
Entah mengapa perasaan Vania begitu puas karena sudah menyemburkan semua jamu itu ke wajah dan pakaian Erly.
Terlihat kedua tangan Vania masih terikat kuat di atas kasur.
*
"Ingat yah! Sampai Romi pulang, kalian harus tetap awasi anak ini!
Mengerti!" bentak keras Erly yang sudah emosi.
"Siap Nyonya!"
Akhirnya Erly pulang dalam kondisi wajah menggerutu dan pakaian yang serba kuning dalam aroma jamu kewanitaan yang menyengat hidung.
"Dasar anak kurang ajar, berani-beraninya dia melakukan ini kepadaku, awas kamu, Romi akan menyelesaikannya untukmu!" Omelan kesal Erly di dalam mobil.
***
Tidak ada yang boleh masuk ke dalam kamar Romi, kecuali para pelayan yang membawakan keperluan Vania.
Inayah adalah pelayan yang ditugaskan untuk melayani semua keperluan Vania, Inayah terlihat tulus merawat wanita ini seperti sedang mengasuh putrinya sendiri, karena beberapa tahun lalu, putri Inayah sudah lama meninggal akibat penyakit kanker darah.
Vania yang tidak bisa menahan air matanya menangisi keadaan yang menyedihkan, pasrah dengan kondisinya.
"Non! Makan dulu yuk!" ucapan pelayan itu sambil berusaha membuka ikatan tali yang terikat kuat.
Vania hanya diam dalam kesedihan.
"Sedikit saja Non! Nanti Nona sakit!"
"Enggk apa-apa Bi! Mati juga lebih baik, justru itulah yang Vania inginkan saat ini! Tapi kenapa kematian itu tidak ingin menghampiriku!"
"Tidak baik bicara seperti itu Non, istighfar, kalau belum saatnya manusia itu mati, kita tidak akan bisa mati? Bersabar yah?" tatapan sedih Inayah mengelus manja rambut Vania.
"Aku capek Bi?" Vania memeluk Inayah.
"Iyah, Bibi mengerti, banyak berdoa, semoga Allah memberikan jalan yang terbaik!" tatapan mata Inayah juga ikut berkaca-kaca.
__ADS_1
"Tadi Tuan Romi telpon, ternyata besok pagi ia akan pulang! Artinya Nona masih bisa menikmati tidur nyenyak malam ini!"
Bujuk rayu Inayah, akhirnya Vania mau makan walaupun hanya sedikit saja.
Inayah sungguh sangat kasihan melihat Vania yang begitu tersiksa memiliki suami yang selalu marah, tidak pernah mencintainya dan suka memukulnya.
"Bibi akan bantu kamu untuk keluar lagi dari rumah ini! Bagaimanapun caranya!" bisik Inayah.
"Sepertinya sudah tidak ada harapan lagi Bi!" ucapan putus asa Vania.
"Jangan menyerah sayang? Gagal itu adalah keberhasilan yang tertunda, tidak mencoba adalah gagal yang sebenarnya. Kamu harus tetap kuat dan semangat yah!" senyum Inayah menguatkan Vania.
"Terima kasih yah Bi atas semua bantuannya selama ini, Vania berhutang Budi kepada Bibi, tapi aku memang tidak bisa bersembunyi dari Romi dan tidak bisa melawan kuasanya yang terlalu keras!"
"Sabar yah Non," ucap Inayah.
***
Malam itu Niko tidak bisa tidur, ia hanya memejamkan sesaat saja, pikirannya terus berkecamuk apakah ia akan datang ke rumah Romi atau tidak? Setelah subuh, Niko kembali terbangun, mandi pagi, berpakaian kemeja koko
dan terlihat sudah tampan dan suci menghadap Tuhan-Nya, membentangkan sajadah yang sudah lama tidak ia bentangkan karena kesibukan dunia yang terus memburunya sekaligus larut dalam kematian sang istri.
"Ya Allah, Maafkanlah aku yang lalai dalam waktu, tidak pernah ikhlas atas apa yang sudah Engkau takdirkan untukku, aku sadar, sujud ku pagi ini tidak akan mampu menghapus dosaku yang begitu banyak bahkan lebih banyak dari buih di lautan, lebih tinggi dari gunung-gunung yang tertancap di dunia, aku tidak layak berada di surga Mu, tapi aku juga tidak akan sanggup ada di neraka Mu, hanya Rahmat ampunan Mu yang sangat aku harapkan.
