Mr Cool Falling In Love.

Mr Cool Falling In Love.
Bab 53


__ADS_3

Niko tiba di kantor Polisi, Erly masih di dalam ruangan pengobatan operasi kecil di ruang klinik kepolisian untuk mengeluarkan peluru yang bersarang dilengannya, Erly resmi menjadi tersangka atas kegaduhan yang terjadi di Restoran Doyan Mangan.


"Sore Mas Niko!" sapa ramah kepala Polisi bernama Hendra Agustono yang juga merupakan relasi Niko.


"Sore Pak! Apa yang harus saya lakukan selanjutnya!" keduanya berjabat tangan.


Setelah Niko memberikan keterangan detail tentang permasalahan yang terjadi.


Hendra dan Niko tampak mulai berbincang santai, kemudian Polisi itu mengajak Niko untuk melihat kondisi Erly yang terbaring lemah dalam keadaan tidak sadar setelah selesai pembedahan kecil di lengannya.


"Begini Mas, sepanjang dari lokasi Restoran sampai tiba disini, Sadri Erly ini terus tertawa terbahak-bahak dan terus berontak, kami terpaksa memberikan ia suntikan tidur agar pelaksanaan operasi di lengannya berjalan dengan lancar!"


"Tertawa?" ucap heran Niko.


"Benar, Tertawa sambil berkata Aku kaya...Aku kaya...Aku kaya... Hahahaha, kurang lebih seperti itu Mas! kondisi tertawa seseorang yang benar-benar tidak waras," ucap Hendra setelah mempraktekkan kecil tingkah gila Erly.


"Maksud Bapak, apa dia menjadi gila?"


"Ada kemungkinan seperti itu, Mas! Namun kami belum memeriksa kejiwaannya."


Niko terus memperhatikan Erly yang tertidur dengan cukup serius sampai dahinya terlihat mengerut. Pria itu merasa terheran-heran ada manusia seperti Erly.


"Mungkin dia terlalu mencintai hartanya dan sangat bermimpi menjadi orang kaya?" ucap Hendra.


"Begitu yah!" Niko masih tidak habis pikir dengan sifat serakah Erly.


"Kami belum bisa memproses dia, karena terhalang kondisi kesehatan seseorang!" kata Hendra.


"Baiklah Pak, karena saya memang tidak memiliki waktu untuk mengurus hal-hal seperti ini, saya serahkan saja kepada Bapak Hendra Agustono yang sudah saya percaya sejak lama! Masalah biayanya, Bapak tidak perlu khawatir!" Niko menepuk kecil lengan Hendra dan tampak polisi itu sudah mengerti.


Hendra tersenyum tampak bahagia karena ia sedang menangani kasus seorang pengusaha kaya seperti Niko.


"Terima kasih Mas Niko!"


"Sama-sama Pak!" jawab cepat Niko.


Keduanya keluar dari ruangan itu dan Hendra mengantarkan Niko sampai ke depan mobilnya.


"Kabari saya saja Pak! Jika ada hal penting, tolong Jagan libatkan lagi Vania!" pesan Niko.


"Hem... sepertinya perempuan itu kekasih atau calon istri Mas Niko Nih!" ledek sang Polisi sambil tersenyum.


Spontan Niko senyum-senyum tertahan.


"Belum tau juga!" ucap Niko malu-malu


meong menggemaskan☺️

__ADS_1


"Saya permisi dulu Pak!" Niko langsung masuk ke dalam mobilnya karena tidak ingin wajah merahnya terlihat oleh Polisi itu.


"Hati-hati Mas!" Hendra melambaikan kecil tangannya seiiring mobil Niko mulai bergerak meninggalkan kantor kepolisian.


Sepanjang Jalan Niko terus merenungi tentang sosok Vania;


"Aku baru menyadari jika kamu adalah wanita paling sabar di dunia ini, sanggup dan mampu bertahan hidup bersama keluarga hantu seperti itu, sama sekali kau tidak benci bahkan tidak ingin membalasnya, karena kau begitu mencintai arti sebuah keluarga dan tidak ingin hidup sendiri! Mereka yang terus menyakitimu namun ada Tuhan yang tidak pernah tidur, balasan Tuhan yang jauh lebih dahsyat bahkan tidak terpikirkan sebelumnya. Aku berharap ini adalah babak akhir dari kisah pahit hidup mu, Meskipun kita tidak berjodoh, Jujur aku bahagia pernah jadi bagian dari hidupmu dan aku tidak menyesal dengan pengorbanan yang sudah aku lakukan, aku hanya ingin kau bahagia, meski aku tau, saat ini pasti kau sangat membenciku!" Tidak lama kemudian Niko berhenti pada sebuah toko bunga dan aksesoris lainnya.


