
Benny mulai memarkirkan, mobilnya di depan rumah Niko Oscar.
Pria itu berjalan tampak tergesa-gesa.
Benny yang sudah mendapatkan password kunci rumah Niko bisa masuk ke dalam rumah itu.
"Tap...Tap...!" langkah kaki Benny, mulai memasuki ruang tamu yang sudah tidak sabar mendapati keberadaan Niko.
Terdengar suara Televisi yang sedang menyala, membuat dr muda itu melangkah menuju ruang Tv.
"Nik...!"
"Niko...!" panggil Benny kepada Niko yang sudah terbaring lemas di sofa bersama satu botol minuman beralkohol.
Jemari Benny ingin membuang botol minuman itu.
"Jangan sentuh!" ucap marah Niko membuka mata merahnya.
"Hayo lah kawan, tidak ada gunanya.....!"
Dengan cepat Niko bangkit mencengkram kerah baju Benny sambil berkata;
"Aku hanya ingin sendiri, inikah yang kau sebut cinta layak diperjuangan kan? Aku telah bodoh mencintai perempuan penipu!" teriak Niko yang sudah mabuk berat, menolak keras tubuh Benny hingga jatuh ke sofa lain.
"Seharusnya aku tidak perlu mendengarkan ucapan kamu!" tunjuk Niko kembali meneguk minuman, lalu terhempas jatuh ke kasur.
Benny hanya terdiam tidak berani membantah lagi.
"Mungkin Isabella sedang marah kepadaku, aku telah selingkuh darinya, padahal aku sudah janji akan setia dengan Isabella sampai kapanpun!" Niko mengambil foto almarhum istrinya dan memeluknya sambil tertidur lelah di sofa.
Benny hanya bisa menatap kesedihan dalam penampilan urakan sahabatnya yang sedang patah hati itu.
"Gawat... halusinasinya mengenang Isabella kembali kambuh!" gumam Benny.
__ADS_1
"Kenapa jadi begini, begitu banyak wanita single yang jauh lebih baik dari Vania. Mengapa harus istri orang lain...Aarg ini benar-benar sulit!" Benny juga merasakan hal rumit dalam hubungan percintaan sahabatnya itu.
***
Waktu terus berlalu, hari terus berganti.
Berhari-hari terpuruk, Niko akhirnya bangkit dari patah hati yang menyiksanya, karena tuntutan pekerjaan yang cukup banyak, kekecewaan itu begitu berat ia rasakan sehingga cintanya kepada Vania berubah menjadi kebencian yang sangat besar.
*
Media terus menyoroti runtuhnya perusahaan one & one. Sudah tersebar pula jika Romi menggunakan ilmu mistis untuk memikat semua aliansi besar agar mendukung perusahaannya. Rumor itu tidak bisa dibendung lagi.
"Cek...cek...cek... pantas saja dalam tiga tahun Romi Salman bisa membangun perusahaan besar!" komentar para Aliansi lain.
Rapat besar pagi itu di kantor Oscar 99 bersama Perusahaan yang bergabung.
"Tidak ada lagi kerja sama dengan Perusahaan One & One, Oscar 99 sudah menghapus perusahaan abal-abal itu dari daftar perusahaan group!" ucap tegas Niko.
"One & One juga harus melunasi anggaran yang sudah mereka pakai!" Ruangan rapat itu tampak ramai berdiskusi.
Niko mengajak, agar semua Perusahaan yang sudah menanamkan modal saham di Perusahaan milik Romi itu termasuk Oscar 99 agar segera menariknya dengan cepat tanpa penundaan waktu.
"Akan aku buktikan, kau akan menyesal Vania, dalam jangka waktu yang sangat cepat, Romi akan kehilangan semua hartanya, kalian akan menjadi pasangan gembel di luar sana!" gumam dendam Niko dalam senyum tipisnya.
Berbagai macam tanggapan publik tentang Romi Salman, namun banyak juga yang simpatik terhadap Vania. Wanita muda itu tetap tegar dengan pilihannya, meski badai terus menghujani, hal itu membuat semangat Vania semakin kuat menerima segala tantangannya.
**
Luna yang terus penasaran akhirnya mendapatkan keberadaan Vania dan Romi. pengawal Romi yang tersisa hanyalah tinggal Frans dan beberapa Bodyguard saja.
Vania menceritakan segalanya kepada Luna mengapa ia harus kembali rujuk kepada Romi.
Luna juga melihat kondisi Romi yang semakin tidak baik-baik saja.