Ya Allah, hari ini aku pasrahkan segalanya kepada Mu, aku mengaku lemah, aku mengaku kalah, aku begitu kecil. Salahkah aku telah mencintai wanita yang sudah memiliki suami. Jika memang perasaan ini keliru, jangan biarkan langkah dan pikiran ini terus mengingat yang bukan hak nya. Hapus semua tentang dirinya dan pertemukan lah aku dengan jodohku yang sesungguhnya, seperti memang apa yang sangat diharapkan oleh ibuku, namun jika langkah untuk memiliki perempuan itu benar atau sekedar untuk membantunya saja, maka mudahkanlah jalannya!" Amin.
***
Semalam ternyata Vania dan Inayah sibuk memikirkan bagaimana caranya bisa lolos sebelum Romi pulang. Namun karena rumah Romi diawasi dengan pengawalan ketat, Cctv dan rumah yang di bangun dengan arsitektur yang sangat kokoh membuat semuanya sulit dan terasa mustahil.
Keduanya bingung terduduk bersama.
"Bi, mungkin inilah takdir Vania, harus merasakan sakitnya menikah dengan suami seperti Romi, tidak ada jalan lain selain menerimanya dan iklhas!"
Inayah tetap mencoba menguatkan Vania hingga ia tertidur.
*
__ADS_1
Pagi itu juga Vania pasrah dalam hidupnya, tidak ada jalan serta langkah yang harus ia lakukan selain ikhlas dengan takdir Ilahi.
Wanita itu juga melakukan hal yang sama seperti Niko, mandi pagi dan berpakaian suci lanjut menunaikan sholat subuh.
Doa Vania pagi itu.
Ya Allah, jika memang takdirku harus menjalani semua hal pahit ini, aku ikhlas, mengingat dosaku yang terlalu banyak, tapi aku mohon luaskan lah hatiku, seluas hamparan bumi dan langit. Kuatkan jiwaku yang rapuh sekuat karang di lautan. Tegar kan hatiku agar tetap sabar dan tenang, aku percaya Engkau tidak akan mungkin memberikan cobaan di luar batas kemampuan ku dan tidak akan mungkin meninggalkan ku sendiri, meski dalam kondisi berlumur dosa sekalipun. Aku sangat takut, tapi mungkin lebih takut, jika aku tidak bergantung kepada Mu. Amin!" Pagi itu dalam linangan airmata Vania pasrah dalam hidupnya.
***
Setelah berdoa, justru hasrat Niko lebih condong untuk terus melangkah menuju rumah Romi.
Niko membuka brangkas lemari rahasia, mengambil pistol yang sudah memiliki izin khusus untuk perlindungan dirinya dan pisau tajam kecil mematikan. Pria itu juga tergabung dalam klub olahraga penembak jitu dan bela diri. Sebagai owner sekaligus CEO Perusahaan, ia dituntut harus memiliki itu semua.
Niko juga memiliki pasukan Bodyguard dan kerjasama baik dengan Intel kepolisian negara sebagai pertahanan perusahaan milik Niko di dalam dan di luar negeri.
Setelah mempersiapkan segalanya dengan matang, Niko melaju dengan mobilnya menuju rumah Romi tanpa membuat janji melalu sekretaris mereka masing-masing.
Pukul 08.00.
Pagi yang mendebarkan, terlihat mobil Romi beserta supir pribadinya, mulai memasuki halaman rumah.
Setelah sarapan, Vania kembali ke dalam kamar.
"Halo sayang?" teriak Romi memasuki kamar lalu berjalan santai, datang dan langsung memeluk Vania dari belakang.
Vania terkejut hebat.
Romi memutar tubuh Vania lalu mencengkeram lehernya.
"Kau pikir, kau bisa kabur dariku, terlalu mudah untuk ku menemukanmu di kota ini? Aku juga sudah membakar ponselmu yang berani-beraninya merekam kejadian itu. Kau juga berpikir pengajara mu akan berpihak kepadamu, dia sudah lupa tentangmu, Sebagai hukumannya aku harus menyiksa mu lagi, sebelum itu kau harus memuaskan ku dulu!"
Romi mendorong keras tubuh Vania Hingga terhempas di atas kasur, lalu Romi melemparkan daster minim ke tubuh Vania.
Romi merangkak naik di atas tubuh Vania dengan raut wajah yang sangat menyeramkan, membuat Vania menggigil ketakutan, mandi keringat.
"Ganti pakaian mu dan ingat, aku tidak ingin bercinta dengan manusia seperti mayat!"
__ADS_1
🚗🚗🚗🏎️🏎️🏎️🏎️🏎️
Niko terus melaju kencang menuju Rumah Romi.