
Niko Oscar cukup bahagia saat mendengar kabar baik dari Tim medis rumah sakit tentang kesehatan Vania yang lebih cepat pulih.
Pagi itu tubuh Niko terasa lelah, ia berniat berangkat sedikit lebih siang dan ingin bersantai sejenak di sofa malas nya sambil bermain game dan berniat sebentar lagi akan berenang.
"Huuuft, pagi yang cerah!" kata Niko yang saat itu tengah dirundung rasa malas melakukan aktivitas apapun, setelah beberapa hari dengan padatnya bersama aktivitas yang cukup melelahkan dirinya.
*
Vania yang dalam kondisi datang bulan serasa ingin mengacak-acak sosok Niko yang sangat ia benci.
"Van, kamu serius ingin ke rumah Niko?" tanya Ratih meyakinkan Kembali.
"Tentu!" jawab geram Vania dengan wajah seram Vania sambil mengepal tangannya.
"Hehehe, baiklah!" senyum cengengesan Ratih.
"Tidak ingin melihat Tante kamu yang masih di kantor polisi!"
"Tidak!"
"Kamu masih berhubungan dengan Niko?"
"Tidak!" jawab ketus Vania dalam wajah yang masam, pandangannya terus melihat ke depan.
"Aku yakin Jex, juga ada bersamanya!" gumam Vania.
*
Tidak terasa Mobil Ratih sudah terparkir di depan pagar Niko.
"Ini rumah Niko?" tanya Ratih.
"Iyah!"
"Rumah yang bagus!" komentar Ratih.
"Kakak tunggu disini saja yah!"
"Vania! Apa kau masih mencintai Niko?" tanya Ratih.
"Tidak!"
"Kakak yakin dia masih mengejar mu!"
"Aku membencinya!" jawab Vania.
Ratih hanya menghela nafas melihat problema keduanya.
"Ouh Iyah, jika kakak merasa lama atau sedang buru-buru, Nanti Vania bisa naik taxi!"
"Tidak apa-apa, kakak akan menunggu kamu!" ucap Ratih.
__ADS_1
"Terima kasih kak!" Vania membuka pintu mobil dan terlihat tarik nafas panjang saat berdiri tepat di depan bel pintu pagar.
"kretek... kretek!" bunyi lenturan leher Vania, kanan dan kiri.
"Aku harus kuat menghadapi si duda berwajah singa liar ini!" gumam Vania memberanikan diri menekan tombol bel.
"Tling...Tling...Tling?" Bunyi Bel dari pagar rumah Niko langsung konek ke area ruangan tamu dan kamar pribadinya.
"Serunya bermain game di ponsel membuat Niko mengabaikan bunyi bel itu!"
Vania dalam emosi terus menekan tombol bel sehingga bunyi bel tidak berhenti.
"Siapa pagi-pagi begini datang bertamu, apa dia pikir harga bel itu murah, mungkin harga bel itu lebih mahal dari dirinya, jika bel itu rusak aku akan mematahkan telunjuknya!" Omelan Niko sepanjang berjalan menuju kamera tamu di pintu rumahnya, dan betapa terkejutnya Niko saat melihat dua bola mata melotot tajam yang mirip dengan Bunda Suzana menatap sadis ke arah Niko di dalam layar.
"Seram banget!" batin Niko.
Vania sengaja melakukan itu agar Niko tau ia sedang marah besar.
Tatapan seseorang dalam tema "Pembalasan atau bangkit dari kubur!"👻
"Va...Vania???" ucap gugup Niko mulai gelisah mondar-mandir di depan pintu, sementara bel terus berbunyi, karena Vania tidak berhenti menekan tombol bel sampai Niko membuka pintu pagar itu.
Aura mood kemarahan datang bulan yang membuat Niko takut adalah Amarah sosok wanita yang di diilustrasikan ibarat kumpulan asap hitam yang mengelilingi rumah Niko.
(🔥🔥🔥🔥)
"Ngapain dia datang kesini, pakai wajah marah lagi!!" omel Niko terpaksa membuka pintu pagar dan rumahnya lalu pria itu lari secepat mungkin masuk ke dalam kamarnya, naik ke kasur menutupi dirinya dengan selimut tebal.
"Kak Ratih, ayo parkir di halaman Niko saja!"
"Beneran enggak apa-apa!"
"Enggak apa-apa, anggap saja rumah sendiri!" ucap Vania dengan rasa percaya diri tinggi.
Ratih dengan patuhnya melajukan mobilnya terus memasuki halaman rumah Niko.
"Ya terus...lagi...terus...terus...terus...terus!" Vania mendadak jadi tukang parkir di rumah Niko.
"Terus kemana Van? Bisa nabrak mobil Niko dong!"
