Mr Cool Falling In Love.

Mr Cool Falling In Love.
Bab 30


__ADS_3

Niko dan Vania melangkah dengan anggun, perempuan muda berparas cantik itu sudah mendapatkan style istimewa, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Rasa tegang Vania diam-diam menjadi sorotan Niko.


"Hahahaha!" Tiba-tiba menertawai Vania.


Reflek wanita itu tersipu malu memukul manja Niko.


"Ci...ci ye, deg-degan yah!" ledek Niko dalam wajah sumringah.


"Apa in si Mas!"


"Eh, Tunggu!" tegur Vania.


"Ada apa?"


"Seperti kurang rapi!" ucap Vania memperbaiki kerah kemeja Niko.


"Perhatian banget sih?" puji manis Niko yang begitu gemes lalu mengecup cepat dahi Vania.


"Hihihi!" Keduanya tertawa malu-malu.


Ketika Niko menekan tombol bel dan mereka terlihat menunggu, namun tidak seorangpun yang membukakan pintu, tampilan rumah yang luas dalam suasana yang begitu hening, sepi bagaikan tak berpenghuni.


"Kenapa tidak ada orang yah?" ucap Niko.


"Mungkin mereka semua sudah tidur yah, Mas!"


Niko melihat jam tangannya.


"Hem...Tidak mungkin, ini masih pukul tujuh malam! Jam tidur Luna itu pukul sebelas malam ke atas!" jawab Niko.


Keisengan Niko membuka pintu,


"Trek!"


"Tidak di kunci!" Gumam heran keduanya, mulai melangkahkan kaki memasuki ruang gelap.


"Kemana mereka?" Niko bertanya -tanya.


Tidak berapa lama terdengar suara petasan kertas.


πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰ "Surprise" πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰ Teriak semua keluarga Niko.


Priyana Ibu Niko, Mala, Bram (suami Mala) Luna, beserta para bocil. Meraka sudah mengetahui kabar kedekatan keduanya. Malam itu mereka membuat surprise kecil-kecilan untuk menyambut kedatangan tamu spesial.


Rasa terkejut Niko dan Vania bertambah saat jatuhan kertas manik-manis kecil itu menghujani keduanya.


"Selamat jadian πŸ’ƒ" Teriak mereka semua. Sang Bunda tampak sehat dan bahagia.


"Hahahaha?" Vania masih terlihat canggung, ia tidak menduga keluarga Niko memberikan respon bahagia menyambut kedatangannya.


*


"Kamu cantik sekali Vania dan masih sangat muda, terima kasih sudah berhasil menaklukkan hati anak saya, pria yang sangat dingin kepada semua wanita," ucap Priyana.


"Tapi Bu!"


"Panggil saja saya Mama!"


Vania tertunduk merasa malu.


"Pasti kamu merasa kangen dengan sosok Mama kan!" kata Priyana dengan senyum manisnya.


Vania mengangguk kecil.


"Saya belum bercerai Ma!" ucap Vania.


"Niko sudah cerita, tidak masalah, kami hanya tinggal menunggu waktu saja kan!"


"Terima kasih Mama, saya sangat bahagia ada di keluarga ini!" ucap haru Vania yang sempat meneteskan air mata sambil memeluk Priyana.


Mala mulai sibuk merapikan makan malam bersama para pelayan dan juga koki, Priyana sudah berencana akan menyuguhkan makanan lezat untuk menyambut kedatangan calon menantunya itu.


Luna yang gemes diam-diam mengintrogasi Niko.


"Paman, Paman ini selain dingin membeku, ternyata sangat brengsek yah?" tantang Luna berdiri melipat kedua tangannya.


"Apa Maksudnya!"


"Cek...cek... cek...coba jelasin, gimana ceritanya Paman yang tiba-tiba bilang tidak mungkin tapi diam-diam jatuh hati dengan Vania!"

__ADS_1


"Kamu cemburu?" gertak Niko.


"Tuh kan mengalihkan lagi!"


Niko hanya tersenyum geli.


"Paman, kamu tuh gemesin tau gak!" Cubit gemes Luna di kedua pipi Niko.


"Aw...aw...Aw!" kejam banget sih kamu teriak kecil Niko smabil tersenyum bahagia.


keduanya kompak tertawa.


Mereka akhirnya menikmati makan malam dengan ceria. Niko merasa bahagia kini hidupnya tidak kesepian lagi.


Tidak hanya itu, Niko juga membuat surprise, dengan memberikan cincin berlian kepada Vania di depan keluarganya.


"Suit...suit...!" sorak mereka kegirangan.


"Romantis banget!" ucap centil Luna.


*


"Mas, ini terlalu buru-buru sekali, Vania belum bercerai!" ucap perempuan itu dalam nada pelan.


"Ini hanya bentuk dari rasa serius ku!" jawab Niko yang sudah dimabuk cinta, sekali jatuh cinta semua dilakukan dan terkesan buru-buru.


"TerimaπŸ‘ TerimaπŸ‘ Terima πŸ‘" sorak mereka yang menyaksikan.


Mau tidak mau, akhirnya Vania menjulurkan jemari manisnya kepada Niko.


"YeeeeeeπŸ‘" Teriak mereka kegirangan, menyambut kebahagiaan dari bertemunya Niko dengan belahan jiwanya.


Keluarga itu sungguh terlihat bahagia, terutama Priyana, yang begitu berharap mendapatkan keturunan dari anak lelakinya.


