Mr Cool Falling In Love.

Mr Cool Falling In Love.
Bab 27


__ADS_3

Suasana pagi itu cukup senyap, hanya ada suara-suara kecil klakson beberapa mobil dari arah bawah gedung jalan raya.


Di area balkon teras, Niko tampak mulai berpikir keras, ia terus mondar-mandir menghembuskan asap rokoknya ke udara menggaruk kecil kepalanya, tanda masalah semakin runyam.


"Aduh bagaimana ini! Romi sudah tau jika aku yang membawa kabur istrinya, kemampuannya tidak bisa di anggap remeh."


"Tuuuuut!"


Niko mencoba menelpon beberapa orang temannya dari Jerman agar mendatangkan pengacara hebat, termasuk Benny yang tau masalah tentang dirinya.


Sampai pukul 04.00 pagi, Niko terus berusaha mencari jalan keluar.


Ponsel Niko kembali berdering panggilan dari Benny.


"Sory Nik, aku baru bangun, ada apa pagi-pagi sudah menelpon, ada yang sakit?" ucap polos Benny.


"Ben, aku sudah berhasil membawa Vania kabur dari Romi!"


"Wuih, keren?" mendengar hal itu Benny cukup kaget lalu terhentak dari tidurnya.


"Sekarang aku bingung, Romi bisa mengetahui jika aku pergi membawa Vania, tapi mungkin dia tidak tau dimana lokasinya dan yang bikin aku benci banget dan pengen aku tonjok tu anak, bisa-bisanya dia bilang aku ini doyan barang bekas? Apa perlu aku tunjukkan semua yang aku punya?"


"Hahahaha," spontan Benny tertawa terbahak-bahak pagi itu dan terdengar jelas di telinga Niko


"kenapa kamu jadi tertawa, ga lucu tau!" hentak Niko.


"Oke...oke...Nik, kenyataannya kan emang begitu, kenapa kamu harus marah!"


"Ben, lu jangan buat aku semakin emosi yah, aku hanya pengen bantuin Vania, wanita lemah?" gertak Niko.


"Adeeuh, udah lah, lagu lama Nik, basi! kalau Lu mau bantuin wanita-wanita lemah, di luar sana juga banyak tu, ibu-ibu janda yang kekurangan, kenapa lu enggak bantuin mereka aja, banyak pahala, masuk surga lagi!"


"Pusing ngomong sama lu" ucap Niko yang karakternya tidak bisa dibantah.


"Yah sabarlah, kamu tenang aja, tinggal bayar saja pengacara hebat, kumpulkan semua bukti jika mereka itu harus bercerai di mata hukum, setelah itu lu nikahin tu si Vania, selesai kan!"


"Ni bocah gampang banget kalau bicara, kamu bantuin aku donk!" pinta kerasa Niko.


"Kalau aku bantu kamu, aku dapat apa?" tantang Benny.


"Aku nikahkan Lu dengan Luna!" jawab Niko asal bicara.


"Hahahaha, sory yah Nik, aku enggak tertarik dengan keponakan mu itu, bibirnya terlalu tebal (memble) kalau ciuman ntar rasanya pedas lagi!" jawab kocak Benny menghibur kepanikan Niko.


"Stress lu, aku juga enggak rela memberikan Luna dengan dokter gila seperti kamu!" kritik Niko.


"Hahaha, canda Bro! Rileks aja, agar masalah kamu itu bisa mengecil!"


"Oke deh, Aku sudah mendatangkan pengacara handal!"


Tidak lama kemudian Vania terbangun dan menghampiri Niko.


"Sudah dulu yh Ben, nanti kita bicara lagi!"


"Ok!


"Trup!"


**


"Sudah bangun?"


"Aku boleh ganti pakaian!" pinta Vania.


"Hem, pakailah, memang aku beli buat kamu!" ucap jutek Niko namun perhatian.


Vania kembali masuk dan bergegas mengganti pakaian minimnya dengan pakaian yang lebih sopan, lalu kembali keluar mendatangi Niko.

__ADS_1


Angin Dini hari itu menerpa tubuh keduanya. kebisuan masih menghampiri mereka berdua, saling merasakan suasana sejuk dan langit yang menjelang fajar begitu teduh.


"Aku suka suasananya, benar-benar menenangkan!" ucap Vania memecah kebisuan.


"Iyah!"


"Ini Apartemen Mas Niko!"


"Sebenarnya, memiliki panthause mewah seperti ini adalah mimpi Isabella, kami sudah sepakat akan bermain bersama setelah punya anak nanti, tapi baru sekarang aku mampu mewujudkannya!" raut wajah sendu Niko menatap langit, pria yang belum bis move on seratus persen dari Almarhum istrinya.


"Nona Isabella sangat beruntung!" ucap Niko mengingatkan kembali kata-kata Vania tadi malam.


"Iyah?"


Suasana sempat kembali membisu.


"Maaf!" ucap serentak keduanya.


