
Pria itu menjatuhkan tubuh langsing Vania di atas kasur lalu bersiap membuka tali pinggangnya.
"Yes...lagi...lagi!" teriak girang Niko yang ingin meminta jatah cinta kembali kepada istrinya itu.
"Mas! Kamu itu punya segudang pekerjaan Lo, apa enggak pikirin itu dulu!" canda Vania menunjuk ke arah leptop Niko yang terletak di atas meja.
"Ah... itu nanti saja, urusan ranjang lebih utama!" jawab Niko masih dengan tali pinggangnya.
"Aduh, ini kenapa lagi tali pinggang! Susah banget di buka!" keluh Niko dengan raut wajah jeleknya, tali pinggang itu pun akhirnya berhasil di lepas.
"Uuh!" Niko langsung membuangnya ke lantai dan lanjut membuka resletingnya.
"Aw...Mas, Pelan-Pelan! Aku takut si "Jhon Tor" terjepit!" ucap manja Vania membuat Niko tersenyum geleng-geleng kepala.
Ketika semua pakaian Niko sudah terbuka.
Niko bersiap maju meraih Vania.
"Eh itu, Bagas ada Wa!" lagi-lagi Vania menggoda suaminya, Niko tidak perduli dan langsung mengepakkan dua tangannya dengan lebar menerkam sang istri.
"Aumm!" 🐯🐯 singa liar beraksi
"Aaaw!" jerit centil dan tawa Vania dalam dekapan Niko di atas ranjang.
"Ssssst!" Niko menutup mulut Vania sambil berbisik.
Tingkah keduanya begitu mesra dan sangat menggemaskan.
"Disini ada bocah nanti dia bangun," ucap Niko menarik selimut menutupi setengah tubuh mereka.
Keduanya tertawa cekikan dalam diam di dalam selimut.
"Buka bajunya dong!" pinta centil Niko membuka kancing resleting baju Vania dari belakang.
Pria itu terlihat tidak sabar dan tergesa-gesa sehingga jalur resleting kancing belakang baju Vania macet dan semakin sulit di buka.
Tanpa pikir panjang lagi Niko langsung merobek pakaian Vania.
"krek!"
"Astaga😱😱ka..ka..kamu ganas banget si singa liar ku," Vania langsung berbalik, mencubit kuat hidung Niko.
"Aw!" jerit kecil Niko.
"kelamaan, nti aku bisa belikan 10 lagi buat kamu!" kata Niko tanpa wajah bersalahnya.
Niko terus menyerang Vania dengan penuh nafsu yang menggebu.
__ADS_1
"Bagaimana? Jika Jex melihat kita! Mas!" ucap Vania.
"Aku sudah tidak tahan lagi!" kata Niko terus melanjutkan aksi bercinta panasnya di sepanjang malam bersama Vania.
"Aaargh!" jerit Vania yang sudah lebih dulu terbang menuju surga kenikmatan.
"Arg!" Tidak lama kemudian Niko menyusul, akhirnya berhasil mencapai *******.
Kemudian,
Keduanya ambruk dalam permainan panas, dimalam yang dingin.
***
"Mama!" terdengar panggilan suara bocah kecil dari bawah kasur mereka.
"Ndak bisa bobo!" ucap celat Jex mengeluh sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Kedua bola mata Niko dan Vania saling melotot sedikit panik.
"Mas gimana nih, baju kita di bawah semua!" bisik Vania.
Niko langsung merangkak turun dari bawah kasur tanpa sepengetahuan Jex.
"Hehehe sebentar yah sayang!" ucap lembut Vania dari balik selimut kepada Jex.
Niko akhirnya berhasil memakai pakaian dari lemari lalu bergegas mendapati Jex.
Niko meletakkan Jex di atas kasur dengan tenang, Jex terus melotot ke arah Niko, seakan-akan ia marah kepada Niko yang sedang bercinta dengan ibunya.
"Hei, Jex? Are you okey!"
Tanpa kata Jex mencekik leher Niko sangat kuat dan tiba-tiba tangan dan kaki Niko kaku sama sekali tidak bisa di gerakkan.
Cekikan itu sangat menyiksa Niko, ia kesulitan bernafas mirip dengan apa yang dirasakan oleh Kiano.
"Arrrgh!"
"Aaarrgh!"
Cekikan itu semakin kuat membuat Niko semakin tidak bisa bernafas namun ia terus bertahan sekuat tenaga.