"Enggak apa-apa kak, tabrak saja, nanti dia bisa beli mobil yang baru lagi, dia kan banyak uang!" ucap kesal Vania yang tampak stres dengan jalan kehidupannya.
"Ah kamu becanda Mulu deh Van, mau berapa ratusan juta aku harus mengganti kerusakan mobil Niko?" jawab polos Ratih.
"Aku enggak bercanda kak?"
"kamu enggak gila kan Van?" tanya Ratih dalam raut wajah mengerut memperhatikan Vania.
"Tapi sepertinya aku sudah hampir gila sih kak (Vania memegang dahinya) mungkin ini terlalu banyak berurusan dengan orang gila!" jawab kocak Vania.
Ratih tersenyum lebar.
__ADS_1
"Huuuft, Yah sudah... kamu masuk lah!" perintah Ratih.
"Iyah!" kata Vania melangkah memasuki rumah Niko.
"Kakak yakin mau tunggu disini?" ucap Vania.
"Iyah aku tunggu di sini saja!" jawab Ratih.
"Kalau kakak merasa bosan, masuk saja, buat teh, susu, atau kopi sendiri, mau masak makanan, tiduran atau berenang juga boleh disini, anggap rumah sendiri!" kata Vania tanpa merasa bersalah berlagak sebagai Tuan Rumah, Karena Ia begitu gemes melihat Niko yang memaksa dirinya harus membayar hutang yang dia sendiri tidak pernah minta kepada pria itu.
"Hahahaha!" spontan Ratih tertawa lepas mendengar tawaran lucu Vania yang jelas-jelas bukan pemilik Rumah.
"kamu kocak banget deh Van! Sudah masuk lah?" Ratih mendorong kecil tubuh Vania dari belakang hingga masuk ke pintu Niko yang sudah terbuka sedikit.
Ratih memandangi dan melihat-lihat tampilan disain rumah Niko yang baru.
"Rumah yang simpel tapi mewah banget, gaya mode rumah kebanyakan di benua Amerika. Hem... Melukiskan sang pemilik rumah cukup memiliki banyak uang!" gumam Ratih selain seorang pengacara ia juga mulai menekuni profesi konsultan para desainer property.
"Wajar saja jika Vania tergoda dengan Niko dan lebih memilih pria ini dibandingkan Romi jika saat itu ia tidak hamil dan Sepertinya Niko mencinta Vania, karena pria itu masih saja terus ingin berurusan dengan Vania!
Vania juga cantik, baik, sabar dan ceria. Cocok untuk Niko yang introvert, tegas dan seriusan."
*
"Singa Liar dimana kamu!" panggil Vania dengan suara imutnya.
"Jangan bersembunyi, aku pasti menemukanmu?" ucap kocak Vania terus berjalan menaiki tangga menuju kamar pribadi milik Niko.
Langkah demi Langkah terus menuju dan akan memasuki kamar duda kaya itu yang tidak terkunci. Wajah seram Vania melihat Niko yang tertidur di atas kasur dengan tertutup selimut tebal.
Vania terus mendekati posisi kasur Niko.
Saat wanita itu ingin membuka selimutnya, dengan cepat Niko sudah membukanya sambil tersenyum manis ke arah wajah Vania yang penuh dengan dendam.
"Hehehe, kamu sudah siuman!" ucap Niko bangkit dan duduk bersandar.
Dalam wajah bringas, Vania menarik selimut Niko dan membiarkannya jatuh ke lantai. Ia naik ke kasur terus merangkak bak kucing garong betina.
"Mau apa kamu, hehehehe!" tawa cengengesan Niko sedikit menghindar.
Vania langsung memukuli Niko dengan kedua tangannya secara brutal diiringi tangis lemah wanita.
"Aduh" keluh pria itu terkejut reflek menangkisnya dengan menyilangkan kedua tangannya.
"Aku benci kamu...Aku benci kamu...Aku benci kamu, kamu itu manusia jahat-jahat-jahat-jahat, kembalikan Restoran ku! Jangan paksa aku membayar hutang yang tidak pernah aku minta!" Rengek Vania terus menghujani pukulan ke arah Niko.
Namun tangan wanita itu terasa sakit, karena otot tangan pria yang digunakan untuk menangkis pukulan Vania cukuplah keras.
Vania tidak perduli sampai Niko akhirnya menghentikan aksinya dengan mengangkat tubuh Vania lalu menghempaskan nya ke kasur yang sangat empuk, sangking empuknya bisa membuat tubuh yang lelah terasa hilang.
Tenaga Pria yang jauh lebih kuat menyebabkan terjadinya posisi serangan balik, Niko menindih tubuh Vania dan tanpa ragu langsung mengec*p bibir manis janda cantik itu dengan cepat.
__ADS_1