
Erly berjalan perlahan membawa pisau tajam itu mendekati Vania dengan tampilan wajahnya yang seram ibarat psikopat yang siap menghabisi nyawa orang yang menjadi target untuk mendapatkan kepuasan batinnya.
"Kau harus mati dan menyusul keluarga mu di neraka!" kata Erly terus berjalan melangkah mendekati Vania.
"Jangan Tante, Jangan lakukan itu, Jex masih butuh Vania!" tangis ketakutan Vania.
"Hahahaha, memangnya aku perduli dengan hidupmu?"
" Apakah Niko sengaja menyita Resto ini untuk menunjukkan bahwa kebaikan Tante Erly adalah palsu!" gumam Vania.
"Ampun Tante!" ucap Vania.
"Aaargh!" akibat mundur tidak teratur perempuan malang itu menubruk sebuah kursi yang membuat ia terjatuh.
Langkah Erly semakin dekat membuat Vania semakin ketakutan.
"Jangan Tante! Vania Mohon Jangaaaaan!" jerit histeris Vania.
"Toloooong!" jeritan Vania meminta bantuan.
"Erly!" tegur Ferdy sang suami yang baru menyadari pertengkaran antara istri dan keponakanya itu, Ferdi yang tadinya sibuk menelpon temannya yang bisa membantunya untuk melawan Niko merebut kembali Restoran mereka.
Tanpa kata lagi Ferdy berlari kencang dan mendapati istrinya yang sudah gelap mata itu lalu berusaha ingin membuang pisau yang Erly genggam.
Pisau sempat terjatuh.
"lepaskan!" hentak Erly mendorong kuat Ferdy hingga tersungkur, usia Erly yang jauh lebih muda daripada Ferdy.
"Diam kau lelaki tua tidak berguna, jangan ikut campur, kau yang tidak pernah bisa membahagiakan aku sebaiknya tidak menghalangi setiap rencanaku!" hardik Erly kepada suaminya. Ferdy yang selama ini masih terseret hutang lagi sejak kehancuran perusahaan Romi. Niko benar-benar melumpuhkan usaha Romi sampai ke akar-akarnya termasuk usaha yang dikendalikan oleh Paman Vania itu.
Erly mengambil pisau itu kembali dan balik menghampiri Vania.
Niko terus melaju dengan kecepatan tinggi. Kevin terlihat merasa putus asa untuk membuka pintu kaca yang terkunci dengan kuat.
"Bagaimana cara membukanya, aku benar-benar tidak ahli!" kata Kevin sudah berusaha.
Pihak kepolisian juga balik menuju rumah makan Doyan Mangan itu bahkan Bahas mendatangkan tambahan polisi lainnya untuk membantu Vania.
*
__ADS_1
Vania sempat bersembunyi dengan tangan dan kaki yang gemetaran.
tapi dengan mudah Erly mendapatinya.
"Dasar bocah, mau kemana kamu lari, Hahaha!" tawa Erly yang menakutkan Vania.
"Erly, tolong kau jangan ceroboh dulu!" ingatkan Ferdy sambil berusaha mengambil pisau itu dari tangan Erly dan menenangkannya, namun hal yang terjadi keduanya terlihat berebut pisau hingga tidak terduga pisau itu malah menusuk bagian ulu hati Ferdy. Erly dengan cepat menarik pisau itu kembali dalam tangan bergetar.
"Argh!" ucap Ferdy tidak menduga, begitu juga dengan Erly yang tidak sengaja menusuk suaminya. Ia memandangi bengong Ferdy yang tergeletak di lantai dengan darah yang terus mengalir, begitu juga dengan pisau yang ada di tangannya.
Erly tampak gugup melihat kejadian itu. Semua di luar kendali.
"Tidak, ke... kenapa Ferdy yang terbunuh!" ucap gugup Erly.
Vania yang menyaksikan kejadian itu dengan jelas sangat shock dan tidak menyangka.
"Pembunuh kau!" hardik Vania terlihat marah dan memberanikan diri mengambil sebuah benda keras lalu melemparnya ke arah Erly, wanita itu sempat terjatuh.
Sikap Vania semakin membuat Erly marah dan mengamuk kepada Vania. Ia terus mengejar wanita muda itu dan tidak sabar untuk menghabisi nyawanya dengan cepat.
Vania terus berusaha mengahalau langka Erly dengan mendorong satu persatu kursi dan meja ke arahnya.
