
Ferdy menatap tajam ke arah pistol milik Frans, pistol itu seakan-akan sebuah benda mainan yang begitu mudahnya melayang-layang dalam genggaman Frans.
Dua bola mata Ferdy melotot tajam kearah benda yang bisa mematikan itu.
"Aku belum siap Mati, kasihan Vania jika harus menanggung semua ini, ia harus menjauh dari pria-pria psikopat bahkan dari Niko sekalipun, aku tidak merestui mereka. Aku yakin Vania akan banyak melalui tantangan jika hidup bersama mereka!" gumam Ferdy.
"Bagaimana? Pria tua? Apakah kau siap menjadi wali dalam pernikahanku bersama keponakanmu yang molek itu?" tanya Frans.
"Ba...baiklah!"
Masih dalam menyusun rencana, Ferdy akhirnya menyetujui cepat keinginan Frans.
"Bagus, itulah jawaban yang akan aku dengar dari wali Vania!"
"Tapi bagaimana dengan Niko, bukankah ia juga menyukai Vania, tentu ia tidak akan rela melepas Vania untukmu!" pancing Ferdy.
"Aku akan mengaturnya, mereka terlalu mudah untuk di pisahkan, karena mereka bukan pasangan ideal yang kuat bertahan akan cobaan!" jawab Frans.
"Bukankah Vania sudah menjadi bekas Romi atau Niko, kau masih juga ingin memilikinya!" kata Ferdy mencoba mempengaruhi Frans agar tidak berminat dengan Vania.
"Ahahahaha, jika untuk urusan ranjang, banyak wanita lain yang menjadi pelampiasannya, keponakanmu itu tidak akan sanggup jika harus melayani nafsuku, tentu aku akan mencari selir lain, Vania hanyalah permaisuri ku yang akan mendatangkan banyak rezeki?"
"Kurang ajar? Cueeh...kau tidak ada bedanya dengan Romi, kasihan sekali Vania.. aku tidak akan pernah Sudi, aku hanya ingin melihat Vania hidup bersama pria yang tulus mencintainya. Niko dan Frans kalian pria yang sama saja ingin menguasai harta keponakan itu. Aku tidak sudi... tidaaaakkk!" batin Ferdy menjerit mendengar pengakuan Frans yang sebenarnya.
"A...apa kau menggunakan kekuatan iblis sama seperti Romi!" tanya Ferdy dengan keringat bercucuran di dahinya.
"Tidak, kau tenang aja, meski levelku masih di bawah, tapi aku bukan pecundang seperti Romi!"
"Tolong jangan sakiti Vania, jangan jahat kepadanya!" pinta Ferdy dengan raut wajah kesedihan.
"Kau tidak perlu khawatir dan jangan terlalu menyalahkan orang lain dengan hidup Vania, kau seharusnya menyalahkan istrimu yang gila harta itu dan sekarang dia benar-benar gila disana, selalu bermimpi ingin menjadi manusia terkaya di dunia ini!!"
Ferdy terdiam malu.
"Siapa yang jahat kau atau aku, kau yang menjual keponakanmu sendiri kepada Romi untuk menjadi kehidupan yang kaya!'
"Aku menyesal dan aku tidak menyetujui pernikahan Vania dengan Romi!"
__ADS_1
"Tapi kau tunduk di bawah perintah istrimu, itu sama saja kan! Jadi kalian adalah orang yang paling terdekat yang sudah menghancurkan hidup Vania!" ucap Frans melotot tajam ke arah Ferdy.
Tiba-tiba Kiano muncul dengan seorang Dokter dan beberapa suster.
Tim medis langsung memeriksa kondisi Ferdy, sementara Kiano dan Frans menunggu duduk di sofa. Kiano tampak cemas dengan kondisi sang Ayah.
"Kondisi Bapak Ferdy semakin membaik, tapi anda terlalu banyak mengeluarkan keringat!
Apa Bapak bisa menyimak angka di jemariku?"
Dokter memainkan jemarinya 3, 5, 1, 2 untuk melatih daya tanggap Ferdy yang benar-benar sudah siuman dari komanya.
Ferdy bisa merespon tanggapan dari Dokter.
"Syukurlah, Masa Kritis itu sudah terlalui!" ungkap sang Dokter.
"Terima kasih Dokter!" jawab lesu Ferdy.
"Suster, tolong bersihkan keringat di tubuh Bapak Ferdy dan ganti pakaiannya yang sudah cukup basah ini!"
"Jangan terlalu banyak berpikir dulu Yah!" pesan Dokter.
"Baiklah Dokter!" jawab Ferdy.
Terlihat para suster disana membersihkan tubuh Ferdy yang penuh dengan keringat.
Kiano berlari mendapati sang Dokter.
"Apakah Ayah saya sudah benar-benar sembuh Dokter!"
"Iyah, Hanya saja, ia masih harus banyak beristirahat!"
"Baiklah Dokter!" angguk Kiano. Dokter pun pergi meninggalkan mereka.
Para suster keluar setelah membersihkan tubuh Ferdy.
