
Romi menarik nafas sejenak.
"Tolong jangan kau bunuh anakku, besarkanlah dia dengan cintamu, cinta seorang ibu, benar-benar dari kasih sayang seorang ibu yang tulus, karena aku adalah sosok ayah yang gagal!" ucap pedih Romi.
Vania terdiam seribu bahasa, sama sekali tidak menjawab.
"Aku tidak mendapatkan keadilan di dunia, hanya berharap kepada anakku kelak! Sekali lagi aku katakan waktu ku, tidak akan lama!"
Vania masih tetap diam.
"Bolehkah kau sentuh tanganku sebentar saja?" pinta Romi.
Vania memperhatikan wajah Romi, pria itu hanya tersenyum tipis.
Dalam tangan bergetar Vania menggerakkan tangannya menyentuh lembut tangan Romi yang sedang terborgol kuat.
"Terima kasih!" ucap Romi.
"Pergilah, persidangan akan dimulai!"
"Apa kau tidak hadir?"
"Meskipun aku tidak hadir, gugatan perceraian sudah disetujui!"
"Dia begitu pasrah!" gumam Vania.
"Baiklah?
*
Saat Vania keluar dari mobil hitam milik Romi, kepalanya terasa pusing.
"...Mungkin kau akan kehilangan Niko, tapi tidak akan kehilangan kebahagiaan yang sesungguhnya, akankah kau membiarkan anakmu hidup tanpa seorang Ayah??" (Ratih)
"...Sampai kapan pun kau tidak akan pernah mengerti, ini jalan ku yang sudah buntu, sesat dan salah, ragaku sudah hancur, hidupku akan segera berakhir, harapan tersisa ku hanyalah anak yang ada dikandungan kamu." (Romi)
Kata-kata itu terus bergema di telinga Vania sehingga membuat kepala wanita itu terasa pusing dan semakin bingung mengambil sebuah keputusan.
Vania juga mengingat janjinya kepada Niko.
"Tapi kamu harus janji Vania, jika sudah bertekad ingin bercerai dari Romi, tolong jangan pernah kembali lagi dengannya, apapun alasan itu, jangan kamu sia-siakan perjuanganku membawa kabur dirimu, karena apa yang aku lakukan ini, tentu akan menghadapi tantangan yang cukup berat. Saat kau memintaku ingin membawa mu pergi, artinya kau sudah memutuskan untuk menjadi milikku!"
"Bagaimana ini? Aku harus melangkah kemana? Aku tidak ingin kehilangan Mas Niko, aku tidak ingin mengecewakannya, tapi Romi??? Apakah aku tidak bisa memberikan sedikit saja kebahagian di sisa hidup Romi, bagaimana pun buruknya lelaki itu..dia tetaplah suamiku, aku sudah terlanjur menikah dengannya, ikatan itu memang begitu istimewa, seperti apa yang dikatakan mba Ratih?"
Niko sudah membungkam setiap media yang meliput kasus sidang perceraian Vania dan Romi, agar nama baik perempuan itu tetap terjaga di saat sedang berlangsunnya kehancuran perusahaan one & One mulai perlahan runtuh.
Vania semakin pusing. Hingga merasa ingin terjatuh.
Dengan cepat seseorang menangkapnya dari belakang.
"Mas Niko!"
"Tetap semangat, kemenangan tinggal selangkah lagi!" senyum Niko sambil menyentuh lembut kedua pipi Vania.
"Banyak hal yang tidak bisa aku ungkapkan kepada kamu Mas! Apa ini yang di katakan tidak berjodoh!" batin Vania.
"Kamu jangan takut, aku akan selalu ada di sampingmu!"
Tiba-tiba petugas panita persidangan muncul dan berkata;
"Sdri Vania di persilahkan masuk!"
"Pergilah!"
Vania mengangguk kecil lalu berjalan memasuki ruang persidangan.
Sementara Niko, kembali masuk ke dalam mobilnya, ia memperhatikan sebuah mobil hitam milik Romi juga ada disana.
"Benarkah pria itu tidak masuk ke dalam persidangan?? Ternyata ia hanya seorang pecundang, benar-benar pria lemah, tidak berani menghadapi aku?" gumam Niko yang sudah siap mengikuti jalan persidangan melalu kamera tersembunyi (live) dari mobilnya.
__ADS_1
*
"Tliit" Ponsel Niko berdering keras.
"Assalamualaikum!"
"Wa'alakumsalam! Luna!"
"Paman, benarkah hari ini persidangan ketiga kasus perceraian Vania?"
"Iyah!"
"Sidang ketiga?" Ekspresi tidak percaya Luna, kembali mengulang pertanyaannya.
"Iyah sidang ketiga!" jawab tegas Niko.
"Apa Luna perlu ada disana! Saat ini Luna sedang ada di klinik dr Benny, lagi bawa bunda cek kesehatan!"
"Paman rasa tidak perlu! ini di luar dari prediksi, Romi sama sekali tidak memberikan perlawanan, justru ia sudah memerintahkan orang kepercayaannya untuk mengabulkan keinginan gugatan perceraian Vania!"
"Benarkah? Semudah itu?" Luna kembali tercengang dengan pernyataan Niko yang kedua.
