Mr Cool Falling In Love.

Mr Cool Falling In Love.
Bab 46


__ADS_3

Vania tidak berani meraih ponselnya untuk menerima panggilan dari Erly, sang Tante.


Emosi Niko tampak mulai menurun malam itu kepalanya terasa pusing jika memikirkan tentang Vania. Ia terus memegangi dahinya, sambil memejamkan mata.


"Jika sudah begini siapa yang harus aku salahkan, hubungan yang cukup rumit, demi menjaga reputasi ku, aku tidak mungkin kembali dengan perempuan ini lagi!" gumam Niko.


Sejak gagalnya perceraian antara Vania dan Romi serta runtuhnya perusahan one & one, berita tentang Niko sempat terseret dan disebut-sebut sebagai orang ketiga atau pengganggu rumah tangga Romi serta dalang dari kehancuran perusahaan One & One, tidak sedikit uang yang harus Niko habiskan untuk mencuci nama baiknya kembali serta keluar dari permasalahan itu dan ia juga sudah sempat membuat klarifikasi kepada media bahwa ia tidak memiliki hubungan apa-apa kepada istri dari partner bisnisnya, itu hanya gosip belaka.


Suasana sempat hening, sampai-sampai bunyi jam dinding di rumah Niko terdengar jelas, rintik-rintik hujan yang membasahi bumi mulai mereda malam itu, meninggalkan jejak embun di setiap ujung dedaunan tanaman hias yang menghiasi ruangan terbuka di rumah Niko. Keduanya sama-sama terdiam dalam goresan wajah yang memiliki beban tersendiri serta sulit untuk dipecahkan.


"Akibat ulah mu, maag ku Kembali kambuh, tugas yang pertama yang harus kau lakukan adalah memperhatikan kondisi sarapan ku setiap pagi, asupan gizi pagi menjadi penentu kesembuhan lambungku!" tegas Niko.


"Hanya itu saja!" kata Vania menatap wajah Niko dengan serius.


"Kau harus menemukan cara setiap hari, bagaimana aku...terus bisa membencimu!" kata Niko membuat Vania terdiam.


Ponselnya Vania kembali berdering.


ia memberanikan diri untuk menerima panggilan itu.


"Halo Tante!" Vania bangkit dan menghindar.


"Kamu pulang jam berapa Vania?" tanya Erly.


"Iyah sebentar lagi Tante, daerah rumah Niko masih hujan!"


"Jex Nangis terus!" Erly tidak pandai mengurus bayi tanpa bantuan Babysitter.


"Setelah ini aku akan kembali!" jawab Vania.


"kirimkan lokasi keberadaan kamu, Paman mu sedang dalam perjalanan, aku akan menyuruhnya agar segera menjemput mu!"


"Baiklah!"


Setelah percakapan itu berakhir, Vania langsung mengirimkan lokasi keberadaannya kepada sang Paman.


Vania kembali menghadapi Niko.

__ADS_1


"Aku akan memenuhi apapun yang kamu inginkan, tapi tolong jangan usik usaha keluarga ku yang sedang kami rintis!"


"Ok!" kata Niko menatap Vania dengan rasa Bete.


"Aku turut senang kau bisa kembali dengan keluarga tercintamu itu, semoga mereka tidak menyiksamu lagi!" kata Niko membuat Vania terdiam.


"Apa yah kira-kira yang membuat Niko tidak menyukaiku, ouh Iyah, dia kan tidak suka di goda!" gumam Vania.


Tanpa rasa malu, dan berjiwa polos Vania menari tarian jaipong kocak yang amburadul serta menggoyangkan bokongnya mengguncang birahi Niko.


Melihat hal itu kedua bola mata Niko langsung melotot tajam dan jantungnya berdegup kencang, ia merasa geregetan abis.


Rasa itu membuat Niko Reflek menolak bokong Vania dengan ujung kakinya sehingga membuat wanita itu tersungkur sedikit ke depan.


"Aduh!" ucap Vania.


"Kenapa mendorong ku?" hentak Vania kesal.


"Apa yang kau lakukan!" Niko bangkit dengan kocak pinggang menahan senyum.


"Bukankah tadi Mas Niko menyuruhku melakukan cara agar Mas membenciku!" jawab Vania dengan bibir manyunnya.


"Haduh mengapa wanita ini bodoh sekali, apa dia tidak sadar bahwa bokongnya itu bisa membuat 'jagoan' ku terasa mendenyut"


"Vania!" panggil keras Ferdy dengan wajah tidak sukanya.


