Mr Cool Falling In Love.

Mr Cool Falling In Love.
Bab 41


__ADS_3

Waktu terus berjalan, satu tahun berlalu terhitung dari ketika Vania melahirkan.


Kisah Vania dan Niko sudah berlalu begitu saja, ini seperti season yang baru.


Klinik Benny.


Terlihat Niko duduk santai di atas sofa empuk, sambil bermain game. Niko dan Benny baru saja kembali ke Indonesia. Meskipun jadwal Niko pergi ke Amerika akan terus berlangsung dalam dua bulan sekali.


"Nik, Apa kamu sudah dapat kabar, Romi ternyata sudah meninggal!" ucap Benny usai memeriksa kesehatan Niko.


"Sudah basi?" jawab dingin Niko.


"Ouh Iyah? Perusahaannya hancur juga karena ulah mu!"


"Tidak juga, aku hanya mempercepat!"


"Wah, kalau begitu, Vania sudah jadi jandes dong!" komentar centil Benny terus menatap gaya dingin pria yang fokus dengan gamenya.


"Mau dia janda ataupun bunda apa urusannya denganku!" jawab jutek Niko.


"Beritanya sempat viral!"


"Gak perduli!"


"Hem...Iyah juga sih!"


"Terus, bagaimana dengan biaya membayar semua pengacara itu?" tanya Benny penasaran.


"Tentu akan aku tuntut dua kali lipat, kasih Jedah dulu, kasihan terus-menerus diserang!" jawab santai Niko mengakhiri permainan gamenya.


"Wuaaw, seru nih!" ucap Benny.


"Seru apanya?"


"Hehehehe!" tawa cengengesan Benny.


"Oh Iya! Bukan kah kau akan menunjukkan foto-foto wanita yang cocok untuk ku!" kata Niko mengalihkan pembicaraan.


"Ah, sebentar!" Dengan cepat Benny mengeluarkan album para wanita single yang menjadi pilihan Benny dari sebuah laci.


"Ini Bos! Semuanya sudah siap untuk dinikahi, mau due, tige, Empat pun boleh!" ucap Benny meniru gaya bicara opa Upin dan Ipin.


Niko hanya tersenyum tipis. Ia mulia membuka album itu.


"Ini bukan bekas Nik, semua masih original atau perawan, segar dan cantik-cantik, sesuai kualifikasi!" Benny tampak semangat ingin melihat Niko segera menikah.


Dalam gaya dinginnya, Niko melihat dengan cepat setiap wajah-wajah para wanita yang tertera di album dan ia pun terus membalik-balik album itu sampai di tahap terakhir, kemudian menutupnya kembali meletakkan di atas meja tepat di hadapan Benny.


"Loh...Loh...Yang mana satu, apa semua mau dinikahi?" ucap polos Benny.


"Kurang menarik, cari yang lain saja!"


"Nik, semua wanita disini pandai memasak telur dadar, kamu jangan khawatir!" Benny menegaskan.


"Bukan soal itu!"


"Terus apa dong?"

__ADS_1


"Mata-matanya mirip Suzana, serem!"


"Astaga!" Benny langsung tepok jidat.


"Aku pergi dulu, sudah ada janji dengan perusahaan properti! Oscar 99 membutuhkan gedung baru untuk kantor pusat!"


Niko melangkah cepat keluar dari klinik Benny.


"Haiis, ini sudah album ke empat, mengapa tidak ada cocok, atau jangan-jangan dia masih ada rasa dengan istri Romi itu!


Niko...Niko kita sudah berteman dekat, tapi tetap saja aku tidak bisa membaca pikiranmu yang cukup labil soal perasaan cinta," kata Benny menyandarkan tubuh lelahnya di kursi kerja.


***


Di dalam mobil, Niko bersandar sambil memejamkan kedua matanya.


Ponselnya tidak hentinya berdering dari berbagai kalangan bisnis.


"Hubungi Bagas dan Luna!" jawab cepat Niko langsung mematikan ponselnya dan kembali bersandar.


"Huuuft!" hembusan nafas lelah Niko.


"Erik!"


"Iyah Tuan!"


"Kita langsung menuju kantor pusat Oscar yang baru!"


"Siap Tuan!"


"Tlililit!"


"Siapa lagi sih!" ucap Niko kesal, ia begitu sulit untuk istirahat walau sejenak saja.


"Mala!" gumam Niko langsung menerima panggilan dari adik perempuannya itu.


"Mas, hasil rontgen jantung Mama sudah sampai di rumah, habis pulang kantor, Mas datang yah, Mala akan panggil Benny."


"Okeh!" jawab singkat Niko.


