
"Tapi aku tidak ada jadwal ke luar negeri, pekan ini!" ucap Niko.
"Aku tidak menyuruhmu untuk berangkat ke Jerman! Dr Smith yang akan datang kesini sekaligus mengajar kami pelatihan!" Jawab Benny.
"Syukurlah!" tarikan nafas lega Niko.
Benny memperhatikan raut wajah Niko tanpa semangat.
"Nik, atau jangan-jangan ini karma buat lu?"
"Apa maksudmu?"
"Yah, mungkin ini akibat, kau terlalu banyak menolak wanita dan tidak sedikit menghardik mereka! Sehingga kau sulit untuk mendapatkan jodoh, jika pun bertemu, selalu saja ada tantangannya, bukankah semakin banyak kita menghardik orang lain maka semakin banyak pula aura negatif yang menghampiri!"
Niko tertegun mendengar nasihat kecil Benny.
"Tapi aku tidak bermaksud untuk seenaknya menghardik orang lain, hanya saja jika tidak tegas maka mereka akan bertingkah kurang ajar!
(Niko terdiam sejenak)
Baiklah aku akan merubahnya, lebih kepada tindakan saja, tidak ucapan kasar lagi!" kata Niko menyadari kekurangan dirinya.
Benny memberikan tanda jempol pertanda mendukung dan senang dengan pernyataan Niko.
"Apa kau masih mencintai Vania? Jujur Nik!"
"Tidak!" jawab tegas Niko.
Spontan Benny tertawa kecil melihat kegengsian cinta yang sedang menyelimuti Niko.
"Jika tidak mencintai, seharusnya asam lambung mu tidak naik!"
"Karena aku sudah terlalu banyak mengeluarkan uang demi hal yang tidak penting, itu yang membuat aku sakit!" jawab Niko.
"Tapi kan kau sudah menyentuhnya (berhubungan intim)!" tebak Benny.
"Ben, Karena aku serius kepadanya maka aku tidak mau menyentuhnya!"
"Wuahahaha, pantas kamu kesal! Gimana jika besok akan aku perkenalkan kamu dengan seorang wanita, mulai lah membuka hati dengan yang lain!" kata Benny bersiap-siap pergi.
"Jangan besok, aku lagi tidak mood menghadapi wanita!" bantah Niko.
"Okey!" Benny mulai bangkit dan siap melangkah pulang.
"Pukul 09. 00 besok pagi, aku akan ke kantormu, Aku pergi dulu!" Dokter itu pun mulai melangkah.
"Ben!" panggil Niko saat Dokter pribadinya itu sudah melangkah pergi.
"Terima kasih banyak yah!" ucap Niko dengan senyum tipisnya.
"Nah, gitu kan cakep, tidak marah-marah!" senyum Benny melingkarkan kedua tangannya ke atas kepala membentuk lingkaran cinta ♥️ dengan lihai
__ADS_1
"love you!" ucap Benny dengan centil menggoda Niko.
Sontak Niko terkejut dengan mata melotot.
"Gila lu, aku masih Normal!"
"Wkwkwkkw!" tawa Benny yang senang melihat Niko dalam kegalauan cinta. Ia pun melangkah pergi.
Niko mengunci pagarnya dan pintu rumah dengan sempurna, kemudian kembali menjatuhkan diri atas sofa sambil mengingat kenangan manisnya bersama Vania.
Rasa sakit hati, kecewa tetapi masih memiliki rasa serta lelah bercampur menjadi satu dalam perasaan Niko malam itu.
***
Sesampai di rumah Vania, Erly berlari kecil menyambut Vania.
"Vania! Jex sudah tidur!" ucap manis Erly.
"Makasih Tante!" Jawab lesu Vania.
"Bagaimana Vania, apa Niko akan menyita Resto kita yang baru saja berjalan seumur jagung ini! Kau berhasil membujuknya kan!"
"Vania tidak tau Tante, tanyakan saja pada Paman, mungkin dia lebih tau!" Jawab lesu Vania pergi meninggalkan Erly menuju kamarnya.
"Huuuft, semua ini gara-gara kamu Vania, Andai saja kamu tidak selingkuh dengan pria kaya itu, perusahaan Romi tidak akan seperti ini, aku masih bisa menikmatinya, awas saja jika sampai Resto ini juga disita oleh lelaki itu, aku akan buat perhitungan dengan kamu, Vania!" Gerutu Erly, si mabuk harta.
Setelah sampai di kamarnya, Vania bergegas membersihkan diri dan mendapati balita Jex yang sudah tertidur pulas.
"I Love u!" Vania mencium dahi anaknya.