"Yah sudah kamu bicara duluan!" ucap Niko.


"Mas Niko saja"!


"Ladies first!"


"Maafkan Vania yah mas, sudah bertingkah konyol tadi malam!"


"Aku juga khilaf sudah mencium kamu tapi itu karena kamu lebih dulu mencium aku!"


"Cium? kapan Vania Mencium Mas Niko!"


"Waduh?? Apa tadi malam dia mengigau yah!" wajah Niko tampak memerah menahan rasa malu.


"Ee... maksud aku...lupakan saja!" jawab gugup Niko.


"Dua hari lagi pengacaraku dari luar akan segera datang, apa kau bisa memberikan bukti-bukti kuat yang akurat tentang KDRT pernikahan mu dengan Romi!" Niko dengan cepat mengalihkan pembicaraannya.


"Semua ada di handphone ku yang lama, Romi, sudah membinasakannya. Tapi aku pernah mengirimkannya satu kepada Luna."


"Ouh iyah!"


"Apa Romi memiliki kepercayaan magic, bisa dikatakan sesat?"


"Mas Niko tau?"


"Dari Inayah!"


"Bibi, apa dia baik-baik saja!" batin Vania.


"Kurang lebih begitu, tapi aku tidak tau dimana tempatnya, Romi memiliki kediaman tidak satu?"


"Begitu yah?"


"Lalu mengapa ia sering memukuli kamu, tapi terlihat romantis dengan selingkuhannya!"


"Baginya istri adalah korban sesembahan!"


"Hem, aneh?


"Romi itu tidak boleh mencintai wanita, menikahiku hanya untuk menjadikan aku sesembahan, sebab itulah dia tidak akan melepaskan aku. Ia boleh tidur dengan banyak perempuan tapi tidak boleh mencintai wanita."


"Aku tidak mencintainya, tidak masalah dia selingkuh. Tapi aku tidak tahan jika dia menyiksaku apa lagi saat menyetubuhi aku, terasa sangat sakit seperti bukan manusia."


Niko begitu serius menyimak perkataan Vania.


"Apa pengacara kamu lama masih bisa andalkan?"


"Sayangnya aku tidak punya uang lagi untuk membayarnya, dan Romi sudah merebutnya dari, aku padahal ia termasuk pengacara cerdas yang berhasil membawa sidang kedua perceraian kami!"

__ADS_1


"Kapan sidang perceraian ketiga berlangsung?"


"Mungkin sekitar satu minggu lagi, tapi aku tidak tau seperti apa sidang ketiga ini!"


"Tidak masalah aku akan membayar dia!"


Vania terdiam!


"Apa Romi sudah mengetahui jika Mas Niko yang membawa kabur Vania!"


"Hem?" Niko mengangguk dengan gaya dinginnya.


"Vania menyesal telah melibatkan Mas, harusnya biar saja Vania mati tersiksa!"


"Semua sudah terlanjur, buat apa di sesali!" jawab jutek Niko.


"Vania janji akan melakukan apapun untuk Mas Niko!" ucap kesungguhan Vania.


Niko hanya tersenyum tipis masih menepis perasaannya.


Keduanya kembali menikmati angin pagi.


"Apa Mas Niko lapar?"


"Ee... Lumayan lapar, tapi pagi-pagi begini restoran sudah pada tutup!"


"Aku akan memasak telur dadar!"


"Boleh lah?" jawab Niko malu-malu.


Vania tampak bergegas ke dapur.


"Ternyata tadi malam itu dia mengigau, syukurlah?" gimana Niko.


Niko yang ingin melihat Vania memasak, berjalan lambat mendekati perempuan muda nan cantik itu.


"Mas, Vania tidak pandai menghidupkan kompor listriknya?"


"Maklum orang udik!" senyum cengengesan Vania yang menggemaskan.


Niko mengajari Vania dengan senang hati.


Lalu memperhatikan Vania memasak telur.


"Aku tidak memasukkan apa-apa pak Bos! hanya irisan bawang, sedikit lada lalu, garam secukupnya," gaya ceria Vania depan Niko membuat pria itu tersipu malu sambil tersenyum-senyum sendiri.


"Aku suka banget telur dadar tapi mama tidak mengizinkan aku untuk memakannya setiap hari!" ucap Niko.


"Iyah sih, semua yang berlebihan itu tidak baik!" jawab senyum Vania.


"Tadaaaaaam, jadi deh!"


"Hem, harum banget!" Niko langsung merampasnya dan membawanya ke meja makan.


"Kamu Mau!"


"Buat Mas Niko aja deh!"


"Beneran!"


"Iyah!"


"Ok lah kalau begitu aku makan!"


Sangking groginya telur dadar yang masih panas langsung dilahap si Mr cool hingga reflek memuntahkannya kembali.


"Kenapa mas!" tanya panik Vania.

__ADS_1


"Panas!"


"Hihihihihi!" tawa Vania membuat Niko terpesona.


__ADS_2