***


Vania dan Niko yang sedang berbahagia, begitu indah menjalani masa berpacaran.


Setiap pagi Vania membuatkan sarapan untuk Niko, mengantarkan ke Apartemen Niko, menghidangkan manis di atas meja.


Niko rela meninggalkan rumahnya demi bisa tinggal di Apartemen yang sama bersama Vania, sekaligus menjaga wanita pujaannya itu.


Pagi, saat Niko sudah bersiap pergi ke kantor, tampak Vania juga sibuk menghidangkan sarapan.


Vania terkejut.


"Mas...!" tapi ia tersenyum.


"Nanti kalau sudah menikah, dibuatin seperti ini enggak?" tanya manja Niko.


"Tentu Mas!"


"Sayang, kenapa kita tidak tinggal satu Apartemen saja, aku sudah tidak tahan!"


"Sabar yah Mas, pasti ada saatnya!" jawab lembut Vania merapikan dasi Niko.


"Haiis, tapi kapan, aku sudah ingin bercinta sama kamu!" jawab manja Niko.


"Hemmm!"


"Hehehehe! becanda kok! Aku akan menunggu mu!" ucap Niko.


"Terima kasih yah Mas!"


Vania juga merapikan Apartemen Niko, meskipun pria itu sudah melarangnya.


Semakin mengenal Vania lebih jauh, Niko semakin tergila-gila dengan semua tentang Vania Keisya, merasa sudah klik dengan menjadikan wanita itu sebagai pengganti Isabella.


"Aku kerja dulu!"


"Hati-hati yah Mas!"


Niko pun tetap melakukan aktifitas kantornya. Apartemen Niko dan Vania dalam pengawasan para Bodyguard yang terpilih.


***


"Tlililit!" ponsel Vania berdering.


"Halo!"

__ADS_1


"Kau masih mengenal suaraku!"


"Mba Ratih!" (Pengacara Vania berusaha 40 tahun)


"Bisa kita bertemu?"


"Untuk apa?"


"Banyak hal ingin aku bicarakan!"


"Tidak perlu, sidang ketiga perceraian ku akan tetap berlangsung!" ucap Vania dengan lantang.


Ratih Zalia sempat terdiam!


"Apakah Romi yang mengutus mu?" tanya Vania.


"Tidak ada!"


"Lalu?"


"Aku hanya ingin ngobrol dengan kamu, dan menjelaskan kenapa aku tidak bisa mendampingi mu sampai sidang ketiga!"


"Aku sudah tau, karena aku tidak punya uang lagi!"


"Tidak sepenuhnya!" jawab cepat Ratih.


Vania terdiam.


"Kemanapun kau bersembunyi, Romi mampu mencari mu! Banyak hal yang tidak kamu ketahui!"


Merasa penasaran dengan apa yang ingin di sampaikan Ratih akhirnya Vania bersedia bertemu dengan mantan pengacaranya. sebelum itu Vania meminta izin terlebih dulu kepada Niko via telpon.


**


"Ok sayang, Tidak apa-apa, kalian bisa bicara di area Apartemen, Aku akan tetap memerintahkan para Bodyguard mengawasi kamu dari jauh!"


"Terima kasih yah Mas!"


"Iyah!"


**


Terlihat Ratih Zalia duduk berhadapan dengan Vania Keisya di restoran lantai bawah Apartemen.


Seorang pelayan menyuguhkan minuman serta cemilan untuk keduanya.


"Terima kasih!" ucap Ratih kepada pelayan.


Vania masih dalam tatapan sendu dan tidak bergairah.


"Aku dengar, kau sedang dekat dengan pimpinan PT Oscar 99!"


"Dari mana kamu tau!"


"Sebelumnya, Niko Oscar datang menemui ku dan berani membayar ku sebesar 5 M, jika aku berhasil memenangkan sidang perceraian terakhir kamu dan Romi, tapi aku menolaknya."


Vania tampak serius mendengarkan ucapan Ratih.


"Niko memang luar biasa, benar-benar mencintai wanita tidak main-main!"


"Kamu tau, itu adalah bayaran terbesar diriku, sepanjang aku berprofesi sebagai pengacara!"


"Aku tetap memperjuangkan kamu, karena aku tau kau adalah korban!"


"Tidak perlu bertele-tele, sampaikan saja apa intinya!"


"Romi tidak ingin bercerai, dia sudah jatuh cinta kepadamu?"


"Hahahaha, apa kau pengacara gila, pria yang terus menyiksaku, selingkuh dengan banyak wanita termasuk dengan teman-teman ku, kau sanggup mengatakan jika dia mencintaiku?"


"Dengarkan aku dulu, pernikahan kalian masih seumur jagung banyak hal yang tidak kamu ketahui tentang Romi!"


"Pembicaraan ini benar-benar tidak berarti, hanya membuang waktu ku saja, aku tau kau diutus Romi untuk menemui ku agar aku tidak meneruskan perceraian ini, Romi mulai gentar dengan pengacara hebat Niko, Iyah kan!" ucap tegas Vania.


"Tidak perlu banyak pengacara, aku juga bisa membebaskan kamu dari pernikahan ini!"


"kau tidak bisa dipercaya!" hentak Vania.


"Aku pergi!" Vania bangkit.

__ADS_1


"Kau tidak bisa bercerai dari Romi, karena kau sedang mengandung anaknya!"


Langkah Vania terhenti seketika. Kabar itu serasa petir menyambar tubuh Vania.


__ADS_2