
Vania tidak bisa berkata-kata lagi, ia hanya mengangguk cepat menuruti kemauan Romi. Selama ini Vania selalu berontak jika ingin berhubungan badan dengan pria itu. Melayani ataupun tidak, ia akan mendapatkan perlakuan kasar.
"Baiklah, jangan pukul aku🙏!" ucap Vania memohon.
"Itu tidak bisa sayang, disana lah kenikmatannya!" jawab Romi dalam wajah psikopatnya.
"Tok... Tok..."
"Tuan...sarapan sudah siap!" seru Inayah memanggil sang majikan dari balik pintu.
"Setelah sarapan aku akan kembali, kau harus siap," ucap Romi bangkit pergi meninggalkan Vania yang masih meringkuk ketakutan.
Romi berjalan santai keluar menuju meja makan, karena ia terasa sangat lapar.
"Rapikan penampilannya!" perintah Romi kepada Inayah di ujung pintu.
"Baik Tuan!" menunduk patuh.
Begitu Romi keluar, Inayah bergegas masuk menghampiri Vania.
Sontak tangis tertahan wanita itu pecah di tubuh Inayah.
"Vania takut sekali Bi!" raungan perempuan itu membuat Inayah tidak sampai hati.
"Sabar yah Non! Bibi ada cara, ayo keluar lewat lantai atas dan bisa tembus ke gudang!"
Inayah dan Vania bergegas mencoba menjalaninya namun pintu sudah tertutup besi yah kokoh.
"Loh, kapan ini ditutup!" kata sang pelayan.
"Romi sudah tau Bi, ini adalah jalan keluar aku selama ini!"
"Benar juga yah?"
"Aku memang bodoh, tidak bisa memanfaatkan kabur dari Romi, andai saja aku bisa bertahan di rumah Niko...iiii...tapi pria itu dingin sekali dan cukup bawel!" gumam Vania gelisah dan mondar-mandir mencari cara lain dan akhirnya Vania kembali ke kamar dalam perasaan putus asa.
***
Vania sudah berpenampilan cantik dalam daster minimnya, karena Romi hanya ingin melihat penampilan Vania yang sexy. Wanita itu melamun memandangi arah jendela, ia serasa ingin melompat.
Tiba-tiba Vania melihat sebuah mobil memasuki pekarangan rumah Romi.
"Mobil itu seperti aku kenal?" batin Vania.
"How😳" Vania terkejut hebat saat melihat Niko keluar dari mobilnya.
"Paman Niko!" kata Vania merasa seperti mendapat anugerah ide, wajahnya tampak bahagia, dengan cepat pula Vania melangkah keluar dari kamar dan mendapati keberadaan Romi di meja makan.
"Aku masih lapar, ingin makan!" ucap Vania kepada Romi yang terlihat sedang menikmati hidangannya.
"Bukankah kau akan memukulku, aku harus cukup punya tenaga!" ucap Vania meyakinkan Romi.
"Baiklah!" jawab manis lelaki itu.
kemudian Vania duduk di sebelah Romi.
Tidak lama kemudian, seorang ajudan pria melaporkan kedatangan Niko.
"Tuan, ada tamu yang ingin bertemu!"
"Siapa?"
"Niko Oscar pemilik Perusahaan Oscar 99!"
__ADS_1
"Ouh Iyah!!" mendengar tamu penting datang, Romi cukup terkejut lalu bangkit dan langsung menyambut kehadiran Niko yang sudah berdiri di ujung pintu.
"Hello Brother!" teriak Romi dari dalam.
Niko tersenyum.
"Wuah...Ada kejutan apa ini, kamu bisa hadir tiba-tiba!"
Keduanya berpelukan kilat.
"Bukankah kau ingin aku datang berkunjung?" kata Niko.
"Iyah tapi bukan di rumah ini, rumah satu lagi?" ucap Romi.
"Ups sorry, aku salah!"
"Tapi tidak masalah, ayo masuk" ajak Romi.
Mata Niko langsung tertuju pada Vania yang duduk murung di meja makan.
"Apa aku mengganggu?" kata Niko.
"Ouh, tentu tidak, mari sarapan?" ajak Romi.
"Terima kasih!"
"Oh Iyah, ini Vania istri aku!" jawab santai Romi menarik cepat pinggang Vania lalu mencium kepala wanita itu, Romi selalu menunjukkan kemesraannya kepada orang lain jika berkunjung ke rumahnya.
"Ternyata hubungan mereka baik-baik saja." gumam Niko.
"Niko!" mengulurkan tangan, Pria itu juga berakting seolah-olah baru mengenal Vania.
"Vania!" menyambut uluran tangan Niko dalam wajah tanpa senyuman.
Akhirnya ketiganya duduk dalam satu meja makan.