"Diam kau perempuan sialan, ini semua karena ulah mu!" hardik Erly terus mengejar Vania.
Vania berhasil merobohkan Erly hingga terjatuh akibat dorongan sebuah kursi makan yang keras dari Vania dan pisau itu terlempar.
Keduanya sama-sama berjuang meraih benda tajam itu, namun Erly menendang keras kaki Vania membuat Mama muda itu terhempas ke lantai dan kesakitan, Tubuh Erly yang jauh lebih besar dari Vania sekuat tenaga menarik rambut Vania dan menampar keras berkali-kali kedua pipi ibu dari Jex itu.
Niko dan pihak kepolisian baru terlihat sampai di parkiran, mereka berusaha dan masih terus berusaha membuka pintu itu dan mencari pintu lainnya.
"Dobrak!" teriak Niko yang tidak sabar dengan aksi mereka.
Pihak kepolisian bersama Bodyguard Niko terpaksa memecahkan pintu kaca yang tebal, hanya itu pilihan terakhir.
Erly dan Vania terus saling berkelahi mencari kemenangan diri, Vania terlihat bonyok dalam tamparan dan pukulan Erly ia terjatuh lemas kelantai dengan hidung dan mulut penuh darah segar, pandangannya mulai terlihat hitam.
Erly yang juga terlihat kelelahan dengan pukulan dari Vania berusaha mengambil pisau. Ia belum puas jika Vania masih hidup.
"Aku harus membunuhmu dan memastikan kau benar-benar mati demi membalaskan perlakuan kasar selingkuhan mu (Niko) itu terhadap Romi juga keluargaku!" ucap Erly yang sudah kehilangan akal sehatnya, ia tidak terlihat panik melihat Ferdy terkapar dalam kondisi sekarat terus mengeluarkan darah segar dari tubuhnya justru lebih fokus ingin membunuh Vania.
__ADS_1
Saat Erly bersiap menusuk pisau tajam itu tepat di jantung Vania.
"Berhenti!" teriak Polisi dengan menggenggam pistolnya.
Erly sempat terkejut dan tidak menduga jika aksinya itu diketahui oleh pihak kepolisian. Ia sempat melotot keheranan namun tetap nekat ingin melayangkan tusukan kepada Vania.
"Dooour!!" Bunyi tembakan keras terpaksa pihak kepolisian lepaskan tepat di lengan Erly demi menolong nyawa yang korban yang terancam keselamatannya.
"Aaargh!" wanita itu menjerit kesakitan dan pisau itu terjatuh.
Polisi mulai memasuki ruangan itu dan mengamankan Erly yang masih sempat berontak.
Kepolisian juga mengamankan Ferdy yang terlihat sekarat tergeletak di lantai. Sungguh pertikaian yang histeris membuat Vania semakin trauma.
Niko berlari menghampiri Vania yang tergeletak tidak berdaya di lantai dalam tubuh memar penuh luka dan langsung memangkunya.
"Vania!"
"Vania!"
"Vania!"
"Bagun Vania!" panggil histeris Niko dalam tangan bergetar penuh kepanikan, spontan Niko merasakan de Javu saat memanggil-manggil nama Isabella dalam kematiannya.
"Isabella!"
"Bella!"
"Bella!"
Kejadian yang seakan-akan terulang kembali dalam hidup Niko dengan kematian masa lalu Isabella, ia memeluk Vania penuh dalam kesedihan dan tidak sadar sampai meneteskan airmata kekesalan, mengapa ia pergi meninggalkan Vania yang sebenarnya dalam bahaya.
"Bos, Ia masih hidup, jemarinya bergerak!" ucap Bagas tanpa sengaja melihat hal itu.
Sontak Niko langsung mengangkat Vania dan membawanya ke dalam mobil. Niko mengarahkan agar Bagas segera membawa mobil menuju rumah sakit terdekat. Sementara Ferdy yang terlihat sekarat harus menunggu ambulan lagi.
"Bagas, Buruan bawa mobilnya!" teriak Niko yang sangat panik memangku Vania.
"Baik Pak!" ucap Bagas langsung melaju kencang.
__ADS_1
"Bertahanlah Vania, bertahanlah, aku mohon kau harus tetap hidup, aku berjanji akan membalaskan dendam kepada siapa yang menyakitimu!" ucap Niko yang tidak kuat melihat kondisi Vania, hidungnya terus mengeluarkan darah segar, Niko mengusapnya dengan jemarinya sendiri.