
Jantungku terus berdetak kencang, aku sangat khawatir dengan kondisi Vania, hidungnya tidak bisa berhenti mengeluarkan darah segar sampai aku harus menyumpalnya dengan kapas, Ya Tuhan, ini adegan paling menegangkan dalam hidupku, aku sangat berterima kasih, jika ENGKAU masih memberikan ia kesempatan untuk hidup sekali ini saja agar bisa bahagia tanpa orang-orang yang terus mengusiknya!
Niko tampak kalut dan sangat tegang, ia serasa tidak sabar ingin segera sampai di rumah sakit dan memberikan pertolongan kepada Vania.
"Tubuhmu masih hangat pertanda kau masih hidup!"
"Bertahanlah Vania, aku yakin ini akhir dari penderitaan mu!" Niko yang terlihat geregetan.
Saat mobil Niko menapaki lobi Rumah sakit terdekat, Pria itu sekuat tenaga mengeluarkan Vania dan menggendongnya, Bagas terlihat dengan sigap dan cukup sibuk untuk segera memanggil suster dan Dokter.
Seketika mereka di sambut oleh tim medis disana. Tubuh Vania dibaringkan di bed dorong dan terus melaju memasuki ruang UGD. Kemeja dan Jas Niko ternodai oleh bercak darah Vania.
Saat pintu tertutup dan Vania langsung mendapatkan perawatan intensif dari tim medis disana.
"Huuuft!" Niko terduduk lesu, lemas tidak berdaya, ia mendongakkan kepalanya bersandar di dinding dalam perasaan tegang menunggu kabar dari Dokter.
"Tenanglah Bos! Saya yakin dia masih hidup?" ucap Bagas menenangkan perasaan Niko.
"Aku harap berita ini tidak muncul di media!" pinta Niko.
"Siap, saya parkir mobil dulu yah Bos!"
"Ok!"
Niko masih duduk di ruang tunggu menunggu hasil pemeriksaan Dokter.
Tampak pria itu mengeluarkan ponsel dari sakunya.
"Tuuuuuut!" mencoba menelpon Luna Inara, selain keponakan angkat Niko, Luna juga salah satu tim sekretaris NIko di perusahaan Oscar99.
"Siang Pak!" sambut manis Luna di ruangannya.
"Luna, bisakah kau amankan Jexsen, putra Vania?" pinta Niko.
Luna sempat terdiam dan terkejut mendengar permintaan Niko.
"Jexsen?"
"Iyah, Jexsen Alex Sander!"
"Paman masih berhubungan dengan Vania? masih ingin masuk kembali lagi dalam kehidupannya?"
"Bukankah kau yang memulai semua cerita ini? Kau juga yang dulu memaksaku untuk masuk dalam kehidupan Vania, untuk bisa menolongnya!" nada suara Niko yang dingin namun penuh tekanan marah.
Luna terdiam tak mampu berkata lagi. Ia sudah paham reaksi Niko yang akan segera membentaknya jika berani menyangkal lagi.
"Ba... baiklah!"
"Aku lagi malas bicara, jika kau ingin tau info lebih, tanyakan saja pada Bagas!"
"I...Iyah, siap!"
__ADS_1
"Trup!" Niko langsung memutuskan percakapan.
Saat telpon di tutup, Luna bergegas membuka tabletnya membaca agenda Niko Oscar hari itu.
"Hari ini Restoran Doyan Mangan milik Vania, disita?"
"Terus, kenapa aku harus mengamankan Jexsen putra Vania? Vania sendiri kemana?" tidak tahan dengan rasa penasaran akhirnya Luna mencari tau dengan segera menelepon Bagas.
*
"Mas Bagas, apa yang sebenarnya terjadi? Baru saja Bos menyuruhku untuk mengamankan putra Vania! Memangnya Vania ada dimana?"
"Vania sedang dalam penanganan medis di ruang UGD, kondisinya darurat!"
"Apa?" Luna begitu terkejut.
"Sejak Bos mengambil paksa Restoran Doyan Mangan milik Vania, tidak lama kemudian terjadi kegaduhan besar antara Vania bersama Tante dan Pamannya, aku tidak paham apa yang terjadi, yang pasti kami sudah mendapati Vania dalam kondisi yang cukup parah disana, Pamannya juga dalam kondisi kritis, di duga pelakunya adalah Tantenya sendiri, Karena dia adalah satu-satunya orang yang masih sehat disana sedang memegang pisau tajam, Tantenya tidak terima atas penyitaan Restoran yang sudah mereka bina susah payah, lalu marah besar kepada Vania karena sudah berselingkuh dengan Bos, dan sepertinya Pamannya membela Vania, mungkin ceritanya seperti itu, Polisi masih menyelidikinya!"