Vania dan Niko sempat berpandangan. Namun Niko harus melayani pembicaraan bersama Romi.
Tidak lama kemudian Inayah datang, menyuguhkan kopi hangat dan cemilan terbaik kepada Niko.
"Terima kasih!" ucap NIko kembali ngobrol asyik dengan Romi.
Tidak lama kemudian, ponsel rumah berdering.
"Tliit...Tlilit" Romi bangkit menerima panggilan seorang wanita hingga menyebabkan ia pergi sedikit menjauh dari meja makan.
Disana lah Vania menyempatkan kesempatan berharga itu dengan cepat ia mengambil pulpen lalu menulis di atas kertas kecil. Karena jika bicara percakapan mereka pasti terdengar Romi.
"Tolong bawa aku pergi!" Vania menyodorkan kertas itu ke depan Niko.
Niko membacanya lalu dengan cepat mengantonginya dan kembali menyerup kopi hangat dengan gaya dinginnya.
"Iiiiiis....dasar si Mr cool!" gumam gemes Vania yang ingin menjambak rambut Niko.
Melihat tidak ada respon, Vania mengirim tulisannya kembali.
"Apa pun yang kamu mau, semua akan aku lakukan, apapun itu, aku mohon, bawa aku pergi dari rumah ini!"
Vania menyodorkan cepat ke arah Niko.
Setelah membaca, Niko semakin bingung bagaimana caranya ia membawa kabur istri orang dari rumah suaminya, sementara hubungan mereka baik-baik saja.
Niko kembali menatap wajah cantik Vania, dengan raut memohon🥺🙏 Vania sangat mengharap belas kasihan lelaki itu.
__ADS_1
Dalam raut wajah ragu, akhirnya Niko menyodorkan cepat kunci mobilnya.
Vania tersenyum bahagia. Ada harapan kabur dari belenggu Romi.
Terlihat Romi sudah kembali duduk di meja makan. Vania bangkit;
"Aku ke kamar dulu!" ucap Vania langsung berlari menuju kamar.
Niko sempat memperhatikan langkah cepat Vania menuju kamar, perhatiannya kembali ke Romi.
Romi yang sedang mencari simpatik dari Niko lebih fokus kepada pria itu. Mereka terlihat berbincang-bincang, sesekali keduanya saling tertawa, Romi terlihat antusias mengajukan kerjasama bisnis kepada Niko. Ada rasa kenyamanan Niko berteman baik dengan Romi membuat ia kembali dilema untuk membawa kabur Vania.
"Gimana yah, kenapa aku jadi bingung sekali, ini terlalu beresiko besar!" gumam Niko.
*
Di dalam kamar, Vania langsung membawa penting beberapa barang berharga. Ia tidak mengganti pakaiannya karena takut terlihat oleh pantauan cctv.
"Bi!" panggil Inayah dalam nada berbisik.
Inayah bergegas cepat menghampiri Vania.
"Ikuti Vania ke dalam mobil itu!"
"Maksudnya Non?"
"Vania akan masuk ke dalam mobil itu dan ikut bersama tamu Romi, setelah itu kuncinya, tolong kembalikan lagi kepadanya yah Bi!"
"Non, memangnya itu siapa, apa tidak semakin membahayakan!"
"Sudahlah Bi, Ayolah cepat! In kesempatan emas!"
"Baa... Baiklah!"
Meski ada beberapa penjaga dan cctv, Vania berhasil lolos dari pantauan itu dan masuk ke dalam mobil Niko dan membuka sedikit jendelanya sebagai ruang pernapasan Vania.
Kunci sudah ada di tangan Inayah, di kejauhan Inayah menunjukkan kunci mobil kepada Niko. Niko pun mengerti.
"Saya mau ke toilet?" pinta Niko kepada Romi.
Romi pun memerintahkan Inayah untuk menuntun Romi menuju toilet.
"Tuan ini kuncinya!"
"Okey!"
"Tuan, sebelumnya🙏 saya mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya, tolong🥺 bawa Vania pergi, saya tau ini sangat beresiko bagi Tuan, tapi saya percaya, setiap niat tulus seseorang membantu, pasti akan ada jalannya.
Vania sangat menderita hidup bersama lelaki itu, ia sendiri memiliki banyak simpanan wanita di luar sana, Vania hanya di jadikan tumbal penyiksaan atas kelainan jiwa atau keyakinan dari Romi!"
"Maksudnya?" ucap Niko.
"Jadi begini Tuan, sebenarnya saya sangat takut mengatakannya...!" Tubuh Inayah tampak bergetar hebat.
"katakan saja!" ucap Niko mulai serius menanggapinya.
****
****
****
Gantung lagi nih, karena Author memang suka yg tergantung-gantung😆😆
__ADS_1
Please🙏🙏🙏🙏🙏 Beri Vote, Gift, Like yang banyak.....