"Siapa dia? Seorang Bocah sekecil bisa memiliki tenaga kuat di luar logika manusia, ini benar-benar tidak masuk akal" gumam Niko menatap tajam mata Jex yang berwarna merah darah, sorotan sinar menyilaukan mata, tetapi Niko tidak takut terus menantangnya.
"Enyah kau, enyah kau dari tubuh anakku!" batin keras Niko yang terus berontak, berusaha melawan gerakan tenaga kekuatan supranatural itu, yang menjepit tangan dan kakinya.
"Sayang, Mama datang!" teriak Vania yang langkahnya hampir memasuki kamar.
__ADS_1
Sontak Jex melepaskan cekikan itu, membuat Niko terbatuk-batuk, Jex kembali tertidur.
"Uhuk...Uhuk...uhuk...!" Niko berlari ke arah kamar mandi yang terletak di area kamar itu.
"Mas, kamu kenapa?" tanya Vania terheran-heran.
Pria itu tidak bisa menjawab sama sekali, hanya sanggup melambaikan tangannya.
"Kenapa dia?" ucap Vania terpaku menatap Niko yang buru-buru memasuki kamar mandi, lalu perhatian si ibu muda itu kembali menatap anaknya yang pulas tertidur.
Vania seperti biasa tidak curiga sama sekali jika Jex sebenarnya sudah menjadi bagian dari tubuh iblis. Ia langsung memeluk putranya itu dengan gemes dan penuh rindu.
"Sayang! Maafkan Mama yah?"
"Mama tuh, sering banget ninggalin kamu?"
"Suatu hari nanti, kamu akan paham, kenapa Mama harus meninggalkan setiap hari, Tapi mulai hari ini, Mama janji tidak akan pernah lagi meninggalkan mu Jex, karena sudah ada om Niko yang menjadi Ayah sambung terbaik mu, Ayah yang bertanggung jawab dan Mama yakin, dia tidak akan pernah mengecewakanmu.
Sudah ada yang menafkahi kita, jadi Mama tidak perlu terlalu bekerja keras sampai harus meninggalkanmu lagi dan Mama seneeeng banget bisa bersamamu!" ucap lembut Vania mengecup dahi Jex yang tertidur dengan imutnya.
Keduanya pun tidur berpelukan manja dan begitu tenang, seakan-akan dunia tanpa masalah yang bergejolak hebat.
*
Setelah mencuci muka, Niko terus mengambil nafas dalam-dalam, ia masih shock karena nyawanya hampir saja lepas dari raga dan Niko terlihat terbodoh, sambil terus mantap cermin, kemudian ia menampar kecil pipi kanannya.
"Apakah aku sedang bermimpi? Tentang kejadian yang baru saja terjadi!" gumam Niko kembali membasuh wajahnya langsung dari keran wastafel.
Niko memperhatikan batang lehernya di depan cermin, sama sekali tidak ada bekas yang menjerat, padahal cekikan itu sangat kuat, cekikan dari dalam tangan yang besar bukan tangan seorang bocah.
"Tidak mungkin??"
"Tidak mungkin??"
"Ini Tidak boleh terjadi?"
ucap Niko menjambak rambutnya yang mulai rimbun.
"Vania" Niko teringat dengan istrinya, lalu tergesa-gesa keluar melangkah cepat dari kamar mandi, ia merasa khawatir dengan Vania.
Niko terpaku melihat Vania tertidur bersama Jex.
"Siapa sebenarnya sosok yang sedang merasuki Jex, apa dia sudah pergi?" gumam Niko terus berpikir tajam sambil melangkahkan kakinya mendekati mereka tanpa jejak suara.
Niko berdiri mengawal Vania.
"Ya Tuhan, mengapa cobaan ini begitu berat, sampai detik ini belum berakhir juga? Masih dalam ending yang menegangkan, langkahku untuk memiliki cinta Vania sangatlah sulit, haruskah aku menyerah dan meninggalkannya saja, harusnya aku tidak masuk dalam kehidupan Vania? Mengapa aku terlihat seperti pria bodoh ketika sedang jatuh cinta kepadanya, seakan-akan tidak bisa mengendalikan kegilaan cinta ini?" ucap Niko mulai putus asa dalam sorotan mata termenung.
__ADS_1
Tiba-tiba Vania terbangun dari tidur singkatnya dan langsung bangkit menegur Niko yang berdiri dengan tatapan hampa.
"Mas! kamu sakit yah?" Vania bangkit mendapati Niko.