Diam-diam ia ingin memberikan gift spesial buat Vania saat kembali sadar.


Pria itu menapaki selangkah demi selangkah memasuki toko itu.


"Ada yang bisa kami bantu Mas?" sapa sang pelayan.


"Saya butuh setangkai bunga dan boneka kecil!" ucap Niko.


"Baik, tunggu sebentar yah Mas!"


"Huuuft! Sudah cukup lama aku tidak membeli bunga, terakhir sehari sebelum menikah dengan Isabella, semoga disini tidak ada yang aku kenal!" gumam Niko tanpa sengaja justru kedua bola matanya langsung tertuju pada sosok pria yang sangat ia kenal, Niko sangat fokus melihatnya sampai berkali-kali mengedipkan matanya (merasa tidak percaya)


"Haaiiis....i...itukan Benny, ngapain dia ada disini?" Niko terlihat panik, ia melihat ke arah pintu kaca dan ia baru menyadari jika mobilnya parkir tepat di sebelah mobil Benny.


"Haastaga??" Niko menepuk jidatnya.


Saat Benny mengarah ke lokasi tempat Niko. Pria itu reflek terjongkok.


"Mas mau model seperti apa?" tanya sang pelayan ikuti menunduk.


"Baik Mas (Apa yang sedang dia lihat)" si pelayan sampai geleng-geleng memperhatikan tingkah Niko yang bersembunyi dari seseorang.


Niko terus menghindar dari penglihatan Benny, namun sayang Dokter muda itu sudah terlanjur melihat keberadaan Niko.


"Ada Niko, ngapain dia?" gumam Benny terus berjalan menuju kasir.


Niko menjauh dari lokasi kasir berpura-pura ingin membeli yang lain.


Rangkain manis bunga dan boneka yang di pesan oleh Niko sudah terletak meja kasir.


"Mba, boleh tanyak enggak?" ucap Benny kepada si resepsionis.


"Iyah Mas!"


"Kalau boleh tau, Bunga dan Boneka itu pesanan siapa yah?"


"Mas yang disana!" tunjuk polos si pelayan ke arah Niko.


Benny mendongak paksa kepalanya ke arah posisi NIko yang terus menunduk menutupi wajahnya.

__ADS_1


"Aku yakin, itu pasti Niko, dia beli boneka dan bunga? Buat siapa? Sejak kapan dia berubah menjadi so sweety begini?" gumam Benny yang tidak habis pikir melihat tingkah imut sahabatnya itu.


"Ini Mas kembaliannya!" ucap si pelayan kepada Benny.


Selesai membayar, Benny terus berjalan keluar toko, pura-pura tidak mengetahui keberadaan Niko disana.


Benny mulai melajukan mobilnya.


"Huuuft! Syukurlah, semoga dia tidak mengenali plat mobil kantorku!" gumam Niko Langsung buru-buru menuju kasir untuk membayar pesanannya.


Setelah keluar dan merasa aman, tiba-tiba seseorang menepuk lembut bahu Niko.


"Bro!"


Sontak Niko berbalik dan terkejut.


"Be.. Benny!" sapa Niko dengan senyum gugup sambil memegang bunga mawar


merah serta boneka yang tidak dapat ia sembunyikan lagi.


"Ka...kamu ngapain disini?" tegur Niko dengan cepat.


"Beli dasi!" jawab Benny.


"Memangnya disini ada jual dasi?" tanya balik Niko dengan wajah sedikit tegang.


"Ada, sekalian aku ingin bertemu dengan sepupuku, karena ini toko miliknya?"


"Ouh... hahahaha begitu yah!" tawa cengengesan Niko yang merasa salah masuk Toko.


"Bunga dan Boneka buat siapa, enggak biasanya Nik?" tanya Benny penasaran.


"Hem, Tentu untuk orang spesial...!"


"Vania?" tebak cepat Benny.


"Ouh...bukan Bro!" jawab cepat Niko merasa malu.


"Syukurlah, aku harap kau bisa melupakan Vania!" kata Benny yang senang melihatnya sahabatnya itu mulai bisa membuka pintu asmaranya kepada wanita lain.


"Iyah!" Angguk Niko.


"Kabarnya, kau akan mengeksekusi Restoran milik Vania hari ini?" tanya Benny.


"Ben, soal itu nanti aku akan ceritakan banyak denganmu, aku lagi buru-buru! Okey...By!"


Niko bergegas masuk ke dalam mobilnya dan pergi dengan perasaan sedikit malu yang amat luar biasa.

__ADS_1


"Aaaarrrg...Sial si Benny paling sulit untuk dihindari, otaknya kelewat jenius!" gumam Niko.


Demi menghilangkan jejak, Niko terpaksa kembali membeli setangkai bunga dan boneka kecil yang baru di toko yang lain.


__ADS_2