"Kau pelipur lara ku, mungkin dulu aku tidak menginginkan kamu, tapi sekarang kau adalah segalanya, tidak akan ku sia-siakan dirimu!"
Tidak lama kemudian Jex bangun, lalu merengek kecil, seolah-olah bisa merasakan bahwa ibunya sudah ada di sampingnya, ia meminta susu serta dekapan lebih dekat lagi dari ibunya.
"Bagaimana Jika Niko menyita usaha yang masih aku rintis ini! Aku hanya bisa pasrah!" Batin Vania.
Vania melamun menatap langit-langit kamarnya dan mengingat kisah manis yang sempat ia lalui bersama Niko.
***
Waktu terus berlalu, Niko akhirnya tidak jadi menjalani operasi berbaikan lambungnya, namun ia menjalani terapi, leser dan berbagai teknologi canggih kedokteran terkini.
"Bagaimana sekarang Bro?" Tanya Benny.
"Ini jauh lebih baikan!" Jawab Niko dengan senyum manisnya.
**
Sementara Vania juga mulai terlihat disibukkan dengan pengembangan Resto Doyan Mangan di media sosial. Meskipun setiap malam perempuan itu terus memikirkan akan kehilangan Restonya.
"Tling" bunyi notifikasi masuk di ponsel Vania.
__ADS_1
Seketika tangan perempuan itu bergetar saat membaca isi notifikasi surat pemberitahuan tertulis tentang satu Minggu lagi Resto milik Vania akan disita oleh perusahaan Oscar 99 dengan alasan adanya hutang si pemilik Resto yang tidak bisa dibayarkan kepada Niko Oscar.
"Ini tidak mungkin!" ucap Vania, berusaha menelpon Niko.
Namun pria itu tidak mengabaikannya.
"Mengapa di tega sekali! Hiks...hiks...tenyata pria itu tidak main-main!" Pikiran perempuan itu semakin kacau.
*
Pagi di kantornya, terlihat Niko bersandar di kursi kekuasaannya sambil berkata dalam hati;
"Aku mau lihat, sampai dimana perjuangan Paman dan Tante mu yang licik itu membantu mu, dan kau harus tau Vania, mereka baik hanya memanfaatkan kamu saja, begitu hartamu hilang mau akan dibuang kembali," gumam Niko tidak merubah sedikitpun pikirannya untuk mengambil Resto milik Vania.
Pagi itu bertepatan hari kegagalan Vania, namun Ferdy dan Erly masih belum mengetahui tentang Resto Doyan Mangan akan disita hari itu juga.
Vania tampak tidak bersemangat dan tidak ingin melakukan aktifitas apapun di restorannya.
"Apa kamu sakit?" tanya Erly masih belum mengetahui.
"Enggak Tante!" jawab Vania dalam kebingungan.
Tidak lama kemudian sekelompok pria berdasi mulai dari terdiri polisi, bodyguard pengacara, serta ahli hukum lainnya datang memenuhi Restoran yang tidak terlalu besar itu.
"A...ada apa ini, apa mereka ingin makan di Resto ini secara berbondong-bondong!" gumam Erly tampak bersemangat.
"Vania...Vania lihat itu, pagi-pagi Resto kita susah kedatangan customer yang macho!" ungkap Erly langsung berlari mendapati sekelompok pria itu.
Dalam tatapan murung Vania berkata dalam hatinya;
"Maafkan Vania Tante, padahal Resto ini belum juga besar, mengapa harus berakhir sampai disini!"
*
"Hem...Ada yang bisa saya bantu!" Erly mendapati mereka dengan senyum yang ramah.
"Benarkah ini adalah Resto Doyan Mangan milik Vania Keisya?" tanya seorang pengacara khusus yang di bayar oleh Niko untuk menyelesaikan tugasnya dengan baik.
"I...iyah benar!" jawab Erly mulai gugup.
"Maaf ibu, kami bicara langsung dengan saudari Vania Keisya, pemilik Restoran ini!"
"Ouh sebentar yah!" Erly pun bergegas memanggil Vania.
"Apa kau mengenal mereka?" tanya Erly saat berjalan menuju sekelompok pria itu.
"Tidak!" tanya Keisya.
"Saya yang bernama Vania, ada apa yah?" tanya Vania.
"Ouh, selamat pagi Nona Vania, disini kami akan menyerahkan surat dokumen penting ini, mulai hari ini Resto Doyan Mangan akan kami sita dan akan segera berganti pemilik menjadi Niko Oscar!"
__ADS_1
"Aapah!" ucap Erly shock berat mendengarnya.