(Selama di Amerika, Niko membawa ibunya cek up seluruh organ tubuh, Priyana sering mengeluh di area dada sekitar jantungnya. Teryata ada yang bermasalah dengan jantung sang ibu, pengobatan lanjutan diperiksa sebulan sekali ke Singapura)


"Rasanya kepala ku mau pecah, aku lelah sekali, jenuh, mana Mama lagi sakit, pekerjaan banyak!" gumam Niko kembali bersandar dan memejamkan kedua matanya.


"Huuuft!"


Meskipun kehidupan Niko sempurna, ia hanyalah manusia biasa yang juga tidak luput dari masalah hidup.


**


"Tuan, kita sudah sampai!" tegur Erik membangunkan Niko dari sandarannya.


Sesampai di lokasi pembangunan, Niko sudah disambut oleh petinggi perusahaan properti yang meyelesaikan pembangunan kantor baru Oscar 99 serta beberapa disainer ruang interior perkantoran ternama.


"Selamat datang Pak Niko!" sambut mereka dengan salam jabatan hangat.


"Mari Pak, lihat hasil kerja nyata kita!"

__ADS_1


"Baik!" ucap Niko melangkah dengan gagahnya.


Niko Oscar selaku pemilik perusahaan yang bergerak di bidang otomotif mulai melihat arsitektur bangunan dengan teliti. Kesan elegan dan mewah tentu menjadi pilihan Niko.


"Bagaimana Pak?" tanya Bagas.


"Lumayan!"


"Jika ada yang kurang berkenan, Bapak bisa langsung sampaikan saja!" ucap Bagas yang sudah lebih dulu melihat lokasi gedung.


Niko terus memperhatikan bangunan yang hampir selesai itu. Hatinya cukup puas karena Bagas dan Tim lainnya mencarikan perusahaan properti sesuai selera Niko.


**


Di lain tempat.


"Sayang!" ucap lembut Vania kepada seorang balita yang mulai lincah berjalan di halaman rumahnya.


Anak Vania lahir berjenis kelamin Laki-laki, tampan juga menggemaskan bernama;


Jexsen Alex Sander.


"Awas jatuh!!!" teriak Vania berlari mengejar Jex si balita yang baru saja pandai berjalan, namun jex terus berjalan cepat dan terlihat bahagia saat ibunya mengejar dirinya.


Keduanya berlarian dengan suka cita, tertawa bahagia bersama.


(Suka duka Vania melahirkan jex yang sempat mengalami kecacatan sedikit di area bibir bayinya saat itu, di usia enam bulan, atas rekomendasi pihak Dokter, Vania membawa Jex terbang ke Korea Selatan untuk mendapatkan hasil operasi yang lebih bagus dan kini bibir Jex sudah kembali sempurna, namun Vania terpaksa menjual sebidang tanah peninggalan Romi, karena operasi itu menelan biaya yang cukup besar)


"Mau kemana kamu...mau kemana..hayo Mama tangkap lo!" teriak centil sumringah Vania terus menangkap, lalu mengangkat gemes putranya.


Vania Keisya kini harus menjadi ibu muda yang penuh tanggung jawab.


***


Niko, Bagas dan rombongan orang-orang dari property juga disainer terus mengitari bangunan yang hampir rampung itu. Niko mulai memeriksa ruangan kerjanya, lalu rombongan itu berjalan sampai keluar area balkon ruangan kerja Niko. Terhampar luas pemandangan komplek rumah penduduk.


Angin kencang mulai menyapu mereka.


"Bapak Bisa memeriksa pemandangan dari jauh dengan teropong kecil ini?" ucap Bagas menyerahkan benda itu.


Tanpa kata Niko, menerima tawaran Bagas.


lalu mulai meneropong area sekitar.


Tidak terduga, Niko sangat terkejut, matanya melotot saat mengamati sosok wanita cantik yang sedang berjoget ria dengan bahagia bersama anak kecil di halaman rumahnya, sambil melenggak-lenggok kan bokongnya yang terlihat jelas di mata Niko.


Wanita cantik itu tidak lain adalah Vania, sejak melahirkan, body goals Vania semakin berisi dan menarik. Depan belakang membesar sesuai dengan cita-cita para pria.


Arah teropong Niko berhenti pada ibu muda bersama anaknya itu.


"Mengapa si penipu itu bisa ada disana?" gumam Niko.


"Ada apa Bos?" tegur Bagas yang merasa seperti ada yang tidak beras dalam pandangan Niko.


"Ada penampakan!" jawab cepat Niko menyerahkan teropong pada Bagas lalu bergerak pergi. Dahinya tampak keringat dingin.


"Penampakan?" dalam rasa penasaran, Bagas kembali mengecek pemandangan dari area balkon.

__ADS_1


__ADS_2