dum" suara keras ketukan palu hakim, bukan ketukan perceraian namun ketukan untuk rujuk kembali.
"Vania!" Ratih berlari dan langsung memeluk Vania.
Seketika pengacara urusan NIko berkata sinis kepada Vania.
"Harusnya sebelum bertindak, sebaiknya kamu berpikir dulu jangan membuat malu dan merepotkan orang lain!"
__ADS_1
"Saya minta maaf🙏🙏 " ucap Vania menunduk.
Satu persatu pengacara Niko keluar dengan rasa kecewa, baru kali itu mereka mendapatkan pekerjaan yang sia-sia. Karena malu mereka tidak ingin bertemu Niko, langsung melaju kencang dengan mobilnya masing-masing meninggalkan area pengadilan agama.
**
"Hiks...hiks...hiks...!" Vania menangis tersedu-sedu dalam pelukan Ratih. Ia yang sebenarnya tidak mampu menahan rasa perasaan kecewa, kesal dengan pilihannya sendiri, bercampur aduk menjadi satu, karena Vania terus memikirkan Niko, pria yang ia cintai dan selalu ada untuknya."
Ratih Zelin membiarkan tangis itu pecah di pelukannya sambil mengusap-usap lembut kepala Vania.
"Mba....Mas Niko!" ucap Vania dalam airmata berderai.
"Dia pasti sangat marah kepadaku...hiks...hiks...aku ini perempuan jahat, aku...aku sudah melukai hatinya...hiks...hiks...aku jahat sekali kan!" wajah tangis Vania dalam airmata yang tidak terbendung.
"Vania, tenang lah, kuatkan dirimu, sebenarnya kau sudah melakukan apa kata hatimu!"
"Aku...enggak kuat Mba...!"
"Jika Niko adalah jodohmu, kalian akan bertemu lagi, bersatu lagi, percaya kepada ku Vania!" Ratih menguatkan Vania.
"Itu tidak mungkin lagi Mba, tidak mungkin!" tangis Vania semakin histeris seolah-olah ia sangat menyesal telah meninggalkan Niko, hatinya begitu sakit.
"Vania, sabarlah sayang, hidup ini harus bersabar, hidup memang perjuangan, hidup juga sangat lelah, tapi jika kau kuat menjalaninya, Mba yakin sekali kau akan bahagia, fokuslah kepada kehamilan mu, kehamilan ini menandakan, jika Tuhan tidak merestui perceraian kalian! Kepedihan mu akan hilang setelah melihat bayi mungil itu lahir ke dunia dan ia akan bangga kepada ibunya karena tidak meninggalkan Ayahnya!" Ratih mengusap lembut kedua pipi Vania dan berusaha menguatkan keputusan yang sudah dipilih oleh wanita itu.
*
Tidak terduga, dengan sangat keras, Niko menubruk mobil hitam milik Romi dari belakang.
"Gubrak!!!"
Sontak Romi yang sudah membuka borgol tangannya terhentak keras dari sandarannya.
Dalam emosi berapi-api. Niko keluar dari mobilnya dan menendang badan jendela mobil Romi.
"Pengecut, keluar kau?" hentak Niko penuh emosi.
__ADS_1