
Sebelum bicara, Inayah menggeser tubuhnya menghindari jejak pantauan Cctv, bahasa tubuh si pelayan menunjukkan raut wajah ketakutan.
"Apakah Tuan ini mencintai Vania?"
"Maksudnya?"
"Jika bukan karena dorongan cinta, tidak mungkin seseorang nekat membawa Vania kabur dari rumah ini!"
"Terlalu panjang ceritanya!" jawab ketus Niko.
Inayah tersenyum bahagia.
"Vania perempuan yang sangat baik, tolong rebut dia dari pria iblis itu, Romi sudah dua kali menikah dan istri-istrinya sebelumnya meninggal karena tidak tahan dengan siksaan. Romi memiliki kepercayaan aneh untuk memperlancar urusan bisnisnya dengan menumbalkan seseorang, yaitu istrinya sendiri!" kemudian Inayah berlari ketakutan.
"Tu...tunggu!"
"Apa?" Niko sungguh terkejut, meski tidak begitu jelas, ia bisa menebak jika Romi memiliki pemujaan mistis di luar logika.
"Pantas semua rekan bisnis besar, bisa ia rangkul dengan sangat mudah termasuk aku yang tidak begitu setuju dengan kerja sama ini, tetapi entah mengapa aku bisa mudah menyetujuinya," gumam Niko mulai berpikir.
*
Didalam mobil, Vania mulai gusar dan kepanasan menunggu kedatangan Niko.
"Mas Niko, ayo cepetaaan, kenapa kamu lama sekali!" ujar Vania.
*
Setelah perbincangan selesai, akhirnya Niko meminta izin pulang kepada Romi.
"Terima kasih atas sambutannya!" ucap Niko dengan senyuman ramah kepada Romi.
"Hahahaha!" tawa bahagia Romi.
"Kamu tidak perlu mengantarku, maaf sudah mengganggu!" kata Niko.
"Baiklah, jika lain kali Mas Niko datang lagi, tolong buat janji terlebih dahulu, agar saya bisa mempersiapkan segalanya!" ucap Romi.
"Bukankah, hal mendadak itu lebih menyenangkan!" ujar Niko.
Keduanya tampak akrab.
Akhirnya Niko masuk ke dalam mobil dan melaju keluar dari kediaman Romi.
Niko terus melaju kencang di jalan raya hingga berhenti di lampu merah, perasaannya bercampur aduk karena tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya, Niko di didik oleh kedua orangtuanya untuk jangan pernah mengambil barang yang bukan haknya. Namun jiwa tidak tega Niko terhadap Vania yang begitu tersiksa, membuat raut wajah Niko penuh dengan rasa dilema berat.
"Haduh, aku salah enggak yah? Membawa kabur istri orang lain!" gumam perasaan kusutnya menyandarkan tubuh dan kepalanya di kursi mobil.
Begitu Vania mengetahui ia sudah keluar jauh dari rumah Romi yang bagaikan neraka baginya, reflek Vania bangkit mengekspresikan kebahagiaan yang tak terhingga dengan mencium cepat pipi Niko, kemudian ia berpindah duduk ke depan dengan senyum manis penuh kebahagiaan.
Merasakan hal itu Niko si pria dingin bak tersengat aliran listrik benar-benar sangat terkejut.
"Kau mencium ku?" ucap Niko dalam mata melotot ๐ณ
Vania mengangguk cepat.
"Sebagai ungkapan terima kasih ku, terima kasih banyak Paman Niko๐ betapa beruntungnya Luna bisa memiliki keluarga seperti Paman, mulai hari ini aku rela melakukan apa saja sebagai ungkapan terima kasih?" ucap polos Vania.
__ADS_1
Niko terbengong memperhatikan wajah Vania yang masih dalam riasan cantik, begitu indah dipandang mata terutama bagi kaum Adam, di tambah lagi Vania yang masih menggunakan daster minim putih yang tentu saja membuat bulu kuduk Niko merinding, jantungnya berdebar-debar.
"Benarkah ini cinta? Aku serasa terjebak, tapi mengapa harus Vania? Kenapa harus istri Romi?" gumam Niko masih tidak setuju dengan perasaannya.
"Tiiiiiiiiin!" suara klakson mobil lain dari belakang, protes karena Niko tidak menyadari, lampu merah sudah berganti dengan lampu hijau.
Reflek Niko mengemudikan cepat mobilnya kemudian menepi.
Pria itu membuka jaketnya dan memberikannya kepada Vania.
"Pakai jaket itu, aku risih dengan pakaian mu?"
((Ehem๐ช ada yang enggak tahan dengan body mulus woi๐๐))
Vania langsung memakainya.
"Terima kasih!" ucap Vania.
"Kenapa kau mencium pipiku, apa hal itu memang sudah biasa kau lakukan dengan pria-pria lain!" kata Niko membuat Vania terdiam.