"Hem...!"
"Luna bahagia banget Paman, semoga kalian berjodoh dan Vania bisa bahagia?"
"Amin!"
"Nanti Paman kabarin lagi, persidangannya akan segera di mulai!"
"Ok, Paman!"
"Oh Iyah, salam buat Benny!"
"Dia cukup dingin, tidak jauh beda dengan sahabatnya ini, aku tidak suka pria dingin!" kata Luna dengan sebelnya.
"Hahahaha, semoga kamu tidak jatuh cinta dengan pria dingin itu!" Ledek Niko
"Wa'alakumsalam!" jawab Luna melihat sambungan ponselnya sudah terputus.
*
"Paman cukup bahagia. Aku senang sekali, dua sejoli sebentar lagi akan bersatu menemukan cinta dan kasih sayang mereka!" gumam Luna masih menunggu Mala Anjani yang sedang menjalani pemeriksaan di ruang tunggu.
"Terima kasih Ben!" ucap Mala sudah selesai.
"Sama-sama Mba!"
"Minggu depan jadwal Oma (Priyana) Kan!" ucap Mala.
"Benar Mba, kalau tidak bisa, biar Benny yang datang ke rumah!"
"Terima kasih yah!"
"Hari ini Niko sedang membantu persidangan perceraian Vania! Kamu tau kan soal mereka?" tanya Mala kepada Benny.
Dr itu mengangguk.
"Apa langkah Niko ini salah, Mba takut nama baiknya akan jelek di media!"
"Iyah, Setidaknya Niko bisa move on dari masa lalunya Mba, kejiwaannya sudah mulai sedikit goyang, jadi ia harus move on!"
"Niko itu jika sudah jatuh cinta dengan perempuan selalu saja berlebihan, benar-benar mencintai sampai ke tulang!"
"Benar Mba!"
"Yah sudah, kalau begitu, Mba pulang dulu yah Ben!"
"Doa terbaik buat Niko!"
__ADS_1
"Terima kasih banyak!"
"Semoga persahabatan kalian terus berjalan dengan lancar!"
"Amin!"
Benny mengantarkan Mala sampai ke ruang Tunggu.
"Sudah selesai Bun!" tanya Luna berdiri tegak.
"Alhamdulillah tidak ada masalah, Bunda hanya masuk angin!"
"Syukurlah!"
Benny sempat menatap Luna dan berkata dalam hatinya
"Sejak kapan si Luna berhijab. lumayan bagus lah!"
"Hi Dok!" ucap senyum Luna
Benny hanya membalas dengan senyum dinginnya.
"Yuk kita pulang!" ajak Mala.
kedua wanita itu pun pergi. Benny mulai masuk kembali ke ruangannya.
Saat langkah kedua ibu dan anak itu belum terlalu jauh, Mala mulai menyadari sesuatu tidak ada di tangannya.
"Aduh Lun! Sepertinya Tas bunda ketinggalan deh!"
"Loh, ketinggalan dimana Bun!"
"Kalau tidak salah di ruangan Benny, di atas kursi pasien!"
"Yah sudah deh, Luna ambil!" Ia pun berlari secepat mungkin menuju ruangan Benny.
Pukul 09.30 itu Benny sudah ingin mengambil jadwal istirahat, karena pukul O5.00 pagi ia sudah bekerja.
"Aaarggg, hebat! cukup kuat juga semangat Niko merebut Vania" batin Benny yang mulai membuka kemejanya. Ia hendak mengganti pakaian yang sudah ia siapkan sebelumnya.
Tanpa ketukan pintu, Luna langsung menerobos masuk ke ruangan sang dokter, tiba-tiba Mata gadis itu melotot saat Benny sedang bertel*njang dada, begitu menantang.
"Wuaaaa!" jerit kecil Luna langsung berbalik badan dengan cepat.
Benny yang terkejut, tergopoh-gopoh mengambil kembali jas putihnya, ia hampir tersungkur.
"Luna! kamu tidak punya etika yah!" hentak Benny marah.
"Maaf, Luna buru-buru, hanya ingin mengambil tas Bunda yang tertinggal!" ucapnya dengan nada lembut masih dalam posisi membelakangi Benny.
Setelah mencari cepat, Benny mengambil tas kecil milik Mala yang terletak di kursi pasien.
"Nih!" kata Benny menjulurkan tangannya.
Luna yang tidak ingin berbalik menghadap Benny menjulurkan tangannya dalam posisi masih membelakangi Benny.
Tanpa sadar tangan Luna justru mengarah ke organ kejantanan Benny.
"Woi ..woi...woi..!" tegur pria itu.
Luna berbalik sedikit lalu mengambil cepat tas Bundanya,
"Terima kasih!" bergegas pergi merasa malu besar kepada dokter itu.
"Dasar bocah!" batin Benny.
**
Persidangan kasus perceraian Vania dan Romi sedang berlangsung.
__ADS_1
"Romi tidak hadir!" batin Vania terlihat gugup. tangan dan kedua kakinya sedikit bergetar.
Pengacara Niko untuk Vania mulai bicara dengan argumen-argumen andalan mereka tentang gugatan Vania yang harus bercerai dari Romi.