Frans juga mengajak Kiano keluar dan ingin mencari tau tentang informasi biaya rumah sakit.
__ADS_1
Tinggal Ferdy sendiri di ruangan itu.
Ferdy sudah terlihat bersih setelah mendapatkan ganti pakaian khusus pasien dari para suster. Namun wajahnya tidak ceria, tertekuk stres dan melamun, pikirannya berkecamuk tentang Vania, bagaimana meyelamatkan keponakannya itu dari incaran para pria dingin yang memiliki tahta tinggi dan kuat.
Firasat akan kematian cepat sudah pernah di ungkapkan secara tidak langsung oleh Dirga Maulana, Ayah Vania itu sudah memberi amanah kepada sang adik tentang putri keduanya.
Ferdy Syah melamun teringat dengan ucapan sang kakak yang sudah sangat lama bahkan ia sendiri sudah melupakannya.
***
Perkataan Dirga Maulana.
"Ferdy Aku merasa usiaku dan istriku tidak begitu panjang, jikalau nanti kami berpulang lebih dulu aku akan mengajak satu putriku dan meninggalkan satu lagi putri kecilku di dunia ini, bisakah kau menjaganya??? kemungkinan dia adalah Vania Keisya! Aku harus meninggalkannya karena ia punya jiwa yang kuat untuk hidup bahagia bersama jiwa ksatria yang kuat juga, tapi aku tidak tau apakah jalan bahagianya bersama satria kuat itu mudah atau justru sulit!"
"Aku tidak mengerti dengan ucapan mu kak, kau bicara penuh kiasan dan tidak masuk akal" kata Ferdy tertawa mengejek.
"Aku tidak bisa menjelaskannya, karena aku pun tidak mengerti, Baru-baru ini aku tau Vania adalah putri kecantikan yang dilahirkan untuk jiwa ksatria yang kuat, ksatria yang tulus mencintainya bukan memanfaatkannya, ksatria yang dingin kepada semua wanita tapi ia juga sedang mencari permaisurinya yang hilang.
Vania benar-benar membawa rezeki bagi ksatria itu, ia seperti mendapat sebuah titisan manusia pilihan yang diturunkan dari kakek, buyut ibunya yang sakti, banyak cucu yang lain tapi Vania yang dipilih, karena ia cucu yang tidak banyak menuntut harta. Seseorang yang bernafsu dan terus menyiksa hidupnya demi harta ia akan gila bahkan mati dengan cara yang tidak lazim, jika ia tidak menyesal dan meminta maaf kepada putriku itu maka ia akan mendapatkan siksaan yang lebih menyakitkan lagi!"
"Apa yang kakak katakan itu, sungguh aku tidak paham!"
"Tapi aku yakin, suatu hari nanti kau akan mengerti? kau boleh memanfaatkan aura daya tarik pemikat rezeki yang Vania miliki, tapi tolong jangan siksa hidupnya?" pesan Dirga, Ferdy yang saat itu masih lajang, belum menikah dan memiliki kekasih.
***
Ferdy menangis sesenggukan, ada rasa jiwa bersalah dan ketakutan hebat karena tidak amanah dengan pesan sang kakak. Ferdy yang begitu mencintai istrinya rela mengorbankan Vania untuk membayar semua hutangnya dengan cara menikahkan paksa Vania kepada Romi yang sebenarnya bukan satria kuat yang dimaksud.
"Aku sudah kejam dengan Vania, lihat apa yang ku dapatkan, istriku gila, hartaku habis, aku sakit tidak bisa bekerja normal kembali, padahal jika aku besarkan Vania dengan baik-baik justru hidupku tidak seperti ini. Aku sudah terkena hukuman itu, aku sudah mengerti apa yang diceritakan kemarin oleh Kakak. Vania bukan gadis sembarangan ia adalah seorang putri titisan dari manusia pilihan untuk jiwa satria yang kuat. Banyak yang menolongnya.
Lantas siapa ksatria hebat yang di maksud oleh kakak? Tidak mungkin Romi, ia sudah tewas karena terlalu kejam kepada Vania, apakah Niko atau Frans, tapi kedua pria ini sama-sama justru mengambil hak Vania juga. Apakah mereka tau tentang Vania? Sehingga mereka berkeinginan kuat untuk mendapatkan Vania? Darimana mereka tau? dan mengapa aku pamannya sendiri tidak pernah tau tentang hal ini? Betapa bodohnya aku.
Atau aku harus membebaskan Vania dari kedua pria itu, karena bukan mereka ksatria kuat sesungguhnya jodoh sang putri kecantikan. Bagaimana caranya? Mungkin Vania juga tidak tau tentang hal dirinya? Apakah aku berhari-hari koma hanya untuk diingatkan kembali tentang perkataan kakak yang sudah hampir 15 tahun lamanya, tiba-tiba aku bisa teringat dengan perkataannya yang dulu aku anggap ngawur ngelantur."
"Aduh kepalaku mau pecah, mau pecaaaaah!" jerit Ferdy seperti orang kerasukan di atas bed itu.
***
__ADS_1