"Ti...tidak!" menggeleng cepat.
"Ii..itu hanya ungkapan terima kasih ku kepada Paman yang sudah rela membantu ku, aku tahu ini justru akan menjebak Paman sendiri!"
"Yah elah, Paman lagi!" ucap kesal Niko yang menolak tua.
"Maaf! Maksudnya, Mas Niko!"
Susana terasa hening.
Tidak lama kemudian Niko dengan cepat kembali melajukan mobilnya.
"Kita mau kemana Paman, eh Mas Niko?"
"Ikut saja!"
"Aku ada saudara di perkampungan, bisa kirimkan aku ke wilayah Nusa tenggara timur!"
"Kau pikir menghindar dari Romi adalah jalan terbaik, jalan-jalan satu-satunya adalah lawan dan hadapi masalah ini dengan berani!"
"Tapi aku bisa apa?" jawab lesu Vania.
"Aku akan membayar pengacara hebat dari luar agar kau bisa bercerai dari Romi?"
Mendengar hal itu mata Vania langsung berkaca-kaca.
"Benarkah!"
Vania memandangi haru wajah Niko yang cukup serius, fokus dengan perjalanannya.
"Apakah Mas sengaja datang ke rumah Romi untuk membantu ku?"
"Hem!"
"Apa ini permintaan Luna?"
"Tidak?"
__ADS_1
"lalu karena siapa? Mengapa Mas mau melakukan semua ini, bukankah ini sangat beresiko bagi masa depan Mas Niko sendiri!"
"Entahlah! Mungkin kau memasukkan sesuatu ramuan ke dalam masakan mu, sehingga aku terlalu bodoh mau melakukan hal ini!" ucap kesal Niko yang tidak suka diintrogasi.
"Tidak??"
"Yah sudah, jangan bawel, aku juga tidak tau mengapa aku harus menolong kamu!" hentak Niko yang malam itu sedang dalam perasaan Nano-Nano.
Vania terdiam tidak berkutik.
***
Tidak terasa sore menjelang malam Niko membawa Vania ke Apartemen milikinya, Apartemen yang baru saja ia beli terletak di lantai atas atau disebut dengan penthaus. Apartemen itu masih baru, semua furniture belum terisi dengan sempurna.
langkah kaki Niko berjalan sangat cepat, kaki Vania terasa pegal mengejar pria itu.
"Cukup cepat sekali jalannya si Mr cool, aku sangat kelelahan!" gumam Vania saat sedikit lagi sampai ia terduduk lemas.
Saat Niko menyadari Vania tertinggal, pria itu balik melihat ke belakang.
"Kau ingin melarikan diri atau ingin tetap duduk disana!" tegur Niko.
"Aku haus!" ucap Vania merasa lemas.
Setelah membuka pintu Apartemen. Niko berjalan mendatangi Vania, merasa tidak sabar dan takut terlihat orang lain, tanpa kata lagi, Niko terpaksa menggendong wanita itu.
๐ณ๐ณ
Vania merasa terkejut. Perempuan itu memandangi dinginnya raut wajah Niko yang sedikitpun tidak ingin menoleh melihat Vania.
"Ia terlihat tampan jika di pandang dari dekat!" batin nakal Vania tersenyum kecil.
"Aw!" jerit kecil Vania saat Niko menghempaskan tubuh perempuan itu di atas sofa.
Kemudian Niko mengambilkan air minum untuk Vania.
Meletakkan di atas meja.
"Minumlah!"
"Terima kasih!"
"Arrrgh" Niko menghempaskan tubuhnya di atas kursi!
"Sampai detik ini, tidak tau apa yang harus aku lakukan, apa ia aku sedang jatuh cinta sampai rela melakukan hal konyol seperti ini, tapi mengapa justru aku seperti sedang di kendalikan, ini bukan perasaan cinta!" gumam Niko masih juga menentang perasaannya.
Vania memperhatikan sekeliling Apartemen Niko yang masih baru, sebuah Apartemen yang cukup nyaman untuk bersembunyi, terlihat cukup luas dan masih ada.
"Aku rasa tempat ini, cocok untuk kamu saat bersembunyi dari kejaran Romi, aku akan memenuhi semua kebutuhan kamu disini! sampai kau berhasil cerai dari Romi dan ingat setelah itu kau harus pergi jauh, jangan pernah ganggu aku lagi!" ucap Niko dalam nada marah.
Vania terdiam dalam pandangan kosong dan sedih.
"Maaf!"
"Hiks...hiks...aku minta maaf!" ucap tangis Vania merasa bersalah membuat Niko terbengong tidak tega melihat tangisan wanita itu.
Pria itu hanya bisa garuk-garuk kepala, mau marah tidak bisa.
__ADS_1