__ADS_1
Dengan perasaan campur aduk Luna menarik tangan Vania,
"kamu itu memang perempuan bodoh, perempuan bodoh, perempuan bodoh!" teriak Luna sambil jingkrak-jingkrak geram menghardik Vania.
"Vania! Kenapa kamu lebih mengorbankan diri dan kebahagiaanmu hanya demi laki-laki yang tidak pernah memberikan kamu kebahagiaan, yang terus menyiksa hidupmu, lahir dan batin. Ini tidak masuk akal Vania,
dan yang membuat aku tidak habis pikir, Bisa-bisanya kamu mengabaikan cinta Paman Niko padahal kau termasuk wanita beruntung bisa mendapatkan hati Paman ku itu dan kau akan bahagia jika sudah menjadi istrinya nanti, dia lebih baik dari pada lelaki itu, sadarlah Vania... Ayo sadarlah!" ucap geram Luna.
"Aku masih sadar dan aku tidak bisa menjelaskannya Luna, suatu hari nanti kau akan tau, ketika kau sudah menjadi seorang ibu. Luna, tidak semua nasib seseorang yang takdirnya sebatang kara bisa beruntung seperti dirimu, hadir di tengah-tengah keluarganya yang hangat, membuat kau selalu tersenyum bahagia!" jawab Vania.
"Apapun alasanmu, aku akan tetap berpihak kepada Paman ku, harusnya kau tidak perlu merepotkan orang lain jika kau memang ingin kembali lagi kepada Romi, membuat semua orang kecewa! Pamanku cukup malu dengan hal ini, aku tidak ingin lagi menjadi sahabat kamu Vania, apapun yang terjadi dengan mu nanti, jangan pernah cari aku, karena aku sudah tidak perduli!" ucap Luna melangkah pergi.
"Maafkanlah aku Luna, jika sudah membuat kamu kecewa dengan pilihan ku ini, terima kasih banyak kau sudah mau menjadi sahabat ku, disaat aku tidak punya sahabat! Akan ku ingat semua kenangan baik mu!
Tolong, Jangan ceritakan alasan ini kepada Mas Niko, biar dia terus membenciku, karena aku tidak pantas untuknya!"
"Dia sudah berangkat ke Amerika membangun perusahaan baru disana, tidak mungkin dia mengingat kamu lagi!" ucap Luna tanpa menoleh lalu melangkahkan kakinya meninggalkan kediaman Romi.
*
"Entahlah, pikiranku sangat kusut Vania, aku sangat kecewa dengan kamu, benar-benar kecewa!" gumam Luna di dalam mobil.
***
"Setelah kehilangan keluarga, aku juga kehilangan kesempatan untuk menikah dengan orang yang aku cintai, hal itu sangat menyakitkan di hatiku, bukan itu saja, aku harus menerima berbagai tantangan berat saat kembali kepada Romi, mulai dari kasus terkuaknya bisnis bodong milik Romi hingga satu per satu hartanya terkuras habis, tidak satupun kekasihnya ataupun teman tertawanya dulu berkenan mendampinginya. Semua terbang bagaikan debu tertutup angin.
Belum lagi mendampingi kondisi Romi yang sedang terpuruk serta banyaknya penilaian jelek tentangnya, semua orang mengatakan aku ini istri yang bodoh, hanya tinggal mengurus ampasnya saja, yang sudah tidak berguna lagi, yah aku memang wanita bodoh.
Tapi entah mengapa, hati ini terus berkata jika aku tidak boleh meninggalkan Romi, aku ingin punya cerita yang manis dan pahit untuk anak ku kelak, Romi adalah Suami yang sudah ditakdirkan untuk ku, diriku yang bodoh ini juga terus berusaha memberikan sentuhan lembut kepadanya, meski kami tidak melakukan hubungan suami istri lagi. Aku tetap menyuapi dia makan, membawanya berkeliling taman dengan kursi roda, berfoto bersama, kami menikmati kicauan burung, mentari indah saat fajar dan senja, berusaha menghibur Romi agar ia tetap tersenyum bahagia.
Apakah semua itu ku lakukan karena aku mencintainya? Tidak, Aku tidak mencintai Romi. Hanya saja aku ingin memberikan sedikit saja kebahagian hati di akhir hidupnya.
Aku bisa merasakan seperti apa kalutnya jika kita sedang sendiri tidak ada yang menemani. Tidak ada tempat bicara, tidak ada yang melindungi, aku juga pernah merasakan hal itu tapi masih ada Paman Fredy Syah yang membantuku meskipun keluarga itu sangat menginginkan hidup kaya yang membuat aku tidak pernah sejalan dengan pikiran mereka"
__ADS_1