"Ouh, Makasih Mas atas informasinya, Luna akan segera mengurus Jexsen, Putra Vania!"
"Dan sepertinya Bos lagi sensitif, dia sangat khawatir dengan kondisi Vania, tolong jangan banyak bertanya, jika ada masalah kantor kau bisa bertanya kepadaku saja!"
"Baiklah Mas Bagas!"
"Trup!"
*
"Si nenek lampir tidak tau diri, sampai detik ini masih juga terus memanfaatkan dan menyakiti Vania, bisa-bisanya juga Vania masih percaya dengan mereka
"Ternyata Paman benar-benar mencintai Vania, dia masih memikirkan kondisi Vania meskipun selalu berkata ia sudah tidak perduli lagi. Dasar si pria dingin, selalu bertahan dengan perasaannya. Nanti aku akan cerita ke Mama, biar tau rasa dia!" Luna bangkit dan segera menuju rumah Vania yang tidak jauh dari kantor Oscar 99 yang baru di bangun.
*
Tampak di ruang yang cukup dingin dokter masih melakukan pemeriksaan intensif kepada Vania.
Dalam kehidupan yang jauh, terlihat hamparan rumput hijau yang luas, seluas mata memandang, begitu indah dengan sekelompok bunga-bunga yang wangi bermekaran.
"Tempat ini indah sekali?" ucap Vania melihat bayangan ayah, ibu dan kakaknya berlarian ceria disana.
Seketika perempuan cantik itu mengejar mereka yang sangat ia rindukan. Namun bayangan itu pergi menghilang bak di telan cahaya.
Vania terus mengejar namun pandangannya teralihkan dengan indahnya pemandangan disana.
"Kemana kalian pergi?" Vania masih terus mengejar.
**
"Trek" Suara bukaan pintu tanda tim medis selesai memeriksa kondisi Vania.
Seketika itu pula Niko bangkit mendapati sang Dokter.
__ADS_1
"Bagaiman kondisinya Dok!"
"Kondisinya masih setengah sadar Mas, tapi dia baik-baik saja, nantinya dia akan terbangun sendiri, hanya ada sedikit pendarahan kecil di hidungnya, namun kami sudah menanganinya, ia hanya kelelahan dan mengalami depresi kecil!"
"Terima kasih Dok!"
"Sama-sama!" ucap sang Dokter pergi meninggalkan Niko.
"Huuuft, syukurlah dia masih hidup?" ucap Niko merasa lega.
Di waktu yang tidak lama, Ferdy juga dalam kondisi kritis di rumah sakit yang sama. Namun Niko enggan untuk melihat pria tua itu.
"Dengan Mas Niko!" sapa seorang suster.
"Iyah benar!"
"Mari Mas ke bagian Administrasi dulu!" ajak si suster.
Niko melengkapi berkas Vania sebagai orang yang menjamin seluruh pembiayaan administrasi rumah sakit.
"Tolong tempatkan Vania Keisya di kelas yang terbaik, saya tidak ingin ada pelayanan buruk terhadap dia dan semua biayanya kalian bisa klem ke Perusahaan Oscar99," Niko memberikan nomor ponsel staf keuangannya.
"Baik Mas Niko!" senyum manis dan ramah staf resepsionis disana.
"Em Maaf Pak, bagaimana dengan pasien yang bernama Ferdy yang juga baru masuk di ruang UGD!"
"Iyah, klem ke Oscar99 juga? Tapi untuk kelasnya terserah kalian!" ucap Niko tidak perduli.
"Baik Pak!"
*
Niko melangkah keluar menghampiri Bagas yang masih setia menunggu atasannya itu.
"Bagaimana Bos, apa kondisi baik-baik saja!"
"Kamu benar, dia masih hidup! Namun masih belum sadar, Dokter mengatakan dia baik-baik saja!"
"Syukurlah!"
"Sebaiknya kamu balik saja ke kantor, aku akan ke kantor polisi, mengurus kasus ini!"
"Apa sebaiknya Bos tidak menunggu Vania sampai ia sadar?"
"Tidak perlu yang penting dia masih hidup!" ucap Niko.
Bagas hanya mengangguk.
"Ouh Iyah, kabari pengacara wanita yang pernah menangani kasus perceraian Vania dan Romi, siapa tau dia ingin melihat Vania?"
"Maksud Bos, pengacara Ratih!"
__ADS_1
"Iyah!"
Kedua pria itu kembali ke Resto Doyan Mangan untuk mengambil mobil Bagas kemudian Niko meyelesaikan kasus Erly di kantor polisi dan Bagas kembali ke kantor.