"Paman!" ucap bengong Vania terkejut melihat kehadiran Ferdy yang muncul secara tiba-tiba di hadapan mereka.


Niko yang lupa menutup gerbangnya membuat Ferdy mudah memasuki area rumah Niko.


"Apa yang sedang kau lakukan disini?" berjalan mendekati Vania dan Niko.


Ternyata Ferdy sempat melihat Vania menari dan Niko menendang bokong Vania hingga tersungkur.


"Kau masih berhubungan dengan orang sombong ini, kau tidak tau siapa yang menghancurkan perusahaan suami mu?" Ferdy marah ke Vania dan terus menatap tajam ke arah Niko.


"Paman, jangan salah paham dulu, banyak yang tidak Paman ketahui!" ucap Vania.

__ADS_1


Entah mengapa emosi Niko kembali pitam, saat mendengar ucapan Ferdy, Karakter Niko yang keras, pria yang tidak terima disalahkan dengan konflik yang terjadi.


"Hai pria tua, memangnya kau orang miskin bisa apa? Selain memanfaatkan orang lain, termasuk keponakan mu sendiri!" ucapan pedas Niko.


Ferdy ingin melayangkan pukulan ke arah Niko.


"Paman...Paman...cukup! Ayo kita pulang!" Vania berusaha menarik tubuh Ferdy, namun pria itu menepisnya.


"Harusnya kau beritahu kepada Pamanmu yang tidak berguna ini, seperti apa cerita awalnya," ucap geram Niko menatap tajam Vania.


"Aku sudah tau semuanya, tapi benarkah kau seorang yang terhormat, mencintai wanita yang sudah memiliki suami dan ngotot untuk membantunya bercerai walau memang Vania yang menginginkannya, kau orang lain, kau bukan siapa-siapa, apapun yang terjadi, tidak seharusnya kau masuk dalam kehidupan keluargaku, apalagi sampai menghancurkan perusahaan One & One milik Romi!"


"Heh (tawa sinis Niko semakin panas, terlihat ia sedang menahan emosi) kenapa? Kau marah kepadaku, karena kau merasa dirugikan, tidak mendapat jatah harta sedikitpun dari Romi, justru ia memberikannya kepada Vania dan anaknya, padahal kau sudah berbakti penuh kepada Romi dan saat ini kau kembali berbaikan kepada Vania untuk menopang hidup bersamanya, apa kau tidak punya rasa malu sedikitpun, apa peranmu sebagai seorang Paman, dengarkan aku baik-baik pria tua, jangankan perusahan Romi, kau juga bisa ku habisi saat ini!" tatapan tajam Niko ke arah Ferdy.


"KELUAR KALIAN DARI RUMAH KU!!!!"


Bentak keras Niko yang super marah, menggema seisi rumah itu.


"Ayo Paman!" Vania menarik tangan Pamannya dengan sangat kuat.


"Vania...(Hentak Niko) kau tidak perlu berjuang untuk membayar hutangmu lagi, keputusanku sudah bulat, aku harus menyita apa yang kau miliki saat ini!" ucap geram Niko yang emosinya sudah mendidih parah.


Vania dan Ferdy tetap meneruskan langkah mereka keluar dengan cepat, tidak menghiraukan apa yang diucapkan oleh Niko.


Terus menuju pintu keluar lalu naik mobil dan pergi meninggalkan kediaman Niko.


"Dasar perempuan sialaaaaan!" Niko kecewa berat melihat Vania yang kembali berpihak kepada Pamannya bukan kepada dirinya.


Niko melampiaskan kekecewaannya dengan membanting keras meja kaca tebal hingga retak bagi dua lalu menjatuhkan dirinya di sofa. Lambung Niko semakin terasa sakit, ia meringis kesakitan dengan tangan gemetar berusaha meraih ponsel pintarnya dan menelpon Benny, Dokter pribadinya.


Di tengah jalan, Vania berkata;


"Berhenti Paman!"


Ferdy dengan wajah masam, egois terus melajukan mobilnya tanpa menghiraukan permintaan Vania.


Merasa frustasi Vania menjerit sekuat tenaga.

__ADS_1


"BERHENTIIIIIIIIII!!!!!!"


Sontak Ferdy kaget dan gugup buru-buru memberhentikan mobilnya.


__ADS_2